Chapter 46 : Perhatian

1624 Kata
Derap langkah kaki riang terdengar bertalu-talu di atas tangga marmer yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua di dalam rumah bergaya Eropa itu. Rupanya pemilik langkah itu adalah Willis yang sedang berjalan turun Seraya mengusap dan menyisir rambutnya yang masih sedikit basah dengan jari tangannya yang ramping. Pria itu terlihat berjalan ringan ke arah dapur dengan suasana hati yang sepertinya terasa sangat baik, terbukti dari senyum yang terus terukir di bibir tipisnya. Padahal beberapa waktu lalu ia terlihat terus menggerutu karena rasa frustasi yang amat sangat mengganggu, yaitu kejadian di dapur di mana Casey terjatuh dan menimpa tubuhnya, dan lututnya menyentuh sesuatu tidak seharusnya Iya sentuh di area pribadi Willis.  Lalu datanglah malapetaka yang membuat Willis resah dan kerepotan, dan menyebalkannya malapetaka itu hanya karena gara-gara kemeja flanel dengan tiga kancing bagian atas yang terbuka, menampilkan pemandangan indah yang menggoda sisi prianya secara menyebalkan, membuatnya terdesak pada situasi sesak di antara dua kakinya. Benar-benar beberapa menit yang penuh siksaan bagi Willis. Tapi Willis harus bersyukur karena ia bisa mempertahankan akan sehat dari buas sisi prianya. Jika Willis tidak bisa menguasai otak nya dan Casey sampai kehilangan kesuciannya gara-gara Willis, Willis tidak tahu apa yang akan ia lakukan kedepannya. Sulit mendapatkan pencuri yang memiliki ketangkasan, kecerdikan dan keluwesan seperti Casey. Memalukan? Ya, sangat. Tapi Willis juga tidak bisa menyalahkan gadis itu. Willis mengingat jelas bagaimana wajah gadis itu yang mendarat di atas tubuhnya. Kulit tikus itu yang memang pada dasarnya putih, membuat semburat merah yang terukir di wajahnya terlihat sangat jelas. Jelas Casey pun tidak menduga hal itu akan terjadi dan ia juga pasti merasa malu. Namun sebenarnya yang membuat Willis kesal bukan karena bagaimana peristiwa itu terjadi. Ia meras kesal pada dirinya sendiri karena ia menjadi satu-satunya orang yang terlihat memalukan karena berpikir m***m hingga cacingnya bangun dengan tidak sopan. Willis kembali merasa ada sesuatu yang menggelitik perutnya. Ia merasa malu namun anehnya ia juga menyenangi perasaan itu. Seperti menaiki roller coaster setelah sekian lama kau hanya bisa melihatnya dari jauh. Menggelitik dengan menyenangkan, menantang namun juga membuat ketagihan apalagi ekspresi tikus urakan itu yang terlihat menggemaskan. Mulutnya buang terkejut dengan sedikit terbuka membuatnya seperti hamster yang terkejut karena biji bunga mataharinya direbut. Willis menghentikan langkahnya. Jadi berpikir bahwa mungkin Casey bisa diklasifikasikan sebagai tikus jenis hamster. Willis tersenyum geli hingga ia menutup bibirnya dengan tangan. Lucu sekali melihat ekspresi terkejut tikus-- Willis menggeleng. Haruskah ia mulai memanggilnya dengan panggilan hamster? "Hahaha hamster? Hamster terdengar imut juga." Gumamnya seraya terkikik geli. Willis yang sebelumnya terkikik geli tiba-tiba menghentikan kikikannya. Ia berdeham lalu kembali memasang tampang serius. Apa yang baru saja ia lakukan? Ia melakukan hal yang tidak berguna. Seharusnya ia fokus pada rencana the Oppenheimer dan tidak membuang-buang waktunya dengan hak sia-sia apalagi itu hanya memikirkan tentang hamster dan tikus. Willis kembali melanjutkan langkahnya. Ia tadi terjebak pada situasi darurat sehingga harus menunda pekerjaannya. Namun sekarang ia tidak mempunyai alasan lagi untuk berleha-leha. Setelah ia selesai dengan urusan mendesaknya, pria itu berencana untuk melakukan hal yang tadi sempat tertunda, yaitu mencicipi sup jagung buatan dari Casey. namun seraya melangkah, di dalam hati pria itu berharap Gadis itu tidak lagi berada di dapur dan sudah kembali ke kamarnya. Willis memicingkan netranya, "Apa yang gadis itu sedang lakukan? Kenapa ia tidak kembali ke kamarnya?" Gerutu Willis dalam hati ada perasaan kesal dan rasa canggung saat akan Menemui hamster--ralat, tikus itu. Mengapa? Willis tidak mengerti. Padahal biasanya hal-hal kecil tidak pernah mengganggunya selama itu tidak mengancam kehidupannya. Tapi sekarang? Kenapa Willis merasa seolah ia akan bertemu dengan algojo dan berharap algojo itu pergi, padahal ia hanya akan bertemu dengan gadis pendek yang urakan? Namun sepertinya takdir benar sedang tidak ingin berpihak kepadanya, malah takdir sepertinya ingin mempermainkannya lebih lama, saat melewati pintu dapur dari ruang tengah, Willis menemukan Casey yang sedang berkeliling di dapur melihat-lihat koleksi lukisan yang tergantung beberapa tempat bibirnya terlihat menggumamkan sesuatu sesekali ia terlihat tersenyum berbinar senang anak kecil yang baru saja melihat hal yang menakjubkan. Tanpa sadar Willis menyunggingkan sebuah senyum rasanya lucu juga melihat tingkah laku norak Casey-- menurut Willis dengan barang-barang yang dikoleksinya. Willis tiba-tiba merasa sudut bibirnya berkedut menahan tawa. Kini ia jadi membayangkan Casey menjadi hamster yang menggunakan apron dan sedang melihat-lihat koleksi lukisan tiruannya dan Sean dengan ekspresi konyol hamster. Hamster ber-apron yang norak. Willis semakin tidak bisa menahan tawanya. Namun ia segera membuang tawa itu saat otaknya memperingatkan bahwa Casey ada di sekitarnya dan mungkin bisa berpikir Willis aneh karena tertawa sendiri tanpa alasan. Willis kembali mengatur ekspresinya. Sungguh apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa ia tidak bisa berhenti melengkungkan senyum seperti orang gila? Willis berdeham, mengatur nada bicaranya agar kembali memiliki kharisma, "Apakah kau baru pertama kali melihatnya?" tanya Willis yang membuat Casey membalikan tubuhnya segera untuk melihat siapa gerangan yang baru saja Bertanya kepadanya. "Ah kau sudah turun?" tanya Gadis itu dengan senyum, anehnya saat Gadis itu kembali tersenyum kepadanya Wilis merasakan ada sesuatu mencubit hatinya titik Willis yang semula ternganga mengatupkan bibirnya dengan canggung lalu ia berjalan kearah meja makan di mana di atas meja sudah tertata sup dengan teh kamomil yang beraroma khas membuatnya merasa begitu nyaman. Lagi, Wilis tiba-tiba merasa hatinya tertohok tanpa sebab, Willis jadi bertanya-tanya apa yang dilakukan gadis itu kepada rumah ini hingga memberi Aura yang terasa begitu berbeda kepada Wilis? rasanya ia merasakan ada perubahan atmosfer di beberapa bagian rumah ini. "Aku hanya berpikir dan mencoba menebak-nebak kualitas berapa cari lukisan jiplakan ini." ungkap Casey kembali mengarahkan tatapannya pada lukisan-lukisan itu. Willis sudah duduk di atas kursinya menarik napkin dan melemparkannya di atas pahanya mengantisipasi pesan tetesan dari akan mengotori celananya. "Lalu Bisakah kau menebaknya?" Casey membulatkan netralnya terlihat kaget dengan pertanyaan Wilis," Eh kau ingin mengetes ku?" Willis yang sedang hendak menyuapkan sendoknya melirik Casey mendekatkan wajahnya dekat-dekat pada salah satu lukisan tiruan dari Salvador Dali. "Menurut mu?"bukannya menjawab Willis malah bertanya balik membuat Casey memasang wajah cemberut. "Hah ... aku tentu saja tidak mengerti hal-hal seperti ini aku hanya mengerti berlian permata dan benda-benda yang berkilauan, sulit Bagiku menghafal nama-nama, judul, tema, dan tipe aliran lukisan mereka. terlalu banyak membuat Kepalaku pusing." ungkap Casey dengan nada seolah mengeluh. Suara kekehan pelan terdengar, Casey menoleh dan mendapati Willis menutupi bibirnya dengan separuh dari telapak tangannya karena tengah terkekeh. Casey memicingkan netranya menatap Wilis dengan tatapan kesal, pria ini benar-benar senang jika orang lain berada jauh di bawahnya apalagi jika itu soal pengetahuan. "Benar-benar tipe pria yang sombong." Casey berniat mengatakan kalimat itu dalam hati, namun karena sebal ia malah jadi mengucapkan kata itu tanpa sadar. "Sombong?" Ulang Willis, namun Casey memilih berpura-pura tidak tahu dan memalingkan wajahnya berpura-pura menatap lukisan. Apakah pria itu akan marah? Jika ya, Casey mungkin sebaiknya mengganti topik obrolan. "Apakah sup nya sudah dingin? Aku pikir kau akan turun cepat, jadi aku mempersiapkannya dengan cepat. Tapi sepertinya aku lupa bahwa kau mungkin memiliki ritual mandi sehingga kau bisa mandi sampai satu jam lamanya." Ungkap Casey dengan nada ringan, sedikit besar bermaksud bercanda, namun sepertinya ucapan Casey barusan lah yang menjadi pemicu kekesalan Willis. Setelah mendengar kata-kata itu, Willis jadi tidak lagi bersuara. Ia terus tertunduk fokus menyuapkan sendok sup jagungnya pada mulutnya seolah Casey tidak ada di sana. Melihat reaksi itu, Casey jadi semakin salah tingkah, apakah yang ia ucapkan tadi malah menyinggung Willis? Kenapa lelaki itu malah langsung terdiam tanpa suara? Casey memejamkan netranya dalam, ia harus mencari topik obrolan lain. "A-ah baiklah jika kau mengetes ku, ekhem...." Casey berdeham untuk menenangkan hatinya yang terasa sedikit tidak karuan. Entah mengapa ia menjadi merasa tidak enak jika Willis diam seperti itu. Rasanya ia menjadi merasa bersalah. "Apa yang akan aku dapatkan jika aku berhasil menebak?" Tanya Casey yang sepertinya memilih topik pembicaraan yang tepat karena Willis kembali menoleh ke arahnya. Willis terlihat diam berpikir, "Aku tidak bodoh. Kau mungkin sengaja berpura-pura bodoh agar nanti kau bisa menjawab semua nama pelukis terkenal itu dan kau bisa menuntut suatu hadiah pada ku. Begitu bukan?" Casey yang berdiri di depan lukisan, merasa ada batu besar tak kasat mata menimpanya, karena apa yang ditebak Willis benar. Casey sengaja berpura-pura bodoh agar ia bisa meminta hadiah pada Willis. "T-tentu saja tidak!" Pekik Casey segera. Suara derit kursi kayu yang digeser terdengar membuat Casey berjengit kaget dan was-was. Kali ini Casey melihat Willis membawa tubuhnya bangun dari kursi, lalu ia melangkah menghampiri Casey membuat Casey menahan napas. Entahlah, apa pun yang dilakukan pria ini, selaku membuat Casey merasa bahwa ia harus selalu siap. "A-ah kau sudah selesai, kalau begitu aku akan merapikan cucian piring" ujar Casey hendak berjalan ke arah sink cuci piring, namun baru selangkah ia melangkah, Willis menarik lengannya. Membuat Casey tidak bisa melanjutkan langkahnya. Casey terdiam dengan tubuh yang kaku. Sekarang, apa lagi yang akan dilakukan pria itu terhadapnya? Casey terkesiap saat Willis menarik tangannya dengan cukur kuat, membuat tubuhnya untuk merapat s dikit lebih dekat pada Willis, detik selanjutnya Casey merasakan ada tangan yang menarik wajahnya dengan hati-hati. Membawa wajah itu untuk mendongak menatapnya. Suara jantung bertalu-talu terdengar, Casey memilih membawa irisnya untuk menatap hak lain tidak berani menatap Willis karena terasa sangat aneh di hatinya jika ia melakukan itu. "Kau belum mengobatinya?" Tanya Willis menatao Casey dengan tatapan yang tak bisa Casey deskripsikan. Tatapannya lurus dan seolah datar, namun Casey merasakan ada seutas nada kekhawatiran. Tunggu, apakah Casey mengkhayal? Bagaimana bisa ia mengharapkan hal seperti itu? Mustahil Willis akan bersifat begitu. Ia hanya peduli pada Ilene. "Ayo kita ke sofa ruang tengah, aku akan mengobatinya." Ajak Willis dengan menarik tangan Casey seolah ia menuntut anak kecil. "Untuk cuci piring, aku yang akan melakukannya nanti, jangan biarkan tangan mu yang terluka mnyentuh air sabun, itu pasti perih. Sekarang kita fokus dulu untuk mengobati wajah mu." Ungkap Willis yang membuat netra Casey membola. Apa yang baru saja di katakannya? Apakah ia menawarkan diri untuk mencuci?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN