"Tadi anda membahas thief bukan? Saya ingin membuat pengakuan pada anda bahwa ada thief di sini, apakah anda tidak bisa merasakannya?" Ungkap Casey berbicara ke arah Inspektur Blooms, namun Sean jelas tahu bahwa sorot mata Casey tertuju pada Sean. Sean berdecak dalam hati, apakah ia bermaksud untuk mencoba mengintimidasinya?
Sean mengepalkan tangannya di dalam saku, seraya menatap Casey dengan tatapan membunuh. Gadis itu ingin membuka kedoknya di sini? Ia tidak memperdulikan lagi bagian dari komplotannya? Sean tersenyum sinis, rupanya selain kepribadian keras kepala, sulit di atur, kekanak-kanakan dan egois, ia memiliki sifat nekat meskipun artinya ia harus mengorbankan diri. Benar-benar definisi sempurna dari naif. Dan Sean membenci itu.
Sean mendengus di dalam hati. Sebenarnya jika Casey mau membongkar kedok para pencuri yang ada di sini; Tom, Lexie, lalu Sean bukanlah masalah besar bagi Sean. Ia sudah sering berurusan dengan para polisi, ia bahkan mengenal inspektur muda di hadapannya ini dengan sangat baik. Tidak sulit bagi Sean untuk mendekati lalu membuat seseorang tunduk padanya. Ia selalu bisa menanganinya dengan baik.
Dengan harta yang melimpah, kuasa dari nama Blaxton, lalu ia memiliki Erick, ahli hukum muda yang cerdas, memiliki koneksi, dan kemampuan komunikasi yang juga di atas rata-rata semua masalah di luar Oppenheimer ini selalu teratasi. Jika Casey berpikir bisa menjatuhkan Sean hanya dengan melaporkannya pada inspektur Blooms. Maka Sean akan mengatakan bahwa Casey hanya menggali liang kuburnya sendiri.
Tapi yang sekarang membuat Sean begitu kesal dengan gadis di sampingnya ini adalah, karena gadis ini tidak kunjung menyerah untuk menantangnya. Gadis ini benar-benar tidak takut, dan selalu sukses mengimbanginya dengan cara yang tidak terduga. Membuat Sean frustasi dan mulai berpikir, apakah ia sudah kehilangan aura dominasinya.
"Thief? Pencuri?" Tanya Inspektur Blooms memastikan. Casey mengangguk.
Inspektur Blooms menatap Sean dengan tatapan seribu makna dan Sean balas menatap Inspektur Blooms dengan tatapan seolah-olah mengatakan; tolong maklumi apa yang akan dibicarakan gadis ini.
Inspektur Blooms tersenyum lalu mengangguk, "Ah tentu. Bisa kau beri tahu aku tentang pencuri yang kau maksud?"
"Apakah Anda akan menghukumnya?" Tanya Casey penasaran. Inspektur Blooms tersenyum canggung, ekor nya kembali melirik Sean dan Sean terus mengatakan; maklumi saja, iyakan saja.
"Tentu saja," jawab Inspektur Blooms akhirnya.
Lexie memegang tangan Casey menahan gadis itu untuk berbicara, namun Casey tidak menghiraukannya. Ia malah memundurkan kursi di mana ia duduk, lalu ia berjalan menghampiri Inspektur Blooms.
"Sean adalah seorang thief kelas kakap, Inspektur Blooms."
***
Sean melangkah memasuki rumahnya tanpa melirik Casey sedikit pun. Ia bahkan melangkah dengan cepat seakan ia memang sengaja ingin menjauhi Casey. Setelah Casey melakukan drama, ya dengan mengatakan bahwa Thief yang dimaksud Casey adalah Sean yang mencuri hatinya--tentu itu hanya drama, karena Casey memang hanya berniat mengusili Sean, Sean pikir hanya ia yang bisa melakukan drama? Ia jelas menantang orang yang salah, karena Casey tidak akan diam saja diperlakukan seenaknya.
Namun rupanya, Casey membuat Sean marah besar. Ia mendiamkan Casey setelah Seraphina memuji-muji kesembuhan ajaib Casey dengan mengatakan kekuatan cinta yang katanya menjadi alasan Casey sembuh dari amnesia antrogadenya—atau apalah itu namanya, Casey malas untuk mengingatnya.
Well, Casey tahu itu terdengar terlalu klise namun akhirnya setelah itu polisi Seraphina Blooms benar-benar mengakhiri penyelidikan itu tanpa banyak bertanya lagi. Akhirnya mereka lolos dari penyelidikan itu. Mereka lolos dari kantor polisi dengan mudah, namun Casey tentu saja tidak lolos dari cengkeraman Sean. Gadis itu hanya bisa merutuki nasibnya, sungguh tidak mudah untuk keluar dari jerat seorang Sean Archer Blaxton.
Casey hanya terdiam bingung, ia tak tahu harus bagaimana sekarang selain melangkah mengekori Sean.
“Jika sekali lagi kau berani memasuki kamar ibu ku, atau melakukan hal bodoh kali ini aku tak akan segan-segan untuk membunuh mu.” ancam Sean, dan Casey merasakan rasa dingin besi tiba-tiba menyentuh kulit wajahnya. Sean baru saja menarik laci di samping sofa dan mengeluarkan sebuah Revolver hitam dari sana. Sekarang revolver itu tengah di arahkan tepat di depan pelipis Casey.
Untungnya Casey tetap bisa tenang, ini bukan kali pertama ia mendapatkan todongan senjata. Dan itu membuat Sean semakin kesal.
“Ah kau tidak takut? Kau masih berpikir aku bercanda?” tanya Sean lalu ia mengarahkan moncong revolver itu pada sebuah vas bunga tanpa membuang tatapannya dari Casey.
Suara yang memekakkan telinga terdengar.
Kini vas bunga keramik itu luluh lantah berubah bentuk menjadi kepingan keramik di lantai seiring dengan bunyi hempasan peluru dan pecah belah akibat hukum momentum dari revolver Sean. Casey terdiam lalu ia mendongkak menatap Sean dengan tatapan tak terbaca.
“Itu teguran atas aksimu hari ini. Di lain hari, mungkin kepala mu yang akan pecah berkeping-keping seperti vas bunga tadi.” ujar Sean lalu melangkah meninggalkan Casey tanpa sedikit pun meliriknya. Casey memicingkan netranya menatap kepergian Sean, tanpa sadar mengepalkan tangannya.
“Aku hanya berusaha menyelamatkan diri! Aku disekap dengan seseorang yang aku tak tahu siapa, pencuri? Mafia? Pemalsu? Seorang psikopat?! Di mana letak kesalahan ku saat aku sedang mencoba menyelamatkan nyawa ku?” ungkap Casey tak terima dengan tekanan dari Sean. Sean yang semula berjalan pergi, menoleh, membalikkan tubuhnya lalu menatap Casey tajam.
“Satu-satunya jalan mu untuk selamat adalah dengan mengikuti perintah ku. Tapi lihat apa yang kau lakukan? Kau membuat kesabaranku habis.” balas Sean tak kalah tajam, “Dan lagi, kau bilang menyelamatkan nyawa mu? Apakah aku pernah melakukan yang bisa mengancam nyawa mu tanpa sebab atau alasan?”
Casey menatap Sean dengan tatapan tajam, “Menuruti perintah mu dengan membiarkan kau menggerayangi tubuhku?! Kau pikir aku menyukai semua yang kau lakukan?! Demi Tuhan Aku jijik! Kau pikir semua wanita menyukai sentuhan mu?”
Sean mematung tanpa mau membalikkan tubuhnya, “Baiklah. Mulai dari sekarang aku tak akan menyentuh mu barang satu titik pun, bahkan jika kau di ambang kematian. Mulai besok aku minta kau menunjukkan kemampuan mu padaku.” ujar Sean melanjutkan langkahnya hingga ia menghilang di balik pintu kamar meninggalkan Casey yang juga berkutat dengan pikirannya.
Benarkah Casey juga bersalah? Ia hanya berusaha mencari cara kabur, meloloskan diri dari Sean. Bukankah itu sesuatu yang wajar? Namun sekarang, ia sudah melihat sendiri bahwa Tom dan Lexie pun tunduk pada Sean. Bahkan Jika Casey bisa kabur dari Sean dan kembali pada Tom, Tom mungkin akan menyerahkannya kembali pada Sean.
Casey menggigit kukunya frustasi, Tom saja bisa tundukannya, berarti harapan Casey pupus sudah. Ia kini menyadari bahwa ia memang tidak bisa lepas dari Sean.
Apakah, ini artinya Casey harus menyerah dengan usahanya untuk kabur dan ia menerima semua perlakuan Sean padanya? Gadis itu menghela napas berat. Sungguh kah ia harus menyerah?