Sean menatap ke arah denah yang kemarin malam ia bahas bersama Erick, Gloria dan Casey. Kemungkinan rencananya akan berjalan dengan sangat lancar, ia sudah menyiapkan senjata ampuh untuk mengalihkan perhatian orang-orang luar gedung Burj Khalifa, ia sendiri akan mengalihkan perhatian para Professor dan peneliti di sana. Semuanya cukup matang dan bahkan Sean sudah membayangkan reka adegan rencana itu di dalam kepalanya.
Hanya tinggal mempersiapkan Casey, karena meskipun Casey memang thief yang hebat dan berpengalaman, Sean tidak ingin ada satu pun hal yang dapat mengacaukan rencana yang sudah ia susun matang-matang ini, apalagi, Casey adalah bagian paling vital yang menjadi ujung tombak semua rencananya. Tidak boleh ada yang sampai mengendus tentang keberadaan Casey.
Mengingat fakta itu, Sean jadi teringat seseorang. Seseorang yang harus Sean awasi dan hati-hati, karena selama 'orang itu' tidak ada kemungkinan rencananya sukses sangat besar. Tapi jika orang itu menguntitnya, itu akan sangat berbahaya. Sean tercenung, bagaimana orang itu akan menghadapi Sean?
Sean menatap kertas lain yang tadi baru di print-nya, melihat deretan nama yang tadi kirimkan Peter melalui email. Seolah takdir ingin mengatakan bahwa apa yang Sean takutkan bisa menjadi kenyataan, Sean menyipitkan netranya dan mengguman bahwa ia harus menyiapkan antisipasi kemungkinan terburuk karena kini di deretan nama professor ia menemukan satu nama yang ganjil. Dan ia yakin bahwa professor ini adalah orang itu, orang yang akan menghancurkan rencananya.
***
"Majikanmu itu sebenarnya lebih menyukai tipe wanita seperti apa?" tanya Casey pada si gadis berambut Silver yang tengah terduduk dikursi yang disediakan pihak butik, gadis berambut Silver itu sepertinya sudah cukup dikenal oleh petugas di butik ini karena kedatangan mereka disambut dengan sangat baik dan hangat. Setelah menyodorkan tab berisi sesuatu yang disebut Bitcoin, Sean memerintahkan Casey dan gadis berambut silver untuk membeli semua kebutuhan Casey untuk tinggal di kediaman Sean.
"Tipe wanita seperti apa?" Ulah gadis itu membuat lamunan Casey pecah saat gadis itu bersuara.
Casey mengangguk, "Di pesta ia melakukan hubungan dengan seorang maid cantik bernama Ilene, ia juga terlihat cukup terbiasa dengan wanita. Dan yang paling mengejutkan, kenapa ia memiliki banyak baju wanita dan lingerie di kamarnya? Ditambah kah yang terus menyebutnya dengan panggilan majikan. Itu membuat ku agak-agak...." Casey merasa tidak enak jika ia harus jujur mengatakan bahwa ia merasa risih dengan panggilan majikan itu. Terasa sangat aneh.
"Em ... Seperti Mom?" jawab gadis itu terlihat berpikir.
"Mom? Maksud mu, ibu? Ibu Sean?" tanya Casey memastikan. Gadis itu mengangguk.
"Ah ya nama mu siapa? Dari tadi berbicara tapi kita tidak tahu nama." tanya Casey yang tiba-tiba merasa bersalah pada gadis itu karena tadi Casey mengatainya gundik dan p*****r. Bagaimana pun Casey tidak mempunyai hak untuk merasa sebal karena gadis dihadapan ini simpanan Sean, bukan? Wajar saja Sean menyukai gadis ini. Gadis ini bertubuh seksi dan imut seperti bintang film dewasa jepang.
Semua yang ada pada tubuhya nyaris sempurna pria manapun pasti akan jatuh pada pelukannya. Apalagi ukuran dua bukit gadis itu yang sepertinya tiga puluh delapan cup double B?
Casey tiba-tiba merasa kesal. Sementara dirinya? Seab saja mengatakan bahwa ia seperti anak enam belas tahun yang baru tumbuh. Tanpa sadar Casey melirik sekali lagi dadaa si gadis silver. Kini ia menyesal tak memperhatikan asupan makanan untuk membesarkan bukit kebanggaannya sewaktu ia remaja. Kini lihat, ia menyesal.
"Dadaa" ujar gadis silver itu. Mendengar ucapan sang gadis Casey tercekat lalu menatapnya aneh
Casey tercekat, "Namamu Dadaa?" tanya Casey merasa aneh, gadis itu menggeleng lalu tersenyum
"Kau ingin ukuran dadaa besar." ujar gadis itu yang seketika membuat Casey membalikkan tubuhnya menaruh baju yang tadi tengah dilihatnya ke gantungan dengan kesal. Apa yang baru saja dikatakan gadis sok imut itu? Apakah ia meledeknya? Casey menggembung kan pipi samar. Ia memang tidak memungkiri itu, Sean mengatakan bahwa ia menyukai dadaa besar dan semalam menghinanya, bukan?
Casey memejamkan netranya dalam, batu saja menyadari hal bodoh. Sean tak akan bisa menjalankan rencananya jika bahkan Sean tidak tertarik padanya. Rencana? Ya Casey sudah mempersiapkan rencana, yaitu ia harus membuat Sean menyentuhnya, jika Sean benar pengidap b**m ia akan memukuli Casey bukan? Atau ya melakukan penyiksaan seperti film yang dilihatnya. Lalu ia akan melaporkannya pada Tuan Blaxton, dan pertunangan ini akan batal, jika sudah seperti itu, Tuan Blaxton pasti akan membantunya lepas dari Sean.
Casey memberenggut, tunggu, bukankah tadi pagi ia dan Sean secara tidak langsung mengakui bahwa mereka pasangan b**m? Casey menepuk pelipisnya dengan tangan. Ia menyesali ke sok tahuan lidahnya itu, seharusnya ia diam saja. Rencana lain yang Casey persiapkan adalah Casey akan memasuki Lab Sean dan memporak porandakan data Sean. Ah ide kedua sebenarnya terdengar lebih masuk akal. Untuk apa ia menyerahkan tubuhnya jika ia bisa menggunakan otaknya bukan? You got it Casey! Tapi tunggu tidak mungkin Lab An tidak disertai keamanan bukan? Bagaimana cara Casey bisa menerobos keamanannya?
"Benar bagaimana aku masuk, ya. Aku benar-benar harus memikirkan dan mempersiapkannya." gumam Casey fokus dengan pikirannya.
"Kau sedang menyusun rencana, ya?" gadis berambut silver itu tiba-tiba kembali muncul dihadapan Casey membuat Casey hampir terkena serangan jantung.
"Oh astaga! Kau mengejutkanku!" Pekik Casey refleks memegangi dadanya karena kaget.
Gadis itu tersenyum curiga, "Kau sedang menyusun suatu rencana!" pekik gadis berambut silver itu. Dalam hati Casey mengumpat, siapa gadis dihadapannya ini? Kenapa dari tadi ia bisa membaca pikiran Casey?
"Tentu saja aku sedang menyusun rencana oppenheimer saat nanti di Dubai," Casey membuat alasan, itu bukan kebohongan sih, ia memang menyusun rencana untuk the Oppenheimer, bedanya jika Sean dan komplotannya membuat rencana untuk mencuri benda itu, maka Casey sedang berpikir untuk menggagalkan rencana itu.
"Bohong." Tuding gadis itu.
"Sungguh! Kau tak percaya?" ujar Casey berusaha bersikap normal agar tak mencurigakan di hadapan gadis ini.
"Oppenheimer?" Ulang gadis itu, namun tetap nada curiga begitu kental terasa.
"Ya, kau tahu aku yang akan menjadi thief nya. Sean menyuruhku mencuri Oppenheimer bahkan sampai menjebakku dengan rencana konyol sebagai tunangan. Padahal jika ia orang normal, ia cukup menghampiri ku dan mengatakan rencananya untukenvurinthe Oppenheimer- akhh" Casey tak melanjutkan ucapannya karena ia merasakan nyeri di atas dadaa kirinya, dan saat Casey menunduk, Casey menemukan tangan si gadis rambut Silver tengah menusukkan suatu jarum suntik tipis dengan cairan berwarna ungu gelap.
Casey menatap gadis itu nanar, "A-apa yang kau lakukan?! Akh...." bentak Casey lalu tak lama Casey mulai merasa tubuhnya bergetar hebat, ia kehilangan tenaganya, pandangannya memburam lalu setelahnya ia hanya bisa merasakan pipinya menyentuh lantai marmer yang dingin lalu semua berubah menjadi gelap.