Chapter 30 : Fakta yang Tak Terduga

2033 Kata
“Vivi bawa gadis itu ke lab di kamar ini ku.” titah Sean dan tanpa perintah dua kali Vivi segera menyeret Casey. Casey membolakan matanya terkejut.  Mendengar perintah itu, Casey segera menepis tangan Vivi. Namun entah mengapa, tangan gadis ini begitu kuat dan keras. Saat Casey menangkis tangan Vivi, ia merasa bahwa ia seperti menangis sesuatu yang kuat dan keras. Casey mungkin akan terlihat berlebih, tapi ia merasa bahwa ia sedang menangkis besi. Sebenarnya apa yang sedang ia lawan? “Apa yang hendak kau lakukan?! Lepaskan aku!” teriak Casey seraya memberontak berusaha melepaskan diri. Namun Sean memilih tak menjawab, terus melangkahkan kakinya tanpa melirik Casey sedikit pun. Namun meskipun reaksi Sean seperti itu, Casey bersyukur, setidaknya Sean menarik kembali moncong revolver nya dari Gloria. Sekarang Casey bisa menarik napas lega karena ia tidak perlu khawatir pada Gloria. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Sean benar-benar menarik pelatuk senjata itu dan melubangi kepala Gloria. Jika kejadian itu menimpa Gloria dan itu karena kekerasan kepalan atau karena sifat membangkang Casey pada Sean, maka Casey bersumpah bahwa ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Ia tidak mau lagi membut orang laine jadi tumbal sifat bengis Sean. Apalagi jika itu adalah Gloria. Bloria memiliki orang yang ia cintai dan mencintainya--Erick. Gloria juga memperlakukannya dengan sangat baik, ia tidak segan untuk akrab dan membela Casey. Casey tiba-tiba teringat saat Gloria membela Casey dari cemoohan seorang maid di pesta Blaxton, perhatian Gloria yang memberinya piyama tidur saat semua baju yang diberikan Sean adalah baju laknat yang ia benci. Gloria juga bahkan melindunginya dari Sean saat Casey berpikir bahwa Sean akan melakukan hal ternoda padanya. Casey memejamkan netranya kembali. Dengan langkah yang menjauh Casey bisa melihat Gloria yang masih bersimpuh di lantai menatap kepergiannya yang diseret Vivi. "Casey!" Casey bisa mendengar samar suara Gloria memanggilnya. Haruskah ia pasrah saat Sean memperlakukan apa pun padanya? Bersikap semakin seenaknya bahkan berani melakukan hal yang kejam dan tidak manusiawi? Casey membawa tatapannya pada Sean yang berjalan tepat di sampingnya. Sean hanya menatapnya sekilas dengan tatapan yang terasa meremehkan Casey. Casey mengepalkan tangan. Sean pikir Casey menyerah? Casey menyeringai, ia teringat ancaman Sean bahwa Sean tidak akan segan untuk membunuhnya. Kalau begitu, Casey akan membuktikannya. Karena mendengar ucapan Gloria tempo hari bahwa Sean tidak akan bisa dan tidak boleh menyentuh Casey, meskipun Casey masih belum tahu apa alasan yang membuatnya begitu penting dan berharga dalam misi ini. Maka Casey tidak akan ragu. Seharusnya ia masih memiliki harapan dan peluang. Sebenarnya sedari awal, Casey selalu memiliki peluang, bukan? Selesai berkutat dengan pikirannya, Casey memantapkan hati bahwa ia tidak akan mwmyerah. Dan ia sudah mengambil keputusan itu. Tak pasrah begitu saja, Casey terus memberontak dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Dengan tubuh lentur namun kuat yang ia dapat hasil dari latihan, Casey menendang kuat kaki Vivi lalu tubuhnya berputar untuk membelit tangan gadis itu membantingnya kuat hingga terjerembab ke arah lantai. BRAKKKK Bunyi bantingan terdengar keras, Sean yang berjalan lebih dahulu di hadapan Casey dan Vivi menoleh, sejenak, ia menatal Casey dengan tatapan tidak terbaca. Lalu detik selanjutnya ia memilih diam tak melanjutkan langkahnya. Ia bahkan memilih untuk melipat tangannya di perut, membuat posisi nyaman untuk menyaksikan pertarungan itu. “Urgh” Casey dapat mendengar Vivi memekik. Casey yang sudah membawa tubuhnya kembali pada posisi awas, segera menghampiri Vivi yang sepertinya mendapat kerusakan cukup fatal dari serangan kuat dan tak terduga itu. Tak ingin membuang-buang waktu dan kesempatan, Casey segera membawa tubuhnya untuk menindih Vivi memberinya serentetan pukulan di area wajah. Anehnya wajah Vivi tidak terlihat membengkak atau mengeluarkan darah. Casey terbelalak dengan ringisan karena saat mendaratkan pukulan di wajah gadis berambut perak itu, ia malah mendapati tulang wajah Vivi yang begitu keras dan malah melukai kepalan tangannya. Casey lagi-lagi bergumam, dari apa sebenarnya tulang gadis ini di buat? Kenapa terasa tidak wajar? Namun tak menyerah, Casey terus melemparkan pukulan. Meskipun sebenarnya tangannya sudah terasa remuk, bahkan kulit di tulang buku-buku jarinya sudah mengelupas dan meneteskan darah merah yang segar. Tadi kenapa Vivi tidak kunjung terluka, di wajah Vivi malah ada darah dari Casey. Casey memicingkan netranya ragu, kemudian ia melihat pada sudut wajah Casey yang terdapat sobekan, dan Casey baru menyadari bahwa bagian yang sobek itu tidak berdarah sedikit pun. Casey seketika terbelalak. Tunggu, apàkah Vivi sebenarnya, bukan manusia? Menyadari bahwa jari tangannya akan remuk jika terus memaksakan diri memukul Vivi, kini ia mengganti rencana penyerangannya dengan memelintir kepala Vivi dwngan sekuat tenaga, namun lagi-lagi ia tidak berhasil. Sama seperti tulang tangan, dan tulang wajah, tulang leher Vivi sama kuatnya seperti besi. Hipotesis Casey semakin terbukti karena ia mendengar bunyi seperti besi yang beradu. Casey kembali memukuli wajah Vivi, mengabaikan tangannya yang terjs berdarah, hingga akhirnya ia mendapatkan jawaban dari praduganya karena sekarang kulit imitasi Vivi sobek dan menampilkan wajah asli Vivi yang terbuat dari logam atau besi--Casey tidak tahu apa tepatnya. "Kau robot humanoid?" Pekik Casey tidak percaya. Bagaimana bisa selama ini ia tertipu dengan rupa Vivi? Kenapa Selma ini ia tidak menyadarinya? Sean terdiam lalu mengepalkan tangannya dan menarik pundak Casey hingga Casey terguling dan Sean menindihnya dengan tangan sebelah tangan yang mencekik leher Casey hingga Casey terbatuk dan ia mulai lemas. "Uhuk! Uhuk!" Casey terbatuk karena sesak, ia ingin melawan Sean dengan tangannya, menggunakan sisa tenaga yang ia miliki, ia mengulurkan tangannya berusaha meraih wajah Sean. Namun sayangnya rasa sakit dan ngilu membuatnya tak bisa melancarkan aksinya. Menyadari bahwa ia tidak bisa meraih wajah Sean, Casey membawa kedua tangannya untuk melepas cengkeraman Sean pada lehernya. Dengan kesadaran yang hampir lenyap dan kekuatan yang hampir habis, Casey memukul-mukul tangan Sean. “Beraninya kau” ujar Sean dengan nada rendah namun penuh kebencian. Casey kembali melawan dengan menggunakan satu tangannya yang terbebas ia berusaha mencekik balik Sean. Namun usahanya sia-sia karena ia semakin kehabisan oksigen. “SEAN LEPASKAN! SEAN!” di saat itu Gloria muncul berusaha menarik tangan Sean dari leher Casey namun Vivi kembali bangun dan menodongkan senjata pada Gloria. Netra Casey berkaca, apakah ini akhirnya? “Jangan Willis, hentikan!”  Tepat di saat Casey berpikir bahwa ini akan menjadi akhirnya, Ilene muncul di balik pintu dan melangkah ke arah Sean dengan tenang. Ajaibnya karena setelah mendengar suara Ilene, Sean merenggangkan cekikannya pada leher Casey. Casey yang semula hampir pingsan menarik napas sebanyak yang ia bisa. Tenggorokannya terasa begitu perih karena ia terus terbatuk. Sementara kepalanya terasa pening karena saat Sean mencekiknya, ia hampir kehabisan oksigen yang harusnya di salurkan ke otak. “Bukankah aku sudah bilang bahwa kau tidak boleh begini? Ingat ia adalah tunangan mu?” ujar Ilene lalu menarik wajah Sean agar menatapnya. Sean melirik Casey tajam, “Ia adalah tunangan Sean. Dan Sean terlalu memanjakannya. Aku sudah bilang bahwa pendekatan yang dilakukannya salah besar. Ia juga membuat kesabaranku habis, aku ingin melenyapkannya saja dan kita cari tikus lain. Kita bisa mencari tikus lain yang mau bekerja sama tanpa membuat keributan.” ujar Sean yang sukses membuat napas Casey terkesiap. Otaknya terasa membeku tidak mengerti apa yang baru saja Sean katakan. Sungguh, apakah karena ia baru saja hampir pingsan ia jadi tidak bisa mencerna dengan jelas apa yang baru saja Sean katakan? Atau apakah ini bagian dari dramanya yang lain? Bagaimana Sean bisa mengatakan itu pada dirinya sendiri? Sean membicarakan dirinya seperti membicarakan orang lain. Apakah Sean sedang melakukan drama? Tidak, cekikan tadi terlalu nyata untuk disebut akting. Lagi pula apa keuntungan Sean jika ia melakukan kebohongan bahwa ia salah orang lain? Terlalu konyol untuk melakukan hal itu jika ia berniat menakuti Casey. Sean kembali menatap Casey, lalu ia mendengus lalu Ia merapikan pakaiannya yang kusut. Pada saat itu lah Casey baru menyadari bahwa ada sesuatu yang jelas berbeda. Sorot mata itu, meskipun Casey tahu bahwa Sean yang bersifat manipulatif, sering menipu orang lain dengan sifatnya. Tapi sorot mata tadi bukanlah sorot mata Sean. "Tidak mungkin," Casey menggumam dengan netra yang menatap tanah, tidak fokus. Ia menyadari bahwa itu buka Sean. Ia tidak mau mengatakan atau menduga hal seperti ini, tapi jangan bilang bahwa Sean ... Mustahil bahwa Sean seorang pengidap DID atau dissociative identity disorder, bukan? “Aku sudah bilang bahwa membuat sistem chip pada otaknya lebih baik dari pada membujuknya dengan tindakan m***m dan menawarinya birthstone. Atau ada banyak pilihan lain cuci otaknya, buat dia amnesia. Atau apa pun. Lihat, sekarang tikus itu mengetahui terlalu banyak tentang kita.” Sean berujar lagi dan Casey tak bisa untuk tidak terkejut, ia jelas membicarakan Sean seakan ia bukan Sean Archer Blaxton. Jadi Sean memang seorang dissociative identity disorder di mana ia memiliki lebih dari satu kepribadian? Casey menutup bibirnya tak percaya. Namun kemudian ia menyadari beberapa hal. Benar, kini semuanya jelas kenapa kepribadian Sean bisa berubah semenjak Casey mengatakan sesuatu tentang psikopat dan ibunya, apakah salah satu atau dua kata-kata itu membangkitkan sisi lain Sean? Kini semuanya terasa lebih jelas, ini juga menjadi jawaban kenapa Sean menguasai banyak hal, karena mungkin sistem otak Sean sudah membagi daya serap dan ia memiliki kemampuan dua orang dalam satu tubuh dan satu otak. Tak heran Sean menjadi seorang jenius di beberapa bidang. Kemampuan yang di kuasai lebih dari satu orang karena di dalam tubuhnya terdapat dua sosok dalam satu tubuh. Casey menoleh menatap Gloria, dan Gloria hanya bisa memalingkan wajahnya. Casey kembali tergemap. Ia tidak bisa mencerna apa yang terjadi sekarang. Gloria pun sepertinya mengetahuinya namun ia tak menceritakan ini pada Casey. Ia tak menceritakan bahwa Sean adalah seorang pengidap dissociative identity disorder. Namun kemudian Casey tersenyum miris. Casey berharap Gloria akan memberitahu nya? Memangnya Casey pikir ia siapa? Ia hanya seorang tikus yang dibutuhkan untuk mencuri. ia bukan bagian dari kelompok Sean. Ilene yang memang terlihat dewasa, menatap Casey, Gloria lalu akhirnya Sean bergantian. Ia meraih tangan Sean dan mengusapnya lembut. “Dari pada kau melenyapkannya setelah sejauh ini, kenapa kita tidak menjadikannya anggota saja? Ia menguasai banyak hal diusia yang sangat muda” usul Ilene dengan raut hangat yang begitu sangat keibuan Sean mengalihkan tatapannya, sepertinya ia sedang menimbang.  “Tetap saja, lebih aman pasang kendali chip di otaknya agar ia tidak berulah lagi.” ujar Sean yang seketika membuat mata Casey membola. Chip? Di otak? Casey mengumpat dalam hati. Setelah kehilangan kehidupan sebagai pencuri dari kelompok Stone, sekarang ia juga bahkan harus kehilangan ingatannya? Casey seketika menggeleng keras, ia bukan sedang berada dalam film science fiction. Hal seperti itu mustahil ada di dunia bukan? “Tu-tunggu! Begini, aku awalnya memang tak bersungguh-sungguh tapi sekarang aku bersumpah akan bersungguh-sungguh. Biarkan aku menjadi anggota.” ujar Casey segera. Kini Casey menyadari bahwa menjadi anggota mereka jelas lebih baik dari pada di tanami chip di otak. Sean kembali memicingkan matanya. Ekspresi Casey berubah masam, Sepertinya di banding Sean, kepribadian Sean yang ini lebih selektif dan hati-hati. Casey meringis dalam hati. Sekarang, takdir apa lagi yang sedang menunggunya? “Bagaimana aku bisa percaya bahwa kau bersungguh-sungguh?” ujar Sean menatap Casey menyelidik. Casey membolakan matanya terlihat berpikir, “Em ... aku akan melakukan apabpun, aku bersumpah!” ujar Casey yakin, dan Casey memekik senang di dalam hati karena Ilene mengangguki ucapannya. Sepertinya ia percaya pada Casey. “Aku mempercayainya.” ucap Ilene dengan nada lembut. Casey menggigit bibir, ia jadi menyesal dulu menilai Ilene dengan pemikiran dangkal dan kata-kata yang kasar. Sean menatap Casey dengan tatapan yang tidak bisa ditebak apa yang ia pikirkan, “Tetap saja, pasangkan chip di bagian belakang lehernya.” keputusan final Sean lalu ia mengangkat tubuhnya dari Casey, menarik tangan Casey lalu menyeretnya ke arah satu pintu di samping rumah. Casey mengernyit, ia tidak tahu ada pintu di bagian sini. Namun sebelum Sean berhasil membuka pintu, Sean merasakan pening menyerangnya secara tiba-tiba, perlahan Sean merasa bahwa tubuhnya melemas dan pandangannya memburam dan berputar lalu semuanya terasa menggelap begitu saja. Bruuukkk "Sean! Heh albino!" Pekik Casey. Casey berjengit saat melihat tubuh Sean tersungkur di lantai. Casey segera merendahkan tubuhnya lalu memeriksa keadaan Sean. Untungnya Sean masih bernapas, rupanya Sean hanya kehilangan kesadaran. Anehnya Ilene tak terlihat panik melihat tubuh Sean yang tersungkur ke lantai. "Tenanglah, Casey. Ini bukan suatu hal yang serius" Ujar Gloria, membantu Casey untuk membawa Sean ke tempat yang lebih aman. Casey kembali melirik Ilene, dan secara kebetulan Ilene melakukan hal yang sama hingga akhirnya tatapan mereka saling bertemu. “Baiklah, mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahumu semua sebelum ia--Sean bangun. Jadi ... ”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN