Willis terbahak, “Dan aku yakin bahwa Sean bahkan kau sendiri mengatakan dengan jelas bahwa kau hanya tunangan bohongan Sean” Willis yang semula menahan tubuh Casey, melepaskan genggamannya pada pinggang Casey, "Jadi, jangan lupakan apa yang telah kau ucapkan dengan lidah mu sendiri."
Casey menatapnya dengan tatapan pilu, di netranya, Willis dapat melihat seolah Casey mengatakan bagaimana bisa Sean melakukan hal seperti itu padanya. Williams menatap gadis itu sinis. Bukankah ia sudah mengatakan dengan jelas dan tegas bahwa ia bukan lah Sean Archer Blaxton? Kenapa gadis itu tidak kunjung mengerti dan terus menahannya di sini? Willis memiliki pekerjaan penting hari ini, ia tidak bisa terus di tahan gadis yang lambat mencerna Sesuatu, egois, kekanak-kanakan dan berkali-kali merepotkan nya.
Akan lebih berguna jika hari ini ia menghabiskan waktunya dengan mencari dan menemui Donghae untuk mencari informasi, ia tak ada waktu untuk mendengar celoteh tikus berdadaa itu.
Srakkk
Greepp
Namun belum sempat Willis berbalik, Casey menahan tangan Willis dengan menggengamnya erat memaksa tubuh perkasa itu agar berbalik dan menghadapnya.
Oh demi suku cadang otak Vivi yang langka dan mahal. Apa lagi yang gadis tikus ini coba lakukan? Casey terus melangkah maju, kemudian membuka pakaiannya tepat di hadapan Willis.
“Apa yang kau lakukan? Kau berusaha menggodaku?” tuding Willis pedas karena ia menemukan Casey yang memamerkan d**a sintalnya padanya secara sengaja.
Ha?
Sungguh, apa yang sedang tikus ini lakukan?
Menggelikan, murahan, dan tentu saja bod*h.
Bukannya merasa terintimidasi dengan tatapan tajam dan NAD bicara sinis Willis, Casey malah semakin menatap pria jangkung itu seraya membusungkan tubuh bagian depannya, seolah menantang.
“Jika Sean menggapku sebatas tunangan bohongan, jelaskan pada ku arti semua ini! Ia juga mencium ku, selalu menggoda ku dan memuji bagian depan tubuh ku yang selalu membuatnya mengatakan bahwa ia ingin mendewasakan ku! Apakah itu juga kebohongan?” ujar Casey yng menurunkan tanktop nya memamerkan jejak keunguan diatas payudaranya, jejak yang ditinggalkan Sean saat mengeluarkan racun deathly nightsade, juga emosi yang berkecamuk saat Sean memanfaatkan kesempatan itu untuk menggodanya.
Willis berdecak, “Kau sungguh bod*h. Kau pikir aku tidak tahu bahwa itu adalah bekas deathly nightsade? Jangan mencoba membodohi ku.” Willis berusaha menghempaskan tangan Willis dan Casey yang masih menggengam tangan Willis mau tak mau harus terhempas ke lantai cukup kuat.
Bruuukkk
Willis melangkahkan kakinya keluar kamar dengan cepat, namun langkah kaki jenjangnya kembali terhenti saat ia mendengar isakan dari Casey. Willis memutar bola matanya malas. Tikus ini benar-benar, merepotkan!
“Hiks.. Se-Sean....” Willis yang sempat terhenti memilih melanjutkan langkahnya namun isakan tangisan Casey semakin keras.
Willis yang sedang melangkah hendak keluar kamar tersentak saat ia mendengar bentakan tidak terduga dari rah belakang tubuh nya.
“KENAPA KAU LAKUKAN INI PADAKU SEAN ARCHER BLAXTON?! KENAPA PRIA HOBI SEKALI MEMBUAT KAMI KAUM WANITA MERASA NYAMAN LALU SETELAH ITU DICAMPAKKAN?! DASAR PRIA BAJ*NGAN! HIKS.. “ Ujar Casey nyaring yang mau tak mau akhirnya membuat Willis berbalik menatapnya dengan tatapan campur aduk.
Willis menatao Casey dengan tatapan aneh, "PERTAMA KALIAN MEMUJI KAMI, MEMPERLAKUKAN KAMI DENGAN BAIK, PERHATIAN, MEMBUAT PANGGILAN SAYANG, MEMBERIKAN KAMI BANYAK HAL, LALU SETELAH KAMI, BANGSA WANITA YANG LEMAH INI JATUH PADA PESONA KALIAN, KALIAN SEENAKNYA MENINGGALKAN KAMI. PURA-PURA TIDAK KENAL, PURA-PURA LUPA, ATAU MENGATAKAN BAHWA APA YANG MEREKA LAKUKAN HANYA MAIN-MAIN!" Casey terlihat menarik napas setelah menggerutu dengan panjang penuh nada penekanan di setiap ucapannya. Sementara Willis? Pria itu menutup telinga dan memandang Casey dengan tatapan yang tidak bisa lagi jelaskan. Kesal, bingung, campur aduk, kaget dan ngeri.
Casey kembali mengatur napasnya hendak melanjutkan ucapannya, “Padahal aku sudah begitu merasa nyaman, kau juga janji akan mendewasakan ku, tapi sekarang? Kau bahkan mengatakam ingin membunuh ku? Hiks ... kau jahat.”
Willis menatap Casey jengah, “Aku sudah mengatakan, aku bukan Sean. Aku Willis dan kau tahu itu. Aku tidak tahu seberapa ekstrim nya rencana yang kau siapkan tapi biar ku beri tahu, bahwa itu tidak sedikit pun akan mempan pada ku karena aku bukan Sean-"
pembicaraan Willis di potong oleh Casey, Casey malah menghampiri pria itu, menunjuk satu persatu bagian dari wajahnya lalu mencubit saat ia sampai di hidung Willia.
“BOHONG! HIDUNG ITU, TUBUH ITU! KAU SEAN ARCHER BLAXTOM! JANGAN PURA-PURA AMNESIA ATAU ATAKSIA AGAR KAU BISA BERSENANG-SENANG DENGAN ILENE! JANGAN BERPIKIR AKU BISA DIBODOHI DENGAN DRAMA BAHWA KAU SEORANG DID.” Willis menatap Casey dengan raut bingung. Namun berbeda dengan Willis, Casey menyeringai.
Got Cha!
Satu hal yang Casey ketahui tentang DID, saat kepribadian lain mereka menguasai tubuh maka kepribadian asli tak akan bisa mengingat apa saja yang dilakukan kepribadian yang sedang mengambil alih tubuh, begitu pun sebaliknya. Hanya nol koma persekian persen kasus orang yang bisa mengingat, dan ingatan itu pun hanya sebatas memori penting yang samar.
Jadi Casey hanya harus mengarang cerita di mana ia dan Sean saling jatuh cinta, jika Sean tidak muncul, maka Casey harus memaksa Willis menjadi Sean. Mengacaukan memori dua orang dalam satu tubuh itu, dan membuat seolah hanya Casey yang mengetahui dan memiliki ingatan lengkap dari Sean dan Willis. Casey terbahak di dalam hati. Ia sungguh brillian, pintar dan tidak tertandingi! Benar kan, Tom?
Casey menyeringai membayangkan Tom, Lexie dan Emma pasti sekarang tengah bertepuk tangan dan memamerkan jempolnya memuji kecerdasan Casey Stone. Thief kebanggaan Tom.
Setelah itu, rencananya kini adalah ia tidak hanya akan menundukkan Sean, namun ia akan menundukkan Willis.
Ketimbang membangunkam Sean dengan cara Gloria yang dirasa hanya akan membuatnya babak belur, Casey akan menggunakan idenya sendiri. Yaitu;
Membuat Willis tunduk padanya sekaligus dengan Sean seperti Willis yang tunduk pada Ilene dengan mempermainkan memori dua orang itu. Sekali mendayung dua pulau diseberangi.
Cerdas bukan? Ah ia harus berterimakasih pada Vivi, sepertinya hantaman di wajah membuat otaknya kembali berfungsi normal.
Willis terlihat membolakan netranya, “Apa? Jadi Sean selalu bersenang-senang dengan Ilene?”
Netra Casey berbinar, ia sungguh ingin menari-nari senang sekarang karena kail dengan umpan yang ia pasang mulai mengait Willis, mangsa nya. Ah sungguh ia tidak kuat, ia ingin tertawa tapi ia bisa mengacaukan rencananya jika ia terbawa suasana hatinya.
Casey mengangguk, menuntun kepala Willis untuk merendah mendengarkan ceritanya, “Pada saat malam kau menjebak ku, kau mengusirku dan mengatakan Ilene yang harus menemanimu, kau bahkan mengatakan kalau kau bosan karena terlalu sering having s*x dengan Ilene,”
Pupil Willis membesar, tangannya mengepal tak suka.
Got you dumb ass! Analisis Casey tepat sasaran dan Casey juga tak sepenuhnya berbohong sih, kalian juga pasti mengingat semua yang dikatakan Sean pada saat malam pesta itu bukan? Dan lagi, katakan saja ini karma, tukang drama yang dibohongi juga dengan drama. Sungguh adil bukan? Mulai sekarang, Sean harus mempelajari bahwa sesuatu yang disebut karma itu benar dan nyata adanya.
Netra Willis semakin membola, namun kali ini bersama percikan emosi, “Tanpa ku?! b******n itu!” umpatnya mengepalkan tangan
Casey menutup mulutnya benar-benar tak kuat dengan semua drama ini. Jadi ini kah yang dirasakan Sean saat ia menipu orang lain? Well, Casey mengakui bahwa ini cukup menyenangkan.
Namun ia segera mengatur ekspresinya, kembali berpura-pura terlihat bodoh, “Kenapa kau terus berbicara aneh?” Casey membawa tubuhnya untuk berdiri saat Willis kembali menghampirinya dan mengangkat tubuhnya.
Willis menajamkan tatapannya, “Karena aku bukan Sean,” jawabnya hendak membantu Casey pada ranjang.
“Benarkah?--Cup”
Willis terlihat terkejut tatkala ia mendapatkan sebuah kecupan aingkat dari Casey. Sementara Sang pelaku hanya tersenyum polos tanpa dosa.
“Kau jelas Sean ku, apakah karena wajahku yang bengkak kau jadi membenciku? Aku tidak lagi cantik?” ujar Casey dengan raut sedih. Willis masih terdiam tak bereaksi. Otaknya pasti tengah sibuk mengobrak-abrik memori untuk mencari pembenaran atas ucapan Casey—tepatnya Provokasi Casey.
Casey tiba-tiba terbelalak seraya melihat bibir Willis, “Hei bibir mu kenapa?” tanya Casey khawatir, eh tapi tidak juga sih, ini hanya pengalihan agar Willis tidak fokus.
Casey mengelus bibir Willia lembut dengan jempolnya. Dan Demi Tuhan sesuatu terasa menyentil hatinya, pada saat bersamaan juga terasa menggelitik perutnya. Bukankah ini yang biasa dilakukan Sean terhadapnya? Kenapa sekarang malah Casey yang melakukan ini pada Sean?
Casey mengangguk-angguk kepalanya bijak dalam hati, ternyata berada di sini cukup membuatnya mendapat bany pelajaran hidup yang tidak terduga. Dan membuatnya twrsadar bahwa pepatah dan nasihat tidak di tulis begitu saja, bait-bait itu tercipta dari suatu kejadian yang nyata dan pernah terjadi. Jadi belajar lah dari nasihat dan pepatah agar menjadi orang yang bijak.
Casey membayangkan ia sedang mengibaskan tangan di udara, mendengarnya mengatakan hal konyol, meskipun itu dalam hati benar-bwnar menggelikan. Secara singkat mari kita katakan bahwa ini adalah hari terbalik!
Konyol, memang. Tapi katakanlah begitu.Tapi sungguh percayalah bahwa Casey melakukannya demi kemulusan rencana. Bukan karena terbawa perasaan, kalian harus menggaris bawahinya.
Casey kembali mendekatkan wajahnya pada Sean, “Biarkan aku menyembuhkannya.” ujar Casey pelan, seduktif lalu ia memberikan Willis sebuah kecupan panjang yang lembut dan manis.
Willis diam tak berkutik sementara Casey menyeringai puas. Ternyata semudah ini mendapatkan Willis?
Namun detik selanjutnya ekspresi puas Casey memudar, “Jauhkan bibirmu dariku” titah Willis yang rupanya sudah menodongkan revolver didepan perut Casey. Demi mumi Ahmanet!
Kapan ia menarik Revolver itu? Dan dari mana ia menariknya?!
Casey tidak bisa melihat lebih lama ke arah revolver itu, Willis menyudutkannya.
“Hitungan ke tiga jika kau tidak menjauhkan bibirmu aku akan menem-“
Casey menarik mundur wajahnya perlahan, “O-oke aku menjauhkannya. Lihat?” ujar Casey segera. Sial ia sungguh benci harus bersikap seperti ini, ini bukan gayanya. Namun Willis benar-benar bukanlah lawannya, dan ia tak mempunyai pilihan sekarang.
“Aku harus pergi menemui Donghae. Jangan membuat ulah. Dimeja itu juga obat dan kompres untuk lukamu sudah tersedia. Obati sendiri” ujar Willis lalu menarik Revolvernya seraya melangkah hendak meninggalkan Casey. Namun Casey tak menyerah dan kembali menarik tangan Sean. Casey melirik Willis
“T-tapi Darling, luka ini sakit obati aku ya?” ujar Casey sedikit merajuk. Urgh pada akhirnya ia mencoba ide yang diajukan Gloria untuk memanggil Sean atau Willis atau siapalah itu, dengan panggilan romantis. Dan demi Tuhan ini sungguh menggelikan. Merajuk atau memohon bukanlah gayanya. Tapi sekali lagi, ia tak punya pilihan. Segala cara harus di lakukan selama itu memberinya peluan.
Namun bukannya memberi perhatian, Willis malah kembali menodongkan revolvernya kali ini tepat depan dimata kanan Casey.
Arah netra Willis melirik dua netra Casey bergantian, “Kau ingin mana yang lebih dulu? Kanan? Kiri? Aku berbaik hati membiarkan mu memilih. Biasanya aku langsung menembak tanpa bernegosiasi."
Casey menelan ludahnya kasar. Gloria payah. Dari awal Casey sudah memprediksi ini bukanlah rencana yang bagus.
Casey melepaskan genggamannya dan membiarkan Willis benar-benar pergi meninggalkannya. Seraya merutuki aksi bodohnya barusan yang hampir membuat bola matanya pecah. Casey begidik ngeri dan merutuk karena hampir mempertaruhkan bagian tubuhnya yang jelas sangat penting.
Casey mungkin masih akan berusaha melakukan aksi terbaiknya untuk menaklukan Sean atau Willis jika saja pemilik tubuh di hadapannya ini tidak mengeluarkan ekspresi itu.
Ekspresi tadi, adalah ekspresi seorang pembunuh berdarah dingin. Casey harus bersyukur karena ia menyadari itu lebih cepat sebelum Willis menarik pelatuknya.
Casey terdiam seraya mengompres luka lebamnya, ah luka ini tidak akan hilang dalam hitungan hari. Mungkin butuh dua minggu untuk menghilangkan memar dan lebam ini.
“Dasar tulang dan otak besi!” ucapnya entah mengumpat atau apa.
Seraya mengompres luka, Casey terdiam memandangi desain interior kamar itu dan memerhatikannya dengan detail. Jika diingat lagi, saat Casey terkena racun juga Sean membawanya ke kamarnya dan sekarang terulang lagi, Willis juga membawanya ke kamar ini. Kamar yang seharusnya menjadi ruangan yang paling tidak boleh di masuki Casey karena pasti di kamar ini terdapat barang penting dan- tunggu.
Barang penting?! Casey menepuk tangan, kemudian merutuk saat menyadari bahwa itu membuat luka di tangannya kembali terbuka dan perih.
Ya benar. Sean pasti memiliki barang penting yang membuat ingatannya terikat. Begitupun Willis.
Tapi apa?
Casey harus mencari tahu nya!