Keadaan restoran mewah dengan nuansa Eropa klasik itu sedang sepi, saat wanita cantik bertubuh mungil dengan dress one piece hitam juga topi yang menutupi wajahnya memilih meja mana yang akan ia tempati. wanita itu terlihat heran, karena keadaan restoran ini terlalu sepi, ia tahu sesepi-sepinya tempat ini, setiap pelangg*an yang ingin memesan harus mereservasi meja dari seminggu sebelum digunakan.
Wanita itu mengerutkan alisnya, ia curiga dan menebak-nebak apakah pak tua itu menyewa restoran ini?
"Halo selamat siang nyonya, perkenalkan saya Nina. Saya pelayan khusus yang akan melayani anda selama anda di sini. Tolong jangan sungkan untuk memanggil saya jika anda membutuhkan sesuatu, saya akan melayani anda sebaik mungkin, jika ada yang membuat anda tidak nyaman bisa anda sampaikan pada saya. Saya juga akan senang jika anda mau memberi tahu saya pelayanan seperti apa yang Anda sukai." Ungkap pelayan itu dengan nada yang lembut tertata.
Wanita dengan dress itu--Ilene tersenyum tipis, Keteraturannya dalam berbicara bahkan hingga mengatur napasnya membuat Ilene dengan mudah menebak bahwa pelayan berbama Nina ini mungkin adalah pelayan terbaik yang ada di restoran ini. Karena untuk bicara dengan sangat sopan, elegan namun tetap berkarisma yang terlihat natural tidak dibutuhkan waktu yang singkat, ia pasti sudah sangat sudah terlatih.
Ilene akan memperkirakan bahwa mungkin pelayan ini sudah menekuni pekerjaannya selama lebih dari lima tahun melihat dari bagaimana alaminya caranya mengatur pola bicara hingga nada bicaranya.
Ilene hanya membalasnya dengan anggukan,"Baiklah karena aku masih harus menunggu seseorang aku mungkin akan memesan minuman, jenis minuman apa yang kalian punya hari ini? Ah ya aku juga tidak ingin pelayanan yang terlalu formal, tolong berikan aku pelayanan sebagaimana yabg kau berikan pada pelanggan lain." Ungkap Ilene dengan nada lembut. Pelayan bernama Nina itu tersenyum senang. Ia terlihat bersemangat saat membuka buku menu dan menjelaskan minuman-minuman terbaik yang restoran ini miliki.
"Kami memiliki jenis mocktail dan ini termasuk yang paling banyak di sukai, Nyonya. Sweet vermouth akan memberi Anda sansasi yang menyenangkan. Highky recommended, Maam." Ungkap Maid itu dengan senyum manisnya.
"Hm, cukup menggugah." Ungkap Ilene saat sang pelayan menjelaskan bahwa minuman yang ia rekomendasi kan hari ini adalah Negroni--sebuah cocktail yang berasal dari Italia yang berbahan dasar sweet vermouth, Gin, Campari dan jeruk. Ilene sebenarnya sudah tahu, ia juga pernah mencoba langsung negroni di Italia saat studinya. Tapi melihat bagaimana gadis muda ini bersemangat menjelaskan negroni versi restoran ini. Ilene jadi begitu tergugah.
"Baik lah aku mau satu Negroni-nya, please." Ungkap Ilene diangguki sang pelayan.
"Senang anda memilihnya, Negroni anda akan sampai dalam waktu lima menit. Sambil menunggu anda bisa menikmati carrot raw cake yang rendah kalori dan akan bagus untuk kesehatan anda." Ungkap sang pelayan seraya menyodorkan sebuah piring kecil berisi raw cake yang terlihat bertekstur lembut menggugah. Bunyi kucuran air terdengar di samping Ilene, Ilene menoleh mendapati sang pelayan sedang menuangkan air mineral pada gelasnya dengan hati-hati. Lihat pelayan ini benar-benar tahu cara melayani dengan baik.
"Terima kasih." Sahut Ilene lembut menatap senang pada raw Cake yang disodorkan sang pelayan.
Pelayan itu menganggukkan kepalanya, menjawab ucapan terima kasih Ilene dengan anggukan sopan melalui netranya yang membentuk bulan sabit karena tersenyum. Ilene jadi berpikir untuk membawa gadis itu bekerja padanya.
"Baik lah kalau begitu saya akan menyiapkan Negroni anda, mohon menunggu dan selamat menikmati waktu anda di sini." Ungkap pelayan itu sebelum detik selanjutnya pergi ke Bar restoran, menyiapkan minuman yang dipesan Ilene.
Ilene hanya menjawabnya dengan anggukan. Ilene kembali mengedarkan pandangannya untuk membunuh waktu selama ia menunggu menunggu seseorang, Ilene tercekat saat mendengar bunyi deritan kursi yang ditarik. tak lama untungnya orang yang ia tunggu muncul di hadapannya langsung menarik kursi restoran tanpa berbasa-basi kepadanya.
"Kau sudah memesan?" Tanya sang tamu yang begitu ditunggu-tunggu nya.
Ilene mengangguk menyahuti suara sang pria, "Mereka merekomendasikan Negroni. Kau ingat Negroni?" Tanya Ilene lalu menahan dagunya dengan satu tangan mendongakkan kepala dengan senyum manis.
Pria yang tak lagi muda itu tersenyum simpul, "Selera yang bagus. Negroni adalah mocktail classy. Mendiang istriku juga amat sangat menyukai negroni." Ungkap pria itu dengan tatapan menerawang sendu menatap menu yang masih menampilkan foto display negroni di buku menu. Ilene dapat merasakan bahwa pria itu sedang menyalurkan rindu pada istri yang sangat dicintainya itu. Melihat itu perasaan Ilene terasa hangat hingga tanpa sadar Ilene tersenyum.
"Kalau begitu aku benar-benar harus memuji rekomendasi pelayan itu." Celetuk Ilene yang membuat sang pria tertawa.
"Jadi kau mau aku pesankan apa?"
Pria itu terkekeh, "Aku hanya membutuhkan informasi terbaru tentang anak ku. Tak perlu repot-repot memesankan minuman untuk ku."
Ilene menyeringai, "Wah tidak sabaran sekali." Godanya dengan nada bercanda
Pria berumur itu terkekeh pelan, "Itulah tujuan kita bertemu hari ini. Jadi informasi apa yang kau dapatkan?" Tanyanya serius. Ekspresi yang semula ramah dengan senyum, secepat kedipan mata seolah Ilene Bertemu dua orang yang berbeda.
Namun Ilene sudah terbiasa melihat penampilan itu. jadi ia sudha tidak terkejut dan malah terlihat sudut bibir tipisnya yang dibalut perona merah kecoklatan terangkat ke atas. Ilene merasa sedikit geli, Sungguh orang tua yang benar-benar tidak sabaran seperti anak-anaknya. Pepatah memang tidak bohong, like father like son.
Ilene mengawali laporannya dengan berdeham, "Sean menemui seorang pria tadi. Pria berpenampilan urakan seperti tunawisma. Pria ini bernama Donghae, aku perhatikan satu tangannya sepertinya di amputasi? Sean terlihat...." Ilene tercenung memikirkan kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan pemuda yang hampir sepuluh tahun lebih muda darinya itu. Mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikannya.
"Campur aduk. Ia terlihat kesla tapi juga ada sorot rindu di netranya. Kau mengenal pria bernama Donghae ini?" Tanya Ilene hati-hati. Netra pria yang tidak muda lagi itu menyipit, terlihat percikan emosi di sorot matanya.
Dan dugaan Ilene semakin kuat saat karena ia melihat tulang wajah Pak Tua yang menyewa jasanya itu mengeras.
"Pria yang selalu mengejar-ngejar Diana. Bajinga*n kecil yang berusaha merebut Diana dari ku." Pria itu terkait terlihat mengepalkan tangan penuh emosi.
"Jadi apa yang akan kau lakukan? Kau ingin melenyapkannya? Balas dendam?" Tebak Ilene.
"Ceritakan lebih banyak tentang pertemuan mereka." Ungkap pria itu, mengeratkan genggamannya pada tongkat kayu di tangan kanannya.
Ilene terlihat menggaruk alisnya yang sebenarnya tidak gatal, rasa manis vermouth tertinggal di bibirnya membuatnya berdecap sebelum kembali memukai pembicaraan.
Ilene menatap Tuan Blaxton dengan tataoan serius, "Ada hal lain yang ingin aku ceritakan dan menurutku ini lebih penting untuk saat ini dari pada Donghae. Tentu saja tentang Sean anak mu."
Ilene merasa bahwa informasi kemunculan kepribadian Sean yang lain lebih berbahaya dari pada memikirkan tentang bajing*an kecil yang membuat pria di depannya--Tuan Blaxton emosi karena cemburu dan mengingat tentang istrinya.
Tuan Blaxton meliriknya dengan tatapan tajam, "Apa?" Tanyanya cukup sinis. Namun Ilene sudah terbiasa menghadapi kesinisan pria tua ini. Selama hampir delapan tahun ia menjadi psikolog pribadi keluarga Blaxton, Ilene sudah mengenal sifat-sifat yang dimiliki keluarga berisi tiga kaum Adam ini. Jadi ia tidak pernah ambil hati dengan apa pun yang diucapkan atau di lakukan para pria ini.
Ilene menatapnya di iris, "Willis, kepribadian lain Sean muncul lagi. Bahkan sekarang intensitas waktu kemunculannya lebih panjang dari biasanya, yang artinya ini berbahaya." Jelas Ilene membuat Tuan Blaxton membolakan mata menunggu penjelasan Ilene lebih lanjut.
"Bukankah kau mengatakan bahwa kau akan melakukan sesi terapi saat Sean sedang tertidur?" Ungkap Tuan Blaxton terlihat kecewa.
Ilene merubah posisi duduknya yang semula terlihat cukup santai, kini tegap memandang sang lawan bicara dengan tatapan serius.
"Aku memang memberikan tubuh ku pada Sean dan Sean terkadang menyentuhnya. Tapi ia tidak memiliki perasaan pada ku." Ilene menatap pria yang memiliki jarak usia cukup jauh darinya itu, "Memang klise jika kita mengatakan bahwa perasaan atau cinta dapat membantu seseorang sembuh dari trauma psikologis, tapi cinta merupakan salah satu faktor penunjang. Orang-orang di sekitar Sean tidak memberikan dukungan padanya sehingga ia tidak memiliki perasaan emosional atau keterikatan emosional dengan keluarganya."
Ilene yang semula tertunduk menatap meja kembali menatap pria dengan dagu tegas itu, "Kau juga menyadarinya, bukan? Hubungan mu, hubungan Sky dengan Sean. Semuanya terasa putus. Kalian seperti orang asing yang berusaha berpura-pura menjadi keluarga."
Tuan Blaxton kembali menyipitkan netranya, "Lalu apa yang kau ingin aku lakukan? Aku sudah menghentikan sikap dingin ku padanya, tapi aku tidak bisa mengendalikan Sky. Sky sangat membenci Sean setelah kematian ibunya."
Ilene mengalihkan tatapannya menimbang kata-kata yang akan diucapkannya, "Manusia memang harus dibutakan sesuatu agar mereka terus termotivasi melangkah maju. Entah mabuk pada harta, kepercayaan, cinta, karir atau keluarga. Sean menjadikan sebagai pencarian oppenheimer sebagai tujuan hidupnya. Jika kau ingin mencegah Sean terobsesi pada the Oppenheimer, maka kau harus membuat Sean melupakan the Oppenheimer. Karena hanya itu tujuan dari hidup Sean sekarang." Jelas Ilene.
Ilene menarik napas sejenak, "Nah aku tahu bahwa kau memberiku perintah agar aku bisa membuat Sean melupakan the Oppenheimer, tapi Sean lebih tertarik pada ku karena aku mirip dengan mendiang nyonya Diana. Aku mungkin bisa menyentuh tubuhnya, tapi aku kesulitan menyentuh hatinya. Aku juga tidak bisa terus melakukan drama cinta, kepura-puraan seolah aku mencintai Willis, kepribadian lain dari Sean."
Tuan Blaxton terlihat diam tanpa bisa berkata-kata. Namun Ilene dapat melihat sorot mata frustasi di netranya.
"Lalu gadis itu, putri dari tuan Stone? Gadis itu sepertinya cukup intim, dan berani. Sean terlihat senang menggoda gadis itu. Apakah mereka tidak menunjukan tanda bahwa mereka saling memiliki perasaan?" Tanya Tuan Blaxton penuh harap. Namun lagi-lagi Ilene menarik napas.
"Saat aku tidur dengan Willis, Willis terus menggerutu tentang gadis itu. Dan aku merasa malang pada gadis itu karena ia juga sudah berusaha dengan keras. Tapi Sean memiliki trust issue, sulit bagi siapa pun untuk mendekatinya. Dan aku tidak bisa melakukan sesi terapi karena bahkan Sean atau pun Willis tidak merasa bahwa mereka memiliki masalah psikologis. Benar-benar sulit." Ungkap Ilene meringis saat melihat keadaan Casey terakhir kali--dipenuhi luka dan babak belur. Lalu sifat dominan dan manipulatif nya Willis bisa membuat Casey Stone perlahan akan membuat frustasi. Ilene khawatir jika membiarkan gadis itu berlama-lama bersama Sean.
Ilene menarik napas, ia hanya bisa berharap semoga gadis itu bisa bertahan lebih lama, sampai Ilene bisa membuat Sean menyadari bahwa kemunculan Willis adalah sesuatu yang salah, dan Willis harus dilenyapkan.