Saat Casey membuka netranya, ia merasakan pening, ngilu dan perih menyerangnya secara bersamaan. Hal itu pun ia raaakany tatkala ia membuka mulutnya. Sungguh terasa ngilu dan perih. Apa yang terjadi? wajahnya terasa sedikit aneh, dan berat.
Tunggu, di mana ini?
Casey mengerjapkan matanya dan memfokuskan tatapannya, namun sayangnya tatapannya masih begitu buram dan ia merasakan beban luar biasa menggelayut di eye lid-nya. Sepertinya eye lid-nya bengkak. Dan itu membuatnya tak bisa membuka mata semudah biasanya.
Sungguh demi Tuhan, apa yang telah terjadi? Saat Casey sibuk memikirkan apa yang terjadi, samar-samar Casey sapat mendengar sayup suara seseorang yang amat ia kenal--Sean
Dengan susah payah, Casey mengangkat sedikit tubuhnya, membawanya untuk duduk tegap menyender pada kepala ranjang. Cukup sulit dan memyakitinya. Sepertinya selain wajah, seluruh tubuhnya juga terluka hingga terasa ngilu semua.
“Ya Erick, bawa Gloria ke rumah sakit. Aku tak mengerti kenapa Gloria bisa terluka cukup serius seperti itu. Selain itu, di sini Thief itu juga tidak sadarkan diri gara-gara bertarung dengan Vivi. Aku hanya memiliki dua tangan dan aku tak bisa merawat tiga orang sekaligus, di sini." Helaan napas terdengar, "Vivi juga mengalami kerusakan fisik yang serius dan aku harus memperbaikinya atau malah membawanya pada Roney untuk penggantian suku cadang--dan beberapa hal yang rusak.”
Casey mempertajam indra pendengarannya saat samar ia mendengar suara Sean ah atau mungkin bisa jadi itu masih Willis membicarakan keadaan Gloria dan Vivi. Dan saat ia membuka sebelah matanya untuk mengintip di dapatinya Sean yang sedang bertelanjang d**a memamerkan otot di punggung lebarnya, ia sepertinya tengah menelepon Erick.
Tanpa sadar Casey menelan ludah kasar, ia menyadari bahwa selama ini ia hanya melihat Sean sebagai pria biasa. Ia tak pernah melihat Sean seperti sekarang—melihatnya secara teliti lalu kembali menyadari bahwa pemilik punggung lebar itu adalah lelaki yang mempesona dan penuh aura mendominasi, seperti malam saat pertama kali mereka bertemu, karena hanya itulah satu-satunya momen di mana Casey melihat Sean sebagai pria yang mempesona sebelum Sean membuka kedok Casey sebagai Thief lalu menyeretnya pada situasi ini dan membuat Casey sebal dengan sikap semena-mena saat ia menggoda Casey.
Mencium,
Menyentuh,
Membuat bulu romanya meremang—tunggu, Casey mengepalkan tangan di atas ranjang. Apa yang sebenarnya tengah Casey pikirkan?! Itu kejadian konyol yang tidak seharusnya ia ingat.
Casey tiba-tiba menggeleng dalam hati, untuk apa mengingat itu? Seharusnya ia mengingat ucapan Gloria semalam dan membuat rencana untuk kedepannya.
“Pokoknya buat Sean jatuh cinta padamu. Dengan membuat Sean jatuh cinta padamu kau bisa mengontrol Sean seperti Ilene yang bisa mengontrol Willis. Aku menyerahkan semuanya pada mu!” ucapan Gloria membuat Casey merasa sesak tanpa alasan. Casey sekarang bisa mengingat semua hal yang terjadi dengan sangat jelas. Permintaan Gloria, rencana Gloria dan pertarungan sengitnya melawan Vivi so robot semi human yang membuatnya babak belur, luar biasa.
Namun sesuatu seperti membuat jatuh cinta?
Casey menghela napas berat seraya menaruh lengannya di atas pelipis merasakan pikiran asing menganggu benaknya namun pada saat bersamaan terasa menggelitik saat potongan memori kelakuan menyebalkan Sean terlintas—aneh? Entalah, ia pun berpikir itu absurd sekali.
“Sudah sadar?”
Suara itu masih sama dengan suara Sean, tubuh itu juga masihlah tubuh Sean.
Tapi rasanya asing sekali.
Apa yang berbeda?
Nada bicara? Tidak, itu masih nada bicara Sean yang dingin. Tak ada perbedaan. Tapi kenapa Casey merasa teramat sangat asing?
“Tiffany tak bisa datang, dan karena ini hanya luka lebam seharusnya kau bisa merawatnya sendiri.” ujarnya menarik kemeja putih dan mengenakannya.
Casey menggigit bibirnya, lalu meringis sakit saat menyadari bahwa sudut bibirnya luka cukup parah. Casey mencuri pandang Sean, tidak berani menatap pria itu meskipun hanya untuk satu menit saja.
“Aku sudah mendengar dari Gloria tentang Inspektur wanita Seraphina Blooms dan profesor X itu. Um ... Aku minta maaf, aku mengacaukan rencana kalian untuk mengorek informasi professor X itu. Aku sungguh tidak sengaja.” ujar Casey dengan dua tangan mengepal di antara tubuhnya.
Willis menarik napas, menoleh ke arah Casey sekilas, “Baru menyadari seberapa bodoh dan fatalnya tindakan egois mu itu? Tapi waktu tak bisa diulang, setelah kau meminta maaf pun tidak ada yang bisa kau ubah." Willis menggantung ucapannya, "Jika rencana kacau maka harus ada rencana baru segera. Sebelum kekacauannya menyebar pada rencana lain.” ujar Willis selesai mengenakan kemeja putihnya. Dan entah mengapa Casey mendapati setitik rasa kecewa dan emosional mendengar pernyataan ini. Rasanya lebih baik melihat Sean yang uring-uringan dan memarahi Casey lalu mereka berakhir dengan aksi kejar mengejar layaknya Tom and Jerry. Melihat wajahnya yang tanpa ekspresi itu, rasanya sungguh asing.
Casey terlihat kembali menelan ludah. Ia hendak membuka mulutnya, namun rasanya terasa sulit dan berat sekali. Casey termenung, apakah ia jadi kesulitan karena luka lebam ini, atau ia memang tidak berani berbicara pada Willis?
“Katakan rencana mu, aku akan membantu sebisa ku” celetuk Casey yang dijawab Willis dengan lirikan sekilas
“Aku tak membutuhkan bantuan mu, selain menukar the Oppenheimer di pameran. Dan tidak ada hal yang perlu kau ketahui selain menukar. Jadi berhentilah mencari tahu.” ujar Willis singkat dan dingin. Casey berusaha untuk bangun dan melangkah, namun baru satu langkah, Casey merasakan pening kembali menyerangnya, tubuhnya oleng.
Grepp
Willis dengan sigap menangkapnya.
“Selain egois, kekanakan juga keras kepala. Apakah aku perlu memotong kaki mu, lalu menjahit bibir mu agar kau bisa diam dan tidak melakukan hal bodoh lagi? Pekerjaan mu hanya tinggal menukar, kenapa kau melakukan hal yang tidak perlu dan membut orang lain kesulitan?” emosi Willis, masih menahan tubuh Casey dengan lengan kekarnya. Casey menatap Willis dan sialnya Willis mengunci tatapan Casey padanya hingga Casey tak bisa berkutik.
Deg
Deg
Deg
Jika ini adalah Sean, jelas Sean akan menggodanya. Menohok Casey dengan ucapan m***m, dan Casey akan membalasnya kasar. Namun ingatkan Casey bahwa ini adalah Willis.
Anehnya Casey menemukan sebersit penyesalan dan kerinduan dihatinya.
Tapi ia tak mengerti dari mana asalnya perasaan aneh itu. Tapi mungkinkah memang ini salah Casey yang egois?
“Kau membuatku emosi. Tindakan gegabah hanya akan memperburuk situasi. Seperti yang kau lakukan kemarin. Kau seharusnya mengingat dan belajar dari kejadian itu.” ujar Willis lalu membawa Casey untuk kembali duduk diranjang. Casey terdiam lalu tercekat mendengar ucapan Willis yang begitu menohoknya.
Casey terkatup, seumur hidup baru kali ini ia mendapatkan ucapan tajam seperti itu. Kenapa? Tom selalu mengatakan bahwa Casey adalah seorang yang inovatif dan Kritis. Tapi bagi orang di hadapannya ini, kenapa semua yang ia lakukan salah?
“Aku ingin sekali melenyapkan mu jika saja Ilene-“
“Ilene? Kenapa Ilene? Bukankah Sean mengatakan bahwa ia bekerja untuk dirinya sendiri karena ia benci diperintah! Tapi lihat, kau mau saja seenaknya diperintah Ilene. Kenapa? Apa sebenarnya hubungan kalian?! Apakah karena Ilene pel-“ Casey memotong ucapan Willis, namun Willis membalasnya dengan menarik tangan Casey cepat.
Greeepp
“Kangan sok tahu.” potong Willis meremas tangan Casey kuat hingga Casey meringis pelan dalam hati.
“Kalau begitu beri tahu aku, beri tahu semua yang tidak aku tahu. Kau lupa bahwa aku tunangan Sean? Aku juga bagian dari tim mu, aku harus mengetahui semua, meskipun aku hanya bekerja di satu bagian, ah tidak, mungkin hanya titik sederhana. Tapi jika aku tidak mengetahui semuanya, bagaimana aku bisa membantu?” ujar Casey cukup lantang, meskipun sebenarnya dalam hati sendiri ia begitu ketar ketir mengantisipasi apa yang akan dilakukan Willis.
Jika di hadapannya adalah Sean, Casey bisa menebak bahwa Sean tentu akan memberinya hukuman berupa gerakan seduktif mengancamnya dalam ciuman di pipi dan daun telinganya, menggoda dua bukit sintalnya atau kelakuan m***m dan drama konyolnya.
Anehnya, Casey tak pernah merasa takut menghadapi Sean. Ingat bahwa Casey pernah memberi beberapa pelajaran pada Sean? Ia selalu merasa aman dengan Sean, meskipun ia sudah tahu bahwa Sean memiliki kekuatan, kekayaan dan mudah menipu orang dengan manipulatif nya, tapi kenapa Casey tidak pernah merasa terancam saat ia bersama Sean?
Namun berbeda dengan sosok pria di hadapannya ini sekarang--Willi, Willis bahkan tak segan untuk mencekiknya jika dirasa perlu. Ia benci mengakui ini namun sebenarnya ia lebih takut dengan Willis dan ia merasakan rasa ingin membawa Sean yang mes*m kembali.
Sial, tiba-tiba Casey merasa panas menyelinap di kulit lehernya bersamaan dengan perasaan emosional dan ketakutan yang menggelenyar saat ia membandingkan Willis dan Sean.
Mereka sungguh berbeda.
"Lantas jika tunangan, kenapa? Apakah kau pikir karena Sean menyebut mu tunangan, maka kau bisa bebas melakukan banyak hal? dan mengetahui semua seluk beluk Sean?" Ungkap Willis yang membuat hati Cash mencelos seketika.
Bibir Casey bergetar, namun ia terus memaksa mulutnya untuk berbicara, "B-bukan kah, kau sendiri yang mengatakan bahwa kita harus menjalankan apa yang di lakukan pasangan yang bertunangan seperti pada umumnya?" Ungkap Casey mengingat ucapan Sean di kediaman Blaxton beberapa waktu lalu.
Willis terbahak, “Dan aku yakin bahwa Sean bahkan kau sendiri mengatakan dengan jelas bahwa kau hanya tunangan bohongan Sean” Willis yang semula menahan tubuh Casey, melepaskan genggamannya pada pinggang Casey, "Jadi, jangan lupakan apa yang telah kau ucapkan dengan lidah mu sendiri."