Sean menyeringai, “Kau tidak keberatan, bukan?”
Sean melanjutkan aksinya dengan menangkup sebelah dari bongkahan putih yang kini dipenuhi bercak keunguan itu lalu menekan-nekannya dengan jempolnya yang cukup besar di bagian kiri tubuh Casey. Casey mengumpat dalam hati. Sial! Apa yang sedang dilakukannya?! Apakah dia tengah menggoda Casey?!
Deg
deg
deg
Casey merasa aneh. Bukankah seharusnya ia mengalami kelumpuhan karena racun deathly Nighsade yang ditusukkan Vivi di atas dadanya? Tapi kenapa ia dapat merasakan bahwa tubuhnya bergetar, wajahnya memanas, lalu yang paling parah, kenapa jantungnya terus berdegup tidak karuan? Sial, Casey sungguh merasa bahwa tubuhnya aneh. Apakah ini karena racun? Kenapa panas di wajah dan tubuhnya terasa semakin meningkat?
Casey menelan ludah susah payah, tubuhnya terasa berkontraksi saat Sean Casey melihat tangan Sean mendekati tubuh bagian depannya yang kini sudah terbuka.
"Apakah ini terasa sakit saat aku menekannya?" tanya Sean masih menekan titik di mana tadi suntikan sialan itu ditancapkan pada tubuh Casey, kemudian Sean mendongkak menunggu jawaban dari Casey. Casey menjawabnya dengan satu kedip yang berarti tidak sakit, sebenarnya sedikit sakit namun ia bingung bagaimana ia harus menjelaskan jawabannya.
Casey mengalihkan tatapannya segera. Menatap langit-langit meskipun ia mulai pusing dengan perasaan resah, lalu ia yang memaksakan netranya untuk terus ke atas karena ia tidak mau menatap Sean, sementara kepalanya tidak berpihak padanya karena kelumpuhan racun sialan itu. Casey bersumpah ia akan balik meracuni Vivi jika susah sembuh. Lihat saja!
"Untunglah benda ini bukan implan. Jika implan bayangkan saat aku menghisap racunnya tadi, aku mungkin bisa mati keracunan cairan implan ck, bukankah kau harus berterima kasih?" ujar Sean lalu ia mengambil sebuah salep di samping nakas dan mengoleskan salep itu tepat dibekas tusukan tadi seraya sesekali menekan-nekannya.
Dalam hati Casey sebal, apakah Sean memang tengah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Atau ia memang tengah benar-benar memastikan soal racun itu? Argh ia yakin pasti kini wajahnya tengah merah padam karena sentuhan Sean.
Berhenti menekan-nekan bukitnya seolah itu mainan dasar pria gila, maniak, pervert! Casey mengeluarkan serentetan serapah dalam hati. Dengan emosi yang menggebu-gebu ia juga bersumpah akan mematahkan tangan laknat itu saat ia sudah sembuh nanti.
Ceklek
Suara pintu berderit terdengar, siluet wanita dengan pakaian kasual, kemeja flanel dan celana berwarna gelap senada, muncul.
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
pintu terbuka secara tiba-tiba, rupanya siluet wanita itu adalah Gloria. Ia datang dengan membawa banyak paper bag di pergelangan tangannya. Gloria segera menaruh paper bag itu di lantai menghampiri Casey dengan raut penuh kekhawatiran.
"Vivi meracuni Casey" ujar Sean tanpa melirik Gloria.
Gloria membolakan netranya seraya melipat tangan di perut, "Bukankah aku sudah mengatakan bahwa ada hal yang aneh dengan anak itu? Aku sudah mengatakan bahwa kita tidak seharusnya mengambil anak itu. Dan lihat sekarang apa yang bocah itu lakukan." ujar Gloria lalu berjalan ke arah ranjang di mana Casey dan Sean duduk.
Gloria menatap Sean dengan tatapan tajam, "Berhenti mencari kesempatan dalam kesempitan Sean! Kau tahu apa resikonya jika sampai kau menyentuh-"ujar Gloria menatap Sean dengan tatapan tajam saat melihat tangan nakal Sean yang bergerilya di tubuh Casey.
Sean terkekeh sejenak, sementara Casey menatap Gloria tidak percaya. Apakah baru saja ia melihat Gloria membentak Sean? Padahal di kediaman Blaxton saat pesta semalam, Gloria benar-benar terlihat profesional dan taat. Tapi apa yang baru saja dilakukan wanita itu? Casey menggeleng dalam hati. Ia memang benar-benar tidak bisa meremehkan Gloria. Casey jadi terpikir ide gila, apakah Casey memiliki kesempatan untuk kabur jika ia bisa membuat Gloria ada di pihak nya? Namun kemudian Casey menggeleng dalam hati. Apa yang bisa ia tawarkan pada Gloria agar wanita itu mau membantunya lepas dari Sean? Gloria juga terlihat sangat menurut pada Sean.
"Tenang lah Glo, aku hanya membutuhkan sedikit hiburan. Lagi pula ia sedang lumpuh, bahkan jika aku melakukan pemanasan yang panas sekali pun ia tidak akan merespon. Dan lagi aku tidak tertarik pada bocah tujuh belas tahun.”ujar Sean lalu ia memberikan tubuh Casey pada Gloria di mana Sean menyenderkan tubuh Casey yang masih belum bisa bergerak pada Gloria.
Dalam hati Casey mengumpat lagi, tujuh belas?! Kemarin ia mengatakan enam belas dan sekarang tujuh belas. Casey tidak habis pikir, bagaimana sebenarnya orang ini berpikir? Pola berpikirnya benar-benar aneh dan tidak masuk akal.
Dan apa-apaan dengan bibir dan lidahnya itu? Apakah ia memang dilahirkan dengan cara bicara yang menyebalkan? Oh sungguh demi Tuhan, Casey yakin saat Sean lahir, ia pasti langsung bisa mengatai dokter. Kemampuan yang luar biasa--menyebalkan hingga Casey ingin memukul kepala orang itu.
"Aku yakin jika ia bukan Thief mu, kau akan membuat tubuhnya menjadi tubuh wanita dua puluh lima tahun dalam waktu satu hari." ujar Gloria terdengar meledek seraya berjalan kembali ke arah paper bag yang ia bawa tadi, mengeluarkan beberapa pakaian.
Sean menyahuti ledekan Gloria dengan kekehan, mungkin bagi kedua orang itu ucapan Gloria tadi hanya sebuah gurauan, namun di telinga Casey itu terdengar sangat horor dan menakutkan.
Sehari tinggal ia bisa dibuat seperti dua puluh kima tahun, bagaimana jika satu Minggu? Namun dibanding itu, Casey lebih ngeri dengan tindakan mendewasakan yang dimaksud Gloria. Bahkan pada thief yang tidak ia kenal Sean bisa se-maniak itu, apalagi pada gadis yang memang dikenalnya? Casey menggeleng menolak dalam hati. Ia tidak bisa membayangkannya.
"Tidak perlu terlalu khawatir, aku tahu betul aturan bermainnya." ujar Sean lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan. "Aku menitipkan tikus itu pada mu. Malam ini aku ingin pergi ke suatu tempat."
Gloria menatap Sean, "Menemui Ilene?" Tebaknya.
Sean memasukan tangannya pada saku, "Em ... aku mulai bosan dengannya. Aku sedang memikirkan inspektur atau detektif wanita-- aku lupa, mintinya wanita itu mencurigai-"
Gloria memotong ucapan Sean, "Seraphina Bloom? Kau megatakan bahwa Tapi Sean, aku harus pulang Erick pasti-"
Sean mengangkat kedua alisnya, "Ah baik-baik jam tujuh kau bisa pulang." ujar Sean mengendikkan bahunya lalu punggungya menghilang karena pintu menutupnya. Casey meringis, bagaimana bisa Gloria tahan dengan orang yang seenaknya seperti Sean?
"Maaf jika Sean sedikit keterlaluan. Tapi tak usah khawatir karena ia tidak akan, tidak bisa, dan tidak boleh menyentuhmu. Ia akan menjaga virginitas mu." ujar Gloria yang sudah berhasil mengganti pakaian Casey dengan pakaian santai.
Casey sejenak terdiam dengan pemikiran yang berkelana. 'tidak akan, tidak bisa dan tidak boleh?' Itu terdengar melegakan namun juga membuatnya penasaran pada saat bersamaan. Casey ingin sekali menanyakan alasan di balik larangan yang sejauh ini akan membuatnya aman, namun sayangnya ia belum bisa mengatur tubuhnya sendiri.
"Aku di sini hanya sampai sore hari. Bagaimanapun aku memiliki suami yang harus diurusi, meskipun Sean adalah atasanku dan aku memiliki tugas darinya namun tugas ranjang itu tetap nomor satu." ujar Gloria tersenyum kecil. Dalam hati Casey sedikit menghangat, rasanya ia bisa cepat akrab dengan Gloria meskipun ia baru mengenalnya.
"Aku tahu mungkin akan membosankan jika seharian kita saling berdiam. Mungkin aku akan menceritakan sedikit hal- em mungkin pertama soal Vivi, gadis yang meracuni mu." ujar Gloria yang seketika membuat pupil mata Casey refleks membola jadi nama anak itu adakah Vivi?
"Ah sepertinya aku terlalu banyak berbicara hal tidak penting." ujar Gloria lalu mengangkat tubuhnya dan membuka setiap paper bag yang tadi diambilnya mengeluarkan baju-baju dan barang-barang lain dari sana untuk ditata rapi.
"Katanya kalian tidak sempat membeli baju? Sean menyuruhku mencarikan baju untukmu." ujar Gloria memamerkan baju-baju yang dibelinya. Masih belum bisa menoleh dan ia memang tak berniat menyahuti, pikirannya berkecamuk memikirkan banyak hal.
Bukan mafia, bisa disebut peneliti atau juga pemalsu (?) , mencari berlian, dan psikopat (?)
Apa benang merahnya? Sean ingin mendapatkan Openheimer untuk ditelitinya? Tapi bukankah seharusnya ia sudah bisa melakukan penukaran openheimer saat openheimer itu pertama kali ditemukan oleh seorang ahli biokimia di pertambangan? Kenapa harus Casey yang menukarnya? Casey memberenggut karena tak menemukan benang merah. Rasanya alisnya terasa gatal saat ia tak bisa menemukan titik terang dari puzzle sosok seorang Sean. Bahkan Casey tak tahu apa dan siapa lebih tepatnya Sean itu. Bukankah keluarga itu diriwayatkan sebagai kolektor barang antik seperti Tom? Bagaimana bisa ia mendapatkan fakta bahwa ternyata Sean suka bereksperimen bahkan berhasil menjadikan anjingnya sebagai eksperimen robot humanoik?! semuanya benar-benar diluar praduga hingga Casey sendiri tak bisa mendapatkan bayangan akan bagaimana nasibnya kemudian. Tak ada bayangan, tak ada rencana sama sekali.
Ia sangat membutuhkan Tom sebagai sumber informasinya. Tapi sekarang, bagaimana cara agar ia bisa menghubungi Tom?
***
Sean menatap lamat layar kamera butik dimana kejadian Vivi yang menusuk Casey dengan racun, ia melihat dengan jelas bahwa saat itu Vivi bergerak normal. Tak ada tanda bahwa ia akan menyerang Casey, dan begitu pun Casey yang juga normal tak menunjukan gerakan mengancam pada Vivi. Jadi sebenarnya apa yang membuat Vivi menusuk Casey? Tidak mungkin Vivi tiba-tiba menyerangnya jika tidak ada pemicu bukan? Sean menggaruk dagunya. Ia akan mencari tahunya nanti.
Di tengah kesibukan analisanya, Sean melihat ada panggilan masuk dari Erick, dengan cepat Sean menerima panggilan itu.
"Sean aku menemukan pak tua Donghae." Sapa Erick membuat Sean yang semula duduk dalam posisi santai, berubah tegap, tertarik dengan info yang disampaikan Erick.
"Kau menemukannya?" Tanya Sean memastikan.
"Ya, berkat pengintaian Glo di kawasan imigran Cina. Ia menjadi seorang Tazza alias penjudi setelah ia berhenti bekerja pada ibumu. Ah ia juga mengganti identitasnya sebagai imigran dari Cina." Tambah Erick.
"Ya dia sering bermain di bar xxxx jalan xxxx. Dia cukup terkenal disana. Sebutannya adalah Mr.D, aku sudah mencoba mencari data tentang orang itu, tapi para orang-orang di sana sulit sekali ditanyai. Mereka menyuruhku menghadap langsung padanya, tapi tentu saja aku menunggu perintah mu. Sepertinya ia mendapat posisi penting, atau disegani di sana. Itu baru praduga ku saja. Apakah aku boleh menghadap Pak Donghae?" Suara Erick terdengar mengambang menunggu jawaban Sean.
"Tidak perlu. Tugasmu cukup sampai di sini, sisanya biar aku yang akan menyelesaikan." Ujar Sean singkat.
"Baiklah. Ah bagaimana keadaan nona Casey? Gloria memberitahuku bahwa ia diracun oleh Vivi?" Tanya Erick.
"Tidak terlalu buruk, rupanya racun ini sudah dimodifikasi. Tapi aku sudah berhasil menemukan penawarnya." Ujar Sean lalu melirik layar laptonya di mana ia melihat ada email masuk dari Peter.
"Kau selalu hebat. Seharusnya kau mendapatkan nobel." puji Erick. Sean tak menjawab.
Helaan napas terdengar, "Aku akan pergi ke bar itu" celetuk Sean.
"Kapan? Mau aku temani?"
"Secepatnya setelah Casey sembuh. Glo katanya tiba bisa menjaganya lebih lama karena kau selalu menahannya diranjang." Adu Sean dengan nada dingin namun Erick tentu tahu bahwa itu adalah candaan.
"Hahaha, gelora pria dewasa tidak bisa ditahan. Kau pasti tahu itu, bukan?" Jawab Erick terkekeh.
"Baiklah, aku tidak masalah. Lagi pula aku masih harus mencari tahu banyak hal tentang tikus itu." Sean kembali menghela napas, "Tnggulah perintah selanjutnya dariku."
"Aye captain!" Sahut Erick.
Sean mengakhiri video call melalui monitor besarnya itu, lalu ia melirik Vivi yang dibaringkan diatas ranjang yang mirip seperti ranjang pasien. Dihampirinya ranjang itu, lalu Sean mulai membongkar robot humanoik yang diberinya nama Vivi itu. Ia harus mencari tahu dari mana Vivi mendapatkan perintah untuk membunuh Casey.