Chapter 39 : Pria Menyebalkan lain

1745 Kata
"Astaga, apa yang terjadi dengan wajah mu?!" tanya pria itu menatap wajah Casey dengan tatapan syok. Casey segera menepis kasar tangan pria itu yang hendak menyentuh wajahnya. "I-ini hanya sedikit luka--" Casey merasakan netranya bergerak tidak fokus. Kepalanya masih terasa sakit karena wajahnya berkedut kaget. Dan itu membuat otaknya tidak bisa berpikir alasan apa yang wajar ia katakan tentang luka-luka ini. "Luka apa?" Tanya pria itu lagi, namu. Casey enggan menjawab. Ia masih berpikir alasan tepat tentang luka-luka ini. Menyadari bahwa Casey mungkin tidak ingin menceritakan dari mana asal dan penyebab luka ini, pria itu akhirnya menyerah, "Baiklah, aku mengerti jika kau tidak mau menceritakannya. Tidak masalah jika kau tidak ingin menceritakannya. Tapi sekarang kita ke rumah sakit, oke? Luka-luka mu tampaj cukup serius--" “Tidak usah, terima kasih, kau sangat pehatian dan baik tapi aku tak punya waktu . Aku sungguh baik-baik saja.” ujar Casey setelah berhasil melepaskan diri dan mengambil kembali topi dan maskernya yang tadi dijatuhkan. “Bagaimana aku bisa membiarkan mu dengan banyak luka seperti ini? Aku akan mengantarmu ke rumah sakit!” Kukuh pria itu membuat Casey memekik dalam hati. Ah kesialan lagi, kenapa orang ini malah bersikukuh ingin menolongnya? Kenapa ia tidak bisa bersikap tak peduli saja dan membiarka Casey pergi? “Ah anda baik sekali, saya bisa pergi sendiri. Terima kasih.” ujar Casey menarik troli belanjanya menjauh seraya memaksakan nada dan senyum ramah, ia tidak boleh membuat orang ini curiga dan malah semakin mengikutinya. Namun tak lama Casey harus menarik napas jengah karena rupanya pria itu tak menyerah untuk mengejarnya dan menaruh dua tangan nya di samping kanan kiri troli Casey hingga seakan-akan pria itu akan memeluk tubuh Casey dari belakang. Duaaghh “Arghh!” pria itu memekik kesakitan “Apa yang sebenarnya kau lakukan?!” pekik Casey cukup histeris setelah menyikut perut pria itu tepat di ulu hati secara refleks dan malah sepertinya cukup kuat karena ia berpikir bahwa pria itu akan melakukan hal yang mengancamnya. “Argh ... kau terluka, tentu saja aku akan membawakan trolimu. Hal yang dilakukan pria gentleman! Tapi argh ... Ini sakit sekali!” ringis pria itu meringkuk di lantai kesakitan. Dan kejadian itu sukses menarik perhatian para pengunjung yang juga sama-sama sedang berbelanja di kawasan perbelanjaan itu. Kini semua orang menatap pada mereka berdua dan bahkan beberapa pengunjung menghentikan langkah mereka karena penasaran dengan apa yang terjadi. Dua petugas keamanan pun tak luput untuk menghampiri mereka bertanya penyebab kerumunan orang-orang. Ini terlalu menarik perhatian. Sial! Casey tak ingin mwnjadi pusat perhatian seperti ini karena itu jelas membahayakannya. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang. Apa yang harus dilakukannya? Casey mengusap wajahnya seraya menarik napas. Pertama ia tak boleh panik. Ia hanya harus membubarkan orang-orang yang berkerumun ini dan mengusir petugas bukan? Ia harus melakukannya secara halus agar orang-orang ini tidak curiga padanya. Baru setelah itu ia menyingkirkan pria sok akrab, sok baik dan sok gentleman ini dari pandangannya. Dengan cepat Casey melangkahkan kakinya untuk menghampiri pria itu seraya memutar otak memikirkan apa yang harus dilakukannya. Yang jelas ia tidak boleh mengatakan bahwa pria ini adalah orang me*sum yang memeluknya dari belakang padahal mereka tidak saling mengenal. Karena sudah terlanjut kontak fisik, Casey yakin bahwa pihak keamanan akan membawa Casey dan pria ini ke kantornya. Memakan lebih banyak waktu dan pada akhirnya ia akan terbunuh karena ia tertahan di luar sini lebih lama dari tenggat waktu yang diberikan Willis. Casey mengumpat dalam hati. Seharusnya Casey berteriak tadi saat pria ini berusaha mendekatinya dan melakukan drama seolah-olah ia diikuti pria me*sum. Tapi sekarang pria ini tergeletak di lantai dan ia lah yang menjadi korban oleh sikut Casey. Casey sudah tidak bisa menggunakan alasan itu. Kini ia harus mencari alasan tepat yang membuat mereka terlihat seolah-olah saling mengenal dan terbiasa melakukan hal-hal seperti menyikut perut dengan keras hingga kesakitan sebagai candaan yang biasa untuk mereka. “Katakan pada mereka kau baik-baik saja! Aku tidak suka menarik perhatian.” Bisik Casey sedikit memaksa seraya membantu pria itu untuk duduk. Pria itu menatap Casey sejenak lalu melirik petugas yang hendak menghampiri mereka. “Baik, kalau begitu satu ciuman” balas pria itu. Casey secara refleks membolakan matanya lalu menatap pria itu dengan tatapan tak terima juga menuntut meminta penjelasan. “Ciuman?! Kau gila?!” Casey hendak melayangkan tamparan panas sebelum detik selanjutnya ia merasakan sebuah benda kenyal mendarat di bibirnya dan dua tangan sudah melilitnya membawanya pada pelukan d**a bidang sang pria. Cup Casey terdiam dengan iris membola sementara pria itu menepuk kepala Casey setelah selesai memberinya satu kecupan. “Maaf aku dan kekasihku sedang berdebat soal profesinya. Ia adalah seorang petinju wanita. Lihat wajahnya yang dipenuhi lebam, aku hanya ingin ia berhenti menjadi petinju wanita tapi ia malah meninjuku. Pukulannya sungguh kuat, well yeah, tapi itulah kekasih ku.” ungkap pria itu kembali sejenak menarik masker yang menutupi wajah Casey memamerkan wajah lebam Casey pada orang-orang yang tengah menonton mereka dan drama mereka. Oh jadi ini rencana pria itu untuk mengusir orang-orang? Membuat drama seakan mereka sepasang kekasih yang tengah berdebat. Drama sepasang kekasih? Casey tiba-tiba merasa de ja vu. Kata drama mengingatkan Casey pada sesuatu. Dan ciuman tiba-tiba itu juga mengingatkan Casey pada seseorang yang memberinya ciuman drama yang anehnya terasa terlalu nyata untuk disebut drama di malam itu. Malam saat ia mendapatkan misi untuk mencuri blue moon of josephine sebelum akhirnya ia malah berakhir di sini. Di suatu misi lain untuk kembali mencuri di skala yang lebih luas; internasional untuk orang itu-Sean. ‘tikus berdadaa atau penguin berdadaa indah, humn?’ Rasanya Casey dapat mendengar suara dan bahkan merasakan panas terpaan napas Sean di atas kulitnya seperti di malam itu. Bagaimana bisa Casey merasakan seseorang begitu jauh darinya sementara selama ini tubuh orang itu selalu di hadapannya? “Nona benarkah seperti itu?” tanya salah satu petugas ke amanan pada Casey membuat Casey tersadar dari lamunannya. “A-ah ya, aku baik saja. Dan benar apa yang dikatakan orang ini. Aku adalah petinju jadi wajar wajah ku sedikit babak belur.” Ungkap Casey akhirnya mengikuti alur drama yang dibuat pria me*sum ini. “Sungguh? Kau bukan diikuti pria me*sum yang mengikuti mu dan memaksamu untuk em—“ dua petugas itu saling bertukar pandang. Mereka pasti sedang mencari kata yang tepat untuk mereka sampaikan pada Casey. “Kau menyebutku pria m***m? Itu cukup kasar, bukan?” sela pria ini. Lalu ia memutar tubuh Casey hingga menghadapnya. “Coba katakan betapa romantis dan gentleman nya kekasih mu ini, sayang.” Pria ini membawa kepala Casey untuk menatapnya sementara ujung netranya menatap ke arah bibir Casey yang tadi dikecupnya. Pupil Casey refleks membola melihat ekspresi pria di hadapannya ini. "I-ini sungguh baik-baik saja, Terima kasih atas perhatian Anda semua, tapi saya sungguh baik-baik saja. Dan semua yang dikatakan pria ini benar. Saya petinju wanita dan terkadang berlatih tanpa sarung tinju." Casey menunjukan sudut-sudut jari tangannya yang terluka. Kedua petugas kemanan itu saling bertukar ngeri, lalu mengangguk mengerti. "Baiklah. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri Nona. Wanita tidak cocok dengan kekerasan." Amanat dua petugas keamanan itu. Namun Casey tidak bergeming. Pikirannya masih berkecamuk dengan banyak hal, terutama Sean. “Kau melamun?” lamunan Casey pecah tatkala pria bersuara husky itu melambaikan tangan di depan wajah Casey. “A-ah maaf,” jawab Casey segera. “Orang-orang sudah pergi. Aku mengatakan bahwa ini masalah pribadi. Dan mereka pergi.” ungkapnya yang tak dijawab sepatah katapun oleh Casey, ia malah memilih langsung membawa tubuhnya untuk ke bagian kasir. Tiba-tiba ia merasakan perasaan melow yang luar biasa. Kenapa tiba-tiba ia merasa sedih tanpa sebab? Tanpa alasan. Rasanya seperti ia kehilangan sesuatu, namun ia tak tahu apa itu. “Hei hei nona! Aku masih kesakitan-“ pria itu kembali mengejar Casey. Namun seakan kehilangan energinya atau ia memang tak bisa lagi melawan, ia kini membiarkan pria itu mengikutinya atau melakukan apa yang ia mau. Terserahlah, Casey tak perduli. Rasanya Casey merasa begitu lemas. Ia hanya ingin segera sampai rumah. “Apakah pembayarannya bisa menggunakan bitcoin?” tanya Casey menyadari bahwa ia tidak memegang uang fisik satu lembar atau satu koin pun. Casey tiba-tiba tersadar sesuatu. Bagaimana ia membayar taksi jika Willis tidak memberinya uang Cash? “Maaf nona, sistem kami belum didukung oleh bit coin dan hanya bisa menerima pembayaran kartu atau tunai” Casey merutuk dalam hati. Entah harus menyerapahi hari yang dirasa cukup menyialkan atau merutuki kebodohannya? Kenapa ia tidak meminta uang sepeserpun pada Willis?! Ia juga tak memiliki telepon genggam untuk menelepon Willis selain ipad untuk transaksi bitcoin. How stupid she is! “Totalnya-“ “M-maaf saya tidak jadi belanja” ujar Casey menunduk lalu hendak melangkahkan kakinya untuk pergi dengan rasa malu sebesar gunung karena harus membatalkan belanjanya. Namun sebelum itu terjadi, sang pria Husky sudah terlebih dahulu menyodorkan kartunya pada pihak kasir dan membayarkan semua belanjaan Casey. “Tak apa, kau terlihat membutuhkannya.” ujar sang pria tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. Casey membalasnya hanya dengan tatapan tak suka dan sedikit jengah. Namun tak ingin kembali mengulangi hal tadi, Casey memilih tak menolak dan membiarkan pria jangkung itu membayari semua tagihannya atau melakukan hal lain yang diinginkannya selama itu tidak membahayakan Casey "Aaric Grisham. Namamu?” ditengah kejengahan Casey, pria itu tiba-tiba menyebutkan namanya namun Casey tak meresponnya dan malah melengos pergi segera setelah kasir memberikan belanjaannya. “Terima kasih atas kunjungannya.” ujar kasir. “Namamu?” tanya pria bernama Aaric Grisham itu lagi tak menyerah. “Aku minta nomor rekening mu, aku berjanji akan mengirim uang gantinya.” ujar Casey dingin. Pria itu tersenyum sekilas lalu menggosok hidungnya. “Mana mungkin aku bisa percaya? Kau bisa saja berbohong dan sampai rumah kau tidak menepati janjimu.” “Aku tidak mungkin seperti itu.” sanggah Casey “Bagaimana aku bisa percaya?” tanya pria itu membuat Casey sedikit kesal. “Kalau begitu apa yang kau mau?” Pria itu tersenyum, “Bawa aku ke rumahmu. Kau bisa bayar dirumahmu. Jadi kau tidak bisa kabur.” Casey segera menggeleng“Tidak bisa. Bayar lewat transfer atau aku tidak akan membayar sama sekali-“ “Aku bisa kembali membuat kehebohan. Kau tak suka menarik perhatian bukan?” potong pria itu lalu terkekeh Sial, pria ini merepotkan! Bruukk “Kalau begitu ambil kembali-“ Casey memberikan kantong belanjaannya pada sang pria. “Berat, merepotkan. Aku akan membuat kehebohan saja ” “Menyebalkan,” umpat Casey pelan lalu ia memutar tubuhnya tanpa bersuara. Diikuti sang pria yang bersorak kecil karena merasa memenangkan perdebatannya dengan Casey. Casey mendecih. Benar-benar seperti bocah. "Jadi, kau akan membawaku ke rumah mu, bukan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN