Casey menarik mouse dari komputer Sean dan membawanya untuk melihat isi dari komputer dengan layar yang cukup lebar dari kebanyakan komputer lain pada umumnya.
Netra Casey bergerilya pada seluruh permukaan layar, tangannya memilih membawa kursor untuk melihat file dokumen. Seraya menunggu file itu terbuka Casey mengedarkan tatapannya, melihat isi dari ruang kerja Sean. Tidak berbeda jauh dari ruang utama rumah ini. Ada banyak barang antik yang dipajang di sini. Beda nya di sini lebih banyak koleksi topeng yang dipamerkan. Di pojok kanan di mana ada sofa panjang terdapat lemari dengan rentetan buku berbaris. Koleksi buku terlihat cukup bervariasi, Casey menarik satu buku, di sana ia melihat buku tentang banyak batuan yang berharga. Dari mulai batu hang berharga karena merupakan sumber daya fosil, batu yang berharga karena keindahannya, lalu batu yang berharga karena sejarahnya.
Casey menarik buku lain, buku yang dibungkus dengan sampul kulit estetik yang anehnya terasa tidak asing baginya. Casey memutar bola matanya mengingat di mana ia pernah melihat benda ini. Ia menyentuh kembali sampul kulit itu, menebak jenis bahan yang digunakan. Lalu ia akhirnya teringat bahwa bahan kulit sampul estetis ini sama dengan sampul yang membungkus buku yang ditemukannya di ruangan ini Sean.
Dengan gerakan cepat, Casey membuka buku itu dan Akhirnya ia menemukan sesuatu yang menunjukkan bahwa buku ini memang memiliki hubungan dengan huku yang ia temukan di ruang di mana ia terkunci, ruang Diana Rose Blaxton. Praduga nya semakin terbukti saat di halaman paling ujung ia menikam sebuah Biografi dari wanita yang ia kenal.
Wanita dengan rambut ikal, dan kulit sedikit Tan, di foto dengan pose dua tangan yang sepertinya memegang dua batuan.
“Diana Rose Blaxton!” pekik Casey bersemangat. Ia kembali membuka buku itu, tujuannya kali ini melihat halaman-halaman awal dari buku itu. Ternyata buku yang dipegang Casey sekarang membahas tentang Ekologi. Casey nyaris menjatuhkan dagunya saat menemukan bahwa Diana Rose Blaxton adalah seorang profesor di bidang ekologi yang cukup terkenal, ia menjadi dosen di usia muda, banyak berkecimpung pada penelitian yang dibiayai pemerintah maupun swasta. Nama Diana Rose Blaxton disebut berkali-kali dengan banyak sumbangsih nya dalam bidang Ekologi.
Casey bersorak kagum dalam hati. Ia juga kini bisa memaklumi kenapa Sean bisa secerdas dan berwawasan luas. Selain karena ia memang kaya dan memiliki semua hal untuk menunjang pendidikan dan passion-nya. Casey mengalihkan tatapannya murung, entah mengapa ia tiba-tiba jadi merasa sedih untuk dirinya sendiri. Masa kecil Sean dan dirinya jelas berbeda jauh. Benar-benar seperti bumi dan langit. Saat Sean mungkin sedang Lea atau mengikuti kelas, maka Casey sedang mencuri di gang kumuh. Casey dulu bahkan tidak bisa membaca dan menulis jika Tom tidak mengajarinya.
Casey tersenyum tipis, ah ia jadi merindukan Tom dan saudara-saudaranya tiba-tiba. Ngomong-ngomong mereka sedang apa ya?
Casey bermonolog dalam hati. Lalu kembali menaruh buku itu di tempatnya. Saat menaruh buku itu, tatapan Casey tertuju pada buku lain, buku yang juga memiliki sampul kulit estetis namun berukuran cukup besar. Casey menarik buku itu dengan hati-hati karena cukup berat.
Netranya memicing membaca judul dari buku itu; The Oppenheimer and—
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Casey nyaris meloncat dari tempatnya berpijak saat mendengar suara berat seseorang tepat di belakangnya. Casey mendorong kembali buku itu lalu secepat kilat segera membalik tubuhnya ke arah sang pemilik suara—Willis.
“Hehehe, hanya berpikir aku bisa menemukan sesuatu yang menarik di sini, haha haha,” jawab Casey dengan tawa yang sangat jelas terdengar hambar.
Willis kembali duduk di depan komputernya sementara Caseyemgumpat di dalam hati karena ia baru menyadari bahwa ia lupa mematikan komputernya. Casey memejamkan netranya pasrah, apakah sehabis ini Willis akan menarik janjinya tentang tujuh keinginan yang ia janjikan?
“Maaf aku tidak mematikan komputer mu, hehehe.”ungkap Casey akhirnya memilih jujur mengatakan bahwa ia lupa.
Willis melirik Casey, “Kau tidak mengintip isinya?”
Casey memutar bola matanya,”Tadinya aku ingin memeriksanya. Tapi aku pikir mungkin saja isi komputer mu hanya berisi film blu yang panas dan me*sum.”
Willis menggaruk dagunya, “Masuk akal jika itu adalah Sean. Ia cukup me*sum pada banyak wanita.”
Casey menatap Willis dengan tatapan curiga, “Memangnya kau tidak me*sum pada banyak wanita?” tanya Casey mengingat betapa mesumnya Willis pada Ilene si setiap kesempatan.
“Aku hanya m***m pada Ilene.” Akunya jujur.
Casey terperangah, diluar dugaan ternyata Willis lebih jujur dari pada Sean. Casey melangkah ke arah Willis yang duduk di depan komputernya. Ia merendahkan sedikit tubuhnya hingga sejajar dengan Willis.
“Kau ternyata jujur, ya. Cukup gentleman.” Puji Casey seraya menepuk-nepuk halus rambut Willis membuat Willis mematung tidak tahu arus bereaksi apa. Yang jelas, kenapa di dalam hatinya ia merasa ada banyak bom atau mungkin granat yang meledak setiap kali sentuhan tangan Casey menyentuh pucuk kepalanya? Willis bingung, perasaan apakah ini?
“Jadi kapan kau memperbolehkan ku keluar?” tanya Casey dengan senyum menuntut seraya menepuk-nepuk pucuk kepala Willis.
“Kau tidak akan berpura-pura lupa, amnesia, ataksia atau alzheimer, kan?” tuntut Caseyaaij dengan senyum nya yang semakin ke sini cukup memberi perasaan tidak nyaman pada Willis.
Willis menahan tangan Casey, mengangkat tangan itu cukup atas di atas kepalanya, sementara netranya mengunci Casey dalam tatapannya.
“Baiklah. Tujuh permintaan dan kau akan memintanya satu sekarang. Kau ingin ke luar rumah untuk belanja, bukan?” ujar Willis membuat Casey seketika berbinar-binar.
“Kau memang sungguh gentleman! Jadi kapan aku bisa pergi?”tanya Casey bersemangat.
Willis melepaskan tangan Casey, lalu membawa arah pandangannya menuju laci yang ada di pojok kiri di dekat jendela.
"Buka laci itu, cari sebuah choker kulit hitam dengan bandul merah. Ambil choker di laci nakas di dekat jendela itu, gunakan dan kau bisa pergi.” Terang Willis dan tanpa dua kali menjelaskan, Casey segera berjalan ke arah laci dan mengikuti semua instruksi Willis dengan semangat. Saat ia menemukan choker itu, Casey memperhatikan benda itu untuk sesaat, berharap bisa tahu kenapa ia harus mengenakan benda ini.
“Aku akan memberi tahu tentang choker itu nanti. Bawa dulu choker itu ke sini.” Titah Willis. Casey mengangguk lalu segera mengambil dan hendak mengaitkan choker itu di lehernya.
“Kemari, duduklah di dekat kaki ku.” Ujar Willis. Casey menggigit bibirnya ragu, namun akhirnya ia mengikuti perintah Willis tanpa banyak bertanya apa lagi melawan. Ia duduk di antara kaki Willis. Casey sempat berjengit saat merasakan kulit jari-jari Willis bergerak pelan melewati lehernya.
Rupanya Willis sedang mengangkat rambut Casey agar tidak tersangkut di pengait chocker. Casey merasakan suhu tubuhnya meningkat drastis. Bulu romanya berdiri saat ia merasakan hembusan napas Willis menghujam kulit lehernya.
“Baik lah. Sudah selesai sekarang.” Ucap Willis saat ia selesai mengaitkan pengait chocker yang cukup tebal dengan bahan kulit itu.
Casey menolehkan kepalanya, karena kesulitan, ia memilih untuk ikut membalikkan tubuhnya. Namun membalik tubuh justru membuat posisi mereka cukup canggung. Casey yang duduk dengan tangan yang terangkat, membuat bentuk dari dadaanya terbentuk cukup jelas hingga Willis dapat melihat ciplakan dari bralette Casey. Lalu Casey yang duduk di lantai menoleh pada Willis yang duduk di kursi kerjanya membuat posisi kepala Casey berada tepat di depan organ kebanggaan Sean dan Willis yang nwrafa di tengah di antara kakinya, tepat di mana Casey berada sekarang.
Deg
Deg
Deg
Keduanya terlihat bertatap cukup lama. Casey dapat melihat tulang menonjol di leher Willis yang bergerak naik turun, begitu pun Casey merasakan bahwa atmosfer ketegangan membuat perutnya merasa berdesir aneh.
Menyadari bahwa keduanya terlalu la bertukar tatap, Willis menjadi orang pertama yang tersadar dari lamunannya dan menyadarkan Casey.
“B-baiklah. Ini sudah siap.” Ujar Willis menyentuh bandul merah choker itu. Namun lagi-lagi tindakan itu membuat isi hati keduanya berdesir dengan gelenyar asing.
"Jadi sekarang aku bisa pergi?" Tanya Casey membuang tatapannya dan memundurkan tubuhnya sedikit, salah tingkah.
Willis melakukan hal serupa dengan Casey, “Ya. Oh ya, kau mempunyai waktu dua jam, jika lebih dari itu, atau kau berusaha kabur, maka choker itu akan membunuhmu.” ucap Willis mengancam, namun anehnya Casey tidak merasakan ada nada mengancam dalam ucapannya.
Keduanya mengangguk-anggukan kepala. Namun kemudian Casey berjengit tiba-tiba.
"Tapi- akhh" Casey memegangi lehernya saat ia merasa sesuatu mencekiknya kuat membuatnya sesak.
Sama seperti Casey, Willis terlihat terkejut, "Itu simulasi. Jadi jangan sampai kau melanggar. Jadi, jangan berpikir bisa kabur karena Vivi Dan Gloria tidak sedang bersama dengan mu. Pulang lah sesuai perjanjian, jangan sampai kau merepotkan ku lagi, Penguin berdadaa.” Ancam Willis.
Casey mendongak menatap Sean dengan tatapan terkejut. Apakah baru saja Casey mendengar bahwa Willis memanggilnya dengan panggilan penguin berdadaa? Casey tidak salah mendengar, kan?
“Apalah kau baru saja memanggil ku dengan—“ Casey tidak melanjutkan ucapannya, entah karena apa. Tiba-tiba saja ia menjadi merasa ragu dan canggung, entah untuk alasan apa.
“Tikus?” tanya Willis yang direspon Casey dengan sorot netra yang sendu.
Casey mendongak dan memaksakan sebuah garis senyum, “Y-ya. Seperti biasanya, bukan?” ungkap Casey yang dalam hati merutuk dengan apa yang ia ucapkan barusan. Kenapa ia merasa suasana hatinya menjadi aneh dan sedikit melankolis tanpa alasan yang jelas? Benar-benar memalukan!
“A-aku pergi sekarang, terima kasih, Willis.” Tak ingin semakin menjadi, Casey segera membawa kakinya melangkah meninggalkan ruang kerja Sean. Searaya terus bertanya pada hatinya sendiri atas perasaan gejolak yang ia rasakan tanpa tahu penyebabnya apa.
Hal ini, bukan sesuatu yang disebut, cinta, bukan?