Kini mereka terjatuh dengan posisi Willis duduk di lantai sementara Casey tersungkur berada di antara dua kakinya, dengan tangan di atas daada lebar Willis yang bidang, tepat di atas otot dadaa Sean yang terhalang kemeja putihnya.
Untuk sesaat waktu terasa terhenti bagi Willis dan Casey. Dalam jarak yang pendek di antara mereka, tatapan keduanya bertemu. Casey menatap pria di hadapannya canggung, tentunya karena posisi terjatuh mereka yang juga tidak elegan dan malah terkesan menjurus pada hal nakal. sementara Willis tidak bisa membuang tatapannya dari Casey. Sorot terkejut Casey terlihat polos di netra Willis, rasanya seolah menghipnotis hingga membuat Willis enggan mengalihkan tatapannya dari gadis di hadapannya itu.
Casey dapat merasakan tangannya yang naik turun di atas d**a bidang Willis. Gelombang tak kasat mata terasa menerpa Casey, membuat Casey dapat merasakan bahwa rona panas sedang bergerak perlahan mengambil alih rona wajahnya. Namun menyadari bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk bereaksi seperti itu Casey menggelengkan kepalanya segera, menyadarkan dirinya sebelum ia terseret semakin jauh oleh gelombang tak kasat mata itu.
Casey mengumpat dalam hati, merapal kata, matilah, matilah, matilah kau Casey, tak henti-henti seperti mantra. Casey merasakan keringa mukait bercucuran di lehernya. Ia berniat ingin segera bangun, sehingga ia menarik tangannya dari atas dadaa Willis, namun ia tecekat saat mendapati jari-jarinya mengelus benda kecil seperti choco chip--hanya saja ini sedikit lebih besar. Casey terdiam sejenak, menekan benda itu karena tekstur kenyalny mencoba menelisik apa yang apa sebenarnya sedang dipegangnya sebelum detik selanjutnya pupilnya membola seketika, bibirnya terkatup seraya menelan ludahnya kasar. Benda yang berada di jari-jarinya memang lah choco chip, tapi itu choco chip pribadi Sean dan Willis!
Wajah Casey meringis sesaat, ia tidak dapat menjabarkan perasaannya rasa malu, kesal, dan ingin mengumpat bercampur jadi satu tapi tentu saja ia tidak bisa mengatakan isi hatinya. Ia hanya bisa menekan rasa malu itu. Di lain sisi, ia harus tetap memikirkan cara agar keadaan memalukan ini bisa segera berubah.
"A-hahaha," Casey tertawa canggung, namun dalam hati dan otaknya ia berpikir keras kata apa yang harus ia ucapkan sekarang, untuk mengalihkan perhatian Willis dan menyelamatkan harga dirinya.
Kenapa sekarang ia malah berada di posisi yang membuatnya terlihat mes*um? Kejadian ini pasti membuatnya kesal, Willis pasti akan menghukumnya! Parahnya, ia tidak hanya akan dihukum karena satu kesalahan. Ia akan riguku untuk banyak kesalahan. Terjatuh di atas Willis dengan posisi intim yang membuat salah paham, lalu ia memegang area sensitif seorang pria secara memalukan!
Apa yang harus Casey lakukan sekarang?
"Aha-ha ha...." Casey terus tertawa hambar hingga tawanya terdengar aneh. Namun Willis tidak mengalihkan tatapannya dari Casey. Dan tatapan dengan seribu makna itu lebih menakutkan dari tatapan marahnya. Casey terus memaksa otaknya berpikir tapi ia menyebalkan karena ia tidak bisa memikirkan kata apa pun! Matilah matilah dirinya, ia sungguh akan mati.
"Otot dan dadaa bidang yang b-bagus, hasil latihan ya? Whoah latihan yang luar biasa!" Ungkap Casey yang sekarang sudah menarik tubuhnya dari tubuh Willis, namun sedetik kemudian netranya membelalak, merutuk dengan wajah masam yang samar karena berusaha menyembunyikan ekspresinya dari Willis. Dari semua hal, sungguh demi semua koleksi gigi mumi Tom, kenapa ia memuji otot d**a Sean atau Willis,-- Casey mulai lelah menyebut orang di hadapannya ini dengan dua nama sekarang.
Kenapa ia memilih memuji hal yang jelas terlihat sangat--me*sum? Kini ia sungguh terlihat mes*um dan seperti wanita muda yang maniak pada dadaa pria yang bidang dan berotot.
"Bisakah sekarang kau mundur dulu?" Ungkap Willis yang membuat Casey segera mundur lima langkah, menyeret baju dan apron-nya di lantai dengan posisi duduk melipat kaki.
"Kau benar-benar membuat jantung ku berdebar dengan memalukan." Ungkap Willis yang membuat Casey memejamkan matanya dalam seraya tertunduk. Sial, sial, sial! Baru saja ia mengatakan bahwa ia melakukan hal memalukan, dan lihatlah sekarang Willis pasti akan memberinya hukuman berat.
Casey menghela napas. Ia tidak tahu ekspresi apa yang harus ia tampilkan, harus kah ia meminta maaf? Tapi ia terlanjur memuji otot dadaa Willis dengan menggelikan seperti seorang mesumers akut, apakah tidak terasa aneh jika ia tiba-tiba meminta maaf? Casey merasa hatinya tersentil tiba-tiba, Julukan itu ... padahal dulu ia mengatakan julukan itu pada Sean. Perasaan asing menelusup di antara celah hatinya. Ia tidak bisa menghitung berapa kali ia teringat hal-hal kecil pada Sean. Sudah berapa kali tepatnya ia mengingat pria itu tanpa sebab?
Casey mengepal kan tangan di atas lututnya, ia kembali teringat Sean. Apa yang sekarang pria itu lakukan di tubuh itu? Apakah ia bisa melihat hal memalukan yang Casey lakukan tadi? Jika ya dan Sean mungkin sedang menertawakannya, Casey ingin mengatakan bahwa ia jadi melakukan hal itu karena Sean. Pria itu yang mengajarkan hal mes*um pada Casey. Ah dulu juga di awal pertemuan mereka Sean memang mengatakan bahwa ia akan menjadi guru Casey, bukan?
"Ahaha, aku sungguh-sungguh memuji mu. Kau benar-benar memiliki badan yang bagus. Aku mungkin menyukainya--"
Casey tidak memikirkan kata-kata itu? Ya, Ia memang tidak memikirkan kata-katanya tadi. Kata-kata itu begitu saja keluar dari mulutnya, karena mungkin itu adalah apa yang ingin ia katakan. Dengan senyum tipis, Casey mengangkat wajahnya yang semula tertunduk, namun saat ia mendongak ia terkejut menemukan Willis sedang memalingkan wajahnya dan menutupinya dengan sebelah tangan. Rambut hitam kelamnya yang biasa tersisir rapih ke belakang, kini acak-acakan menutup wajahnya. Tapi tidak bisa menyembunyikan sorot netranya yang sayu.
Casey terperangah melihat ekspresi itu. Bahkan tanpa sadar, bibir Casey terbuka karena terkejut. Ekspresi Willis sekarang adalah ekspresi yang tidak pernah Casey lihat, raut wajah yang seratus delapan puluh derajat bertolak belakang dengan sosok Willis yang biasa Casey lihat. Kemana sorot mata tajam dan sinisnya? Tatapan dingin yang membuat Casey segan padanya?
Casey tersadar dari lamunannya saat Willis terperanjat bangun dari posisi duduknya. Netra Casey terus mengekor pergerakan Willis, namun Willis tetap memalingkan tatapannya, menutup setengah wajahnya dengan tangan yang berpura-pura menggaruk.
"Sup jagung buatan mu, enak."
Netra Casey refleks membola penuh binar, "A-ah b-benarkah?" Casey tergegap menyadari bahwa seharusnya responnya tidak seperti itu, Casey berpura-pura berdeham. "Ah, kau sungguh belajar dengan cepat, kau melaksanakan saran yang aku berikan, kau memang sungguh tunangan ku!"
Casey kembali memamerkan jempolnya, namun kali ini ia memberi dua jempolnya.
"Aku akan memakannya nanti, tapi sekarang aku harus berganti pakaian." Ujar Willis kali ini dengan nada normal seperti biasanya.
Casey mengangguk senang, "A-ah baiklah, hanya berganti pakaian, kan? Kalau begitu aku akan menyiapkan supnya di mangkuk dan menatanya untuk mu di meja sekarang, agar nanti saat kau turun kau tidak perlu menunggunya dingin karena sup nya baru selesai di masak, sangat panas-"
"T-tidak usah. Nanti aku akan mengambilnya sendiri, aku mungkin akan mandi jadi sedikit lama." Potong Willis membuat Casey yang semula bersemangat menyiapkan supnya menghentikan aktivitasnya.
Casey melirik Willis, "A-ah aku mengerti baiklah." Angguk Casey menatap punggung Willis yang perlahan menjauh meninggalkan dapur. Namun saat langkahnya berada tepat di antara pintu dapur dan ruang tengah.
Casey yang semula senang dan sedang berselebrasi dengan rencana yang semula ia pikir konyol dan tidak masuk akal malah justru berhasil. Casey merasa sup jagung itu membuat jaraknya dengan Willis mendekat dan mulai merapat. Ini bukan hanya khayalannya kan? Casey berani menjamin bahwa jika ada Gloria, Gloria juga pasti menyadari perubahan sikap Willis tadi. Willis tidak menghukumnya dan bahkan memuji masakan Casey. Itu progres yang luar biasa, bukan? Ah Casey jadi tidak sabar untuk segera menceritakan kejadian ini pada Gloria!
Casey mengusap buku catatan kecil berbentuk pocket yang ia simpan di saku apron-nya. Semua ini berkat buku ini, ah Casey salah. Semua ini berkat nyonya Diana Rose Blaxton, ibu Sean dan juga ibu Willis.
Saat Willis benar-benar sudah menghilang, Casey mengeluarkan buku pocket itu hati-hati, "Terima kasih," ucapnya tulus dengan menatap buku itu dalam.
"Mulai dari sekarang, anda akan menjadi panutan saya dan penyelamat saya menghadapi psycho Willis. Mohon bantuannya guru Diana!" Ungkap Casey dengan menundukkan wajahnya hormat seolah buku itu benar-benar seorang guru yang sekarang sedang berada di hadapannya.
"Bantu saya untuk membawa Sean kembali, Guru." Ungkap Casey dengan tatapan penuh harap.
Sementara itu di ruang tengah, Willis yang tengah melangkah hendak ke kamar menghentikan langkahnya. Terdiam dengan wajah yang seolah menahan sesuatu yang mengganggunya. Berkali-kali ia terlihat mengusap wajahnya kasar terlihat sangat frustasi.
"Apa-apaan dengan pemandangan itu?" Willis menggerutu lalu menarik napas "Haruskah aku kembali dan memberi tahunya?" Willis mengepalkan tangan, dan membawa tatapannya untuk menatap lantai, seolah berharap lantai bisa memberinya jawaban. Namun justru yang lantai marmer itu tampilkan adalah pemandangan yang seharusnya tidak mengejutkannya namun kacau nya Sekarang justru pemandangan itu malah mengganggunya.
Dua bukit sintal yang terbungkus oleh bra pastel yang menggantung seolah melambai menggodanya tepat di depan matanya karena sang pemilik dua bukit menggunakan kemeja flanel rendah dengan kancing yang sengaja terbuka atau kancing kemeja itu berjatuhan karena tertarik ke bawah hingga menampilkan pemandangan indah itu? Belum lagi lutut di gadis yang menyenggol area privasinya yang jadi aktif dan sensitif setelah disuguhi pemandangan menggoda. Benar-benar menyiksa naluri prianya dengan tanpa ampun.
Sean tiba-tiba jadi teringat ledekan Gloria di pub sebelum menemui Donghae.
"Hahaha apa-apaan dengan gerutuan mu itu, kau terdengar seperti kakek-kakek yang menggerutu karena memiliki cucu yang hiperaktif, hahaha. Dan sampai kapan kau akan memanggilnya bocah? Dia sudah cukup matang lho ... Wah biar aku tebak, kau masih belum menyentuhnya kan? Biar aku beri tahu ukuran nomor Cup dari buah dadaa-"
"Ya ya aku tahu. Cukup besar." Willis menyahuti ucapan Gloria meskipun itu hanya imajinasinya. Namun di saat bersamaan Willis juga merasa bersalah karena melihat itu. Jadi apakah seharusnya ia memberi tahu gadis polos itu? Tapi jika ia kembali sekarang dengan keadaan bagian tengah celananya menggembung, tidak lucu, bukan?
Meskipun gadis itu masih polos, tapi tidak terlalu polos sampai tidak bisa mengetahui kalau junior kebanggan nya aktif, bukan?
Willis akhirnya memilih untuk melanjutkan langkahnya. Ia malah jadi membuang-buang waktu sekarang. Ia harus menyelesaikan dulu urusan mendesaknya sebelum mengurusi orang lain.
Willis mendesah berat, haruskah ia meminta Ilene untuk menyelesaikan masalah area kebanggaan nya ini?