Chapter 29 : Mencari Alasan

1300 Kata
Jam menunjukkan pukul tiga sore saat akhirnya Casey bisa beristirahat setelah melakukan pelatihan yang sangat menguras otak dan jiwanya. Memanfaatkan waktu luang itu, Casey merenggangkan kakinya yang sakit setelah ia berlarian mengejar anak-anak tadi. Ia juga membersihkan tinta-tinta merah yang tadi dilemparkan anak-anak itu ke arahnya. Dalam hati menggerutu karena sekarang ia jadi begitu kotor dan bau cat. “Sebenarnya apa ini? Apakah ia pikir aku tengah bermain lempar bola berisi cat berwarna merah?” gerutu Casey mengelap baju karetnya dengan tisu. Casey tercekat kaget saat suatu suara menyapa indeta pendengarannya di suasana yang sepi dan terasa nyaman--karena Sean tidak ada, tentu saja. Tidak adanya Sean adalah surga bagi Casey. Karena itu lah ia harus memanfaatkan setiap detik dari waktu yang ia miliki tanpa adanya Sean. Casey menghela napas lelah, kini beberapa hari bersama Sean membuatnya menyadari beberapa pelajaran hidup yang penting. Pelajaran hidup yang selama ini tidak pernah ia sadari. Haruskah ia berterima kasih pada albino si putih pucat yang menyebalkan itu? “Kau belum menjawab ku, apa yang terjadi?” Gloria yang juga hendak merenggangkan kakinya mendadak muncul dengan pertanyaan yang sungguh tak ingin Casey jawab. Apa yang terjadi? Entahlah Casey tak tahu. Namun kini dalam benaknya terdapat banyak pertanyaan menyangkut Sean. “Bagaimana keadaan anak yang tadi ditembak Sean?” Gloria terlihat memutar bola matanya, “Ia baik-baik saja” Casey menghela napas tenang, “Apakah Sean melatih mu dengan cara seperti ini? Maksud ku meggunakan anak-anak?” tanya Casey, Gloria terlihat diam sejenak sebelum ia ikut menghela napas berat. Gloria menggeleng samar, tatapannya masih terlihat tidak fokus, ia juga pasti sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya memang sifat Sean yang seperti ini merupakan tanda bahwa Sean sudah melampaui titik kesabarannya. Casey menarik napas samar. Apakah ini karena salahnya? “Tidak pernah. Ia selalu menggunakan dirinya sendiri, maksud ku misal saat kami berlatih tarung, Sean akan berduel denganku secara langsung. Begitu pun saat latihan menembak. Ini juga kali pertama aku melihatnya dengan sosok seperti itu.” ujar Gloria ikut menatap khawatir. Casey tanpa sadar mengigit bibir. Haruskah ia menceritakan pada Gloria bahwa yang membuat Sean marah adalah usaha Casey untuk kabur? Casey menarik napas sebelum memulai ceritanya, “Aku kemarin berusaha kabur, aku mengadukan Sean pada Seraphina Blooms, aku juga-- um, memasuki kamar ibunya.” ungkap Casey jujur. Gloria yang semula menyimak pembicaraan Casey dengan tenang, membolakan matanya seketika. “Kau mengadukan Sean pada Seraphina?!" Posisi duduknya yang semula santai, kini terlihat sepenuhnya fokus. "Ah kau mengacaukan rencananya!” pekik Gloria. Casey menyipitkan netranya penasaran, “Rencana?” “Sean tengah mengorek informasi tentang professor 'X' yang menangani pameran Oppenheimer nanti, dan professor itu dikenal atau bekerja sama--aku lupa yang mana tepatnya, intinya profesor yang dicurigai Sean ini berhubungan dengan Seraphina!” ujar Gloria, yang membuat Casey mengalihkan tatapannya. Jadi Casey mengacaukan rencana Sean? Seakan-akan belum selesai menghakimi Casey, Gloria menunjukkan wajah frustasi yang mengartikan bahwa Casey sudah melakukan masalah lain. “Dan lagi kau memasuki kamar ibu Sean?! Bahkan aku saja tidak pernah masuk!” ujar Gloria dengan nada pekik yang paling tinggi seumur Casey mengenal Gloria. Lidah Casey berubah kelu, “A-aku hanya penasaran.” “Aku tahu kau memang pasti penasaran. Tapi kamar ibu Sean adalah salah satu akses ke lab di ruang bawah tanah. Itulah alasan kenapa Sean mencegah siapa pun masuk ke kamar ibunya.” ujar Gloria mengusap wajahnya terlihat sedikit frustrasi. Gloria melanjutkan ucapannya, “Wajar Sean jadi semarah ini. Bukankah aku sudah memberitahumu bahwa kemarahan Sean bukanlah hal yang bagus? Dan kau melakukam dua kesalahan fatal sekaligus. Kau akan membuat Erick kekasih ku semakin kesulitan mencari cara mengorek informasi dari Seraphina Blooms tentang professor X itu!" Gloria tersenyum miris. "Dan jika kita tak bisa menemukan siapa professor x itu, kemungkinan tingkat keberhasilan kita nanti hanya tiga puluh persen, dan jika rencana ini gagal, Sean akan sangat hancur.” ujar Gloria dengan mata yang berkaca-kaca. Casey terperangah mendengar ucapan Gloria. Jika rencana ini gagal, hidup Sean akan sangat hancur? Bagaimana bisa? Sebenarnya apa yang membuat Oppenheimer ini begitu berarti bagi Sean? Gloria menggenggam pundak Casey dengan dua tangannya, “Dengar Casey, aku tahu mungkin kau tidak mengerti dan tidak ingin sedikitpun berhubungan dengan Sean, tapi kali ini aku mohon, bantu Sean untuk mendapatkan Oppenheimer. Oppenheimer itu sangat penting untuknya, tolong jangan memberinya kesulitan lain ... Aku mohon.” mohon Gloria yang membuat rasa bersalah dan rasa penasaran Casey semakin membuncah. "A-aku membantu Sean?" Ulang Casey. Gloria mengangguk, "Aku tahu kau pasti merasa sangat aneh , kanapa kau harus dibawa Sean ke sini, lalu kenapa kau harus di latih dan sekarang aku meminta mu untuk menolong Sean. Itu karena, bagi Sean rencana ini adalah segalanya. Jadi, aku mohon pada mu. Tolong bantu Sean." Ungkap Gloria dengan raut memohon yang membuat Casey merasa tidak enak. “Beri tahu aku alasan kenapa openheimer itu begitu penting bagi Sean, dan aku berjanji aku akan mendapatkan openheimer itu untuknya” Casey sadar bahwa ia tak seharusnya menanyakan ini, namun jika Sean tak pernah memberi tahu tujuan dari rencana openheimer ini, bagaimana mungkin Casey tergugah untuk membantunya? Gloria mengawali ceritanya dengan menelan ludah lalu ia melirik kanan kiri memastikan Sean tak di sana. Ia juga sepertinya menimbang apakah ia harus menceritakan ini atau tidak. Casey jadi menyimpulkan bahwa pasti lah apa yang akan Gloria ceritakan sekarang padanya adalah sesuatu yang bersifat sangat rahasia. “Em..aku juga tak tahu bagaimana tepatnya cerita ini. Yang jelas, kepergian ibu Sean dan Sky sangat berhubungan erat dengan Oppenheimer ini." Gloria terlihat menelan ludah kasar, "Ada dua cerita mengatakan tentang ibu Sean, yang pertama adalah cerita dari Sean yang meyakini bahwa ibunya masih hidup, hanya saja Sean tak tahu di mana. Dan cerita kedua, dikatakan bahwa ibu Sean sudah meninggal, d-dan ibu Sean me-meninggal di tangan Se-“ cerita Gloria terhenti digantikan henyak napas tertahan, Gloria terkejut. “Glo, aku sungguh tak ingin melakukan ini. Tapi apakah perintah ku bahwa tembok itu tak boleh memiliki mulut dan telinga kurang jelas?” Gloria dan Casey menahan napas saat tiba-tiba Sean muncul dengan wajah mengkeruh karena emosi, seraya menodongkan revolver di pelipis Gloria. Gloria tak mampu berkata selain memejamkan matanya dalam. Sementara Casey terperanjat dan menggenggam tangan Sean untuk menahannya. “A-APAKAH KAU GILA?! JANGAN MENEMBAKNYA!!” teriak Casey berusaha merebut revolver itu dari Sean. Namun Sean tak bergeming dan malah hendak menarik pelatuk itu. Sean menepis kasar tangan Casey, “Bukankah aku juga sudah mengatakan bahwa seharusnya kau tidak banyak bertanya? Apakah perintah ku kurang jelas? Kenapa orang-orang suka sekali membantah?” Sean terlihat memicingkan netra runcingnya. Dan saat ia memfokuskan tatapannya untuk menarik pelatuk revolver itu Casey, bergerak mengambil larasnya dan di arahkannya tepat diatas jantungnya. “Apa yang kau pikir tengah kau lakukan?” tanya Sean dengan nada menusuk. “Jangan menghukum orang yang tidak bersalah. Jika kau memang ingin menghukum ku, hukum aku! Bukankah aku sudah mengatakannya pada mu?” pekik Caseyenunjuk dirinya sendiri. “ck lucu sekali” decakan terdengar dari mulut Sean. Casey menatapnya nanar, “Lucu? Kau pikir hanya kau yang bisa menindas? Jika kau menembak Gloria, kau kehilangan Thief mu. Dan kau tidak akan berhasil mendapatkan Oppenheimer mu itu, kau tak akan bisa menemukan ibu mu.” Rahang Sean terlihat mengeras, lalu ia menatap Casey tajam. Tatapannya terlihat menggelap di penuhi aura membunuh. “Jangan sok tahu! Kau pikir kau tahu semua hal?” Sean mengarahkan senjata itu pada Casey. “Vivi bawa gadis itu ke lab di kamar ini ku.” titah Sean dan tanpa perintah dua kali Vivi segera menyeret Casey. Casey membolakan matanya terkejut. Lab? Apa yang hendak dilakukan Sean padanya di Lab? Casey memberontak, namun tenaga Vivi rupanya cukup kuat hingga membuatnya kesulitan. Sean menatap kepergianCasey yang diseret Vivi, begitu pun Gloria yang menatapnya khawatir. Kini pikiran Casey berkecamuk, campur aduk dengan segala pemikiran. Tak mungkin Sean menjadikannya tikus percobaan bukan? . . Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN