Chapter 42 : Apa Rencana mu?

1664 Kata
Casey tidak mengerti. Kenapa dengan hati ini? Kenapa ia ingin Sean kembali menggodanya seperti dulu? Apakah ia mengharap kemunculan Sean karena ia takut dengan Willis? Atau, Memang ia telah jatuh pada pesona pria itu? Casey tidak tahu. Yang ia tahu sekarang, ia hanya ingin segera melihat Sean. Di tambah ia juga sudah mulai lelah dengan semua pelatihan yang diberikan Willis. Masih terngiang dengan jelas di benar Casey saat ia harus menembak apel di atas kepala seorang bocah yang hanya ditutupi tirai putih, lalu Willis yang bisa semudah itu menembak anak kecil malang itu. Teringat hal itu Casey jadi penasaran, bagaimana sebenarnya keadaan anak itu? Hati Casey menjadi tidak tenang setiap kali ia akan memejamkan netranya di malam karena bayang-bayang kejadian saat pelatihan itu. Suara tembakan yang dilepaskan Willis pada hari itu menjadi mimpi buruk untuknya. Bukan itu hal yang ia bisa terima apa lagi Casey harapkan. Bagaimana mungkin latihan seperti itu bisa membuatnya semakin fokus? Itu latihan yang menekan mental juga psikologisnya. Pelatihan yang benar-benar menyiksanya. Casey terdiam, pikirannya berkecamuk dan malah baru menyadari apakah yang Willis target kan memang seperti itu? Apakah Willis sengaja menekan mental dan psikologis-nya agar Casey mau tunduk dan berada di bawah perintahnya? Menyadari itu Casey menepuk pipinya, mengerjapkan netranya berkali-kali seraya merapalkan suatu kata yang hanya bisa di dengar olehnya. 'sadar, sadarkah Casey! Jangan sampai terpesona padanya.' Casey mengingatkan dirinya sendiri dalam hati Suara langkah kaki samar-samar terdengar, "Wah kalian terlihat cukup serasi , kalian terlihat seperti pasangan pengantin baru." suatu suara yang renyah terdengar menyapa dari balik punggung Willis. Netra dua orang berbeda gender itu--Casey dan Willis, seketika membola penuh keterkejutan saat mendengar ada suara asing yang menyapa indera pendengaran mereka, terutama Willis. Dengan cepat Willis segera menolehkan tubuhnya ke arah belakang , untuk melihat Siapa kah orang pemilik suara asing yang baru saja menyapanya dari ketemuan bersama Donghae. Saat ia berbalik ia menemukan seorang gadis dalam penampilan yang cukup mencolok karena ia terlihat tomboy dengan rambut yang sangat pendek juga menggunakan pakaian yang menyamarkan gendernya. Namun gadis berpenampilan cukup tomboy itu memiliki tinggi badan yang tidak jauh dari Casey, sederhananya gadis itu cukup pendek. Willis merasa miris, jika gadis itu ingin menyamar atau memang benar-benar menyamarkan gendernya, Willis akan mengatakan usahanya gagal. Dan terlihat menyedihkan. Willis melirikan netranya, "Siapa ini? Apakah kau membawa makhluk asing dari luar saat aku tidak ada? Bagaimana bisa kau seberani itu?" tanya Willis menatap tajam Casey menuntut Jawaban. Casey terlihat tergemap untuk sementara kemudian ia berusaha mengatur ekspresinya. "Ini Emma--" Emma Melangkah dengan langkah yang sengaja sengaja dihentakkan sehingga menghasilkan suara cukup nyaring di dapur Wilis, "Hah? Makhluk asing, kau bilang? Ck, Apakah aku terlihat seperti alien?" protes Emma yang tidak terima dengan sebutan makhluk asing dari pria bernama Willis ini. Ternyata apa yang dikatakan Casey tidak salah. Pria ini menyebalkan. Ekspresinya, nada berbicaranya, dan yang paling menyebalkan koleksi artefak dan senjatanya yang begitu lengkap. Bagaimana bisa ia memiliki koleksi yang begitu banyak di rumah ini? Emma menggerutu, jangan sampai ia juga memiliki koleksi mobil mewah yang akan membuatnya semakin iri dan membencinya. Willis mendengus, "Tentu saja , semua hal yang bukan bagian atau penghuni dari rumah ini adalah asing. Termasuk tikus itu," ujar Willis Seraya melirik ke arah Casey yang juga terlihat sama-sama terkejut seperti Willis, karena ucapan Emma ditambah karena perlakuan Willis tadi membuat degup jantungnya bergerak dua kali lebih cepat dari biasanya, membuat gadis itu jadi kesulitan mengatur bahasa tubuh ekspresinya. "Ah, jika aku adalah makhluk asing, alien yang memakan daging manusia, maka aku akan memakan mu pertama kali, mengacak-acak sikap angkuh mu sebagai pria hingga kau tak berdaya." Sarkas Emma membuat ekspresi dan gerakan seolah ia akan menyerang Willis. Willis yang semula menatap dua bocah kecil--di pandangannya Casey dan Emma yang pendek adalah bocah, kini menatap dua bocah itu dengan tatapan geli. "Wah aku takut sekali sekarang. Apakah aku harus melapor polisi? Atau aku bisa mengambil senjata ku sendiri dan segera melenyapkan bocah alien yang besar kepala ini?" Tanya Willis melirik suatu titik di mana Casey tahu titik itu adalah salah satu tempat penyimpanan senjata Sean yang tersembunyi untuk keadaan darurat. Suara decakan terdengar, "Menggunakan senjata? Apakah kau sungguh seorang pria? Pria tapi memiliki mental penakut. Jika berani kita bisa melakukannya dengan tangan kosong." Bunyi gemerutuk tulang beradu terdengar, Emma mengepalkan tangannya, melipat jemarinya melakukan perenggangan kecil untuk mempersiapkan tinjunya pada Willis. Willis mendengus dengan kekehan, lalu detik selanjutnya ia juga mengepal dan melipat jari jemarinya hingga menghasilkan suara gemerisik yang sama, melakukan perenggangan. Casey terbelalak, itu bukan ide yang bagus sama sekali. Dengan cepat Casey segera menghalau Willis karena Willis adalah orang yang paling dekat jangkauannya. "Aku tidak setuju. Di sini aku lah yang menjadi tikus mu. Jangan libatkan orang lain." Ungkap Casey menatap Willis tajam. Willis menatap Casey dengan tatapan dingin. "Kalau begitu ajari makhluk asing itu cara bersikap sopan santun pada Tuan rumah." Sindir Willis merenggangkan kemeja putihnya yang terasa cukup ketat. Suara tawa tertahan terdengar dari bibir Emma, "Sedari tadi kau terus mengatakan orang asing, orang asing. Apakah karena kau menganggap Casey sebagai makhluk asing, kau pikir kau bisa melakukan apa pun pada makhluk asing ini? menyiksanya hingga babak belur, memasangnya kalung yang membuatnya terlihat seperti binatang peliharaan. Dan ternyata kalung itu akan membuatnya mati Jika ia melanggar perintah mu, apakah menurutmu kau dalam posisi yang berhak untuk melakukan itu?" ungkap Emma Seraya melirik ke arah Casey. Willis memicingkan netranya, lalu menatap lekat-lekat gadis berpenampilan tomboy di hadapannya itu , "Ah ... Aku mengenalmu, kau salah satu komplotan dari tikus ini bukan?" Emma menatapnya sinis, "Ya aku komplotan yang membantu rekannya menyelamatkan diri dari penguntit yang yang memaksa meminta Alamat rumahnya untuk mengecek hal apa yang bisa membuat wajah wanita ini babak belur , " Emma kembali melirik ke arah Casey. "Seharusnya berterima kasih kepada ku karena aku berhasil meredam kecurigaan orang lain terhadap tikus mu yang begitu penuh luka dan membuat orang-orang penasaran dengan apa yang terjadi padanya. Bayangkan jika ada orang lain yang memaksa tikus mu untuk membawanya ke sini tanpa kau ketahui , selalu menemukan ada banyak barang berharga dan koleksi persenjataan yang cukup banyak , mereka pasti begitu penasaran dengan apa yang kau kerjakan bukan? Mungkin kedokmu akan terbongkar tanpa kau duga." Emma yang kali ini sukses membuat Willis tidak bisa berkata-kata selain hanya bisa menatapnya. "Dan sekarang aku begitu penasaran Apa yang membuat biarkan ku ini menjadi begitu babak belur , Bisakah kamu memberi tahunya kepadaku? " tanya Ema dengan tatapan menelisik. Willis melirik ke arah Casey, " itulah yang ingin aku ketahui dari kemarin, Kenapa kau tidak bertanya langsung pada rekanmu Bukankah kalian ini adalah komplotan?" Casey yang semua terdiam mendengar ucap Willis, merasa hatinya tercubit. Willis pasti sedang menyindirnya! kalimat barusan adalah sindiran pedas Willis dari rencana Casey yang disiapkan Gloria. dengan cepat Casey menghampiri orang itu. "Ah ini, Emma kau salah paham. Semua luka-luka ini aku dapatkan karena aku latih tarung dengan Vivi. Salah satu robot yang diciptakan Sean. Jadi ini adalah murni kesalahan ku." ungkap Casey seraya menarik tangan Emma agar gadis itu tidak terus menuduh dan mengomeli Sean. "Salah paham?" Emma mengulangi ucapan Casey me memastikan bahwa ia tidak salah mendengar . "Ya, ini tidak seperti aku mendapat pukulan-pukulan ini dari Sean. Tapi ini karena kecerobohan ku sendiri yang latihan bertarung terlalu berlebihan , karena Sean." ungkap Casey dengan senyum Canggung. Emma melirik Casey dan Sean bergantian, alisnya terlihat bertaut penuh keraguan, "Benarkah ? Kau tidak perlu menutupinya jika merasa harus menutupinya karena kau takut dengan Sean." bisik Emma di telinga Casey. Casey menatap Emma dengan tatapan terharu, "Kau memang sungguh perhatian , tapi sungguh ini murni karena kesalahan ku jadi tidak perlu Terlalu khawatir. Lain kali aku akan hati-hati." ujar Casey tidak ingin membuat sahabat sekaligus saudaranya itu khawatir. Ema menghela napas, "Baiklah kalau begitu, aku percaya padamu," ujar Emma akhirnya. "Baiklah kalau begitu sebaiknya aku segera pulang, tua bangka tempatnya sedang mencari ku sekarang. Aku hanya khawatir dengan keadaanmu tapi juga keadaanmu baik-baik saja itu sudah cukup bagiku." ungkap Emma dengan senyum Tulus. "Tunggu, kau tidak bisa pergi seenaknya begitu saja. Aku ingin bertanya kepadamu terlebih dahulu, Bagaimana kau tahu komplotan tikus mu ini ada di sini? Lebih tepatnya, bagaimana mana komplotan mu tahu gadis ini di tahan di daerah sini?" tanya Willis. Emma terlihat memutar bola matanya berpikir, "Haruskah aku memberitahukannya kepadamu? jika harus pun, aku tidak akan memberi tahunya. yang jelas, bukan dari Tom. tua Bangka itu malah tidak berguna dan cenderung melarang ku bertemu dengan Casey." gerutu Emma. Willis hanya bisa bisa menhela napas, ia tidak akan memaksa. Emma memegangi tangan Casey, "Baiklah aku pergi sekarang. maaf aku tidak bisa membantu mu banyak. tapi aku selalu berharap kau baik-baik saja. kabari aku jika terjadi sesuatu atau jika kau sedang membutuhkan sesuatu." ungkap Emma tulus diangguki Casey. "Terima kasih," ucap Casey begitu senang karena ternyata Emma begitu memperhatikannya hingga bersusah payah menyusulnya ke sini. Semula, Casey berpikir bahwa tidak ada lagi orang yang memperdulikannya karena mereka semua bahkan Tom berlutut pasrah di bawah telapak kaki pria di hadapannya ini--Sean atau Willis. Emma tersenyum, "Ah ya, Lexie juga menitipkan pesan pada mu. katanya maaf karena tidak bisa membantu. Kau pasti mengerti keadaan kami, bukan?" mendengar itu, hati Casey terasa menghangat. Casey balas menggenggam tangan Emma. "Tidak perlu meminta maaf, aku akan segera pulang ke rumah." janji Casey diangguki Emma mantap. Emma melirik ke arah jendela di mana cahaya matahari mulai meredup menunjukkan bahwa waktu sudah beranjak pada sore hari. "Baiklah, aku pergi. bye bye, Casey." pamit Emma diangguki dan dibalas dengan senyum senang Casey. Casey merasa suasana hatinya membaik setelah bertemu Emma, senyum terlihat terus terukir di bibirnya. namun senyum itu memudar saat ia menoleh mendapati wajah serius Sean sedang menatapnya seperti hakim. "Apakah alasan mu untuk keluar karena kau ingin menemui komplotan mu itu, tikus?" tanya Willis dengan nada dingin membuat Casey merasa tidak nyaman. "Tidak! aku tidak merencanakan hal seperti itu," sanggah Casey. Willis merendahkan kepalanya, membawa tubuhnya untuk berdiri sejajar dengan Casey, "Jika rencana mu tidak seperti ini, kalau begitu ceritakan rencana mu yang sesungguhnya pada ku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN