Keadaan ruangan bernuansa serba putih itu terlihat hening. Suara mesin pendingin ruangan menjadi satu-satunya hal yang dapat di dengar. Menghasilkan suara-suara yang anehnya terasa nyaman bagi gadis yang sedang terlentang di atas ranjang rumah sakit itu—Casey. Sementara di sampingnya ada dokter yang sedang memeriksa keadaannya. Seorang dokter yang sepertinya sudah berkepala empat, namun terlihat sangat cantik dan elegan membuat Casey tidak bisa mengalihkan tatapannya dari perasaan nyaman. Dokter ini memberi aura keibuan yang hangat.
"Untung sekali kau bisa melakukan penanganan cepat terhadap racun deathly nightsade itu, Jika kau tidak melakukan penanganan mungkin nona ini bisa lumpuh atau yang terburuk adalah tewas. Tapi tak usah khawatir, kau mengeluarkan racunnya dengan cukup baik. Hanya saja selama beberapa hari ke depan nona ini akan lumpuh. Hmm, seharusnya aku tidak perlu menjelaskan ini. Kau yang paling tahu, itu, bukan?" ujar dokter wanita paruh baya bernametag Tiffany itu memasukkan stetoskop dan peralatan medis lain ke dalam tas kulit hitam cukup panjang khas dokter yang biasa dibawanya.
Sean tersenyum simpul, "Bagaimanapun racun itu dikenalkan oleh Mom. Ia mengenalkan dan memberi tahu cara menangani racun dari bunga kebun itu. Dia memang ibu yang sedikit ekstrim." ujar Sean memijat pelipisnya sendiri karena ia juga sedikitnya teracuni racun itu saat berusaha mengeluarkan racun dari tubuh Casey lewat mulutnya. Casey yang hanya bisa merebahkan tubuhnya tanpa bergerak atau bersuara begitu terkejut mendengar bahwa racun yang masuk ke tubuhnya itu cukup mematikan hingga bisa membuat tewas. Tapi dibanding itu, ia lebih terkejut karena ternyata Sean mengetahui tentang racun serta cara meraciknya dan gilanya meraciknya itu diajarkan ibunya secara langsung? Casey biasanya tidak pernah setuju dengan ucapan Sean, tapi kali ini ia setuju bahwa apa yang diajarkan Ibu Sean terlalu ekstrim. Casey sekarang jadi penasaran, seperti apa sosok ibu Sean? Mengingat ucapan bahwa racun—Casey merasa kesal di hatinya karen ia tidak bisa mengingat nama racun itu. Yah, intinya racun bunga kebun, itulah yang Sean katakan. Apakah berarti ibunya adalah seorang ahli tanaman? Herbalis?
"Ya, kadang aku jadi agak sedikit takut dengan tindak tanduk ibu mu itu." Ungkap Tiffany jujur, namun tatapannya terlihat dipenuhi rasa curiga dan sedikit khawatir. Sean dapat merasakannya dengan sangat jelas.
"Yang jelas kau tidak perlu khawatir. Pengetahuan ini bukan pengetahuan yang sekarang dipegang oleh bocah sepuluh tahun. Aku sudah dewasa dan aku tahu apa yang harus aku lakukan." Sindir Sean seolah membaca ekspresi wajah dari Tiffany.
"Aku tidak bermaksud kasar. Maaf jika itu membuatmu jadi berpikir seperti itu." Dokter Tiffany terlihat diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, "Lalu bagaimana keadaanmu sendiri? Racun-racun itu pasti tertinggal dimulut mu." Tanya dokter Tiffany hendak menghampiri Sean. Casey mengernyitkan alisnya, apa sebenarnya hubungan Sean dan dokter wanita ini? Kenapa sedari tadi mereka berbicara seolah mereka dekat dan sudah saling mengenal cukup lama namun kemudian mereka akan terlihat seperti orang yang sedang perang dingin. Melihat itu membuatnya mengingat kejadian perdebatan di atas meja makan antara Sean dan Sky beberapa waktu lalu. Bedanya perang ini benar-benar berjalan cepat dan dingin seperti air.
"Sedikit, tapi aku sudah menetralkannya dengan s**u murni. Jika racunnya masuk ke tubuhku, lambungku mungkin akan sedikit dikuras," ujar Sean kembali meneguk s**u dalam botol di sampingnya seraya meringis. “Itu membuat ku jadi teringat kapan terakhir kali aku muntah.”
"Jadi, siapa yang melakukannya?" tanya sang dokter melirik Sean yang tertunduk sedikit merasakan mual.
"Vivi" jawabnya singkat. Casey yang meskipun sedari tadi hanya bisa berbaring di ranjang karena kelumpuhan dampak racun, bersyukur bahwa ia tidak kehilangan kemampuan mendengarnya. Jadi, yang melakukan ini, si gadis berambut silver itu bernama Vivi?
"Lalu dimana dia? Biarkan aku memeriksanya.” Tawar Tiffany.
"Aku sudah meminta seseorang untuk menjemputnya. Ia hanya pingsan, aku memukul tengkuknya saat tadi ia mengamuk.” Jelas Sean mengingat tadi ia memukul tengkuk Vivi kencang. Semoga gadis itu tidak apa-apa.
"Aneh sekali. Ia masih mengonsumsi obatnya, kan?" Tanya Tiffany. Dijawab Sean dengan anggukan.
"Ya, tentu saja. Tapi ia masih bocah delapan belas tahun. Mungkin ia sedikit tidak stabil, ia jadi dikuasai niat untuk membunuh Casey. Tapi setelah ini aku mungkin akan meminta dokter Gale untuk memantaunya secara langsung."
Casey tertohok. Mengkonsumsi obat? Jadi gadis itu sedang melawan suatu penyakit? Casey tercenung mengingat kembali bagaimana mereka berkenalan. Ia memang merasa ada yang sedikit terasa aneh di pertemuan mereka. Sepertinya kini Casey mendapat jawaban. Tapi ia penasaran, siapa sebenarnya gadis bernama Vivi itu? Dan apa hubungannya dengan Sean jika gadis itu bukan simpanannya?
"Casey?" Ulang dokter Tiffany.
"Nama gadis itu, tunangan ku." Ujar Sean menunjuk ke arah ranjang di mana Casey beristirahat.
Tiffany tersenyum lembut, "Aku pikir kau tidak sungguh-sungguh bertunangan," Tiffany melirik Sean yang menghampiri Casey dan menatap Casey dengan tatapan sendu lalu mengecup pucuk kepala Casey cukup lama, seakan ia adalah tokoh romeo yang sedang memandangi julietnya. Sementara Casey? Jangan tanyakan. Jika bukan karena lumpuh, sudah pasti ia akan menyundul dagu pria ini hingga berdarah.
Tiffany menoleh ke arah Sean kembali, "Ah ya, kau juga masih mengkonsumsi obat mu, bukan?" Tanyanya.
Sean menoleh dengan netra yang meruncing, "Aku bukan orang yang sakit." Ujarnya sinis membuat Tiffany diam terlihat sedikit khawatir.
Tiffany terlihat tersenyum tipis, "Kau bisa mengunjungi ku kapan pun kau membutuhkan bantuan."
"Tidak akan dan tidak perlu. Aku sudah memiliki tunangan, aku akan membagi segalanya dengan tunangan ku, aku hanya mempercayai tunangan ku--" Sean menggantungkan ucapannya sementara Casey hanya bisa menggerutu dalam hati. Lihatlah tuan muda Sean ini, bukankah ini terlalu terlihat alami untuk disebut akting? Casey berani bertaruh bahwa Sean mungkin diam-diam sering mengikuti opera shakespears hingga ia bisa melakukan drama sehebat ini. Casey menggeleng dalam hati. Terlalu berlebihan jika Casey berpikir seperti itu. Pria ini jelas bisa melakukan drama karena ia terbiasa. Ia adalah seorang pemain wanita, mafia dan mungkin memiliki fakta-fakta buruk lain yang belum Casey ketahui.
Tiffany tersenyum, “Apakah ini artinya aku harus pergi dan memberi kalian waktu untuk berduaan sebagai sepasang kekasih?” goda Tiffany membuat hati Casey merasa tercubit. Pasangan kekasih? Tolong jangan mengatakan hal konyol seperti itu karena Casey sudah muak dengan semua drama ini.
“Ah, perhatian sekali. Aku akan senang jika kau mau melakukannya untuk kami.”
Casey merasa sudut bibirnya berkedut. Aneh sekali, padahal ia sedang lumpuh, bukan? Tapi mendengar ucapan Sean yang menggelitik itu membuatnya merasa bisa memiliki kuasa tubuhnya lagi dalam waktu singkat. Ah, itu pasti karena ia tidak kuat menahan geli dari sandiwara Sean.
"Ini pengusiran yang sangat halus. Tapi baiklah, kalau begitu aku akan pergi." Pamit Tiffany.
"Tiffany,” panggil Sean membuat langkah donter paruh baya itu terhenti. “Terima kasih untuk obat penetralnya," ujar Sean tulus. Tiffany hanya mengangguk lalu ia melangkah keluar dari kamar itu. Setelah Tiffany-dokter itu pergi, Sean mendudukkan tubuhnya di ranjang lalu ia menatap Casey dengan tatapan tak terbaca.
"Padahal aku hari ini ingin melatihmu menembak. Tapi mungkin kau sudah bisa, ah kalau mengedip, kau pasti bisa, kan? Jika ya jawab dengan dua kali kedipan." titah Sean dan Casey menjawabnya dengan dua kedipan. Casey merasa konyol. Kenapa pula ia menuruti perintah Sean begitu saja?
"Bela diri?" tanya Sean lagi, dan Casey menjawabnya dengan dua kedipan.
“Lihat kucing Persian yang pintar ini! Kau seharusnya mengibaskan ekor mu supaya aku bisa mengelusnya,” ujar Sean jelas menyindirnya. Pria ini, benar-benar menyebalkan! Casey ingin menepis tangan Sean saat pria itu hendak menepuk pucuk kepalanya. Namun ia tidak bisa melakukannya dan lagi-lagi hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Sean padanya.
"Rasanya aneh sekali berbicara dengan orang lumpuh. Rasanya aku berbicara dengan boneka silikon," ujar Sean terkekeh, berbeda dengan Casey yang kembali hanya bisa menyumpah serapah dalam hati. demi Tuhan saat sembuh Casey akan menendang Sean ke Matahari agar ia langsung terbakar dan menjadi abu. Malah mungkin hukuman itu tidak cukup untuk orang semengerikan Sean. Pria yang memiliki level kemesuman yang sangat akut.
"Jadi apa yang tidak kau bisa?" tanya Sean menatap Casey dengan tatapan yang terasa meledek.
'membunuhmu' Casey menjawab dalam hati. Casey bukan hanya berani mengatakan itu di bibir. Jika ia memiliki suaranya, ia akan mengatakan itu tepat di depan hidungnya yang mancung itu.
"Ck kau terlihat seperti ingin membunuhku."
'ya memang itu! Kau bisa melihat itu, bukan? Kalau kau tahu, seharusnya kau ketakutan dan membenamkan diri mu ke laut!’ umpat Casey lagi-lagi hanya bisa dalam hati.
Sean terlihat diam sebentar seraya memandangi Casey yang menatapnya tajam, "Hmm ... Tapi aku penasaran bagaimana rasanya melakukan 'itu' dengan orang lumpuh, haruskah aku melakukannya sekarang? Kalau di kesempatan biasa pasti sulit membuat mu" Sean memainkan anak rambut Casey lalu mendekatkan wajahnya tepat di depan bibir Casey. Tubuh Casey menegang dan pupilnya membesar. Tidak, apa yang hendak dilakukan pria mes*m di hadapannya ini?
Sean menyeringai dengan dua tangan yang bergerak untuk mengangkat tubuh Casey lalu menyenderkan tubuh Casey pada tubuhnya dengan dagu Casey yang bertengger di pundak Sean, seperti seseorang yang sedang berpelukan. Detik selanjutnya Casey mulai merasakan sebelah tangan Sean menurunkan resleting di bagian belakang gaunnya.
“Ini kesempatan yang langka, bukan? Kapan lagi kucing yang beringas dan bar-bar, bisa lemah tidak berdaya?” tanya Sean yang seketika membuat alarm di otak Casey berdentang keras.
'a-apa yang akan kau lakukan?!' pekik Casey dalam hati. Sial! Ia tak bisa melakukan apa-apa selain pasrah menerima perlakuan Sean Archer Blaxton.
Sean menjatuhkan gaun Casey hingga menyisakan pakaian dalam yang sebenarnya tadi siang sudah dilihatnya. Tanpa ragu sedikit pun, Sean menjatuhkan tali kanan kiri dari bra itu, hingga benda penyanggah bukit kembar Casey itu kembali terjatuh. Ia begitu lancar melakukan semuanya, sepertinya sudah sangat terbiasa dengan pemandangan seperti ini, berbeda dengan Casey yang hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat antara malu, kesal dan grogi. Ini sungguh tak nyaman baginya.
Sean menyeringai, “Kau tidak keberatan, bukan?”