Bunyi langkah kaki dua orang berbeda ritme ketukan terdengar. Langkah pemilik langkah panjang dengan sepatu kulit coklat, berjalan cepat di atas tangga dengan tangan yang saling bertaut layaknya pasangan. Sementara sepatu flat shoes dengan langkah kecil-kecil seperti kancil berusaha cepat menyusulnya.
Dua orang yang berjalan cepat itu adalah Casey dan Sean yang sedang menuruni tangga kediaman Blaxton. Sean tadi sempat menjelaskan sekilas kegiatan apa yang akan mereka lakukan hari ini sebelum mereka berjalan ke tangga bahwa Sean akan mengenalkan Casey dengan satu orang penting lain yang akan turut bekerja sama dalam misi penukaran The Oppenheimer ini.
“Hei hei bisakah kau memelankan langkahmu? Aku tidak bisa berjalan secepat kaki over kalsium mu itu.” Casey menggerutu karena ia hampir kehilangan keseimbangannya saat melewati deretan anak tangga lebar yang mengarah dari pintu utama kediaman Blaxton itu namun Sean tak menggubrisnya dan terus menarik tangan Casey kasar menuruni tangga.
“Sepertinya hubungan persaudaraan kalian sangat buruk,” celetuk Casey yang membuat langkah Sean terhenti tiba-tiba.
Bruukkk
Casey merasakan wajahnya menabrak d**a bidang Sean, dengan cepat Casey memundurkan tubuhnya dan didapatinya tatapan tajam Sean yang seakan mengulitinya. Dalam tatapannya yang tajam seperti elang Casey seolah bisa melihat jelas sebuah pertanyaan tertulis di sana; beraninya kau menanyakan hal itu. Begitulah kira-kira. Namun Casey tidak sedikit pun merasa takut atau segan. Rasanya malah menyenangkan jika bisa membuat pria menyebalkan ini bisa emosi sesekali karenanya.
“Dia bukan saudaraku.” Tegas Sean pelan namun dingin dan menusuk, lalu Sean kembali memutar tubuhnya dan melanjutkan langkahnya.
“Jadi dia musuh mu?”
“Bukan,”
“Jadi hubungan kalian itu apa? Saudara bukan, musuh juga bukan, tapi kalian terus perang dingin dan saling menyebut sebagai saudara, tapi kpak saling menjatuhkan.” Kedua kalinya Sean memutar tubuhnya dan kembali menatap Casey dengan tatapan menusuknya.
“Berhenti bertanya atau aku akan merobek mulut mu itu,” ancam Sean namun membuat Casey semakin asyik untuk menggodanya.
“Uuhh lihat Tuan Muda Blaxton ini. Kau membuatku benar-benar berpikir bahwa kau seorang yang menganut b**m-“ Casey mencemooh dengan nada menyindir. Pantas saja ia bisa tahu banyak hal tentang b**m, ia memang mungkin
“Ya, aku bisa saja menggantungmu dan mengikat tangan mu hingga membiru lalu menuangkan lelehan lilin panas di atasnya. Jadi tutup mulut mu sebelum kesabaran ku habis.” Ungkap Sean tetap di atas wajah Casey hingga membuat Casey segera mengatupkan bibirnya.
Casey terdiam seraya berdecih. Ternyata tuan muda Blaxton ini sangat tempramen, arogan dan sadomasokis. Casey merinding sekilas. Namun tak lama, Casey berdecak girang karena ia baru saja menemukan ide agar ia bisa terlepas dari jeratan Sean Sebenarnya ia tak terlalu yakin, namun ia akan berusaha. Tapi terlebih dahulu ia membutuhkan telepon genggamnya, lalu ia harus melanjutkan drama nya sampai ia mendapatkan benda itu lalu melancarkan aksinya.
“Kemana kita pergi?” tanya Casey saat Sean mendorong masuk tubuh Casey pada mobil hitam dua pintu yang baru saja dibawakan oleh valet.
“Peter, baru rumahku. Apakah kau pikun? Aku sudah menjelaskan ini sekilas.” Gerutu Sean membuat Casey menatapnya sebal, apakah pria ini sedang datang bulan? Sensitif nya melebihi wanita.
“Maksud ku, tepatnya di mana rumah Peter ini. Apakah kau memiliki riwayat tekanan darah tinggi?” Tanya Casey tak terima dengan nada sewot Sean. Sean menghela napas. Ternyata bersama Casey bisa membuatnya merasa cukup kelelahan.
“Kau akan tahu sendiri. Diam atau tidur, apa pun terserah mu. Tapi jangan berisik.”
Casey meliri Sean mencemooh, apakah ia pak tua? Suka sekali menggerutu dan marah-marah.
“Kau tidak sungguh-sungguh akan membawaku tinggal bersamamu bukan?” Seolah tidak menyimak ucapan Sean, gadis itu bertanya lagi.
“Apakah ucapan ku tadi terdengar seperti lelucon? “
Casey menelan ludahnya melihat ekspresi Sean yang masih mengeras. Memilih mencari aman, ia mengatupkan mulut membuang tatapannya jauh-jauh dari Sean. Sean sepertinya benar-benar di mode serius. Bukan hal yang bagus untuk membuatnya kesal sekarang.
“Aku akan mempersiapkan mu sebaik mungkin untuk menjadi Thief sampai hari eksekusi tiba. Dan aku ingatkan bahwa kau tidak boleh mencoba kabur. Kau tahu bukan bahwa kau sedang berurusan dengan Siapa?” ungkap Sean tanpa melirik Casey lalu memanuver mobil hitam itu ke arah gerbang rumah Kediaman Blaxton. Dalam hati Casey menyahuti, ya ia tahu ia berhadapan dengan siapa. Ia tak perlu menanyakannya.
Sean Archer Blaxton, iblis bayangan yang penuh kejutan dan otoritas tak terbantahkan. Juga yang paling harus digaris bawahi, menyebalkan.
Jadi setelah ini, apakah sang dadu akan membawa Casey pada kekalahan dengan menjadi antek Sean Atau berbalik memberinya angka kemenangan dan menyeret Sean pada kekalahan karena rencana yang akan dipersiapkannya? Casey memejamkan netranya, terlalu cepat untuk menebak itu sekarang.
Casey yang sedang memejamkan matanya, tiba-tiba merasa kesulitan bernapas. Dengan cepat gadis itu terbangun, ia lalu menemukan Sean sedang menekan hidungnya. Mendapat perlakukan yang tidak nyaman, membuat Casey segera membalas perlakukan Sean dengan memukul pria itu menggunakan punggung tangannya.
“Kalian sepertinya sangat akrab, ya.”
Casey yang semula sedang melancarkan jurusnya untuk membalas Sean, menoleh seketika saat mendengar suara berat menyapa gendang telinganya. Casey menoleh, mendapati di kursi belakang, muncul seorang pria muda dengan Hoodie dan topi yang menutupi wajahnya. Hanya deretan gigi rapi yang Casey bisa lihat, karena pria itu sedang menghadap samping, tangannya terlihat menari di atas keyboard laptop dengan sangat cepat namun menghasilkan suara bising yang nyaman.
“Aku sudah mulai memasuki server mereka. Untungnya dengan bantuan Raj aku lebih mudah membobol dan membuat data pekerja palsu.” Ungkapnya seraya menyodorkan layar laptopnya yang sepertinya sedang menampilkan potongan-potongan layar dari kamera pengintai.
Sean menerima laptop itu, tangannya terlihat menekan kursor dengan lembut namun percikan semangat tersirat jelas di netranya.
“Nama ku Peter. Kau Casey, bukan?”
Casey menoleh saat melihat sodoran tangan uang tadi ia lihat menari di atas keyboard, kini terjulur padanya. Casey menyambut uluran tangan itu, dan saat ia melihat sang pemilik tangan, dalam hati Casey ia memekik. Pemuda ini tampan, modis, dan mendengar ia membicarakan tentang server, apakah ia adalah hacker?
“A-ah, ya aku Casey. Senang bertemu dengan mu, Peter.” Balas Casey. Casey memekik pelan dalam hati, syukurlah ada seorang lagi yang sepertinya cukup baik dan menarik. Selain Gloria.
“Aku lah yang merekomendasikan mu pada Tuan Sean.”
Semua senyum manis di bibir Casey menguap seketika. Jadi pemuda ini adalah sumber informasi Sean dan ia pula lah yang membuat Casey berada di sini sekarang?
“Kau merekomendasikan ku?” Ulang Casey dengan senyum kecut.
“Ya, aku melihat pencurian ahmanet beberapa bulan lalu. Dan dari situ aku langsung tahu kau adalah pencuri hebat.”
Casey merasakan tombak tak kasat mata menembus tubuhnya. Pemuda ini benar-benar pelaku yang membuatnya terjebak pada Sean sekarang!
“Akhirnya aku bisa melihat ku secara langsung. Nanti mohon kerja samanya, ya.” Ungkap pemuda itu dengan ceeit, namun kali ini Casey kehilangan minat dan ketertarikannya. Karena pemuda ini Casey kini berada dalam mata bahaya.
“Baiklah Tuan, aku akan mengabari mu kembali jika ada berita baru. Oh ya, belakangan ada orang yang sepertinya sedang berusaha mengendus Anda.” Ungkap pemuda itu. Sean yang sedang menyodorkan laptop pada Peter hanya tersenyum penuh arti.
“Aku tahu, tapi abaikan orang itu. Biarkan Gloria yang mengurusnya. Kau fokus saja dengan apa yang harus kau kerjakan.” Amanat Sean diangguki pemuda itu lalu mereka berpisah dengan cepat.
“Jadi itu, pemuda yang mengirim ku ke iblis ini?” Gerutu Casey mendapat lirikan dari Sean.
“Kalau memang sedang bersama iblis, bukankah sebaiknya kau mencoba mengalahkan mereka?”