Chapter 38 : Pertemuan

1669 Kata
Casey membawa langkahnya dengan secepat kilat untuk meninggalkan ruang kerja Sean atau Willis. Sambil melangkah, ia tak henti-hentinya menepuk wajahnya dengan kedua telapak tangan, berusaha meredakan rona panas yang menggelenyar di pipinya sedari tadi. Sesekali ia menggigit bibirnya, berjalan sambil memejamkan netra karena merasa begitu malu tanpa sebab. Perasaannya jadi begitu campur aduk sekarang, sampai ia tidak bisa mendeskripsikan apalagi mengendalikannya. Malu, kesal, aneh semua menjadi satu, bercampur padu hingga terasa begitu tidak karuan. Saat akhirnya ia berjalan cukup jauh dari ruang kerja Sean, Casey menyenderkan tubuhnya pada tembok di samping tangga. Memegangi dadaanya yang terasa pengap tanpa sebab. Sesekali mengepakkan dua telapak tangan mengipas tepat di depan wajahnya berharap dengan apa yang ia lakukan sekarang, rona panas di wajahnya dapat memudar. Sementara di lain tempat, tepatnya di ruangan yang ditinggalkan Casey, pria bersurai kelam itu terdiam menatap telapak tangannya, seolah melihat sisa-sisa rambut gadis yang beberapa menit lalu bersamanya, melewati jemarinya. Pria itu--Willis memegang dadanya dengan telapak tangan, sungguh aneh karena ia merasakan ada perasaan yang menggelitik tanpa sebablalu detik selanjutnya ia menggeleng mengepalkan telapak tangannya dan kembali pada layar komputernya di mana ia melihat ada email masuk dari Peter dan Gloria nyaris bersamaan. Lalu di susul email dari Rick dan Jennifer Chung. Willis memfokuskan netranya bukan hal aneh melihat ada banyak deretan email yang menunggu untuk ia buka, ia bekerja dengan banyak orang dalam timnya. Dan mendapat banyak laporan, bukanlah hal yang mengejutkan. Netra pemuda tampan itu mengernyit penasaran, ia memilih membuka email dari Peter terlebih dahulu karena Peter melaporkan semua keadaan yang sedang terjadi di negara di mana misi besarnya yang penting akan di laksanakan. Dalam emailnya, rupanya Peter hendak memberi tahu perkembangan tempat eksekusi the Oppenheimer. Peter melaporkan bahwa tempat pameran mulai dipersiapkan untuk pameran Akbar di gedung yang menempati posisi satu sebagai gedung tertinggi di dunia, yaitu Burj Khalifa. Peter melaporkan bahwa penjagaan gedung sudah begitu ketat meskipun pameran masih akan diselenggarakan enam bulan lagi. Sementara untuk spesifik di lantai mana yang akan digunakan, Peter mengatakan bahwa ia masih belum mendapatkan informasi apa-apa Willis menyipitkan netranya saat melihat lampiran file lain yang dikirim Peter. Saat Willis membukanya rupanya lampiran yang berisi tata letak dari setiap kamera pengintai. Dan yang membuat Willis memuji kemampuan anak muda ini karena selain mengetahui titik-titik kamera pengintai, rupanya Peter sudah mulai menguasai satu persatu kamera pengintai gedung itu, tanpa Willis atau Sean perintahkan. Anak muda ini memiliki inisiatif yang bagus. Banyak pekerjaan Sean yang berkurang dan terbantu dengan inisiatifnya. Padahal Peter hanya bocah berusia sembilan belas tahun, tapi ia memiliki cara berpikir orang dewasa ditambah kehebatan hacking-nya. Willis tersenyum puas, lalu ia mengirim balasan pada Peter bahwa kerjanya sangat bagus, dan menjanjikan bahwa ia akan segera memeriksa dan mengolah hasil data Peter untuk membuat rencana. Willis menjanjikan bahwa ia akan mengirim hasil olahan data itu dalam dua hari. Sehingga Peter bisa segera membuat rencana penyesuaian untuk penyelundupan dan rencana darurat jika mereka harus berhadapan dengan petugas keamanan. Selanjutnya ia membuka email dari Gloria. Gloria memberi kabar pada Willis bahwa keadaan tubuhnya baik-baik saja setelah sebelumnya ia terluka dan pingsan di pelatihan bersama Casey, ia bahkan mengirim foto dirinya yang sedang mengganggu Erick yang tengah bekerja. Willis tanpa sadar tersenyum, kelakuan Gloria dari dulu sampai sekarang benar-benar tak berubah. Jujur ia jadi merasa bingung, bagaimana wanita bar-bar bisa bersatu dan cocok dengan pria yang tidak suka membuat dirinya lelah seperti Erick? Gloria dan tikus itu sama-sama bar-bar. Wajar mereka cocok tapi tidak cocok untuk Sean apalagi Willis. Tapi Gloria masih bisa di atur, sementara gadis tikus itu? Willis tanpa sadar menghela napas. Terlalu bar-bar hingga Willis berpikir bisa harus mencuci otak gadis itu agar bisa diam dan tidak mengacau. Willis tiba-tiba merasa kerongkongannya tercekat. Saat ia menyebut kata Bar-bar, ia tiba-tiba mendapat potongan memori yang membuat kepalanya sakit. Kejadian di ruang berlian sang ayah di mana Sean bertarung dengan Casey, kejadian pesta dansa saat Casey berhasil membuat Sean terjatuh dengan tumpahan cokelat. Lalu kejadian saat Sean berhasil menggoda Casey di atas ranjang. Willis merasa bahwa urat-urat di wajahnya tertarik ke atas tanpa sebab. Rasanya ia ingin tertawa terbahak. Terasa aneh sekali karena ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia tertawa seperti itu. Merasakan hal seperti itu saja rasanya jarang sekali. "Well, kau cukup hebat, tikus. Dan kau Sean, apakah kau memang sebodoh itu? Menghadapi gadis pendek saja tidak mampu." Willis yang semula berusaha menahan tawa membawa tangannya untuk menutup mulut. Namun sekuat tenaga ia berusaha menahan tawa, justru semakin kuat tawa itu menguasainya, apalagi ia dapat mendengar gerutuan Sean tentang gadis itu di di dalam otaknya. Sean juga menyumpahi kalau Willis akan merasakan hal yang sama dengan dirinya pada gadis tikus itu. Willis hanya berdeham, ia harus mengatur dirinya dan jangan lagi membuang-buang waktu. Tidak ada waktu memikirkan gadis bar-bar seperti itu. Tuh ia juga memutuskan bahwa ia tidak segan melenyapkan nyawa Casey jika ia tetap membuat masalah. Ia jelas berbeda dengan Sean. Ia tidak selemah Sean, karena itu ia diciptakan, bukan? Setelah selesai membalas email Gloria, Willis membawa kursor dengan mouse menuju email yang dikirim Jennifer Chung, wanita yang memegang keuangan Sean dan orang yang bertugas untuk memfilter setiap tawaran yang datang menghampiri Sean. Di dunia nyata, orang-orang mengenal pewaris Blaxton ini--Sean sebagai orang yang bekerja di bidang robotic dan artificial Intelligence, kadang mendapat tawaran kerja sama dengan sebuah perusahaan. Seperti sekarang di mana ia mendapatkan tawaran untuk mengembangkan robot humanoid seperti Vivi. Willis membuka email itu. Saat Willis membuka email itu ia me dapati bahwa Jennifer mengirim sebuah foto. Dan foto itu berisi tawaran kerja sama. Willis menatap foto itu sejenak, ia hendak membalas sesuatu tapi ia pikir ia harus mempertimbangkan tawaran itu terlebih dahulu. Jadi ia akan membalasnya nanti. Akhirnya tiba pada email dari Erick. Erick mengirimkan sebuah foto pada Willis. Willis membuka foto itu dengan segera. Dan tiba-tiba netranya membola, "Pak Tua Donghae!" Pekik Willis terlihat berbinar. Di foto itu, ia melihat pak tua yang sangat tidak asing wajahnya tengah menikmati pergelaran meja judi dan tersenyum puas. Willis menatap foto dengan tatapan sendu. Teringat memori-memori di mana ia dulu diajari banyak hal oleh pak tua itu. Pak Tua yang selalu memenangi permainan yang ia ajarkan pada Sean karena kelicikannya. Tapi kemudian Sean menyadari bahwa itu bukan kelicikan. Sean lah yang bodoh karena selalu tertipu dengan ekspresi tua Bangka itu. Namun justru sekarang Sean mendapatkan kemampuan berekspresi dengan sangat baik karena ia meniru Donghae. Termasuk kemampuan melakukan drama dalam beberapa hal. Donghae jelas memiliki peran besar dalam hidup Sean. Namun setelah kematian ibunya, pria itu tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi. Bahkan pria itu tidak datang ke pemakaman ibunya. Entah ibu Sean pernah melakukan dosa hingga pria itu memiliki dendam pada itu dan tidak mau datang ke pemakamannya, atau justru karena Donghae mengetahui sesuatu, hingga membuatnya tidak berani datang ke pemakaman ibu? Sean tidak tahu yang mana yang benar. Tapi yang jelas Sean yakin bahwa Donghae pasti mengetahui sesuatu tentang the Oppenheimer. Dan itulah tujuan kenapa ia mencari Donghae selama ini. Ia segera menggulir email itu dan melihat bahwa di bawah foto ada tautan yang sepertinya merupakan tautan tempat. Willis memgklik tautan itu dengan seringai, "Akhirnya aku menemukan mu, Pak Tua." *** Casey mematut refleksi dirinya di depan cermin. Hari ini ia terlihat sangat kacau dan ia sudah kehabisan ide untuk membuat penampilannya terlihat lebih baik. Hari ini ia memutuskan menggunakan Hoodie over size dengan kupluk menutupi kepalanya, lalu menggunakan celana jenis skinny jeans, sementara' untuk wajah, ia memilih masker untuk menutupinya. Casey menatao refleksinya sekali lagi, iantahu ia jelek sekali hari ini. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Casey berjalan dengan malas dan gontai meninggalkan kamarnya. Akhirnya ia bisa bepergian tanpa khawatir dan tidak ditemani si ekstrim Vivi. itu terasa lebih amna bagi Casey. Caseu hendak melangkahkan kakinya menuju ruang utama, namun saat ia membuka pintu kamarnya, ia mendapati Sean atau mungkin Willis berdiri di hadapannya dengan pakaian yang sudah rapi dan wangi. "Aku tidak akan mengikuti mu belanja, tapi karena halaman yang luas kau pasti akan membutuhkan tumpangan. Jadi apakah kau sudah siap, Penguin berdada?" Casey tidak bisa berkata-kata saat ia mendengar suara Willis. Tunggu apakah baru saja Willis memanggilnya dengan panggilan penguin? "Jadi, kau menunggu apa? Kenapa masih segera diam bukannya segera mengikuti ku?" Tanya Willis dengan nada sinisnya. Perasaan kecewa seketika menghinggapi hati Casey. Kenapa ia merasa kesal saat tahu bahwa pria di hadapannya ini bukan lah Sean? Casey berharap agar Sean segera kembali. Tapi apa yang bisa ia lakukan? *** Casey, termenung mengingat kejadian tadi. Ia dan Willis sudah berpisah, Willis mengatakan ada hal yang haru ia kerjakan di luar dan mengatakan jika Casey selesai ia bisa pulang memesan taksi. Namun sebelum kepergiannya, Willis mengatakan pada Casey bahwa jika Casey berani kabur atau mencari masalah lagi, choker yang ada di leher Casey akan meledak dan memutuskan kepala Casey. Casey menghela napas mengingat ancaman itu. Termenung melihat Willis yang begitu tidak ragu membunuhnya. Di saat bersamaan, sebenarnya secara spesifik Casey juga berusaha mengingat dengan jelas saat Willis mengatakan soal penguin berdadaa. Nada mencemooh itu, ucapan penguin itu. Itu adalah jelas suara Sean! Casey bersumpah ia sangat yakin itu suara Sean.   Plaasshhhh   "Astaga, ma-maafkan aku," Casey yang tengah melamun merasakan panas mengelepuhkan kulit lengannya dengan semerbak bau kopi Capuccino. Anehnya ia tak meringis karena sakit, ia hanya sedikit terkesiap karena terkejut. Karena melamun, rupanya ia menabrak seorang pria dan menumpahkan kopinya. "Tidak apa, ini tidak-" "Biar aku melihatnya-, oh astaga ini," suara husky itu memekik penuh keterkejutan karena ia menemukan tangan Casey yang dipenuhi memar juga luka di punggung jari yang belum mengering. Casey segera menarik tangannya lalu hendak melangkah meninggalkan pria itu, namun pria itu menahannya dan malah menghentak Casey kearahnya.   Bruuukkkk   Casey mendongkakkan wajahnya dan akhirnya tatapan mereka bertemu. Disaat itu, sang pria bersuara husky dengan tinggi lebih dari 180 senti itu menarik topi lalu masker Casey hingga mau tak mau wajah babak belur penuh lebam Casey terekspos sempurna.   "Astaga, apa yang terjadi dengan wajah mu?!" pekik pria itu. Dan kacaunya, Casey bisa melihat kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya. Firasat Casey mengatakan,Pria ini tak akan membiarkannya pergi begitu saja.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN