Chapter 43 : Serangan Apa Ini?

1656 Kata
Gadis dengan rambut pendek berpenampilan cukup tomboy itu melenggang melangkah ke arah bagasi di mana mobil sport Range Rover hitam yang terlalu macho untuknya sebagai seorang driver wanita, terparkir apik dan rapi. Dalam langkahnya, pikiran gadis itu berkecamuk dengan banyak hal tentang gadis yang ia sayangi dan sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri, Casey. Emma tahu Casey adalah gadis yang cerdas. Dari awal pertemuannya dengan Casey, Casey menunjukkan suatu hal yang berbeda darinya dengan Lexie. Ketertarikan pada barang antik dan seni lebih dari siapa pun, di usianya yang saat itu masih begitu kecil dan dibesarkan di pasar gelap sebagai gadis cilik yang dijual pada tangan tak bertanggung jawab yang akan menjadikannya pendonor organ atau mungkin yang paling mengerikan, gadis cilik pemuas fantasi penjahat anak kecil, Casey mengetahui banyak wawasan tentang sejarah banyak negara, ia juga seorang poliglot atau orang biasanya menyebutnya dengan orang yang menguasai bahasa asing. Kecerdasan Casey di atas rata-rata. Casey juga dikenal sebagai anak Tom yang selalu paling cepat dalam menangani masalah pencurian, karena itu lah meskipun Casey terkadang suka bertindak sesukanya Tom tidak akan terlalu memarahinya karena untuk beberapa hal Casey memang bisa bergerak sendiri dan jauh lebih cepat dari Tom yang notabenenya sudah berpengalaman dalam mencuri barang antik juga otak dari komplotan mereka.  Tapi saat tadi Emma melihat Casey, Casey begitu berubah, bagaimana bisa Casey menjadi begitu penurut dan dipenuhi luka seperti itu? Emma bahkan hampir tidak mengenali Casey. Gadis lincah itu berubah menjadi orang lain. Casey harus menghadapi orang kejam yang akan melakukan penyiksaan jika Casey tidak mau menuruti perintahnya. Luka-luka itu mustahil ia dapatkan dari latihan. Emma tidak mungkin begitu saja mempercayainya. Semua luka itu pasti disebabkan pria kejam dan menyebalkan itu. Emma mengepalkan tangannya penuh emosi. Semua ini gara-gara pak tua Tom dan keserakahannya terhadap berlian sehingga Casey jadi berada di posisi yang sulit, menghadapi komplotan pencuri lain yang ternyata lebih besar dari Tom. Jika saja Tom tidak serakah dan lebih fokus pada pencurian artefak tanpa terobsesi untuk mengalahkan Blaxton, hingga ia beraliansi dengan Sean Archer Blaxton. Pasti sekarang Casey akan bersama mereka menjalani misi lain. Dan Casey tidak perlu berada di posisi sulit yang bahkan membuatnya babak belur seperti itu. Emma merasa sedih dan menyesal untuk gadis itu. Jika saja ia bisa menggantikan Casey, Emma pasti akan melakukan apa pun untuk mengalahkan pria itu. Bahkan jika harus melenyapkannya, Casey tidak akan ragu. Ia akan melenyapkan siapa pun yang berani melukai keluarganya. Keluarga satu-satunya. Emma memejamkan netranya cukup lama seraya mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangan. "Hah ... Maafkan aku Casey. Kau malah jadi tumbal dari si tua Bangka Tom serakah itu." Gumam Emma penuh penyesalan seraya menarik napas berat lalu membuka pintu mobilnya dengan banyak pikiran berkecamuk di otaknya seperti benang yang kusut. Bagaimana ia bisa membantu Casey keluar dari jerat Sean Archer Blaxton? Saat tadi ia beralasan ke toilet, Emma sebenarnya berkeliling di rumah Sean, mencari tahu apa ada celah yang membuatnya bisa menolong Casey. Namun yabg justru ia dapatkan adalah ringisan miris karena niatnya jadi terasa mustahil sekarang. Ia menemukan bahwa keamanan di rumah Sean cukup ketat. Ada banyak kamera pengawas, sensor keamanan, di tambah mungkin ada sensor lain yang tersembunyi. Emma mengernyitkan alisnya saat mengingat berita tentang perkembangan teknologi muncul dalam majalah teknologi, nama Willis Dean McDermott muncul di sana, dan saat Emma melihat dnegan jelas wajah pria itu, ia menyadari bahwa Willis Dean McDermott adalah Sean Archer Blaxton. Emma yakin bahwa ia tidak mungkin salah melihat. Ia memperhatikan wajah dari pria di majalah itu dan Emma bisa menjamin bahwa pria itu adalah pria yang sama. Hanya ditambahkan kaca mata dan lensa kontak yang berbeda dari warna asli netranya. Kemudian Emma jadi teringat bahwa keluarga Blaxton tidak mempublikasikan wajah mereka. Karena itu prestasi Sean ditulis dengan menggunakan data orang lain yaitu Willis Dean McDermott. Pria itu katanya berhasil menciptakan sistem keamanan yang tinggi dan canggih dan membuat banyak pengusaha besar tertarik untuk menggunakan jasanya. Padahal, Sean belum mempublikasikan ciptaanya itu secara resmi. Rancangan yang dipamerkan masih berupa trial atau percobaan. Maka Emma bisa menyimpulkan bahwa mungkin keketatan penjagaan di rumah Sean lebih ketat dari pada yang dilihatnya tadi. Dan itu membuat Emma merasa ngeri karena sistem keamanan tidak terlihat dan sederhana lebih menakutkan dari pada kamera pengawas atau sinar inframerah lebih mudah diakali. Tapi kalau sensor yang tidak terlihat? Itu akan membuatnya seolah melawan hantu. Suara mesin nyaring namun lembut terdengar, Emma mulai membawa mobilnya ke arah gerbang rumah bergaya Eropa mewah itu dengan banyak hal. Terlalu banyak hal sampai ia bingung harus memulainya dari mana. Emma akan memikirkan rencana itu lebih matang. Untungnya setelah bertemu Casey, Emma jadi memiliki banyak informasi tentang Sean selain informasi yang ia dapatkan dari hasil pencariannya sendiri.  Saat Emma melewati gerbang dengan pikiran berkecamuk, sudut netranya menemukan sesuatu yang membuatnya refleks menghentikan laju mobilnya. Emma melihat sosok pria yang mencurigakan tengah memperhatikan kediaman Sean, pupil Emma membola menyadari bahwa pria itu adalah pria yang tadi mengganggu Casey di pusat perbelanjaan. Seraya menghisap tembakau, pria itu menaruh telepon genggamnya di telinga. Sepertinya ia tengah menelepon dan kemungkinan melaporkan tentang Casey atau rumah Sean. Emma berdecak. Kalau begitu, jangan bilang bahwa pertemuan pria tadi dan Casey, bukanlah ketidak sengajaan seperti yang diceritakan Casey. Tapi pria ini memang mengincar sesuatu dari Casey sehingga ia memaksa Casey seperti tadi. Melihat usahanya yang mengikuti mobil Emma, maka Emma bisa menyimpulkan bahwa pria ini mengincar alamat rumah Sean. "Tapi untuk apa?" Emma bertanya pada dirinya sendiri, sebelum detik selanjutnya ia menyeringai. "Ah mungkin aku juga harus belajar membuat Aliansi untuk menyelamatkan saudara ku." Ungkapnya dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Lalu ia memutar kembali mobilnya untuk mendekati mobil itu. *** Willis merendahkan kepalanya, membawa tubuhnya untuk berdiri sejajar dengan Casey, "Jika rencana mu tidak seperti ini, kalau begitu ceritakan rencana mu yang sesungguhnya pada ku." Casey merasakan tubuhnya tersengat listrik tak kasat mata. Lagi dan lagi, Willis selalu mencurigainya. Meskipun memang benar sih Casey selalu merencanakan sesuatu, tapi sekarang ia sedang tidak merencanakan untuk kabur dari Willis lagi. Ia terlalu tergesa-gesa, jika memang Casey ingin kabur dari Sean atau Willis ia harus mempelajari kesalahannya, ia tidak boleh terlalu buru-buru dan gegabah. Meskipun ia ingin kabur dari Sean, tapi Casey tidak ingin menyulitkan pria itu. Lebih tepatnya ia tidak ingin menyulitkan Gloria, sih. Gloria sangat baik kepadanya, dan Gloria menganggap Sean sebagai saudara. Maka Casey akan berbuat baik pada Sean. Dan itu karena Sean adalah saudara Gloria, bukan karena ia memiliki perasaan khusus pada Sean.  "Mau sampai kapan kau terus mencurigai ku?" Tanya Casey lalu ia memutar tubuhnya. Dengan tubuh yang mungil, ia mengenakan apron yang terikat dengan tali yang cukup ketat. Seolah memamerkan pinggangnya yang kecil. Willis tiba-tiba merasa sesuatu menyengatnya, ia mendapati ada sesuatu yang memberontak dalam tubuhnya. Sebuah potongan fragmen di mana ia menarik pinggang ramping itu di ruangan temaram. Willis mengumpat. Ini pasti ingatan Sean. Apa yang Sean ingin sampaikan? Ia merindukan pinggang itu? "Tak ada waktu sekarang." Ujar Willis membuat Casey menoleh. "Tidak ada waktu? Astaga, kenapa kau ini maniak sekali bekerja. Sebentar, sebentar...." Casey memutar tubuhnya hingga kembali menghadap Willis. Di telapak tangannya ia membawa sebuah mangkuk, berisi sesuatu yang beraroma enak. Tangan kanannya menarik satu sendok berisi sesuatu seperti sup berwarna kuning yang masih mengepulkan asap. Dengan lembut ia meniup-niup sendok itu. "Nah sekarang buka mulutnya, a..." Willis menatap Casey tajam, "Aku sudah bilang aku tidak ada waktu, bukan--" Casey menatapnya dengan tatapan kecewa. Detik selanjutnya ia menaruh mangkuk itu kembali ke atas meja. Namun tangannya masih memegang sendok dengan sup yang sudah tidak terlalu panas. "Kau tidak seharusnya menolak makanan buatan tunangan mu! Hal yang harus kau lakukan adalah memuji makanan buatan tunangan mu. Wah ini enak sekali! Kau sungguh isteri idaman!" Ungkap Casey membuat Willis memutar bola matanya malas. Namun lagi-lagi, bukan Casey namanya jika ia tidak memiliki rencana untuk mewujudkan keinginannya. Casey memajukan tubuhnya merapat pada Willis. Ia mendongak seraya berjinjit karena perbedaan tinggi mereka yang kontras. Menatap pria itu di iris, satu detik, dua detik, hingga tiga detik berlalu, gadis itu masih menatapnya.  Awalnya Willis merespon tingkah Casey yang menurutnya konyol dengan tatapan merendahkannya yang sinis. Namun tiba-tiba sengatan tak kasat mata itu kembali muncul. Membuat hatinya merasa aneh. Willis tidak bisa mendeskripsikannya. Bagaimana, ya, rasanya Willis merasa hatinya tercubit. Lalu hatinya mengembang semakin kuat dan kuat hingga rasanya akan meledak. Kacaunya perasaan itu semakin menjadi-jadi membuatnya resah. Willis akhirnya menjadi orang pertama yang membuang tatapannya. Namun Willis membola saat tiba-tiba Casey membawa tangan kirinya yang kini menganggur untuk menarik wajahnya kembali menghadapnya, detik selanjutnya ia membawa jempol dan telunjuknya untuk mencubit hidung Willis. Membuat pasokan oksigen Willis terhenti hingga mau tidak mau ia harus membuka hidungnya untuk menarik oksigen. Dan tepat saat itulah Casey memasukan sendok berisi sup nya pada mulut Willis, melepaskan jari-jarinya dari hidung Willis dan menaikkan dagu pria itu untuk mengunyahnya. "Good boy!" Pekik Casey berjinjit dan meloncat-loncat untuk bisa meraih kepala Willis. Casey ingin mengelus surai pria itu untuk memberi pujian kecil, namun tinggi Sean benar-benar membuatnya mengumpat karena ia kesulitan. Karena berjinjit seraya meloncat-loncat Casey kehilangan keseimbangan, tubuhnya oleh dan menabrak tubuh Willis, untungnya selain tinggi kekar, tubuh Sean juga cukup kuat untuk menahan tubuhnya. Hingga saat Casey oleng dan menabrak tubuh bidang Sean, pria itu tidak ikut oleng dan tetap berdiri tegap seraya memegang pinggang Casey. Ah ralat, mungkin tubuh Sean tidak sekuat yang Casey kira, Casey terlalu berekspektasi tinggi. Detik selanjutnya tubuh pria itu ternyata ikut oleng hingga ia terjatuh dengan posisi terduduk di lantai. Willis jelas meringis kesakitan, Casey mendengar bunyi gedebum yang kuat. Casey bisa memperkirakan tulang ekor Sean menjadi bagian pertama yang mencium lantai.  Kini mereka terjatuh dengan posisi Willis duduk di lantai sementara Casey berada di antara dua kakinya, dengan tangan di atas d**a lebar Willis. Tatapan keduanya bertemu. Casey menatapnya canggung sementara Willis tidak bisa membuang tatapannya dari Casey. Ia terlalu fokus dengan perasaan aneh yang hinggap di hatinya, perasaan meledak-ledak yang membuatnya bahkan bisa mendengar degup jantungnya sendiri. Willis mengumpat. Jangan-jangan, Casey mendengar degupan jantungnya. Ah sial, serangan apa ini sebenarnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN