Casey memekik kagum saat ia dan Sean akhirnya sampai di depan pintu sebuah rumah yang cukup besar bercat putih dan hitam dengan pintu utama dari kayu yang berat. Rumah yang memiliki gaya khas tak jauh beda seperti kediaman utama Tuan Blaxton, bedanya rumah Sean bergaya eropa lebih modern dengan furniture yang di d******i warna hitam.
Casey bersiul,”wow ia cukup kaya juga.” Gumam Casey berniat berbisik namun sepertinya Sean mendengarnya. Casey segera mengatupkan bibirnya membolakan netranya lalu berpura-pura bersiul. Ia jadi teringat ucapan Sean tadi tentang hartanya. Casey hanya mengira itu bagian dialog dramanya. Tapi sepertinya ia memang cukup kaya.
“Memangnya Tom tak memberimu uang dari hasil penjualan artefak yang kalian curi? Dari awal tatapan mu itu menunjukan tatapan orang miskin, membuat ku sedikit merasa kasihan.” Ujar Sean yang membuat Casey semula tersenyum penuh binar kagum pada rumah ini, menatapnya dengan aura membunuh. Casey heran kenapa Sean memiliki mulut yang benar-benar tajam? Ia cukup tampan, tapi jika berbicara dengan nada menyebalkan, sayang seribu sayang. Pria itu sungguh menyia-nyiakan ketampanannya. Seharusnya ia bertingkah diam dan sok misterius saja seperti pria dingin ala novel yang mempesona? Itu seratus kali lipat membuatnya lebih tampan. Casey pun mungkin akan mempertimbangkan tawaran pertunangan pura-puranya itu.
“Tom bukan orang yang seperti itu. Ia memang ingin menjaga artefak itu, memiliki untuk dirinya sendiri. Jadi ia tak menjualnya” ujar Casey Seraya memperhatikan furniture kediaman Tuan Muda Blaxton. Ia melihat ada beberapa artefak yang tidak asing, terasa sedikit aneh karena jika ia tidak salah, beberapa artefak ini harusnya susah menjadi pajangan di museum. Apakah ini palsu?
Casey memperhatikan sebuah Papirus—sebuah kertas kuno dari Mesir yang berisi tulisan khusus. Salah satu benda yang paling banyak dikumpulkan tua Bangka Tom. Casey menelusuri bingkai kayu dengan kaca itu, kagum karena selain Papirus dari Mesir rupanya Sean memiliki Hanzi dari Korea, Washi dari Jepang dengan kualitas yang sangat baik. Namun tatapan Casey seketika bersinar penuh binar tatkala ia melihat benda bersejarah yang dipajang paling akhir.
“Itulah alasan kenapa ia disebut kolektor.” Sahut Sean.
“Kau benar.” Casey mengamini, “Kau memiliki koleksi kertas bersejarah yang banyak. Kau bahkan memiliki Daluang!” Casey menoleh dengan senyum antusias di rumah Sean yang banyak terpampang barang bersejarah, membuatnya bersemangat seperti bocah sepuluh tahun yang sedang berkunjung ke museum.
Sean menoleh penasaran, melihat benda apa yang membuat Casey begitu berbinar-binar.
“Kau tertarik dengan Daluang?” Tanya Sean diangguki Casey dengan semangat. Sean terkekeh, Casey benar-benar seperti bocah polos.
“Menurutku Daluang sangat menarik. Ia berasal dari negara yang terkenal memiliki banyak budaya dan sejarah kerajaan. Aku pernah melihat Daluang yang berisi tulisan sanskerta si Indonesia. Sayang sekali aku tidak bisa menyentuhnya. Aku hanya bisa melihat setiap permukaan dan serat. Lalu membayangkan sendiri apakah benda itu asli atau tidak, dan membayangkan bagaimana benda itu dibuat.” Ungkap Casey membuat Sean kembali tersenyum.
“Kau seharusnya menjadi guru sejarah.” Celetuk Sean, entah menyindir atau memang tulus. Casey tidak menjawab, ia masih terlihat sibuk menatapi koleksi barang antik Sean.
“Aku tak akan memberitahumu ruangan mana saja yang tak boleh kau masuki karena aku yakin itu malah akan membuatmu penasaran. Tapi kuberi tahu bahwa kau tidak boleh memasuki kamar lantai dua di dekat lorong. Itu kamar terlarang. Jika kau memasukinya kau akan menyesal.” Ujar Sean memperingatkan.
“Tak ingin memberi tahu, tapi memberi tahu juga” cemooh Casey pelan namun Sean dapat mendengarnya.
“Kau sudah pulang?” tiba-tiba terdengar pekikan seorang wanita, Casey menoleh berambut putih dengan dress beludru yang mencetak tubuhnya dengan sangat pas. Gadis itu memeluk Sean lalu menciumi Sean dan bahkan menjilati wajah Sean membuat Casey meringis jijik.
“Urgh aku sudah bilang untuk tidak menunjukan sikap mu itu di depan orang lain.” Sean mengeluh lalu menjauhkan wajah wanita itu darinya.
“Aku merindukanmu majikan” ujarnya dengan nada kecewa, namun mirip seperti nada kecewa anak kecil. Casey memutar bola matanya tak suka dengan pemandangan dihadapannya ini. Majikan? Uh mendengar wanita itu menyebut kata majikan dengan nada yang dibuat-buat imut itu membuat Casey menjadi jijik sendiri.
Jadi Sean terobsesi bahkan benar-benar pelaku b**m? Casey pernah membaca novel Lexie, dan ia membaca bahwa orang-orang b**m mempunyai panggilan khusus seperti majikan, tuan, Daddy lalu Kitten, dan lain sebagainya.
“Gloria bilang kau tidak punya wanita simpanan di rumah mu. Tapi lihat ini, apakah kau menyuruh Gloria untuk mengatakan pada semua wanitamu bahwa kau tidak mempunyai wanita simpanan agar kau bisa menjerat semuanya ke ranjangmu?” Selidik Casey
“Wanita? Hei itu kasar sekali” ujar wanita itu protes.
“Lalu kau siapanya? Wanita bayaran?”
“Hei-“
“sudahlah. Lantas kenapa jika aku memang memiliki wanita simpanan atau wanita bayaran? Kau cemburu?” Tanya Sean yang seketika dihadiahi gelak tawa yang hambar dari Casey.
“Cemburu? Aku? Hahaha jangan bercanda.” Ujar Casey lalu melangkahkan kakinya untuk duduk di atas sofa.
“yeah kau akan,” jawab Sean dengan senyum dari sebelah kiri sudut bibirnya, meremehkan.
“Ahaha terserah. Aku tak perduli, setelah aku menukar The Oppenheimer aku akan pergi dari sini bersama dua belas birth gem dan bonus, juga Daluang itu.” Ujar Casey memainkan jarinya seolah menghitung seraya menatap Sean.
“Menjadi wanita simpanan ku” ujar Sean yang seketika mendapat delikan dari Casey.
“Oh ya silakan. Aku mengerti bahwa itu adalah salah satu gejala halusinasi mu!” ujar Casey bersikap masa bodo. Gelakan pelan terdengar dari kerongkongan Sean membuat dadanya bergetar karena tawa yang ditahan.
“Kebutuhan biologis tidak akan bisa di tahan.”
“Jangan terlalu optimis! Aku tidak tertarik dengan s*ks.”
Sean kali ini terkekeh, “Kau benar, aku terlalu optimis. Jadi mari lihat dan tunggu,” ujar Sean yang semakin membuat Casey jengkel. Tak apa Casey,, kau sudah menyiapkan rencana. Biarkan ia seperti itu lalu kau menjalankan aksimu diam-diam. Agar menjadi kejutan untuk tuan muda yang sombong ini. Casey berusaha menenangkan emosinya.
“Kau bilang kau mempunyai tabungan, sekarang aku minta tabunganmu itu untuk membeli baju, sepatu, dan semua kebutuhanku” ujar Casey seraya menyeringai.
“Kau sudah menyiapkannya?” tanya Sean melirik wanita berambut silver yang ada disampingnya itu
“Tentu, silakan majikan.” Ujar si rambut silver memberikan sesuatu pada Sean.
“Berikan saja pada gadis itu” ujar Sean melirik Casey. Tanpa komando dua kali, gadis itu berjalan ke arah Casey dan memberikan sebuah tab yang mirip dengan tab Sean.
“Ambil tab itu, lihat ikon bergambar emas koin dengan logo dolar.” Ujar Sean. Casey menurut dan menatap Sean saat ia melihat ikon itu.
“Si kotak pos mu aku memberikan bitcoin ku. Berbelanjalah dengan itu,”
“Kotak pos? Bitcoin?” Ulang Casey tak mengerti.
“Apakah kau tinggal di jaman pra-sejarah? Jangan bilang kau tidak tahu apa itu bitcoin.”
“Em.. sejenis pembayaran yang mirip dengan sistem virtual account? Biasanya digunakan para kriminal.” Jawab Casey.
“Kau tidak tahu dan tidak mengerti. Tapi tak usah khawatir, akan ada yang mengantar mu.” Ujar Sean melirik si gadis berambut Silver.
Casey memilih mengangguk pelan seraya melirik si rambut silver. Baguslah karena Sean tidak ikut. Ia akan leluasa menghabiskan uang Sean. Ia juga bisa sambil memantau keadaan untuk membuat rencana kabur.
Rencana pertama, habiskan semua uang Sean. Jika uangnya habis bagaimana ia bisa ke Dubai? Rencana yang agak sedikit naif dan konyol. Tapi Casey harus tetap mencoba, bukan?