Chapter 41 - Perasaan Aneh

1680 Kata
"Jadi, kau akan membawaku ke rumah mu, bukan?" Casey mendongak menatap pria bertubuh jangkung itu dengan tatapan tajam. Sorot netranya bergerilya dari ujung rambut hingga ujung sepatu hanya untuk mencari sesuatu yang bisa ia jadikan untuk menolak permintaan pria di hadapannya ini, namun sepertinya Dewi Fortuna sednagbtidaj ingin memihaknya atau mungkin otaknya yang sedang tidak mau bekerjanya sama. Entah apa yang terjadi padanya tapi yang jelas ia merasa bahwa otaknya terasa begitu buntu. Sebenarnya Casey jadi penasaran, apakah ini efek luka-luka di wajah dan tubuhnya yang masih membengkak sehingga otaknya lebih fokus untuk mengalihkan rasa sakit itu dan jadi malas berpikir, atau memang sebenarnya ia sedang malas berpikir? Casey tidak tahu mana tepatnya. Tapi Casey harus segera menemukan cara menghindari pria ini meskipun ia tidak sedang tidak bisa menggunakan otaknya. Casey mengibaskan tangannya di udara menunjukkan penolakan, "Aku sudah bilang kalau aku tidak bisa membawa mu atau siapa pun ke rumah ku. Bagaimana jika kau ternyata seorang pencuri? Seseorang yang berencana menyerang rumah kami atau rencana-rencana lain yang mungkin bisa merugikan kami." Ungkap Casey dengan nada tak ramah yang begitu kentara berharap pria ini berhenti mengganggunya dan pergi meninggalkannya saja sehingga ia bisa segera kembali ke rumah Sean. Ia masih memiliki banyak hal yang harus diurus, lalu selain itu ancaman pria ini tidak terlalu menakutkan, yang paling menakutkan adalah ancaman Kakung yang dipasangkan Willis di lehernya ini. Casey tidak tahu dan tidak bisa membayangkan jika ia pulang terlambat gara-gara pria ini lalu ia harus mati dengan cara yang bisa dibilang nahas. Kepala meledak? Leher putus? Membayangkannya saja membuat Casey bergidik ngeri. Ia jelas tidak mau mati dengan cara seperti itu! Jika ia bisa memilih maka ia ingin mati dengan cara yang tidak terlalu mengerikan. Pria itu menyipitkan netranya menelisik penuh kecurigaan pada Casey, "Heh ... Kalau begitu harus kah aku memanggil polisi untuk memeriksa keadaan mu dan rumah mu?" Tanya pria itu dengan nada yang sungguh demi Tuhan, menyebalkan! Kenapa ia begitu penasaran dengan kehidupan Casey? Apakah ia tidak memiliki kehidupan sendiri untuk ia urus? Casey menarik napas dalam menunjukkan kejengahannya, ia terlihat mengepalkan dua tangannya karena emosi, "Baiklah, kau pikir hanya kau yang bisa mengancam? Kau salah besar. Aku juga bisa berteriak di sini dan mengatakan pada orang-orang termasuk petugas keamanan bahwa kau seorang penguntit yang memaksa untuk ikut ke rumah ku." Ungkap Casey sedikit mengancam. Namun bukannya merasa takut, pria itu malah terkekeh. "Kau cukup menarik." Puji pemuda itu namun tidak sedikit pun membuat Casey ingin memujinya. Di saat Casey berpikir bahwa ia benar-benar tidak akan bisa lepas dari jerat pria yang serba ingin tahu ini secara jelas bisa disebut menyebalkan, entah keajaiban atau Tuhan memang berbaik hati ingin membantunya. Casey justru mendapati sesosok orang yang amat sangat di kenalnya berada di antara kerumunan orang-orang yang sedang belanja di pusat perbelanjaan ini. Dan Casey memekik penuh syukur saat orang yang ia maksud menoleh dan menghampirinya. Casey bersorak dalam hati, apakah ini yang disebut sebagai telepati? Emma pasti mendengar isi hati Casey dan datang segera untuk menyelamatkan Casey! Langkah orang yang sangat dikenalnya itu semakin mendekat, "Casey, siapa orang ini?" Tanya suara itu yang seketika setelah ia sampai. Netra Casey membola penuh binar, namun ia berpura-pura terkejut dengan kemunculan Emma. "Emma?" Pekik Casey hampir ingin memeluk gadis yang sudah ia anggap saudara itu jika saja ia tidak menyadari kode dari Emma untuk jangan melakukan hal yang ingin ia lakukan. Lihat? Emma bahkan bisa menebak apa yang akan dilakukan Casey. Membuat Casey yakin bahwa mereka sungguh memiliki telepati. "Kenapa sedari tadi ia terus mengajak mu berbicara? Apakah kau mengenalnya? Kita bisa melaporkannya." Ungkap Emma melirik pria itu dengan tatapan sinis. Jika saat ini Casey tidak sedang di hadapan orang lain, Casey pasti akan menatap Emma dengan binar kagum, dua tangannya pasti ia pertemukan untuk saling mengepal membuat posisi seolah ia sedang terpesona namun sebenarnya ia merasa kagum seperti gadis kagum dan bangga pada film-film. Emma menarik tangan Casey, "Ayo pulang," ajak Emma dengan nada bersemangat namun pria itu hanya bisa menatap Casey dan Emma bergantian dengan ekspresi gelagapan. "P-pulang?" Pekik pria itu terkejut. Pria itu mengerutkan alisnya, "Lalu bagaimana dengan hutangnya? Dia memiliki hutang pada ku." Ungkap pria itu membuat Emma memicingkan netranya kembali, terlihat semakin sinis. "Berapa?" Tanya Emma ketus, membuat pria bernama Aaric Grisham itu merasa sedikit tersinggung dan kesal kepadanya. "Ini bukan lah masalah uang--" tukas Pria jangkung itu, namun Emma memotong ucapannya "Kalau begitu jangan lagi ganggu kakak ku." ancam Emma. "Mengganggu? Aku tidak mengganggu, aku hanya ingin tahu di mana gadis ini tinggal." Ujar pria itu menunjuk Casey dengan telapak tangan yang terbuka tak percaya dengan apa yang baru Emma tuduhkan padanya. Emma menatap pria itu tak percaya, "Apakah kau tidak tahu itu salah satu dari sifat menakutkan, seperti penguntit?" "Aku bukan penguntit." Geram pria itu. "Kalau begitu jangan memaksa seseorang apalagi jika itu seorang wanita untuk memberikan mu alamatnya. Apalagi kakak ku ini sudah bertunangan, jadi tolong jangan melakukan hal yang tidak seharusnya. It's fuckin creepy and freak." Ungkap Emma yang di membuat hati Casey bersorak Sorai seraya dalam hati terus memekik, rasakan itu, cecunguk! Emma yang sedikit tomboy memiliki aura mengintimidasi yang kuat. pria itu membatu tidak bisa berkata-kata. Gadis berambut sangat pendek nyaris seperti potongan rambut pria, juga dengan style androgini membuatnya benar-benar seperti pria, jika saja ia tidak memiliki tubuh pendek dan bukan wanita, mungkin Aaric bisa memberinya pelajaran, namun karena gender justru membuat Aaric diam tanpa bisa melawan. Karena firasatnya mengatakan bahwa gadis ini akan sulit dikalahkan diam berdebat. Emma menyodorkan lembaran uang bersama sebuah kartu nama, "Jika kurang, kirim saja pesan dan sebutkan nominal jumlah kekurangannya di nomor ini." Ujar Emma lalu mengait pinggang Casey untuk pergi. detik selanjutnya pria bernama Aaric Grisham itu hanya bisa melihat punggung dua gadis itu menghilang tanpa bisa berbicara apa-apa. Sementara Casey melenggang dengan langkah puas penuh kemenangan atas perdebatannya dengan pria itu. Ia benar-benar beruntung karena menemui Emma di sini. "Terima kasih, Emma!" Bisik Casey pada gadis yang memiliki tinggi setara dengannya itu. Emma menoleh lalu tersenyum. "Bukan masalah. Aku akan mengantar mu pulang, kebetulan aku membawa mobil. Jadi kau bisa lebih aman." Ungkap Emma terdengar seperti tawaran mutlak. Casey semula ingin menolak, ia takut jika ia membawa Emma, Sean atau Willis justru akan marah padanya karena mungkin mereka berpikir Casey berani membawa komplotan nya tanpa izin. Casey resah, apakah harusnya ia menolak? Tapi jika ia menolak dan melarang Casey untuk mengantarnya itu terkesan Casey menjauhi Emma. Casey sebenarnya dilema, namun Emma sudah ia anggap Benar-benar saudaranya, bagaimana ia bisa menolak? "Aku tidak yakin karena tuan muda Blaxton agak, em menyebalkan jika ia tahu aku melakukan sesuatu tanpa izinnya." Casey terlihat menatap ke arah jalanan yang ia pijak. Sementara Emma terlihat memicingkan netranya. "Menyebalkan?" Ulang Emma. Casey mengangguk, "Begitulah." "Apakah ia akan menyiksa mu seperti ini jika kau tidak menurut padanya?" Selidik Emma dengan sorot penuh amarah di netranya. Casey bisa melihatnya dengan jelas. "Ini um, bukan seperti itu. Aku akan menceritakannya sambil kita pulang. Soal kedatangan mu, mungkin aku bisa mengatakan soal lelaki menyebalkan tadi." Terang Casey. Emma mengangguk, "Baiklah. Yang penting sekarang kita sampai rumah dulu." . Casey menatap puas panci berisi sup yang baru saja diaduknya itu setelah ia mencicipi dan mendapatkan rasa sesuai yang ia inginkan. Sebenarnya Casey bukan seorang yang ahli memasak, hanya saja ia sesekali melihat tutorial di televisi. Namun ia tak menyangka sup jagung dengan asparagus ini rasanya cukup luar biasa dari yang pernah ia cicipi, bahkan Emma juga mengakui kelezatan sup ini. Ia memang luar biasa! Ia mungkin harus lebih banyak memuji dirinya sendiri mulai sekarang. Ah membiacarakan soal Emma, gadis itu mengatakan bahwa ia harus pergi ke kamar mandi. Tapi kenapa ia lama sekali? “Apa yang sedang kau lakukan?” Casey terkejut tatkala ia menemukan Sean atau Willis—sialannya Casey masih belum bisa membedakannya—muncul secara tiba-tiba dibelakang Casey dengan tatapan tajam. “Menginvasi dapurmu sayang, hehehe.” jawab Casey berusaha terlihat tenang meskipun jantungnya berdetak tak karuan melihat wajah dingin Willks dengan tangan yang sudah disaku bersiap menarik rollovernya dan mungkin ingin memecah bola matanya sebentar lagi. Tapi sungguh demi tuhan, kali ini ia berharap agar Willis tak berencana demikian. Semoga kali ini Willis bisa menyadari bahwa ada orang lain di sini sehingga ia tida melakukan hal yang mencurigakan. “Apa?” tanyanya dengan alis yang berkerut. Casey tersenyum lalu ia menyendok satu sup jagung dan dibawanya ke arah Sean yang masih berdiri kaku dibelakang Casey. “Ayo buka mulutmu a~” ujar Casey seraya berjinjit menyuapkan sup itu pada mulut Willis. Namun Willid tak kunjung membuka mulutnya dan malah menatap Casey dengan tatapan menusuk. “Aku bertanya apa yang sedang kau lakukan” tegas Willis masih dengan nada dinginnya yang membuat Casey mulai ciut. “Me-membuat sup jagung. Tadi saat aku membeli pembalut, aku pikir bisa sekalian membeli sup jagung. Sebagai wanita aku ingin membuatkan sesuatu seperti makanan untuk mu, melatih bakat kewanitaan ku, hehehe. Kau menyukainya kan?” ungkap Casey menurunkan sendok nya, ragu bahwa Willis—Casey menyimpulkan sementara—akan melahap sup itu. Seharusnya ia menyadari bahwa ini bodoh. Ini rencana kedua yang bodoh setelah rencana latihan yang direncanakan Gloria. Casey merutuk. Ia sungguh tidak bisa memikirkan rencana yang bagus. Setelah menyadari kebodohan idenya, Casey kembali berjalan kearah panci sup nya dan mengaduk sup itu dengan rasa sesal dan sedikit kecewa. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Willis terlihat berjalan ke arah Casey lalu ia berhenti tepat di depan punggung Casey yang tengah membelakanginya lalu ia mengenyampirkan rambut Casey dalam kelengahan Casey. Membuat Casey terkejut dan refleks membalikkan badannya secara tiba-tiba. Kini tatapan keduanya bertemu dalam satu garis yang sama. Casey tanpa sadar menelan ludahnya saat ia melihat wajah Sean. Masih di alam bawah sadarnya, tangan Casey bergerak menyentuh wajah itu mengelus garis wajah tegas pria dihadapannya dengan tatapan yang juga tak bisa dijelaskan Casey kenapa. Jika saja Sean yang melihat Casey sekarang, mungkinkah Sean bisa menjelaskan arti tatapan dan perasaan emosional Casey padanya? Deg Deg Deg Kenapa dengan hati ini? Kenapa ia ingin Sean kembali menggodanya seperti dulu? Apakah ia mengharap kemunculan Sean karena ia takut dengan Willis? Atau, Memang ia telah jatuh pada pesona pria itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN