"Baik." "...." "Baik." ".... " "Baik akan saya laksanakan!" Jovan menutup sambungan teleponnya. "Gimana?" "Lolos. Padahal dia sudah terluka kena timah panas pada tulang kering sebelah kiri. Benar-benar hebat bukan." "Kamu benar. Berarti dia sedang bersembunyi di suatu tempat." "Iya. Entah dimana dia bersembunyi." "Oh iya, aku mau jemput Vivian dulu," sambung Jovan. "Hem." "El." "Iya." "Kamu sama Fiqa .... " "Kita serius kok, pasti kita nikah. Aku gak pernah suka dan gak pernah kasih harapan apapun sama Vivian. Kalau kamu merasa gak percaya sama aku harusnya kamu gak membiarkan Vivian kesini," sinis Elang. "Bukannya ada Humaira yang justru lebih berbakat dari pada Vivian. Tapi aku lupa, Humaira bukan anak dari seseorang yang berpangkat," tambah Elang. Jovan hanya mampu m

