Chapter 27 : Latihan Menembak

1229 Kata
Casey sedang bergelantungan di atas tali di sebuah ruangan gelap yang dipenuhi banyak cahaya merah laser. Namun di tengah ruangan itu terdapat sebuah benda yang tersorot lampu dan berkilauan memantulkan cahaya biru yang indah. Dengan hati-hati, Casey menjaga posisi tubuhnya agar tidak menyentuh garis-garis cahaya merah itu. Namun kemudian ia mendengar bunyi asing di dalam ruangan gelap itu. Casey segera menoleh kanan kiri memeriksa dari mana suara asing itu. Namun kemudian langkah suara kaki terdengar dari kegelapan. CCaseymemicingkan netranya kala ia menemukan sosok pria yang tidak asing. "Kali ini aku tidak akan ragu untuk melenyapkan mu." Casey membolakan netranya saat ia mendengar suara gedebum yang sangat nyaring, dengan sekilas percikan cahaya api. Suara nyaring itu menggema di dalam ruangan itu. Dan Casey dapat melihat kilau cahaya mengarah padanya seperti sebuah adegan slow motion. "Kau akan ku lenyapkan, tikus pencuri." DOOR! Casey terbangun dari tidurnya dengan penuh keterkejutan tatkala ia merasa air dingin mengucur memasuki rongga pernapasannya melalui hidung, yang sukses seketika membuatnya megap-megap dan terbatuk. “Huahh uhuk uhuk” Casey terbatuk dan bingung. Apa yang terjadi? Dengan kesadaran penuh yang dikumpulkan secara paksa, Casey mengerjap lalu mengusap sisa-sisa air dingin di kulit wajahnya. Didapatinya Sean yang sudah berdiri seraya memegangi water goblet--gelas yang berisi air di jarinya. Dan itu cukup menjawab siapa pelaku dari penyiraman ini. Tuan menyebalkan--Sean Archer Blaxton. Casey memutar bola matanya jengah, bahkan sekarang intensitas mengganggunya ia lakukan dari pagi? Apakah pria itu memang memiliki hobi untuk menyiksa mental seseorang? Seolah menyadari gerutuan Casey, pria itu menatap Casey dengan tatapan dingin, tak terganggu meskipun Casey dipenuhi aura membunuh yang begitu kuat. “Kau tak ingin ku mandikan kan? Tapi kau berlaku seolah kau mengharapkan kebalikannya. Jika kau memang tidak ingin aku mandikan, atau aku telanjangi, di sini sekarang juga, segeralah mandi dan kita berlatih. Jangan membuat ku harus melakukan hal yang melelahkan di pagi hari” ungkap Sean seraya memutar tubuhnya melengos pergi. Sean mengayun gelas water goblet di tangannya, berjalan ke arah pintu kamar Casey meninggalkan Casey yang mengepalkan tangan. Casey menatap punggung Sean yang berlalu di balik pintu. netranya menatap ke arah bajunya yang basah, lalu tangannya mengusap dagu di mana sisa-sisa air dingin masih bercucuran di sana. Apa yang terjadi dengan pria itu? Apakah ia masih memiliki dendam pada Casey? Apakah ia tak bisa membangunkan Casey dengan cara baik-baik? Sedari awal pertemuan mereka, kenapa pria itu hobi sekali membuat Casey naik darah? Casey mendengus, ia sungguh merasa kesal.Tapi yang lebih menyebalkan ia tahu bahwa ia tidak bisa membalasnya. Ia baru beberapa hari di sini. Tapi kenapa ia merasa bahwa ia sudah seribu tahun di sini? Casey menghela napas berat. Merenung apakah ini adalah sebuah hukuman karma. Jika ya, Casey penasaran dengan dosa apa yang ia lakukan di masa lalu hingga ia berhadapan dengan pria menyebalkan seperti ini. Dengan malas Casey menurunkan kakinya, namun tiba-tiba Casey merasa sesuatu tengah menatapnya di dekat pintu. Dan saat ia menoleh, benar saja bahwa ia mendapatkan Vivi tengah menodongkan senjata padanya. “Waktumu bersiap hanya dua puluh menit. Jika lebih dari itu, bang! Aku bisa menembak mu.” ujarnya lalu memasuki kamar Casey. Casey mendengus lalu tertawa keras “Jadi begini caranya bermain serius? Hah....” Dooorr Prankk Belum sempat Casey menyelesaikan dengusan nya, terdengar suara hempasan peluru dan pecahan dari kaca. Casey menoleh mendapati kaca meja riasnya pecah dan berserakan di lantai. Casey memejamkan netranya erat. Lagi-lagi orang menyebalkan. Oh sungguh, bisakah mereka melakukan sesuatu dengan cara yang normal dan tidak memantik kekacauan? Jika begini merekam hanya menambah-nambah pekerjaan pada Casey. Casey jadi harus merapikan kamarnya bukannya segera bersiap. “Kau pikir mendumal bisa membantumu untuk bergerak cepat?” suara Vivi berubah sakarstik. Casey kembali mendengus untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar melangkahkan kakimya ke kamar mandi, dan gilanya Vivi menungguinya bagai majikan yang menunggui anjingnya mandi di pasir. Jadi sekarang, siapa yang menjadi anjingnya? Saat Casey selesai dengan mandinya, Casey berjalan gontai ke arah pelarangan rumah Sean. Ia menemukan Gloria yang tengah melakukan peregangan pada tangannya. Gloria menyambut Casey dengan raut asam tatkala Casey muncul dan menyapanya lemas. Gloria mengangkat larasnya, hanya menatap Casey sekilas untuk menyapa, “Biar aku tebak, sepertinya kau membuat Sean marah?” tanya Gloria lalu kembali mengarahkan larasnya pada target tembak sebuah kayu dengan yang beberpa meter jauh darinya. Benda yang dulu sering Casey lihat di belakang rumah Tom dan benda yang selalu menjadi yarhet latihan Casey, Lexie dan Emma. Casey mengedikkan bahunya, “Sedikit, aku rasa.” balas Casey dengan nada acuh lalu ia menarik-narik baju karetnya yang dirasanya terlalu ketat bagai ular yang melilitnya. Baku yang kata Vivi disiapkan oleh Sean. Ah semoga saja kulitnya tidak akan pengap. Gloria menatap target dengan sebelah mata. Tangannya siap menarik pelatuk untuk menghempaskan peluru. “Dari semalam ia kembali menjadi seseorang yang menakutkan. Kau tidak mengatakan sesuatu tentang yang sensitif? Misal istilah psikopat seperti yang aku ceritakam bukan?” tanya Gloria lalu ia melepaskan satu tembakan yang menembak lingkar garis kedua target tembak. Bunyi hempasan peluru terdengar, Gloria melirik Casey, mengangguk sekilas seolah mengajak Casey untuk unjuk kemampuan menembaknya.  Mengerti dengan maksud ucapan Gloria, Casey meliriknya sekilas. “Sedikit, aku rasa.” jawab Casey lagi lalu memilih salah satu senjata yang tertata rapih diatas meja. Ia memilih senapan angin untuk memulai pemanasan. Casey mengambil beberapa butir peluru, memasukannya pada loading port--tempat di mana peluru dimasukkan sebelum ditembakkan. Bunyi gemerincing dari besi yang beradu terdengar. "Dan tentang apa itu?" "Kamar Diana Rose Blaxton dan seseorang bernama Seraphina Blooms." Jawab Casey tanpa ragu. “Aku sudah lama tak melihat sisi Sean yang seperti ini, di luar kediaman Blaxton. Sean biasanya menunjukan sisi seperti itu pada Sky. Dan ini membuatku takut.” ujar Gloria kembali melepaskam tembakan, disusul Casey yang sudah mengarahkan larasnya pada target tembak. Namun saat Casey hendak menarik pelatuknya, tiba-tiba Sean menutup lubang larasnya dan demi Tuhan itu membuat Casey tersengat serangan jntung. Apa yang hendak dilakukannya? Bagaimana jika Casey melepas pelurunya dan melubangi tangan pria itu?! “Apa yang kau lakukan?! Kau ingin kehilangam jarimu hah?!” bentak Casey tepat di depan wajah Sean, karena tindakan yang bagi Casey terlihat sok itu. Tak peduli seberapa pintar, kuat dan berkuasanya seorang Sean Archer Blaxton, apakah ia pikir ia bisa mengalahkan malaikat maut melalui desingan peluru? Sean tak memperdulikan ucapan Casey, ia menatapnya sekilas dengan acuh, “Kau bilang kau ahli menembak bukan?” tanya nya dengan santai. Casey terdiam dan menatapnya dengan tatapan kesal. Tatapannya seolah bertanya sinis apa yang sekarang Sean inginkan darinya. “Target mu bukan ini, target mu di sana,” ujar Sean menunjuk lima anak kecil yang sepertinya berusia belasan tahun, mereka berdiri seraya memegangi apel namun di halangi kain putih tipis sehingga Casey tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas. “Apa maksud mu?” desis Casey sinis. Sean tersenyum tipis, “Tembak apel di atas kepala anak-anak itu, jika kau gagal maka aku yang akan menembaknya, bersama anak kecil itu sekaligus.” ujar Sean yang membuat Casey seketika membolakan matanya. "Apa maksud mu?" Geram Casey menatap Sean tak suka. "Kau tuli? Tembak apel di kepala mereka, atau aku yang akan menembak mereka sampai mati." Ulang Sean, tidak ada nada bentakan yang mengancam, namun anehnya nada bicara Sean membuat tubuhnya menegang. Casey menatap pria jangkung itu dengan tatapan tak percaya, "Kau gila?" Sean merendahkan kepalanya hingga sejajar dengan Casey, lalu ia memajukan wajahnya hingga berada tepat di depan telinga Casey, "Kenapa kau tidak cari tahu, sendiri?"   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN