Chapter 40: Ramalan Diana

1858 Kata
Bunyi halus gemuruh mesin terdengar, sebuah mobil sport hitam Roll Royce Phantom terparkir apik dan mulus di samping sebuah pub terkenal kota pinggiran Yokshire bagian barat. County yang paling berkembang dan daerah perkotaan terbesar dalam batas-batas wilayah historis Yorkshire. County di Yokshire yang memegang titel sebagai kota metropolitan karena menjadi pusat perekonomian, industri dan perdagangan. Daerah yang cukup padat dan ramai, daerah yang tidak disukai Willis. Saat pria berambut kelam itu turun dari mobil mewahnya, sesosok pria dan wanita yang amat ia kenal menyambut kedatangannya dengan tatapan yang cukup serius. "Kau sudah baik-baik saja? Jika tahu kau sudah bisa bepergian, aku akan menitipkan seseorang pada mu." Ungkap Willis yang melihat kehadiran Gloria tepat di samping Erick--Pria yang menyambut kedatangannya. Gloria membolakan netranya melirik Willis bingung, "Menitipkan? Menitipkan siapa? bocah? Kau pikir aku baby sitter? Dan lagi tidak akan ada bocah yang betah berlama-lama di samping wanita dewasa yang galak seperti ku." Ungkap Gloria mengekori Willis dan Erick yang melangkah masuk ke arah Pub, bernama Rose Pub's itu. "Dia bocah yang justru sepertinya menyukai mu. Begitu pun sebaliknya." Ungkap Willis membuat Gloria menyadari bahwa sepertinya maksud ucapan Willis barusan mungkin adalah Casey. "Maksud mu, Casey?" Tebak Gloria. "Bocah menyebalkan yang sering sekali membuatku lelah." Gerutu Willis membuat Gloria terbahak pelan. "Hahaha apa-apaan dengan gerutuan mu itu? kau terdengar seperti kakek-kakek yang menggerutu karena memiliki cucu yang hiperaktif, hahaha. Dan sampai kapan kau akan memanggilnya bocah? Dia sudah cukup matang lho ... Wah biar aku tebak, kau masih belum menyentuhnya kan? Biar aku beri tahu ukuran nomor Cup dari buah dadaa-" Willis melirik Gloria sekilas, membuat wanita itu segera mengatupkan bibir dengan perasaan waswas. Erick yang merasa bahwa ia adalah orang paling normal; tidak hiperaktif seperti kekasihnya, namun juga tidak terlalu dingin seperti Willis, hanya bisa menghela napas. "Kau hanya tidak tahu bahwa Erick juga mengeluhkan hal yang sama saat ia pertama kali berkencan dengan mu." Gloria menoleh menatap Erick yang menegang karena ucapan Willis barusan. Namun detik selanjutnya Erick menatap Willis dengan tatapan penuh keterkejutan. Ia tahu benar bahwa rahasia itu hanya diketahui Sean. Dan hanya Sean lah yang saat itu merespon dan membantunya dengan sangat baik hingga membuat hubungannya dengan Gloria berjalan mulus. Ia yakin seratus persen bahwa Willis tidak mungkin mau mendengarkan keluh kesahnya apalagi ikut campur dan membantunya. Erick jadi penasaran, apakah pria do hadapannya ini sungguh Willis? Erick berharap bahwa sekarang yang di hadapannya ini adalah Sean. "Kau sungguh berkata seperti itu?!" Pekik Casey tidak terima. Tersadar dari lamunannya, Erick hanya bisa cengengesan seraya meminta maaf. "Maaf, hehehe. Ah ya, Pak Donghae ada di lantai atas, si smoking room." Ujar Erick menunjuk tangga yang ke arah lantai dua, sekaligus mengalihkan perhatian Gloria agar tidak menghajarnya di sini. Tiga orang itu menoleh kanan kiri, memastikan bahwa tidak ada orang yang mencurigakan yang mungkin akan mengikuti dan menguping pembicaraan mereka lalu detik selanjutnya, Erick dan Gloria dan melangkah lebih dulu sebagai penunjuk jalan ke arah meja mereka. Ketika Willis akhirnya sampai di meja yang Erick tunjukkan, ia melihat seorang pria berpenampilan semrawut dan sedikit kumuh, tengah duduk tenang dengan sebotol whiski di tangan kirinya, menatap sendu pada bungkusan tembakau di hadapannya. Willis menarik kursi di depan Pak Tua itu, diikuti Gloria. Sementara Erick memutuskan untuk berhenti di tangga untuk memastikan dan memeriksa bahwa mereka benar-benar dalam situasi aman tanpa penguntit. Bunyi decitan kursi kayu dengan kaki besi itu tidak sedikit pun terlihat membuatnya bergeming. Pria tua itu terus tertunduk membuat Gloria bertukar pandang dengan Willis. Bingung apa yang harus mereka lakukan. Bahkan memilih topik pembicaraan pun terasa seperti ujian. "Jadi, bagaimana rasanya mengasingkan diri dan menjadi penjudi di slum area?" Tanya Willis yang seketika membuat Gloria tertohok. Apa yang baru saja pria itu katakan? "Kenapa? Kau tertarik? Tapi maaf aku tidak suka membawa bocah bersamaku. Apalagi bocah yang hanya suka merengek." Balas pria itu yang membuat Gloria lebih tertohok. Mereka dulu adalah orang yang akrab nyaris seperti ayah dan anak. Apakah begini cara tepat untuk menanyakan kabar dan saling bersua sapa setelah belasan tahun tidak bertemu? "S-sudah lama tidak bertemu, Pak Tua." Ujar Gloria memilih mengambil nahkoda pembicaraan. "Wah kau sekarang sudah dangat dewasa dan cantik, Glo." Puji pak Tua itu yang tanpa sadar membuat netra Gloria berkaca. "Aku bahkan sudah memiliki kekasih," ungkapnya melirik Erick yang juga membalas lirikan Gloria dengan senyum. "Kau seharusnya menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan memberi ku cucu. Aku tidak menikah dan tidak memiliki anak. Saat aku mati tidak akan ada yang mengenang atau mengetahuinya." Netra pak tua itu terlihat berkaca dari balik rambutnya yang cukup panjang, "Aku akan mati di gubuk ku dan ditemukan sudah menjadi tulang belulang, hahaha." Gloria menarik napas, lalu mengusap tangan pak Tua yang pertama kali menemukan dan mengangkat gadis kecil yang akan dijual seluruh organ tubuhnya di pasar gelap.  "Karena itulah seharusnya kau bersyukur sebelum kau benar-benar mati masih ada orang yang mau mencari mu dan ingin menemui mu." Celetuk Willis yang kali ini benar-benar membuat Gloria merasa cukup tersinggung atas ucapan Willis. "Hei, bukankah seharusnya kau bertanya kabarnya? Bagaimana pun, sekarang dia adalah satu-satunya saksi hidup yang tahu tentang the Oppenheimer dan ibu mu." Ujar Gloria mengingatkan.  Suara kekehan terdengar, "Sedih sekali mengetahui bahwa kalian mencari ku hanya untuk the Oppenheimer," Donghae terlihat menghela napas, "Padahal aku sudah menduganya, tapi kenapa, terasa cukup menyebalkan?" Gloria kembali menyentuh tangan pria yang hampir semua rambutnya sudah beruban itu, "Kami memang me cari mu sedari dulu." Donghae terkekeh hambar, "Aku tidak tahu apa pun tentang the Oppenheimer. Kalian sia-sia jika bertanya itu padaku." Pak tua itu mendongak wajahnya menatap Willis dengan tatapan tak terbaca. "Hanya satu hal yang bisa aku beri tahu pada kalian. The Oppenheimer adalah permata penuh kutukan, menurut cerita sejarah permata itu menyimpan kekuatan kegelapan—Kau seharusnya tidak bermain-main dengan permata itu." Pria dengan janggut tipis itu meneguk kembali whiskinya dari botol, menggunakan tangan kirinya yang sudah sedikit bergetar padahal pria itu terbilang terlalu gagah untuk disebut seorang tua renta, sementara itu pria muda di hadapannya hanya bisa terdiam dengan raut dingin tak berniat untuk meminum sampanye mahal yang dipesankan Erick.  Ia malah lebih tertarik menganalisis kemungkinan penyebab pak tua itu kehilangan tangan kanannya. Kira-kira apa yang menyebabkan tangan kanan pak tua itu putus sampai lengan? "Kau, ingin membodohi ku?" Sindir Wilis. “Jika tujuanmu mencari the Oppenheimer untuk karena kematian ibumu, aku beri tahu bahwa itu tidak ada sangkut pautnya dengan openheimer. Jadi lupakanlah tentang openheimer itu sekarang. Kau hanya membuang-buang waktu.” Tangan Willis mengepal di atas meja, "Kau bekerja pada ibuku. Kau tahu semua hal tentang openheimer itu. Kau juga tahu kemana ibuku bukan?” tanya pria muda itu menatap sang pria tua dengan tatapan tajam. “Ibumu sudah tiada. Kau tahu itu” “Tidak. Ibuku masih hidup. Semua ini karena openheimer itu bukan? Aku yakin ibuku masih hidup." Sanggah Willis. Namundetik selanjutnya ia merasa pening tiba-tiba menyerang kepalanya. Membuatnya meringis kesakitan. “Kau sendiri yang mem-“ “Ck kau juga ingin mengatakan bahwa aku yang membunuh ibuku? Mengecewakan. Sia-sia aku mencarimu selama ini.” ungkap Willis kali ini menenggak sampanyenya. Beeharao setelah menenggak minuman beralkohol itu, rasa pening ini bisa menghilang. “Ibumu tak akan suka kau berurusan dengan oppenheimer. Oppenheimer berbahaya. Percayalah.” Willis terkekeh, "Tentang kutukan? Jujur saja awalnya aku tidak mempercayai tentang kutukan atau kekuatan gelap openheimer itu. Namun saat aku melihat sendiri makhluk dari openheimer itu, aku mau tak mau harus percaya. Benda itu memang terkutuk, dan aku harus mencari tahu tentang kutukan itu." Kukuh Willis. “Ini bukan soal kutukan Sean-“ “Kau seharusnya tahu aku mewarisi kecerdasan ibuku. Tentu aku sudah membaca semua cerita sejarah tentang oppenheimer itu. Jika yang kau permasalahkan adalah soal kutukan, Aku menggunakan seorang Thief yang virgin untuk mencegah kutukan itu. Sesuai syarat yang diminta, di buku catatan itu, hanya seorang Virgin yang bisa menyentuhnya bukan?” Pak Tua Doanghae itu menafuh botol whiskinya di atas meja dengan cukup keras, “Sean, kau tidak mengerti-“ DOOOR Namun Sean dalam sosok Williams lebih berbahaya dan rpemuh aura tekanan. Willis membalas teguran botol whiski Pak Tua itu dengan sebuah tembakan di udara. Suara jeritan terdengar dari lantai satu, Erick hendak menghampiri Willis namun ia mengurungkannya karena ia a tahu setelah ini mungkin para oenjaga Pun ini akan mencari sumber suara tembakan tadi ke sini. Erick harus menahan mereka dengan cara apa pun. Pria paruh baya itu terdiam, tak berani lagi menyahuti Sean saat sebuah bunyi hempasan peluru nyaring terdengar dan menghentikan rotasi waktu. Napas Willis terlihat asik turun tak beraturan karena emosi,"Diam! Kenapa semua orang mengatakan aku tidak mengerti sementara aku yakin bahwa aku yang paling tahu?!” bentak Sean setelah ia menghempaskan sebuah tembakan di udara yang seketika membuat bungkam sang pria tua. “Cukup! aku tak membutuhkanmu lagi. Tapi aku belum berniat untuk membunuh mu sekarang” Sean mengakhiri ucapannya lalu ia kembali memasukan rollovernya pada saku di balik jas nya sebelum detik selanjutnya ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan dengan nuansa cahaya merah redup di ruangan itu. Gloria hanya bisa menatap Sean dan Donghae bingung. Perasaan terkejut karena suara tembakan tidak terduga tadi saja belum selesai ia redakan dan sekarang Willis sudah melaju meninggalkannya. "Sean! Sean!" Panggil Gloria, memundurkan kursinya hendak mengejar Sean. Namun Pak Tua di hadapannya memegang tangan Gloria, menahan wanita itu untuk sementara. Gloria menoleh menatap Donghae dengan tatapan khawatir, "Maafkan atas sifat Sean. Ia tidak bermaksud kasar, tapi selama lebih dari sepuluh tahun ini ia terus dibayangi kematian ibunya. Juga orang-orang yang menuduhnya membunuh nyonya Diana." Ungkap Gloria dengan netra berkaca. Teringat bahkan Sky saudaranya dan ayahnya sendiri membedakan perhatian mereka karena tuduhan bahwa Sean yang membunuh ibunya. "Aku tahu, hidup Sean memang berat. Aku memperhatikannya diam-diam sekaligus memperhatikan mu, putriku." Ungkap Donghae yang seketika membuat bulir bening di netra Gloria berjatuhan. "Terima kasih, Papa." Ungkap Gloria mengenang panggilannya pada Pak Tua yang sudah ia anggap sebagai ayah dan sosok penyelamat hidupnya. "Tapi ada satu hal yang harus kau lakukan, untuk ku dan Diana, permintaan terakhir ku." Pak tua itu menggenggam tangan Gloria erat. "Kau harus mencegah Sean mencari tahu tentang the Oppenheimer. Jangan biarkan Sean berurusan dengan the Oppenheimer." Pinta Donghae membuat Gloria menyipitkan netranya bingung. "Itu mustahil, ia sudah terobsesi dengan benda itu sejak lama." Terang Gloria. "Jika kau ingin hidup Sean dan hidupmu aman, kau harus melakukan itu. Berjanjilah padaku." pinta Donghae dengan tatapan penuh harapan. "Tapi kenapa benda itu berbahaya?" Tanya Gloria bingung bercampur penasaran. "Itu karena--" baru saja Donghae hendak menjawab pertanyaan Gloria, panggilan darurat masuk pada Gloria, panggilan itu dari Erick yang bertanya di mana Gloria karena Erick membutuhkan kehadirannya. Seolah mengerti dengan situasi Gloria, dengan tangan kiri ia segera menulis sesuatu di kertas, sebuah nomor telepon. "Aku akan menceritakan semuanya nanti. Semua yang aku tahu tentang The Oppenheimer. Sekarang pergilah pada kekasih mu dan katakan bahwa Papa mu ini suka lelaki yang macho sepertinya." Ungkap Donghae yang membuat Gloria tersenyum, Gloria menghambur memeluk pak Tua itu. Sebelum detik selanjutnya punggung anak gadisnya itu menghilang di balik pintu. Sang pria tua meratapi kepergian anak angkatnya itu seraya melirik sebuah buku bersampul kulit di sakunya. “Bagaimana ramalanmu bisa tepat sekali, Diana? Anakmu kini mencari oppenheimer itu. Apa yang harus aku lakukan untuk mencegahnya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN