Waktu terasa berjalan begitu lambat bagi Casey. Apakah waktu memang berjalan selambat ini, atau ini semua terjadi karena ia tidak melakukan apa pun?
Casey tidak tahu berapa jam sudah berlalu dari kepergian Sean. Ia bahkan tidak tahu sekarang sudah jam berapa dan sudah berapa lama ia terbaring. Casey menggerutu dalam hati. Ia tidak pernah menduga bahwa hal yang paling membosankan dalam hidup ternyata adalah berbaring di ranjang tanpa bisa melakukan apa pun, maksud Casey, dulu Casey pernah membayangkan bahwa bersantai-santai seharian di atas kasur adalah yang terbaik, apalagi jika bisa tidur seharian, hanya bangun untuk makan, minum, ke kamar mandi bahkan bukan untuk mandi. Satu hari penuh untuk dirinya sendiri, orang-orang menyebutnya dengan istilah me time. Tapi sekarang ia menarik kata-kata itu. Ini sungguh membosankan!
Hanya berbaring tanpa bisa melakukan apa pun, bahkan tidak bisa mengatakan apa yang ia inginkan pada Gloria sangat menyiksanya. Ia ingin meminta Gloria mencekokinya dengan obat tidur saja agar setidaknya ia bisa memejamkan mata lalu bangun-bangun, tubuhnya akan menjadi segar dan racun sialan itu sudah sirna dari pada menghitung detik demi detik agar segera berubah menjadi hari. Sayangnya, bahkan untuk memanggil nama Gloria saja, ia kesulitan. Ia sungguh tidak berdaya, bahkan lebih tidak berdaya dari bayi.
“Ibu Sean itu seorang ilmuan yang bergerak di bidang nuklir kalau aku tidak salah. Ia meneliti nuklir dan sejenis batu-batuan khusus? Dulu aku pernah mendengar istilahnya. Um itu metalurgi?” ujar Gloria menggaruk kepalanya.
Dan lagi sebenarnya ia ingin mengatakan pada Gloria bahwa ia bisa berhenti menceritakan riwayat hidup Sean, karena ia tidak tertarik sama sekali. Tapi berbeda dengan Casey, Gloria sepertinya mendapat kesenangan sendiri menjadi narator yang menceritakan kehidupan dari para pewaris Blaxton terutama Sean. Tapi mendengar cerita tentang Sean yang dulu imut, lalu cengeng, itu tidak memberikan apa pun untuk Casey.
“Sean itu sangat meniru ibunya, mungkin karena Sean adalah anak terakhir. Sementara Sky lahir terlebih dahulu dan Sky sangat meniru ayahnya. Ah sebenarnya memiliki anak kembar terlihat sangat lucu, bukan? Aku juga ingin memiliki anak kembar. Apakah aku harus menjalani proses bayi tabung?” wanita dengan tubuh yang proporsional itu terlihat asyik sendiri.
Casey memutar bola matanya jengah karena ia tidak tertarik atas cerita Gloria. Namun sayangnya mau tak mau ia harus mendengar cerita tentang Sean dan keluarganya bagaimana prestasi Sean, bagaimana sifat ibu Sean dan lain sebagainya, dan Gloria sedikit pun tidak terlihat keberatan menceritakan semua itu. Tapi masalah lain adalah cerita itu tak dirasa membantu Casey sama sekali. Ayolah apakah Gloria bisa menceritakan yang lain seperti tujuan Sean, sifat Sean, kelemahan Sean atau lain sebagainya. Casey baru dua hari bersama Sean, dan ia belum bisa menarik kesimpulan apa pun tentang Sean sementara ia harus memikirkan rencananya ke depan.
“Sean terkadang memang terlihat agak suram dan manipulatif. Kepintarannya dalam beberapa hal membuatnya sering dikira seperti psikopat.” Gloria melirik Casey yang menampilkan ekspresi terkejut. Sepertinya Casey tertarik dengan cerita ini.
“Sean sebenarnya orang baik, ia tidak sungguh-sungguh Psikopat. Hanya saja ia kadang terlalu penasaran dan terkadang bisa sangat menyeramkan, jadi saranku apa pun perintahnya menurut saja padanya.” Tatapan Gloria terlihat menerawang, “Karena kemarahan Sean sangat tidak menyenangkan. Tapi ia orang baik. Percayalah, jadi jangan terlalu takut.” Ujar Gloria lalu melirik jam di pergelangan tangannya.
Takut? Siapa pula yang takut. Sayang sekali Gloria tidak tahu bahwa Casey sudah banyak mengerjai Sean. Pernah menceburkan Sean ke air, mendorongnya, menyundul hidungnya, menggigit bibirnya hingga berdarah. Bukankah ia luar biasa?
Gloria kembali melirik jam, terlihat resah. ia seolah diburu waktu, “Ini sudah jam tujuh dan Sean masih belum muncul.” Gerutu Gloria.
Ceklek
Suara pintu terbuka memecah keresahan Gloria. Entah ini suatu kebetulan, atau Swan yang mungkin sebenarnya sedari tadi sudah di sana, mungkin ia mengerjai Gloria karena tak lama setelah Gloria menggerutu Sean muncul membuka pintu? Mustahil ia memiliki indra ke-enam bukan?
Gloria menyambut kepulangan Sean senang, “Aku sempat mengira kau melupakan janji mu.”
Sean mengangkat alisnya dengan senyum sekilas, lalu melangkah ke arah gantungan untuk menggantung coat-nya, “Aku membuat penawar untuknya, tadinya aku hendak pergi tapi mengingat sudah lebih dari sebulan Erick tak mendapatkan jatah, aku kasihan padanya.” Gloria tersenyum lalu melangkah keluar pintu.
“Malam besok kau bisa pergi. Biar aku yang menjaga Casey jika Casey masih tidak bisa bergerak.” Bisik Gloria lalu menepuk pundak Sean dengan senyum.
Sean memutar bola mata dengan kekehan, “Ya aku harus berdoa agar penawar ini cepat bekerja jadi aku bisa segera mempekerjakan tikus ini sebagaimana mestinya.”
“Aku tidak pernah meragukanmu, aku pergi. Sampai bertemu besok nona Casey!“ pamit Gloria lalu punggungnya menghilang setelah pintu tertutup.
Sean sejenak terdiam melirik Casey yang masih belum mengalami peningkatan. Lalu detik selanjutnya ia membuka kemeja putihnya yang dipenuhi keringat tanpa ragu meskipun ia satu ruangan dengan wanita, ia seakan ingin memamerkan otot yang terpahat sempurna dengan warna putih pucat layaknya vampire Edward Cullen. Casey refleks menutup matanya, ia ingin menunduk tapi ia tak bisa gara-gara racun sialan itu. Ah kesialan yang tidak bisa dihitung lagi berapa jumlahnya. Casey sungguh membenci situasi ini.
Sean yang menemukan Casey menutup matanya rapat-rapat hanya bisa terkekeh pelan, melihat ekspresi konyolnya itu, rasanya ia jadi semakin ingin menggoda gadis itu.
“Mau mandi bersama?” bisik Sean yang sudah duduk di tepi ranjang tanpa Casey sadari.
Casey membuka sebelah matanya dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati Sean tengah menatapnya dengan tubuh dan senyum memamerkan giginya.
“Jika tidak menjawab berarti iya.” Bisik Sean ditelinga Casey seduksi. Casey memicingkan alisnya, dasar pria menyebalkan. Apakah ia berpura-pura lupa bahwa Casey lumpuh?
Casey tiba-tiba merasakan merinding menyergapnya tatkala napas Sean menyentuh kulit wajah dan telinganya. Lalu gelenyar aneh membuat pori-pori kulitnya meremang. Sesuatu terasa berdesir dan cukup menggelitik di dalam tubuhnya.
Sean mengerutkan alisnya sejenak, lalu ia kembali menatap Casey dengan tatapan tak terbaca.
“Aku akan menyembuhkanmu, Thief-ku. Tapi sekarang aku harus membuka bajumu lagi dan kita akan mandi bersama. Temani aku mandi. Eh lebih tepatnya aku membantu mu mandi, bukan?” gumam Sean seperti bisikan. Casey menelan ludahnya kasar. Ingin sekali ia meneriakkan pada Sean bahwa Gloria sudah memandikannya dan mengganti bajunya, apakah Sean tidak mencium wangi tubuhnya?! Namun tetap saja pita suaranya tak bergerak dan ia hanya bisa membuka mulutnya tanpa suara.
Stop!
Namun akhirnya Casey merasakan Sean menarik sweater nya ke atas, melewati leher lalu kepalanya dan seakan mengulangi dua kejadian tadi siang, kini ia kembali telanjang dengan pakaian dalam yang menahan dua bukit kebanggaannya. Dan kembali Sean menyenderkan tubuh Casey padanya, menenggerkan dagu Casey pada dagu dan ceruk lehernya yang dipenuhi garis biru mencuat. Bedanya, kali ini terasa lebih- karena Casey dapat merasakan secara langsung kulitnya dan kulit Sean bersentuhan. Casey juga dapat mencium bau keringat Sean yang dipenuhi bau rempah yang berpadu dan beraroma menggoda.
“Kau sepertinya menyukainya ya?” bisik Sean lalu mengecup sekilas bagian punggung atas Casey. Casey merasa tubuhnya menegang. Namun anehnya di hati yang paling kecilnya kenapa ia merasa sedikit perasaan seperti penasaran? Casey menggeleng cepat. Tunggu, apakah ia tergoda pada Sean? Pertanyaan itu meluncur begitu saja di otaknya.
Salah besar jika Sean berpikir demikian, Ia hanya mengidentifikasi tubuh Sean! Tidak mungkin ia tergoda apalagi menyukai tubuh pria m***m ini, jelas itu sangat-sangat mustahil. Namun biarkan saja Sean meyakini asumsi tak berdasarnya itu. Toh Casey tak akan tergoda. Yakinnya menyakinkan diri sendiri.
“Aku akan membiarkanmu menikmatinya lebih lama. Aku tahu kau butuh seseorang yang mendewasakan mu.” Ujar Sean lagi, awalnya Casey hanya mencibir Sean dalam hati, namun saat tiba-tiba sesuatu terasa bergerak dipunggungnya, Casey mulai bergerak tak nyaman.
Sean membelai punggung Casey dengan satu jarinya membuat gelenyar aneh tadi semakin menyeruak di benaknya tanpa bisa ia kendalikan hingga tanpa sadar d**a Casey naik seiring jari Sean yang bergerak naik secara vertikal ke tengkuk Casey, Casey terkesiap atas perlakuan Sean.
Mmh
“Bagus thief, aku menyukai reaksi mu.” Ujar Sean menarik tubuh Casey dari tubuhnya lalu menidurkan tubuh Casey di atas tumpukan bantal seperti semula dengan Sean yang mengukungi tubuh Casey di atasnya, sementara netra mereka saling mengunci pada tatapan yang tak bisa Casey definisikan, yang jelas Casey hanya bisa mengatakan bahwa ia diterjang gelenyar aneh dan asing yang ia sadari hanya ia rasakan saat ia melihat film Twilight.
Deg
Deg
Deg
“Kau menginginkan lebih bukan? Tidak usah khawatir, aku akan memberikannya.”