Atmosfer di ruangan itu cukup terasa sesak meskipun hanya ada tiga orang yang berada di sana. Ilene, Gloria, dan Casey. Tiga wanita yang duduk dengan saling bertukar pandang ragu.
Setelah membawa Sean ke kamar dan mengistirahatkannya, ketiga orang itu berkumpul dan duduk di sofa ruang tamu rumah Sean yang luas. Gloria mengatakan bahwa ia sudah mengabari dokter Tiffany dan juga Erick. Namun Gloria mengatakan bahwa ia belum mengabari Peter dan anggota lain untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kebocoran informasi dan kepanikan.
Ilene mengangguk mengerti. Sementara Casey sebagai orang baru dan asing, tentu hanya bisa mengikuti arus. Ia tidak mau bersikap sok tahu, apalagi menambah-nambah masalah saja di situasi yang terbilang rumit ini.
"Aku sudah melakukan semua yang harus aku lakukan dan menghandle beberapa data, informasi dan pekerjaan Sean entah dari Peter, Erick dan akuntannya." Ungkap Gloria menaruh tablet Sean yang bisa diakses oleh Gloria. Keadaan kembali menjadi hening.
Ilene mengangguk, “Terima kasih Glo kau sudah meng-handle hal-hal yang sulit. Well, Casey, mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahumu semua sebelum ia--Sean bangun. Jadi...." Ilene menghela napas sejenak.
Casey menoleh saat mendengar suara Ilene yang memecah keheningan, Casey membawa lututnya mengarah pada Ilene, yang artinya ia menyimak dan menerima dengan apa yang akan dikatakan Ilene.
"Sean mengidap dissociative identity disorder, atau orang-orang biasanya menyebutnya kepribadian ganda. Pertama Sean mempunyai dua kepribadian, Sean dan Willis. Diawal yang kau temui adalah Sean. Ia seperti sosok yang pernah kau temui sebelumnya, ahli berlian. Sementara yang baru saja kau temui adalah Willis, sesosok yang keras dan sedikit bengis dan ia memiliki kaahlian di bidang robotik. Meskipun sebenarnya ia ahli di bidan Artificial Intelligence, singkatnya sistemnya." Jelas Ilene membuat Casey mengepalkan tangan karena bahwa ternyata hipotesis nya memang benar.
Saat melihat Casey yang tertunduk dengan menundukkan telapak tangannya, Ilene menghentikan penjelasannya sesaat.
"Sebenarnya belakangan Willis tidak pernah muncul. Sejauh ini Sean berhasil mengendalikan Willis dengan baik. Tapi seperti yang kau lihat hari ini--" Ilene melirik Gloria yang juga menatapnya terlihat sedikit resah.
"Aku tidak tahu bagaimana cara kau membangunkan Willis dan membuat Willis menguasai tubuh Sean lebih lama dari biasanya." Tarikan napas berat terdengar, begitu pum dari Gloria. Ilene tidak bodoh untuk tidak memahami bahwa artinya situasi mereka buruk. Casey sudah membangkitkan sesuatu yang seharusnya tidak ia bangkitkan. Sederhananya seperti itu.
Ilene menepuk tangannya entah untuk apa, "Sebenarnya ini tidak akan menjadi masalah selama kita bisa bekeja sama. Karena jika kita sudah berhadapan dengan Willis maka kita tak bisa lagi bermain-main. Gloria mungkin jadi orang yang paling tahu, kau sudah lama berada di samping Sean, bukan?” ujar Ilene dengan nada mengambang.
Gloria menatap Ilene dan mengangguk, "Kau juga paling tahu tentang hubungan ku dengan Sean." Ujar Gloria membenarkan ucapan Ilene.
Casey melirik Gloria dan Ilene bergantian, ia bisa mengerti jika Gloria mengatakan bahwa ia memiliki hubungan khusus--kepercayaam dengan Sean, bukan romantika. Dari awal Casey melihat Gloria yang terlihat cukup berani pada Sean, membuat Casey bisa menduga bahwa pasti Gloria memiliki posisi khusus. Tidak mengejutkan bagi Casey.
Tanpa sadar, Casey kembali melirik Ilene. Tapi Ilene? Apa hubungan wanita ini dengan Sean? Sean tidak pernah memperkenalkan Ilene sebagai bagian dari organisasinya atau seseorang yang memiliki peranan penting dalam misi the Oppenheimer, selain di malam pesta, tepatnya di kamar Sean, ketika Sean mengatakan bahwa Ilene adalah maid dan juga simpanannya.
“Lalu apa sebenarnya hubungan mu dengan Sean?” celetuk Casey tanpa disadarinya. Apakah Ilene adalah mata-mata Sean seperti Gloria? Apakah Ilene juuga sumber informasi? Selama ini Casey hanya mengira bahwa Irene adalah gundik Sean. Ternyata ia salah besar. Ilene sepertinya memiliki peran yang cukup besar.
Ilene tersenyum simpul, “Aku senang kau bertanya seperti itu. Apakah kau tertarik pada Sean?" Tanya Ilene yang seketika membuat Casey salah tingkah.
"T-tidak! Tentu bukan seperti itu. Aku em, aku hanya penasaran, kenapa kau bisa mengetahui banyak hal tentang Sean...."
"Kau juga ingin mengetahui banyak hal tentang Sean?" Ilene kembali bertanya dan itu membuat Casey menjadi semakin salah tingkah.
"T-tentu tidak, hahaha ... Maksudku itu tidak seperti itu. Ya mungkin aku memang ingin mengetahui banyak hal tentang Sean, tapi itu murni sebagai naluri karena selama ini aku menganggap Sean sebagai orang yang menculik ku. Menyebalkan. Jadi aku ingin mengalahkannya. Hanya itu." Jelas Casey, lagi-lagi membuat Ilene tersenyum.
"Alasan yang masuk akal. Jadi jika kau ingin tahu apa hubungan ku dengan Sean, itu karena willis. Aku memiliki hubungan dengan Willis. Sejauh ini hanya aku yang bisa membedakan mana Sean mana Willis saat mereka sedang menyamar. Aku sebenarmya tak suka di sini, tapi mau bagaimana lagi. Karena Willis cukup baik pada ku dan mempercayai ku, aku lebih bisa mempengaruhinya. Karena itu aku selalu bersama Sean. Kadang kemunculan Willis tidak terduga dan tidak bisa ditebak." Jelas Ilene.
Ilene merendahkan tubuhnya, bergeser mendekati Casey lalu menarik tangan Casey dengan lembut, "Tapi ada satu cara yang bisa membuat ku lepas dari Willis--" Ilene menggantungkan pembicaraannya. Sementara Casey hanya bisa menatap Ilene menunggu Ilene menyelesaikan ucapannya.
"Dan mungkin hanya kau yang bisa."
Casey kali ini menyipitkan netranya tidak mengerti maksud dari ucapan Ilene.
"Apa maksud mu?" Tanya Casey sedikit sinis.
Ilene tersenyum, mengusap punggung tangan Casey dengan lembut, "Satu-satunya cara agar aku bebas, buat Sean jatuh cinta pada mu."
Casey merasa alisnya berkedut, "J-jatuh cinta? Hahaha mohon maaf, Ilene. Tapi itu terdengar tidak masuk akal." Ungkap Casey dengan nada mengecil di akhir ucapannya, nyaris seperti cicitan.
Ilene menepuk pundak Casey lembut, "Aku berharap banyak pada mu.” Ujar Ilene mengakhiri ucapannya yang terasa sulit dimengerti Casey sebelum detik selanjutnya ia mengangkat tubuhnya untuk pergi, Casey menatap punggung yang Ilene menghilang di balik tangga.
“Ilene tak mencintai Sean atau pun Willis. Tapi Willis terobsesi pada Irene, sementara Sean aku tidak tahu” Gloria tiba-tiba memyahut, setelah melihat punggung Ilene benar-benar menghilang. Sementara Vivi baru mendapatkan kesadarannya setelah Gloria mengotak-atik nya.
Casey memicingkan netranya menatap Gloria, menuntut penjelasan.
"Kalau begitu kau juga tahu bahwa Vivi adalah robot?" Casey menuntut jawaban.
Gloria tersenyum masam, "Ya ... Aku hanya berusaha menyelamatkan diri aku tidak mau Sean menghukum ku. Kau paham, bukan?" Ujar Gloria tida enak.
“Baiklah, ini semakin membuatku pusing. Benar-benar pusing. Jadi Sean adalah seorang DID dan ia mengincar berlian openheimer untuk mencari tahu tentang ibunya? Begitu?”
“Ya inti dari semua ini adalah itu. Sean dan Willis mempunyai tujuan yang sama, tetapi beda cara. Sean memilih cara pendekatan, atau mungkin dia memang menaruh hati padamu-hanya perkiraanku. Sementara Willis dia adalah sosok yang keras. Dia juga yang menciptakan sistem Vivi, hingga Vivi jadi begitu sempurna seperti sekarang.”
Casey menyentuh dagunya terlihat berpikir, “Jadi yang psikopat adalah Willis?”
“Be-gitulah” jawab Gloria lemas.
Casey merentangkan tangan dan kakinya di atas kursi, tidak menyangka bahwa ia akan terjerat sejauh ini.
“Oh demi Tuhan, ini sudah bergeser terlalu jauh! Bukankah aku hanya bertugas mencuri? Kenapa masalahnya jadi seperti ini? Aku tidak pernah berharap berurusan dengan seorang yang mengidap dissociative identity disorder, psikopat atau lain sebagainya.” keluh Casey lalu menutup matanya dengan dua tangan.
“Maafkan aku harus mengatakan ini Casey. Tapi ini semua adalah salahmu. Rasa keingintahuanmu membuat mu terseret pada hal yang seharusnya tidak kau ketahui. Jika sedari awal kau menuruti Sean, semua tidak akan seperti ini. To be honest Casey, aku tak ingin berhubungan dengan Willis. Kau lihat hari ini dua kali nyawaku terancam bukan?” ujar Gloria melirik senapan Vivi lalu ia merebut senapan itu dan mengeluarkan isi peluru dari sana.
Sementara Casey hanya bisa terdiam merenungi dan merutuki apa yang telah dilakukanmya. Mana Casey tahu bahwa Sean berkepribadian ganda dan Casey baru saja membuat kepribadiannya itu bangkit?
“Bagaimana caranya aku menidurkan Willis?” tanya Casey dengan raut asam.
“Seperti ucapan Ilene. Buat Sean jatuh cinta padamu. Kau pernah mendengar sesuatu yang disebut keajaiban cinta?” tanya Gloria.
Casey menyipitkan netranya ragu “A-apa? Memangnya tak ada cara lain? Kau sudah lama hidup dengannya bukan?” pekik Casey melirik Gloria.
“Kau ingin bebas bukan? Selama Willis melatihmu, kita harus membangunkan Sean. Sebelum rencana openheimer dilaksanakan.” ujar Gloria menatap Casey tajam.
“Aku akan membantumu.” janji Gloria
***
Sean namun sekarang dikuasai Willis, mengerjapkan matanya tatkala ia merasakan sinar matahari memasuki kisi kacanya. Mengerang, ia memijat pelipisnya yang terasa pusing namun ia merasakan usikan pelan diatas dadanya. Tatkala ia membuka mata ditemukannya Ilene yang tertidur pulas dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Willis menghela napas, pantas saja ia merasa pengap.
“Bangunlah” titah Willis. Ilene mengerang, namun Willis malah terbangun dan membuat tubuh Ilene terjatuh.
“Kita harus melatih si tikus, jangan bermalas-malasan” ujar Willis lalu dengan penampilannya yang masih telanjang ia berjalan ke arah kamar mandi. Ilene mendengus lalu ia menekan chip di punggung tanganny
Ilene mengerjap-ngeejapkan netranya mengumpulkan kesadaran, “Kalian sudah membuat rencana?”
“Aku sudah mempersiapkannya. Giring Willis ke taman belakang.” itu adalah suara Gloria. Ilene mengangguk-angguk. Lalu ia menekan tombol lain, dan sebuah hologram pesan singkat muncul.
Ilene menghela napas berat, ah kenapa orang-orang senang sekali membuatnya begitu sibuk dengan banyak hal? Keluhnya seraya menatap pantulan wajahnya di depan cermin.
‘bagaimana perkembangan rencananya?
Segera temui aku, siang ini ditempat biasa’