Chapter 36 : Sesuatu yang Disebut Otak

1420 Kata
“Jika kau sungguh ingin ke luar, buat alasan yang lebih masuk akal. Kau punya otak, bukan? Gunakan sesuatu yang disebut otak itu, Tikus.” Willis berujar dengan ekspresi dingin namun tidak bisa me membunyikan percikan senang atas kemenangan adu mulutnya terhadap Casey. Setelah puas menatap raut wajah kesal Casey, pria itu membawa tubuhnya kembali duduk dan fokus di depan layar laptopnya. Sementara Casey masih berdiri tepat di depan pintu teralis besi, memikirkan suatu ide untuk membuat pria ini memperbolehkan nya ke luar rumah. Casey menggembungkan pipinya samar, kembali mengetukkan kedua tangan, terlihat berpikir keras. namun ia tidak akan menyebut dirinya sebagai Casey Stone jika ia kehabisan ide. Casey selalu memiliki ide di dalam otaknya. "Baik lah! Aku akan memesan barang-barang yang aku butuhkan secara daring. Tapi bagaimana aku bisa memesan jika aku tidak memiliki laptop atau sesuatu untuk memesan?" Tanya Casey melirik Willis yang akhirnya meliriknya. "Langsung menyerah? Sedikit mencurigakan." Ujar Willis yang membuat Casey merasa ada batu besar tak kasat mata menindihnya. Willis benar-benar memiliki feeling yang tajam. Casey membuang tatapannya, "Ya mau bagaimana lagi? Aku sudah bilang kalau ini keadaan darurat bukan? Kau pikir aku berbohong?" Ujar Casey, sedikit bersyukur karena ucapan Willis yang seperti itu justru bisa ia jadikan bukti sehingga ia terlihat sungguh-sungguh memerlukan benda itu. "Bukan sekali dua kali kau mencoba membohongi Sean." Ujar Willis yang membuat Casey tercenung memikirkan bagaimana Willis mengetahui banyak hal. "Hah? Kata siapa? Kau jangan seenaknya menuduh ya!" Ujar Casey berpura-pura tidak terima, sekaligus mencoba mencari tahu bagaimana Willis dapat mengetahui bahwa Casey beberapa kali membohongi Sean. Willis memicingkan netranya, "Dan kenapa, aku harus memberi tahu mu?" Tanya balik Sean yang membuat bibir Casey terkatup. Casey membuang tatapannya dari balik teralis besi. Ia tidak akan menang jika berdebat dengan Willis. "Hah ... Baiklah, aku harus segera memesan. Jadi, aku bisa memesan barang secara daring menggunakan apa?" Tanya Casey sedikit menuntut. Willis yang semula sibuk dengan laptopnya melirik Casey tajam, "Bukan kah Sean sudah memberi mu sebuah Tab elektronik yang berisi Bitcoin dan lain-lain? Sebenarnya di sana juga ada mata uang lain, sih." Casey memutar bola matanya, dalam hati membenarkan bahwa Sean sudah memberinya perangkat elektronik yang saat itu ia gunakan untuk belanja dengan Vivi. Namun ia tidak mengingat di mana benda itu sekarang setelah kejadian racun nightly sade--atau apalah itu namanya, Casey tidak tahu di mana benda itu sekarang. Casey menggeleng, "Tidak, aku belum di berikan benda seperti itu. Ia memberikannya pada Vivi, aku rasa." Ungkap Casey beralasan. Willis meliriknya sekilas, "Baiklah, aku akan memberikan mu yang baru." Ujarnya lalu terperanjat dari kursi dan membawa langkahnya menuju laci tiga tingkat yang berada di meja pojok. Casey melirik sekitar ruangan kerja, memperhatikan benda-benda apa saja yang ada di ruangan itu. Lalu kemudian ia memperhatikan punggung Willis yang bergerak-gerak karena tangannya sepertinya sedang mencari sesuatu di dalam laci. Punggung itu terlihat bidang dan kuat, Casey dapat melihat di balik kemeja, tulang belikat Willis yang menonjol dan terlihat gagah, membuat Casey tanpa sadar menelan ludah. entah daya tarik apa yang dimiliki punggung itu, tapi Casey rasanya ingin menyentuhnya. Casey menggeleng mengatakan pada dirinya sendiri bahwa pemilik asli dari tubuh itu adalah Sean. Maka punggung itu jelas milik Sean. "Sedang memikirkan hal m***m?" Casey yang semula sedang memikirkan hal yang cukup aneh, mendongak dan menggelengkan kepalanya segera. "Apanya yang memikirkan hal m***m?!" Casey menggoyangkan teralis besi di pintu cukup kuat hingga menimbulkan suara besi beradu yang cukup nyaring. "Sampai kapan kau akan terus mengunci diri mu sendiri seperti itu? Aku bukan anjing atau Zombie yang akan menggigit. Apakah kau tidak kasian aku sedari tadi berdiri di sini? Aku sudah pegal! Kenapa kau tidak memperbolehkan ku masuk?" gerutua Casey sebal. Willis selesai mengambil satu kardus elektronik yang di dalam nya berisi barang elektronik sejenis smartphone dalam bentuk yang lebih besar. Ia terlihat mengeluarkan lalu mengotak-atik benda itu hingga menyala dan memastikan tidak ada masalah. Setelah memastikan semuanya selesai, ia membawa langkah kaki nya menuju tempat di mana Casey berdiri. Menyerahkan benda elektronik itu pada Casey. "Gunakan lah ini. Sekarang kau bisa pergi." Ujar Willis mengusir. Casey menatap benda yang diberikan Sean. Sebuah perangkat cerdas dari brand apel digigit hawa dan Adam. Memicingkan netranya sejenak lalu kembali mendongak menatap Willis. "Aku tidak mengerti cara menggunakannya." Ungkap Casey menatap Willis dengan tatapan polos. Willis memicingkan netranya curiga. "Kebohongan yang lucu sekali. Tapi aku sudah mengatakan bahwa aku bukan bocah yang bisa kau bohongi--" "Aku serius aku tidak bisa! Bukan kah dipertemuan kita yang pertama, itu em tepatnya di ruang khusus berisi berlian ayah mu, aku mengatakan bahwa aku hanya gadis polos yang taat dan tidak diajarkan tentang segala hal yang berbau duniawi? Aku hanya gadis lemah dan polos--" "Yang mempelajari reproduksi dari film dan menjadikan novel erotis sebagai kitab panutannya?" Potong Willis. Casey merasa mati kutu mendengar ucapan Willis barusan. Bodoh! Ia sungguh mengatakan hal yang bodoh. Ia kira Willis tidak akan tahu bagian itu. Ternyata dia sudah tahu, ya? Casey merutuki dirinya sendiri dalam hati. "Sekarang cepat pergi." Usir Willis namun Casey tidak bergeming dari tempatnya. Ia malah menarik baju willi lalu detik selanjutnya ia menarik akan Willis dan mempertemukan bibirnya dengan bibir Willis. Willis hendak memundurkan tubuhnya, namun Casey menggigit bibir bagian bawahny membuatnya sedikit kesulitan. "Wah, ada apa, ini?" Tiba-tiba terdengar suara lembut menyapa. Dan Willis amat sangat mengenal suara itu. Dengan segera, Willis memundurkan tubuh nya menatap Casey dengan tatapan membunuh. "Apa yang kau lakukan? Kau ingin mati?" Tanya Willis dengan nada yang cukup tinggi, nyaris membentak. Setelah membentak Casey, ia membawa tatapannya ke arah Ilene yang sedang saling bertukar tatap dengan Casey. "Ilene, ini tidak seperti yang kau bayangkan," ujar Willis segera. Casey kembali menatap Ilene, lalu ia menyeringai samar. Begitu pun Ilene. "Apa yang tidak seperti aku bayangkan aku jelas-jelas melihat kalian berdua berciuman." Ungkap Ilene dengan nada seolah-olah ia terluka. Sementara Casey bersorak-sorai dalam hati, mendukung aksi Ilene dan berharap Ilene akan berakting lebih lama. "Tidak! Tidak seperti itu, begini, tikus ini menarik ku tiba-tiba--" sanggah Sean. Casey menyeringai, saat ini ia tahu kelemahan Willis adalah Ilene. Ia amat sangat bersyukur karena ia melihat Ilene datang ke arah ruang kerja Sean dan Willis pada saat yang tepat. "Heh ... Kenapa kau berkata seperti itu padahal kau menikmati ciuman nya? Kau sungguh jahat! Kenapa semua lelaki itu jahat?" Ujar Casey dengan nada seolah-olah ia juga tersakiti. Ilene menatap Willis dengan tatapan kecewa, detik selanjutnya ia membalikkan tubuh nya, berlari meninggalkan Willis yang terperangah. "Hei kau harus mengejarnya, bukan?" Ujar Casey dengan senyum kepuasan yang tidak bisa ia sembunyikan. Willis segera membuka pintu teralis besi. Lalu hendak berlari mengejar Ilene, namun Casey menahannya. "Ah ya, komputer mu masih menyala, apakah aku boleh memesan melalui komputer mu saja? Tapi karena ketidak tahuan ku pada alat elektronik, aku minta maaf, ya kalau semisal ada sesuatu yang hilang atau tidak sengaja terhapus oleh ku, aku kan tidak bisa menggunakan sesuatu yang disebut otak, hehehe." Ujar Casey yang sudah menghambur menuju komputer Willis yang masih menyala. Willis hendak kembali menghampiri Casey, namun Casey mengangkat telapak tangan nya di udara, "Ilene bisa berpikir kau tidak mencintai nya, lho! Kau harus segera mengejarnya!" Pekik Casey seolah ia memperingatkan Willis. Namun Willis tahu bahwa Casey mencemoohnya. Willis tahu bahwa Casey sengaja membuat keadaan ini agar Willis terpojok dan mau tidak mau memenuhi permintaannya. "Ah, ada email masuk. Mari kita lihat, ah ini dari Peter--" "Jangan membukanya atau aku akan membunuh mu!" Ancam Willis. "Ah, di sini bisa memantau kamera pengawas juga, ya? Mau aku beri tahu Ilene sudah berlari sampai mana?" Tanya Casey dengan seringai mencemoohnya. Willis terlihat menarik napas berat, ia bahkan sampai mengusak rambutnya. "Baiklah, katakan keinginan mu dan aku akan mengabulkannya." Ujar Willis akhirnya. Casey tersenyum cerah, "Kabulkan 7 keinginan ku!" Ucap Casey. "Tujuh?" Hentak Willis, "Tiga. Hanya tiga keinginan." Casey berdecak, "Kau tidak sedang dalam waktu yang pas untuk tawar menawar, Tuan! Tujuh atau Ilene akan pergi karena ia sudah membawa tas nya. Ah bisa sih tiga, tapi aku akan memeriksa komputer mu, hehehe." Willis berdecak kesal, "Baik! Baik! Tujuh permintaan, dan sekarang, matikan komputer ku, lalu tunggu dengan manis sampai aku kembali dan mengizinkan mu untuk pergi ke luar!" Titah Willis diangguki Casey. "Baik, aku mematikannya, lihat?" Ujar Casey menunjuk layar komputer Willis. Willis terlihat menarik napas lega, lalu tanpa hitungan menit punggung pria itu sudah menghilang karena ia segera mengejar Ilene. Sementara Casey yang duduk di depan komputer Sean mengetuk-ngetuk tangannya di atas meja dengan seringai. "Sesuai perkataan mu, aku harus menggunakan otak ku, bukan? Nah mari kita lihat, apa yang otak ku akan dapatkan setelah melihat-lihat isi komputer mu, albino me*sum."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN