Barang penting?! Netra gadis itu mebelalak seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang berharga. otaknya kini terasa ringan seolah ada bola lampu yang bersinar terang di atas kepalanya.
barang penting, ya benar. Sean pasti memiliki barang penting yang membuat ingatannya terikat. Begitu pun Willis. seperti ia gelang berebntuk rantai yang melingkari pergelanagan kanan kakinya, barang yang mungkin bagi orang lain tidka terlihat berharga sedikit pun, namun baginya ia adalah barangnya yang paling berharga, gelang itu adalah saksi hidupnya sedari ia di pasar gelap.
Casey menggigit bibirnya dengan bole mata yang terus bergerak ke sana ke sini mencari sesuatu yang mungkin akanm enjadi batrang berharga bagi Sean.
Tapi apa?
Casey mengetuk-ngetukkan telunjuknya di atas meja Kayu pemilik kamar itu, lalu tatapannya tertuju pada sebuah laci yang sedikit terbuka di dekat ranjang. Menoleh ke kanan kiri memastikan tidak ada siapa pun yang mungkin melihatnya, dengan gesit Casey menghampiri laci itu dan menariknya. Namun ia harus menelan kecewa karena setelah ia membuka laci itu, tak ada apa pun di laci itu selain tumpukan kunci yang cukup banyak. Casey memberengut, mengangkat kumpulan kunci yang diikat pada satu tali agar kunci itu tidak tercerai berai. Cukup usang dan berkarat.
Tak menyerah, Casey menggeledah kamar Sean dari mulai membuka setiap lemari, nakas, dan laci yang dilihatnya. Namun sekali lagi, ia tak menemukan apa pun. Yang ia temukan hanya setumpukan kain berbahan rajut. Mungkin kah ini semua adalah syal?
Casey menggaruk alisnya, ia tidak pernah melihat Sean menggunakan syal, sih. Atau bahan rajut apa pun. Sean termasuk sosok yang amat sangat rapih dan selalu menggunakan setelah kemeja lengkap dengan jas yang rapi dan wangi.
Di tengah aksinya, sayangnya ia harus merasakan pusing kembali menyerangnya, Casey membawa tangannya untuk berpegangan pada rak buku. Tak sengaja telapak tangannya menyentuh sebuah jilid buku yang terasa tidak asing. Dengan sebelah tangan nya yang memijat pelipis, Casey menarik buku itu seraya berusaha mengingat di mana ia pernah melihat buku itu.
‘Diana Rose Blaxton
Menurut sebuah catatan, X gem menyimpan suatu kutukan dan kekuatan sekaligus. Namun aku dan sahabatku Donghae, sepakat berpikir bahwa itu mustahil. Mustahil sebuah berlian menyimpan hal seperti itu. Donghae mengatakan dari pada aku memikirkan surat kaleng yang tidak penting—soal sejarah dengan sumber yang tidak jelas itu, aku hanya perlu mencari di mana berlian itu. Menyelesaikan misi, dan aku kembali pulang bertemu dengan dua jagoanku.
Sky mengatakan bahwa ia merindukan ayam goreng buatanku. Sean juga mengatakan bahwa ia merindukan sup jagung buatanku. Tapi aku masih tak bisa memperkirakan kapan aku pulang. Haruskah aku mencatat resepnya dan mengirimkannya pada mereka?
Miss you so bad my heroes -Mom’
Casey terdiam cukup lama sebelum ia menepuk jidatnya cukup keras, melupakan fakta bahwa ia masih babak belur.
Kini ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Masih rencana yang terdengar cukup konyol, tapi bukan kah Casey Saudah mengatakan bahwa ia akan menggunakan semua peluang, kemungkinan dan kesempatan apa pun yang bisa membuatnya selamat dan tidak terancam oleh Sean?
***
Casey melangkah masuk dengan malu-malu dan ragu di depan pintu ruang kerja Sean. Ia menolehkan kepalanya mengintip Sean eh ralat—Willis, tengah sibuk dengan layar laptop nya. Casey menggigit bibir nya seraya hendak memasuki ruang kerja Sean itu. Namun baru saja ia mengangkat satu kakinya di udara, Willis mengusirnya secara harus dengan menurunkan pintu teralis besi yang bisa dikendalikan secara otomatis tergantung kebutuhan.
Casey terbelalak, lalu menahan pintu besi yang turun itu dengan tangannya, tapi tentu saja ia gidka bisa menyaingi kekuatan dari besi. Pada akhirnya ia tidak berhasi memasuki ruang kerja Sean.
“Kau mengunci ku?! Bagaimana bisa kau Setega ini, pada tunangan mu?!” gerutu Casey sementara Willis mengabaikannya dengan terus bekerja tak menghiraukan Casey yang mencak-mencak di depan pintu kamarnya.
Merasa kesal, Casey menggedor-gedor teralis besi itu, min dengan sikap menyebalkan ya yang konsisten, Willis tetap mengabaikannya seolah tidak ada apa-apa.
“Kenapa kau menggunakan pintu besi? Kau pikir aku zombie yang akan menggigit mu?” gerutu Casey kesal.
Willis terkekeh samar, “Memang bukan, tapi kau adalah T-rex yang suka mengamuk. Maka dari itu aku menggunakan pintu besi.” Jawab Willis yang anehnya, bukannya membuat Casey sebal, Casey malah merasa bahwa hatinya menghangat.
“Apa kau bilang? T-rex?” Casey berdecak, “Nika aku T-rex aku pasti tidak akan memakan mu. Aku pasti tidak akan pernah memilih mu, kau tahu?” ungkap Casey sinis yang membuat Willis mengernyit.
Casey membuang tatapannya, merutuki ucapannya barusan. Bukankah ia berakting sedang terlihat Manis dan imut? Kenapa ia malah mengatakan hal seperti itu dengan nada sinis? Ah, ia lupa bahwa di hadapannya sekarang adalah Willis, bukan Sean.
“Tentu saja bukan harusnya begitu? Maksud ku, kau kan kekasih ku, tunangan ku, bagaimana bisa aku tega memakan tunangan ku? Kau menempati posisi orang yang paling aku sayang di nomor satu, jadi mustahil aku memilih mu untuk aku makan, jika aku adalah T-rex.” Casey buru-buru meralat ucapannya.
Willis hanya terdiam tanpa ekspresi, tidak ada sahutan atau reaksi apa pun membuat Casey merasa bahwa ia terlihat seperti orang bodoh.
“Aku sungguh sedang tidak ingin berdebat. Diam di sana, dan aku akan membelikan apa yang kau butuh kan.” Ujar Willis mengangkat satu tangan menunjuk pada Casey.
Casey memutar bola matanya jengah seraya menatap monitor di pintu menampilkan wajah Willis di sana yang menatapnya tak suka.
“Tapii ini urgent! Aku berjanji tidak akan kabur!” ujar Casey lagi nyaris memohon.
Willis yang semula sibuk dengan laptopnya, kali ini menghentikan kegiatan bekerjanya. Akhirnya ia mau melihat Casey meskipun hanya sebuah lirikan.
“Memangnya apa yang harus kau beli?” tanya Willis dengan nada dingin khas nya.
Casey memutar bola matanya ke atas, berpikir alasan yang paling logis. Tadi kaewna terburu-buru ia tidak sempat memikirkan alasan yang tepat untuknya pergi ke minimarket, “pembalut! Aku mendapatkan datang bulan ku.” Ungkap Casey berbohong, tidak sepenuhnya bohong sih, sebenarnya sebentar lagi adalah tanggal di mana ia biasa mendapatkan datang bulan.
Willis kali ini menatap Casey, “Kau datang bulan? Mengejutkan karena penguin bisa haid-“
Casey berdecak dalam hati, ternyata meskipun dengan kepribadian yang lain, entah Sean atau Willis mereka benar-benar menyematkan panggilan tikus dan penguin berdadaa padanya. Casey tercenung sejenak, sepertinya untuk beberapa informasi mereka memang membaginya. Atau otomatis Sean dan Willis akan mengetahuinya karena mereka berbagi otak? Casey menarik napas. Ia bukan seorang psikolog. Ia tidak terlalu mengerti hal-hal seperti itu. Semua yang ia pikirkan dan simpulan sebenarnya hanya hipotesis yang ia lihat dari beberapa kejadian dan situasi.
“Aku tidak mengizinkan. Kau bisa menggunakan layanan belanja daring. Lagi pula hanya orang bodoh yang membiarkan—“
Casey mengangkat tangannya, “Se-Sean?! Baru saja aku mendengar suara-“ pekik Casey memotong ucapan Willis. Namun Willis menatapnya heran, dan itu membuat Casey merasa salah paham.
“Maksudku, baru saja aku mendengar suara perutku, la-lapar.” ujar Casey meralat ucapannya. Hampir saja ia mengacaukan rencananya sendiri. Ingat bahwa di sini Casey berperan bahwa ia tak mempercayai bahwa Sean seorang DID? Jika ia menunjukkan bahwa ia percaya Sean dan Willis adalah dua orang yang berbeda. Maka rencananya kacau sudah.
“Aku harus pergi menemui seseorang tidak ada waktu meladeni mu-“
Netra Casey berbinar, “Karena itulah, kau harus izinkan aku keluar! Aku tak bisa menitipi diri mu karena aku harus menggunakan merek khusus bernama super Charm panjang empat puluh tujuh Senti meter, bersayap, anti bocor, warna biru kehitaman ada logo bulan, tulisannya menggunakan font bebas noue. Pembalut nya itu terbagi pada tiga jenis, tipe untuk malam, siang, dan tipe sore. Aku harus membeli ketiganya tapi karena siang lebih sering ganti jadi kau harus membeli siang yang lebih banyak untuk stok. Oh iya pembalut siang, malam dan sore ini ada ukuran-ukuran nya. Yang siang dua puluh tiga Senti, yang malam empat puluh tujuh Senti, dan sore dua puluh senti. Yang siang dan malam harus bersayap. Oh satu lagi aku juga harus membeli obat pereda nyeri. Tablet dan minuman merek khusus. Harus dibeli di apotek. Merk-nya herba femin. Baik lah, selamat berbelanja, kau ingat semua apa yang harus dibeli, bukan? Pasti lah. Kau kan orang nya jenius. Pasti mudah untuk mu menghapal apa yang aku ucapkan dalam sekali sebut, kan?” ungkap Casey memamerkan jempolnya namun dalam hati ia terbahak-bahak dengan kebohongan yang ia buat. Mana ada, pembalut sore? Dan mana mungkin Casey bisa mengingat jenis font yang digunakan kemasan pembalut? Nah sekarang apa yang akan kau lakukan Willis? Kau pasti akan mengizinkan ku berbelanja keluar, karena membeli hal seperti itu bagi laki-laki merepotkan, bukan?
“Hm, aku tidak bisa menemukan merk pembalut yang kau maksud. Tapi di sini aku menemukan ada merk lain yang memiliki panjang empat puluh tujuh Senti, bahkan ada yang berukuran lima puluh senti. Jika kau mau aku juga bisa memesan kan popok untukmu sekaligus. Kau tahu, popok dewasa?” ujar Willis yang seketika membuat Casey geram. Apa maksud dari ucapannya itu?!
Dan ternyata sedari tadi ia berada di depan laptop nya rupanya sedang membuka aplikasi belanja daring?
Casey menggigit bibir geram. Kenapa orang ini benar-benar sulit untuk dibohongi?
Willis mengangkat tubuh nya, menunduk merendahkan kepalanya dan berbisik di telinga Casey, “Kau bukan sedang membohongi seorang anak kecil, tikus. Dan jika kau berpikir bisa membohongi ku dengan cara seperti itu. Maka aku mempertanyakan usia mental mu.”
Willis kembali membawa tubuhnya ke depan komputer untuk duduk. Sementara Casey hanya bisa mematung dengan dua tangan yang mengepal di balik dress biru one piece nya. Sementara dalam hati ia menggeram, orang ini ... Tidak Sean, tidak Willis. Kenapa keduanya begitu menyebalkan dan memiliki mulut tajam yang hobi membuat semua orang kesal?
Casey jadi bertanya-tanya, apakah kepribadian asli mereka memang dari sananya menyebalkan? Apakah lidah mereka ditakdirkan memiliki bisa?
Willis melirik Casey dari sudut netranya, tanpa sadar bibirnya tersungging ke atas menampilkan seutas senyum yang bagi Casey jelas menyebalkan.
“Jika kau sungguh ingin ke luar, buat alasan yang lebih masuk akal. Kau punya otak, bukan? Gunakan sesuatu yang disebut otak itu, Tikus.”