Pagi itu terasa begitu damai bagi Casey. Suara rincih dari burung-burung terdengar dari luar jendelanya, terdengar merdu di tambah cahaya matahari yang menembus kaca kamar Casey membuat suasana pagi kamar itu terasa begitu sendu.
Casey yang sedang menikmati ranjang empuk nan hangatnya menarik selimutnya lebih atas hingga menutupi setengah dari wajahnya. Dengan tubuh yang meringkuk, ia membuat pusaran seperti keong selimutnya, menggenggam benda lembut dan hangat itu penuh suka cita, rasanya tubuhnya begitu lelah setelah kemarin ia menghadapi Vivi fakta tak terduga tentang Sean dan mungkin ia akan menghadapi kejutan-kejutan Luan yang tak terduga. Namun meskipun ia terlihat santai, ia memasang telinga nya lebar-lebar.
Saat ia mendengar derap langkah kaki di lorong rumah menuju kamarnya, Casey membuka matanya seketika. Dengan cepat ia bangun dan ranjangnya dan berlari ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian karet yang ia gunakan untuk latihan. Untungnya dengan tubuhnya yang mungil dan kurus, ia bisa bergerak cepat dan lincah seperti seekor tupai. Saat akhirnya pintu itu terbuka, Casey sudah duduk di atas ranjang dengan rapi, seolah menunggu seseorang--orang yang berjalan ke arah kamarnya, siap menyambutnya.
Saat pintu terbuka, sosok Gloria muncul dari balik pintu dengan tatapan kaget, melihat Casey yang sudah siap dengan pakaian latihannya. Sementara Gloria sendiri masih mengenakan pakaian tidur dengan rambut yang sedikit acak-acakan.
"Glo?" Pekik Casey kaget dan sedikit kecewa.
Glo menutup bibirnya dengan tangan lalu tertawa terkikik, "Kau sudah siap untuk latihan? Pfftt ... Apakah kau tahu ini jam berapa?"
Casey membolakan matanya malas dengan reaksi Gloria yang menertawakannya. Lalu karena menyadari bahwa orang yang datang bukanlah Sean, Casey membawa tubuhnya untuk kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Aku belum melihat jam, jam berapa memangnya?"
Gloria memasuki kamar Casey, lalu duduk tepat di samping Casey yang merebahkan tubuhnya dengan perasaan kecewa, "Setengah tujuh, pagi."
"Memangnya latihan akan di mulai jam berapa?" Tanya Casey.
"Mungkin jam delapan. Jika ada Ilene Sean biasanya sedikit lebih bersantai." Ungkap Gloria direspon helaan napas berat dari Casey.
Gloria menatap gadis yang sepertinya beberapa tahu lebih muda darinya itu dengan senyum, "Kau terlihat kecewa aku datang apakah kau berharap bahwa Sean lah yang akan datang dan membangunkan mu?" Tebak Gloria menatap Casey dengan tatapan curiga.
Casey mendengus, "Aku memang mengira kau adalah Sean makannya aku siap-siap dengan cepat," ungkap Casey memeluk kembali bantalnya erat
Gloria tersenyum simpul, "Eh ... Apa ini, kau sepertinya benar-benar berharap Sean yang datang. Kau membuat ku jadi penasaran, kan."
Casey menatap Gloria dengan tatapan tak terima, "Tentu bukan seperti itu! Begini, jika aku tahu kau yang akan datang aku sudah bilang bahwa aku akan tidur lebih lama, bukan? padahal beberapa menit lalu aku masih sedang menikmati alam tanpa mimpi ku. Jika aku tahu kau yang akan datang, aku pasti tidak akan bersiap-siap serusuh tadi." Ungkap Casey terdengar seperti gerutuan.
"Benarkah?" Desak Gloria menggoda.
"Tentu saja benar! Kau tahu apa yang kemarin ia lakukan untuk membangunkan ku? Dia menyiram ku dengan air! Aku tidak mau mengulangi kejadian yang sama, karena itu lah aku tidur lebih awas dan tidak nyenyak, karena aku takut Sean akan membangunkan ku dengan cara gila lainnya." Gerutu Casey teringat bagaimana Sean kemarin membangunkannya.
“Hahaha ... Baiklah, baiklah aku percaya. Ah jadi aku datang ke kamar mu sepagi ini untuk membahas sesuatu. begini, kau harus melawan Vivi lagi dengan tangan kosong” ujar Gloria menjelaskan maksud kedatangannya ke kamar Casey.
Casey membolakan matanya terkejut, “lagi?! Oh demi Tuhan, bahkan aku belum mengobati luka kemarin!”
Gloria tersenyum tak enak, melirik tangan Casey yang diperban dengan kain kasa.
“Kau cukup tangguh," puji Gloria. Casey mengeringkan netranya, tidak tersentuh dengan pujian Gloria, "Tapi itu hanya satu-satunya cara."
"Cara?" Ulang Casey
Gloria mengangguk, "Lawan sampai tanganmu terluka parah. Nanti aku pun akan membuat cidera hingga aku tidak bisa mengobati mu."
“Lalu?”
“kita harus membuat Sean yang mengobati mu, sama seperti saat kau mendapatkan serangan racun dari Vivi. Kita harus membuat ia mengobati mu."
Casey mengerutkan alisnya bingung, tak mengerti dengan relevansi dari rencana Gloria.
"Itu terdengar tidak masuk akan dan hanya menyiksa diri ku sendiri." Ujar Casey ragu dan meringis membayangkan bahwa ia akan menghadapi Vivi dengan tangan yang sedang terluka. Ia bisa membuat tulang jari-jarinya remuk.
“Kau harus menggodanya! Berakting Lah seakan kau lemah. Kau juga bisa menyebutnya Sayang Ku atau tunangan ku! Eh apakah sebaiknya panggilan seperti Bae? Bee? Honey? Darling?" Gloria terlihat menimbang. Sementara Casey menahan perasaan geli mendengar serentetan panggilan romantis yang terasa menggelikan itu.
Casey mendesis, "Ha? Itu tidak bagus sama sekali, Glo! Itu menggelikan, aku tidak mau!"
"Astaga ayolah Casey, itu bukan hal yang sulit."
Casey mengusap wajahnya kasar, "Memang tidak sulit, tapi apakah kau tidak mengerti arti kata menggelikan? Membayangkannya saja membuat ku ingin muntah!"
"Hei kau tidak tahu aku menyebut Sick dengan apa? Honey baby sweety! Dan aku tidak sedikit pun merasa itu menggelikan!" Aku Gloria yang membuat alis Casey berkedut. Ternyata di balik sisi hebat Gloria, ia tetap wanita manja yang menggemaskan.
Gloria menepuk tangannya, "Sepertinya kata Darling yang paling cocok agar kau terlihat lebih cute. Jadi katakanlah, ‘ah Darling ini sakit sekali hiks’ begitu!” Celetuk Gloria menjelaskan dengan penuh semangat. Casey terkekeh canggung, tidak setuju namun ia ragu untuk mengatakan keberatannya karena takut Gloria tersinggung.
“Aku pikir itu bukan ide yang bagus, kau tahu kan Sean bukan-“ sergah Casey.
Namun Gloria tidak mendengarnya saat mereka mendengar langkah kaki lain yang sepertinya juga mengarah ke arah kamar Casey, “Pssstt, dia datang! Aku sudah mencabut satu kabel Vivi dan membuatnya menggila, oke?” ungkap Gloria bersemangat bahkan mengacungkan jempolnya seolah itu bukan hal yang sulit
Casey membolakan matanya tergemap, “A-apa?! Hei tunggu- hei!" tangan Casey terjulur namun
BRAAAKK
DUAGH
Casey yang hendak mengejar Gloria malah harus terkejut dengan hantaman dari lengan Vivi lalu sebuah bogem yang terarah pada ulu hatinya
Buakkk
“akh..” ringis Casey karena ia belum mempersiapkan diri. Sedikit merasa ngilu dan terhuyung, Casey berusaha menyeimbangkan langkahnya dan kembali menguasai dirinya.
Helaan napas terdengar lalu Casey menyiapkan kuda-kuda sebelum ia menerima pukulan lain dari Vivi. Sial, bukankah Vivi anjing? Dari mana Vivi mendapatkan teknik beladiri dengan tangan kosong? Dasar anjing!
Casey menggerutu, sementara Sean—Willis yang baru muncul menyesap kopinya di teras rumah dengan kimono sutra yang berkibar karena tertiup angin.
Bugh
Bugh
Sreettt
Casey beberapa kali mencoba menyapu langkah Vivi agar Vivi oleng, namun seakan Vivi sudah merekam gaya bertarung Casey, Vivi mampu menebak semua serangan Casey hingga ia bisa menangkisnya. Bagaimana bisa seperti itu? Tunggu, apa jangan-jangan memang itu yang dilakukan Vivi?
Duagh
Bugh
Bugh
Casey hampir oleng saat Vivi berhasil memberinya pukulan telak di hidung dan mulut hingga membuat semerbak amis memenuhi indera penciuman dan perasa Casey, sial! Hidung mancung Casey yang berharga dan bibir hatinya yang tak tersentuh kini menjadi bengkak. Casey tak bisa mempertahan formasi bertarungnya.
Ia akan kalah jika Vivi terus membaca gerak tarungnya. Memutar otak, Casey mendapatkan ide untuk merubah formasi bertarungnya dimana ia akan terlebih dahulu menyerang dan menjatuhkan, kali ini ia akan membiarkan tendangan Vivi memasuki daerah perutnya, setelah itu Casey akan menangkap sebelah kaki Vivi dan menyapu sebelah kaki Vivi yang lain hingga Vivi terjatuh. Terakhir, Casey akan menutupnya dengan rentetan pukulan di wajah.
BUGH
Sayangnya sebelum Casey melancarkan aksinya, Vivi rupanya terlebih dahulu mengunci tangan Casey dan memelintirnya kebelakang membuat Casey berteriak cukup histeris karena merasa Vivi ingin memutuskan tangannya. Sial! Vivi benar-benar menggila dan ia jauh lebih kuat dari kemarin
“ARGHHHH”
TREKK TREKK
Bunyi gemeretek tulang yang dipelintir terdengar. Casey tak bisa berkutik selain berusaha memukuli kepala Vivi dengan sebelah tangan yang masih terbebas.
Bugh
Bugh
Namun tangan Vivi yang lain malah membelit leher Casey membuat stok oksigen di paru-parunya menipis. Kini ia benar-benar merasa lemas dan sesak
“akhh akhhh arghh”
Bugh
Bugh
Casey masih berusaha melawan, namun perlahan rasa panas dileher menyerangnya sementara ia merasa hawa dingin menelusup diantara kakinya seakan ia menapaki es lalu kegelapan mulai menariknya untuk terjatuh pada ruang hampa. Argh ini adalah detik dimana ia akan kehilangan kesadaran. Namun sebelum kesadarannya benar-benar hilang, ia melihat Sean meloncati pagar taman seraya meneriakkan sesuatu yang tak bisa Casey dengar karena indera pendengarannya hanya dipenuhi dengingan
Ngiiiiiiiiiiiiiinnggggg
Hosh
Hosh
Hosh
Sesak sekali
Brukkkk
Casey merasa wajahnya membentur tanah.
Namun detik selanjutnya ia merasa tubuhnya ditarik pada sesuatu yang hangat dan lembut, seperti sutra, Casey tidak bisa mendeskripsikannya.
Hosh
Hosh
Hosh
Masih sesak
“hmmpphh.. Hmmpph”
Ngiiiiiiinnnnnggggg
Dugh
Dugh
Dugh
Sesuatu menekan-nekan dadanya, bersamaan dengan itu sebuah benda lembut hinggap dibibir nya dan memberikannya pasokan oksigen. Tabung oksigen? Aneh sekali karena sangat lembut dan kenyal seperti silikon dengan sedikit lendir, Casey terlihat ragu namun ia memilih untuk
mengecapnya.
Casey merasa bahwa ia mendapatkan kesadarannya. Suara dengungan yang amat nyaring memekakkan telinga membawanya untuk sadar
“Tikus! Tikus!”
Tikus? Suara Siapa itu?
Ngiiinggggg
Dengingan itu perlahan menghilang, dan suatu suara muncul, anehnya suara itu terdengar pelan namun perlahan menjadi nyaring seperti teredam
“TIKUS BANGUNLAH! SIALAN!”
“hmmpphh.. Hmmpphh”
Tabung oksigen itu menempel lagi di atas bibirnya, kali ini terasa lebih rusuh dan terburu-buru. Kenyal sekali sampai rasanya Casey gemas ingin menggigitnya
“CASEY?! HEI TIKUS!! TIKUS BERPAYUDARA?! “
Gigit?
Casey ingin mengigit silikon itu. Gigit sampai pecah tak apa kan?
Kreeeekkkkkkk
“ARGGGGHHHHHH!!! SIALAN KAU TIKUS!”