Siang itu berjalan cukup lambat bagi Sean. Setelah melakukan panggilan singkat dengan Peter tentang lokasi pameran the Oppenheimer, kini Sean tengah menghisap kopinya seraya menunggu penginstalan sebuah data yang dikirim dari asosiasi di Dubai. Untung saja kemampuan hacking Peter, sudah bisa menembus instansi penting di Dubai, namun di tengah penantiannya menunggu data itu terinstal sempurna, tiba-tiba saja suatu alarm terdengar berbunyi nyaring. Dengan alis yang berkerut, Sean melihat alarm apa itu, dan rupanya itu suara panggilan masuk padanya. Alis Sean terlihat berkerut tatkala melibat bahwa panggilan itu dari petugas butik Cleo, butik yang biasanya memenuhi kebutuhan tekstil Sean. Dengan sekali klik kini panggilan itu sudah tersambung padanya
“Tuan, nona rambut silver menusuk salah satu utusan anda yang lain dan kini yang ditusuk pingsan, kami ingin menghentikannya tapi nona rambut Silver sepertinya mengamuk. Apakah kami harus menunggu polisi?” ujar petugas butik itu menjelaskan.
Seraya menerima panggilan itu Sean meretas kamera pengintai toko, meskipun Sean memiliki hacking hebat seperti Peter, ia sendiri mempelajari hacking untuk kebutuhannya saat ia tidak bersama Peter.
Saat Sean melihat tampilan layar kamera ia terkejut saat melihat Casey yang tersungkur di lantai. Sean mendengus lalu dengan cepat ia menyambar jasnya dan melangkah keluar rumah.
***
Sean memarkirkan mobilnya asal lalu ia memberikan kunci mobilnya pada Valet yang menghampirinya. Ia menerobos masuk dan menemukan Casey yang hendak di gusur oleh gadis berambut silver yang begitu amat sangat dikenalnya itu.
“HENTIKAN!” bentak Sean lalu menghampiri Casey dan ditemukannya wajah Casey yang sedikit memar. Gadis itu mendapat cukup banyak pukulan.
“Apa yang kau lakukan?!” bentak Sean pada gadis berambut Silver yang terus berkata tentang eksekusi.
“Eksekusi pengkhianat, aku akan mengeksekusi pengkhianat.” ungkap gadis itu tanpa ekspresi. Sean menaikkan lengan bajunya lalu dengan gerakan cepat, ia memukul tengkuk gadis berambut Silver Seketika gadis berambut silver itu tertunduk kehilangan kesadaran, sebelum detik selanjutnya tumbang. Dengan cepat Sean mengangkat tubuh Casey dengan dua tangan kekarnya lalu ia meminta bantuan dua petugas butik untuk membopong tubuh gadis berambut Silver.
Sean membawa Casey ke kamar ganti khusus di butik tak peduli dengan pekikan satu dua pengunjung wanita. Sean segera membuka baju Casey. Petugas itu bilang Casey ditusuk? Tapi ia tak menemukan luka belas tusukan atau pun darah barang sedikit pun, dan lagi pula, Sean sudah mencopotinya dari senjata-senjata yang berbahaya seperti pisau, pistol-- pupil Sean membesar tiba-tiba saat ia akhirnya mengingatnya. Racun deadly nightshade. Kecuali- racun deadly nightshade! Ia lupa bahwa Vivi—gafis berambut Silver itu, masih ia biarkan memegang beberapa suntikan racun itu untuk mengantisipasi jika ada yang menyerang atau terasa mengancam.
Sean melirik kembali tubuh Casey yang kini hanya mengenakan pakaian dalam berwarna baby blue dengan renda putih. Sial dimana bekas tusukan jarumnya? Luka bekas tusukan jarum sangat kecil dan sulit terlihat. Ia harus mencarinya dengan hati-hati.
Dengan gerakan terburu-buru Sean membuka baju dalaman Casey hingga dua gundukan putih kenyal terlihat. Iris Sean bergerak cepat memindai tubuh Casey, di mana ia menusuknya? Perut? Leher? Dadaa? Dan tepat setelah itu Sean menemukan satu titik merah darah empat senti di atas dadaa Casey. Tanpa ragu Sean segera menjilat bagian itu, dan ditemukannya rasa pahit di sana.
Tidak salah lagi, jarum itu ditusukkan. Dengan terburu-buru Sean menekan bagian tusukan di dadaa Casey, menghisap kuat titik di mana ia yakin di situlah jarum itu ditusukkan. Sekali, dua kali, hingga akhirnya Sean mulai merasakan rasa pahit yang pekat menyentuh lidahnya. Berapa mili racun yang ada dijarum itu? Sean menyesal kenapa ia begitu lengah.
Sean mulai merasa khawatir lalu ia melangkah keluar meneriaki salah satu petugas untuk membelikannya s**u di super market yang tak jauh dari sini lalu ia kembali menghisap bagian tubuh Casey yang masih beracun untuk mengeluarkan racun itu.
Setelah beberapa kali menghisap daerah beracun itu, akhirnya pada saat Sean meludah ditemukannya cairan berwarna ungu gelap bercampur salivanya dan sedikit darah Casey. Sean melanjutkan aksinya hingga beberapa kali sampai lidahnya tak lagi merasakan rasa pahit dari racun itu. Sial kenapa harus tepat di atas gundukan bukit Casey yang ditusuknya?
Sean bisa membayangkan bahwa Casey akan mengamuk saat nanti ia melihat ada noda ungu di atas dadaanya. Tapi apalagi yang bisa ia lakukan? Jika ia tidak melakukan ini, nyawa Casey terancam.
Tak lama petugas itu tadi mengetuk dan memberikan sebotol s**u segar. Sean menyuruh petugas itu masuk untuk membantunya menahan tubuh Casey. Petugas itu menurut saja meskipun wajah petugas itu tampak merona melihat bagian atas tubuh Casey yang terbuka, Sean meneguk s**u tadi tanpa menelannya, diangkatnya wajah Casey lalu ia membuka sedikit bibir Casey dan menempelkan bibirnya pada bibir Casey mengalirkan s**u itu pada tenggorokan Casey.
Sang petugas merasa panas menyerang wajahnya melihat bagaimana dengan telatennya Sean memberikan s**u pada Casey dengan menggunakan mulutnya. Dalam hati petugas itu menjadi iri sendiri, pemandangan dihadapannya ini terasa bagai potongan film yang romantis bukan? Di tegukan terakhir s**u yang dialirkan Sean pada tenggorokannya, Casey mendapatkan kesadarannya hingga ia tersedak dan mau tak mau Sean juga yang masih menempelkan bibirnya pada bibir Casey pun ikut tersedak.
‘Uhuk uhuk’
Casey merasa pusing menyerang kepalanya, perlahan ia membuka matanya dan ditemukannya wajah Sean yang tengah menatapnya dengan tatapan yang bisa dikatakan kesal(?) dengan tumpahan s**u di sekitar area mulutnya. Casey ingin tertawa terbahak, Sean sungguh terlihat seperti bayi lima bulan yang kekenyangan karena s**u hingga memuntahkan susunya. Namun anehnya mulutnya bahkan tak bisa terbuka! Tangan dan kakinya juga tak bisa bergerak seakan-akan ia seperti lumpuh. Ia juga tak bisa menggerakkan lehernya Meskipun hanya untuk menoleh atau menunduk. Ia hanya bisa mengedip!
Bruukkkkk
Sean menarik Casey ke pelukannya dan memeluknya dengan erat. Seperti sebuah adegan film yang begitu romantis. Namun satu-satunya yang ingin Casey lakukan adalah menyundul wajah menyebalkan Sean. Semua yang dilakukan pria itu membuatnya selalu berada dalam kesialan. Ia membencinya. Sungguh membencinya hingga ke tulang-tulang.
“Ah istriku ... Aku sungguh panik aku takut akan kehilangan mu.” ujar Sean. Istri? Drama apa lagi yang sedang dilakukan Sean? Tapi lebih dari itu, apa yang terjadi pada tubuhnya? Kenapa ia tidak bisa menggerakkannya?
“Istri? Saya kira-... ah tidak. Syukurlah istri Anda sudah siuman, apa saya perlu membantu istri Anda untuk mengenakan pakaian? tawar petugas itu yang seketika membuat hati Casey tersengat dengan aliran listrik tak kasat mata. Membantu istri berpakaian?! Apa lagi ini?
“Ah kau baik sekali kalau begitu bisa memegangi tubuh istriku sebentar? Karena ia keracunan jadi mungkin sekarang ia sedang mengalami fase kelumpuhan untuk beberapa hari,” ujar Sean yang diangguki si petugas mencoba memaklumi. Sean melepaskan pelukannya dan memberikan tubuh Casey agar dipegangi sang petugas. Casey mulai merasa panik menyerangnya. Keracunan?! Lumpuh apa maksud dari semua omongan Sean gila itu?!
Sean mengelus surai Casey, berkat itu akhirnya Casey bisa menunduk dan alangkah terkejutnya ia saat menemukan di d**a kirinya dipenuhi bercak keunguan. Seperti kiss mark?
“Tak apa sayang, aku akan membuat tanda di tubuh mu yang lain. Aku tahu kau tak suka hanya sebelah dadaamu yang kuciumi bukan?“ ujar Sean tanpa sedikit pun nada ragu dalam ucapannya. Dasar pria menyebalkan! Sungguh membuat Casey ingin menendang Sean ke neraka sekarang juga.
Tak sampai disitu, saat Sean berhasil membuat Casey mengenakan gaunnya, Sean mengecupi leher Casey dan berakhir dengan mencium lembut bibir Casey.
“Kau bisa pergi sekarang, terima kasih atas kebaikan mu.” ujar Sean dengan senyum. Demi Tuhan Senyum itu membuat Casey ingin muntah!
“Te-tentu Tuan Blaxton, saya pamit” petugas itu menghilang dari balik pintu, namun sebuah pekikan terdengar setelah gadis itu menutup pintu.
“Tuan Blaxton sudah menikah!“ terdengar suara pekikan kecewa.
“Eh benarkah?! Ahh aku sungguh tidak percaya. Aku kira dia playboy. Playboy selalu mengatakan ia single, bukan?”
“Ahh mengecewakan, padahal aku kira aku bisa mendekatinya”
“Kau harus melihat bagaimana tadi ia memperlakukan istrinya! Sangat romantis!“
“Benarkah?! Ah beruntung sekali nyonya muda Blaxton itu.”
“Ceritakan-ceritakan!“
“Psstt ... Aku akan menceritakannya, tapi kita harus mencari tempat dulu. Ayo pergi ke sana. Di sini bisa didengar.”
Sean menatap pintu itu dengan tatapan dingin sangat kontras dengan senyum hangat yang tadi ia berikan pada si petugas butik. Dasar albino bertopeng! Ia selalu bersikap ramah pada orang lain, orang-orang akan tertipu dengan senyumnya itu.
“Dengar, kau barusan keracunan racun deadly nightsade. Kau akan mengalami gangguan pencernaan dan kelumpuhan beberapa hari sampai racun itu netral. Aku tidak tahu apa yang kau katakan pada Vivi hingga ia menyerang mu. Kau bisa menceritakan itu nanti.” ujar Sean lalu ia mengangkat tubuh Casey dengan kedua tangan kekarnya dan membawa Casey dari butik itu.
“Maaf bisa tolong bantu membawa tubuh adikku dengan taksi? Aku membawa mobil dua pintu dan aku harus membawa istriku.” ujar Sean pada dua petugas yang tadi membopong tubuh si rambut silver lalu kembali mencium Casey sekilas . Dua petugas itu mengangguk. Sean berterima kasih dan membawa Casey masuk pada mobilnya.
“Karena kemungkinan kelumpuhanmu seminggu, mau tak mau aku akan merawatmu. Tapi jangan merepotkan selama aku harus mengurus mu. Aku harap kau cukup tahu diri setelah aku merawatmu.” ujar Sean. Casey hanya bisa mengumpat dalam hati karena ya ia tak bisa bersuara bahkan menoleh saja tidak bisa!
“Ah ya kau tak bisa menoleh ya?” ujar Sean seakan mendengar umpatan Casey lalu ia mengarahkan leher Casey agar menghadapnya. Casey merasa rasa sebalnya sudah mencapai puncaknya. Kenapa ia sekarang terlihat seperti mannekin? Ah sungguh, dari awal pertemuannya dengan Sean ia selalu tertimpa kesialan. Apakah Tuan Muda Blaxton ini pembawa sial?
“Mau tidak mau selama seminggu, aku harus menyuapimu, mengganti pakaianmu, dan memandikanmu. Jadi ku beritahu dari sekarang agar kau nanti tidak terkejut.” ujar Sean lalu ia memajukan wajahnya di hadapan Casey dengan jarak yang sangat dekat hingga napas mereka saling menyentuh kulit wajah masing-masing.
Sial, apa yang hendak dilakukan Sean? Bukannya dramanya sudah selesai?
Deg
Deg
Deg
Ceklek
Bunyi sabuk pengaman yang dikaitkan terdengar. Sean kemudian kembali memundurkan tubuhnya. Sementara Casey berusaha menetralkan napasnya yang tiba-tiba terasa sesak dan memendek dan panas yang terasa mendera wajahnya. Demi Tuhan apa-apaan ini?!
Sean yang menyadari tatapan Casey yang tertuju padanya terdiam, menatap Casey dengan seutas senyum simpul di antara pipinya yang berlesung Pipit.
“Setelah kau sembuh, jangan sampai aku menemukan fakta bahwa kau jatuh cinta padaku,” ujar Sean. Terdengar kekehan pelan di akhir ucapannya.
Demi mumi ahmanet! Siapa pula yang akan jatuh cinta pada pria menyebalkan dengan level kemesuman yang luar biasa, suka melakukan drama, dan sombong seperti seorang Sean Archer Blaxton?! Yang ingin Casey lakukan sekarang adalah menendang b****g Blaxton Sean hingga ke Pluto!
‘Lihat saja saat aku sembuh aku akan pastikan membuatmu menelan ludahmu sendiri, lalu menjadi gila karena menginginkanku! Lihat saja!’ tekad Casey dalam hati dengan penuh kekesalan.
Bisakah ia melakukannya? Atau ini hanya sebuah gerutuan konyol karena emosi?