Chapter 28 : Melakukan Hal Gila

1089 Kata
"Kenapa kau tidak cari tahu, sendiri?" Pria itu berbisik di telinga Casey. Lalu mengangkat kepalanya yang semula menunduk rendah. Netranya melirik meja di mana berbagai varian senjata tergeletak, berjejer menunggu untuk di pilih. Casey mengikuti arah pandang Sean, dan seketika membuat ia merasa was-was, “KAU GILA?!” "Bukankah aku sudah bilang kau bisa membuktikannya?" Sean kembali merendahkan wajahnya, "Buktikan seberapa gila nya aku, tikus berdadaa." Casey menatap Sean dengan tatapan nanar. Tangannya bergetar bimbang haruskah ia melakukan ini atau tidak, haruskah ia menarik pelatuk ini atau tidak? Casey memejamkan netranya dalam. Mana mungkin ia bisa melakukan hal seperti ini? Bagaimana bisa? Sean mengangkat tangan Casey, memegangi tangan Casey seolah ia membantu Casey mengarahkan senapannya ke arah target--para anak kecil yang malang sementara kepalanya ia rapatkan pada kepala Casey hingga Casey dapat merasakan deru napas Sean di pipi dan lehernya. Sean tersenyum lebar seolah apa yang ia lakukan adalah suatu kesenangan. Casey merasakan netranya panas, apa yang sebenarnya Sean pikirkan? Apakah Sean tidak sedikit pun memiliki perasaan? Wajah Sean masih berada di pundak Casey, Casey dapat merasakan ekor mata Sean yang tajam, tengah menatapnya, dengan tatapan emnuntut. Seolah ia menunggu apa yang akan Sean lakukan selanjutnya. Bunyi berderak terdengar, Sean mengangkat wajahnya dari pundak Casey, menarik senapan Casey. Ia memperhatikan benda itu dari ujung hingga bagian bawah senapan. “Kau tidak mau? Baiklah aku akan memulai-“ Sean mengarahkan larasnya pada satu anak yang paling tinggi, sepertinya usianya sekitar dua belas tahun. Casey memang tidak bisa melihat secara langsung karena tirai yang menghalangi, namun Casey dapat merasakan bahwa anak itu pasti ketakutan, bahkan mungkin anak itu memegangi apel di atas kepalanya dengan tangan yang bergetar. Casey menepis tangan Sean, hendak mencegah Sean melakukan tindakan kriminal. “HENTIKAN! APA YANG KAU LAKUKAN?” Casey berusaha meraih laras itu dari Sean namun Sean menatapnya dingin. Gak ada sedikit pun terlihat raut bersalah di netranya. Membuat Casey tak habis pikir, bagaimana ada orang yang tega menggunakan anak kecil untuk menjadi target tembakan? Jika ada, orang itu pastilah gila.   "Bukankah kau ingin aku lebih serius? Inilah caraku bermain serius. Kenapa? Kau terkejut? Kau bilang aku psikopat bukan? Kalau begitu aku akan menunjukkan pada mu seberapa psikopatnya aku.” Sean berbicara dengan nada yang dingin dan menusuk. Demi Tuhan, ini membuat Casey takut sekarang. Kenapa ia merasa bahwa pria di hadapannya sekarang, bukanlah Sean? Bagaimana pria yang bisa melakukan drama konyol yang menggelikan dan berusaha menggoda. Casey menjadi pria yang amat sangat menakutkan?   Casey menggigit bibirnya, "Apakah kau tidak berpikir?! Kau gila?! Jika kau marah pada ku, kau bisa menghukum ku. Jangan melampiaskan pada orang lain yang bahkan tak tahu apa-apa!” ungkap Casey dengan napas yang naik turun.   Sean berdecak, "ck, bukankah seharusnya kau yang berpikir? Kau harusnya berpikir dua kali sebelum kau melakukan suatu tindakan. Kau tidak tahu kan dampak yang akan kau timbulkan jika kemarin kau mengadu pada Seraphina Blooms? Kau hanya berpikir bagaimana kau bisa meloloskan diri dari ku tapi kau tak berpikir apa dampaknya bagi orang-orang mu, benar-benar egois, dan kekanak-kanakan.” ujar Sean yang sukses membuat Casey terdiam mengatupkan bibirnya tak bisa menyanggah ucapan Sean.   Netra Casey bergerak tidak fokus, a-ku minta maaf, aku berjanji tidak akan-“ Belum sempat Casey menyelesaikan ucapannya, ia harus menahan napas saat melihat Sean menarik pelatuk dari larasnya.   DOOORRR   Casey merasakan napasnya tercekat saat ia mendengar hempasan peluru yang menembus sesuatu yang tak Casey ketahui apa, diiringi debuman tubuh yang tersungkur di tanah. Gloria bergerak cepat melangkahkan kakinya menghampiri tubuh yang tersungkur itu, anak paling tinggi itu tersungkur di atas tanah. Dan Casey hanya bisa terdiam tanpa melakukan apa-apa.   “Ck, sedikit meleset.” gumam Sean lalu kembali mengarahkan senjatanya pada anak kedua. Ia berkata tanpa merasa bersalah sedikit pun.   “STOP! SUNGGUH DEMI TUHAN, APA YANG KAU LAKUKAN? DI MANA OTAK MU?!” Casey menarik laras itu, menatap Sean dengan tatapan membunuh.   Sean tersenyum mirinf, "Kalau begitu lakukan perintahku, tanpa membantah. Karena jika kau membantah tubuh anak-anak itu menjadi penggantinya” Sean menjatuhkan laras nya pada Casey dan Casey menerimanya tanpa bersuara. Di arahkannya laras itu pada apel yang dipegang si anak kedua, dengan fokus dan usaha penuh diumpulkan ia mulai menarik pelatuk itu. Ia bisa, ia tak boleh meleset atau ia akan menghilangkan nyawa seseorang.   Deg   Deg   Deg   DOORRR    Casey menghela napas penuh syukur saat peluru itu berhasil menjatuhkan apel itu. Sean mengangkat alisnya lalu menunjuk anak ketiga sebagai target selanjutnya dan seterusnya hingga target terakhir. Dalam hati Casey sungguh sangat bersyukur karena Tom mengajarkannya cara menembak dari ia belasan tahun meskipun sebagai gantinya ia tidak bersekolah seperti anak-anak pada umumnya. Plok Plok Suara tepukan terdengar, seringan suara langkah karena Sean melangkahe mendekati Casey.   “Cukup bagus, sekarang bagaimana jika apel itu berlarian?” puji Sean seraya menepuk tangannya, namun bagi Casey itu terasa bagai ejekan.   Casey merasa alisnya berkedut tak mengerti dengan apa yang Sean katakan barusan. "Apa maksud mu?”   Belum sempat Casey mendapatkan jawaban, Saat Casey melirik ke arah tirai, anak-anak itu terlihat berlarian dengan membawa apel diatas kepala mereka, sementara Sean hanya menyeringai lalu memungut pistol lain dan mengarahkannya pada salah satu anak yang tengah berlarian itu, hendak kembali menembak. Dengan cepat Casey mengangkat kakinya, membawa kaki yang jenjang untuk menjatuhkan senjata itu dari Sean.    Brakk   Pletakk   “Aku akan menembaki semua apel itu. Diam dan lihatlah” ujar Casey, tak berani mendebati Sean mempertimbangkan apa yang akan dilakukan Sean jika Casey membantah lagi. Untuk sekarang ia tidak boleh mencari masalah dan serius dengan latihannya.   Dalam aktivitas menyiapkan senjata dengan memasukan kembali beberapa butir peluru pada loading port, Casey tercenung. Jadi ini yang dimaksud keseriusan oleh Sean?   “Ah ya, jangan biarkan mereka menembak mu balik. Aku memantau mu dari sana” ujar Sean lalu memutar tubuhnya hendak menghampiri seorang wanita bertubuh mungil yang baru saja muncul-Ilene. Casey berdecih melanjutkan pekerjaannya mengisi senjatanya dengan peluru.   “aAa yang sebenarnya terjadi? Hubungan kalian terlihat kacau”. bisik Gloria khawatir. Namun Casey memilih tak menjawab dan melangkahkan kakinya ke arah kebun dengan labirin rumput untuk mengejar anak-anak tadi.   ‘hubungan?’ Hah..   Jelas ini adalah penyekapan, mana mungkin tindakan seperti ini di sebut hubungan? Ini jelas bukalahn hubungan. Casey menggerutu dalam hati.   ***   “Aku kira kau tak akan memanggilku lagi, apa yang terjadi?” Ilene mengelus wajah Sean yang tengah terduduk dikursi memperhatikan Casey yang mulai memasuki labirin untuk mengejar keempat anak tadi   “Aku merindukan mu.” ujar Sean lalu menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Ilene. Ilene mengelus surai Sean dan mengecupnya sekilas.   “Kau tak usah khawatir, mom di sini." ujar Ilene tersenyum tulus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN