Chapter 23 : Catatan Terlarang

1612 Kata
Casey membolakan matanya terkejut saat Sean mulai merendahkan tubuhnya dan hendak mengecup lehernya, Sean meninggalkan satu kecupan di leher Casey setelah beberapa menit yang lalu ia menyuntikkan suatu cairan di lengan Casey, Casey sempat merasakan panas dan sakit di tubuhnya, namun berkat perlakuan Sean yang terus mengecupi dan sesekali menyentuh bagian sensitif Casey, kini perasaan Casey campur aduk. Terlalu banyak perasaan asing bercampur padu dan tidak ia mengerti dari mana asalnya semua perasaan itu. Casey ingin memalingkan wajahnya menepis bibir Sean, tak ingin Sean mengecupinya lebih jauh. Sean menyeringai lalu ia mengelus wajah Casey dengan punggung tangannya. Menggoda kulit wajah hingga mulut Casey. “Sudah aku bilang aku akan menyembuhkan mu, bukan?” ujar Sean masih dengan nada seduksi, detik selanjutnya tangan Sean sudah bergerak turun membelai bongkah kiri bukit putih Casey menjentikkan jarinya di sana lalu mengelus perut rata Casey hingga akhirnya tangan Sean sampai pada kain penutup daerah privasi Casey yang terasa memanas. Sebelum Sean melanjutkan aksinya Sean menatap Casey sekilas kemudian kembali menyentuh pipi Casey, turun pada bibir hati Casey dan akhirnya Sean tak kuasa untuk tidak memagut bibir itu dengan intens dan rakus. Namun di tengah kesibukan aktifitasnya mengulum bibir hati itu, namun tiba-tiba ia mendengar bunyi krek, suara yang asing, lalu merasakan rasa amis menyebar di area lidahnya bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa. Sean membelalak lalu ditemukannya Casey yang mengigit bibir bawahnya dengan cukup keras hingga rasanya Sean akan kehilangan bibir berharganya yang sangat ahli membuat dialog drama itu. “Le-pas atau aku akan-“ pekik Sean disela-sela pagutan bibir mereka sudah payah karena sakit menyebar di bibirnya. Rasa amis juga semakin terasa. “A-ku twak-akwan-melewpasnyah!” balas Casey sedikit tidak jelas karena gigitannya atas bibir Sean. Sean membolakan matanya. Gadis tikus ini benar-benar! “Kau ta-hu bah-wa k-kau lum-puh. Mu-mungkin k-au bisa bi-cara tapi aku ya-kin ka-u ma-sih lumpuh.” ujar Sean dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena menahan sakit. Casey menyeringai sinis di sela ciumannya, “Kawh mwemanfaatkwan ke-lumpwuhan kwu- argh stop it!” pekik Casey seraya melepaskan gigitannya pada bibir Sean saat Sean hendak menarik kain penutup bagian privasinya cukup kasar. Namun Casey tak menyerah, tiba-tiba saja tubuhnya kembali normal dan akhirnya ia mendapat kekuatannya untuk melawan Sean. Sekuat tenaga Casey mengumpulkan tenaganya di kedua tangannya. Lalu dengan segenap kekuatan ia mendorong tubuh Sean mundur hingga terjungkal. Bruugghhhh Suara gedebum yang nyaring terdengar seiring dengan tubuh Sean tersungkur ke lantai. Sean mengerang dengan wajah memerah layaknya udang rebus menahan ngilu yang luar biasa di antara kakinya. “Dasar m***m! Beraninya kau ingin menyentuhku hah? Lihatlah jika aku mengadukan ini pada Gloria dan ayahmu! Apa?! Kau ingin mengancam menjebloskanku ke penjara? Aku juga bisa menjebloskanmu ke penjara atas tuduhan pelecehan seksual. Mau apa kau sekarang hah?” tantang Casey menatap Sean dengan tatapan membunuh. Sean terdiam lalu ia mendengus. “Begitu? Aku pikir seharusnya kau berterima kasih atas bantuanku.” Sean duduk di lantai seraya memegangi bibirnya yang terus berdarahm Casey memicingkan netranya, menatap Sean dengan tatapan jijik. “Bantuan mu yang mana? Mendewasakanku? Dengar ya, aku bisa mende-wa-sa-kan di-ri-ku sendiri!” ujar Casey menekan setiap ucapannya seolah menekankan bahwa ia tidak membutuhkan apalagi tertarik deganv tawaran Sean yang konyol itu. “Bukan itu, tapi soal obat yang aku berikan pada mu. Aku menyuntikkan sesuatu dilengan mu, lalu aku menggodamu bukan karena aku benar-benar ingin menyentuh mu! Sudahkah aku mengatakan bahwa aku tidak tertarik pada mu, Bocah delapan belas tahun?” Sean meringis karenaembuka mulutnya terlalu lebar—kesal, luka di bibirnya jadi tertarik. “Aku hanya mencoba merangsang saraf mu agar tubuhmu bergerak dan tidak kaku. Sekarang lihatlah, bukankah itu berhasil? Sshh....” ujar Sean dengan ringisan saat ia menyentuh bibirnya. Casey terdiam menatap Sean dengan tatapan curiga dan tak percaya. Tatapan Sean berubah nyalang, tak percaya bahwa Casey tidak mempercayainya. “Aku serius! Aku memanfaatkan teori ‘terdesak dan naluri’ di mana saat seseorang di himpit sesuatu yang mendesak, tubuh mereka akan secara refleks bergerak untuk melakukan pembelaan. Biar aku jelaskan. Kau pernah tidak sengaja tertusuk jarum? Terjepit atau memegang sesuatu yang panas, lalu kau akan meringis atau berteriak mengatakan ‘au panas!’ dan tanpa kau perintahkan atau sadari kau akan cepat-cepat menarik tangan mu dari benda yang panas itu bukan? Seperti saat kau menyentuh sesuatu yang panas, maka tanganmu akan menjauh dari benda panas itu, atau saat kau dikejar anjing, maka otakmu akan bekerja keras mencari cara agar kau bisa meloloskan diri meskipun dalam keadaan mustahil. Bedanya aku dengan seksual, rangsangan ku akan berperan sebagai katalis agar tubuhmu merespons obat itu dengan cepat.” jelas Sean panjang lebar, lalu ia sepertinya menyadari bahwa apa yang dijelaskannya tak berpengaruh pada Casey. Karena Casey hanya bisa menatapnya cengo. Ah tatapan bodoh itu, Sean membencinya. Tatapan itu membuatnya teringat masa-masa di sekolah. Kejadian barusan juga mengingatkannya pada kenangan buruk saat ia tidak sengaja mencerocos tentang mata pelajaran sains, dan orang-orang jadi membulinya. Padahal itu kenangan lama, tapi gara-gara kebodohan Casey—menurut Sean. Kini ia jadi teringat memori buruk yang sudah lama ia lupakan itu. Sean menghela napas frustasi, “Aku tahu kau tidak akan mengerti. Jadi sudahlah, cepat kenakan pakaianmu dan keluarlah dari kamarku.” ujar Sean lalu memungut pakaiannya dan berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Casey yang sedari tadi sudah berhasil menutupi tubuhnya dengan selimut. *** Setelah berhasil mengenakan pakaiannya, Casey berjalan ke arah kamarnya. Dalam hati ia mengumpat dan mengumal. Konsep pengobatan apa yang menggunakan tekanan seksual sebagai metode penyembuhan? Casey yakin Sean hanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Bilang saja ia ingin mencicipi tubuh Casey, Sean selalu menggunakan cara aneh agar ia mendapatkan apa yang dia mau bukan? Sekali pervert akan selamanya pervert dan semakin hari akan semakin pervert. Fakta yang pasti akan terjadi. Casey menghela napas tenang, untuk meskipun di keadaan lumpuh, ia bisa menjaga dirinya. Casey tersenyum puas ia harusnya berbangga hati karena ia selalu bisa menang dari Sean. Namun senyumnya memudar saat mengingat bahwa kemenangannya ini tak seberapa di banding Sean yang selalu bisa menggagalkan rencananya untuk kabur. Di tengah gerutuan hati Casey, Casey menoleh dan melirik kamar yang Sean jelaskan sebagai kamar terlarang. Casey terdiam sejenak lalu ia melirik kamar Sean memastikan bahwa Sean tidak melihat bahwa Casey berdiri di depan pintu kamar itu. Sean bilang ini kamar terlarang bukan? Tapi tidakkah kita sadari bahwa ucapan Sean itu terdengar sebagai larangan yang justru artinya persuatif, Casey justru jadi merasa kalimat larangan Sean adalah perintah tidak langsung padanya untuk melihat kamar ini. Casey menyentuh gagang pintu kamar itu lalu ia memutarnya perlahan dan pelan. Casey tercengang saat ia bisa begitu mudahnya menarik daun pintu itu. Sean bahkan tak menguncinya? Lihat, jika ini kamar terlarang bukankah seharusnya Sean menguncinya dengan kunci yang hanya dipegang olehnya? Benar bukan? Pintu berderit dengan berat dan sedikit nyaring, membuat Casey waswas jika ada yang mendengar atau malah Sean sendiri yang mendengar bunyi deritan pintu ini. Casey memejamkan netranya dengan perasaan campur aduk. Berharap-harap cas bahwa suara deritan pintu ini bisa memelan atau semoga saja Sean sedang mendengarkan musik rock hingga tidak mendengar deritan pintu ini. Casey menggerutu, berapa lama pintu imibtidak pernah dibuka? Bahkan engsel pintu kamar ini begitu kesat, sepertinya sudah lama dibiarkan. Saat Casey membuka pintu itu dan hal pertama yang ia lihat adalah sebuah lukisan besar seorang wanita dengan dua bayi yang sepertinya kembar namun tidak identik. Anehnya Casey bisa langsung tahu dan menyimpulkan bahwa dua bayi itu adalah Sky dan Sean. Mereka terlihat lucu sekali. Sean memiliki kulit putih kemerahan seperti Tuan Blaxton, sementara Sky kulitnya lebih merah. Wanita itu jelas, begitu mirip dengan Sky. Casey memutar bola matanya saat cerita Gloria yang mengatakan Sean mirip dengan ibunya. Jelas-jelas Sean mirip dengan Tuan Blaxton dan Sky mirip nyonya Blaxton yang memiliki kulit eksotis. Tanpa sadar tangan Casey bergerak menyentuh lukisan itu dan memandang wajah wanita yang berkulit tan itu. Kini Casey mengerti kenapa Sky mendapatkan kulit tan. Ia sangat mirip dengan ibunya. “Kau sudah di pintu? Oh tentu tunggu saja di sana. Aku akan menjemput mu.” Casey yang menikmati lukisan itu tiba-tiba panik,ia menoleh kanan kiri dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, saat ia mendengar derap langkah berat Sean dan suara Sean yang seolah-olah tengah berbicara dengan seseorang lalu tak lama langkah Sean berhenti dan digantikan dengan bunyi ceklekan dari pintu. Sial itu Sean! Dengan cepat netra Casey berputar mencari tempat untuk bersembunyi, tatapan Casey terjatuh pada kolong ranjang. Dengan cepat Casey menelusupkan tubuh mungilnya ke bawah ranjang dan Casey bisa menarik napas lega karena tepat saat Casey bersembunyi terdengar suara deritan pintu bersama langkah Sean. Sean yang melangkah melewati kamar di mana Casey berada di dalamnya terhenti. “Gara-gara racun itu, aku lupa mengunci pintu.” Casey bisa mendengar gumaman Sean. Dan tak lama setelahnya terdengar suara gerigi besi yang terkunci. Seketika Casey membolakan matanya. Jangan bilang Sean menguncinya? Casey mendapati jawabannya langsung saat ia mendengar Sean menurunkan daun pintu memastikan bahwa pintu itu tidak bisa terbuka. Sial! Sean menguncinya! Casey segera menepikan tubuhnya ke samping kolong ranjang, namun saat ia menepikan tubuhnya itu suatu kesialan menimpanya. Mata kakinya menabrak sesuatu yang keras membuatnya tak kuasa untuk mengumpat dan mengelus mata kakinya yang buta itu. Dan tepat setelahnya Casey menemukan sebuah peti besi yang menjadi dalang atas denyutan di mata kakinya itu. Kembali rasa penasaran menyergapnya. Tanpa ragu Casey membuka kotak itu dan sepertinya keberuntungan memang tengah berpihak padanya karena peti itu tidak terkunci sama sekali. Apalagi hang ia temukan sekarang? Saat dibuka Casey menemukan banyak buku catatan kecil dan kalender lipat yang banyak ditandai. Beberapa buku catatan ditulis dengan sandi biner, dan sandi lain. Untungnya Casey menguasai biner jadi ia bisa membaca beberapa catatan itu. Casey memicingkan netranya saat menemukan sebuah nama asing yang tidak pernah ia dengar. “Diana Rose Blaxton?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN