Di Rumah Salsa,,,
Dengan keadaan yang masih terbakar api amarah,Rianti terus saja berjalan mondar-mandir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal di ruang keluarga.Sedang Salsa terus saja menangis tanpa henti.Takut dan gelisah bercampur jadi satu saat ini.
Salsa takut kalau Papanya mengetahui perbuatannya,maka keadaan akan lebih mencekam lagi.Mungkin saja Papanya akan menghukumnya dengan hukuman yang sangat berat.
Setelah berfikir panjang,Rianti memutuskan untuk menelfon suaminya dan melaporkan segala yang terjadi hari ini.Tak berapa lama Arif yang merupakan Papa Salsa pulang dengan terburu-buru sehingga membuat Salsa semakin ketakutan dan juga tertekan.
Salsa tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi yang pasti Salsa akan pasrah dengan apapun keputusan yang diambil orang tua nya selagi masih dalam batas wajar.
"Apa yang sedang terjadi? Kenapa Mama nelfon Papa dengan nada seperti itu?" tanya Arif pada istrinya yang terlihat bingung.
"Sebaiknya Papa tanyakan langsung saja pada putri kesayangan Papa itu" ujar Rianti menunjuk kearah Salsa yang masih menundukan kepalanya.
"Salsa,,jawab Papa. Apa yang kamu lakukan? Hah ?" tanya Arif penuh selidik.
"Maaf,,Papa" hanya kata maaf lah yang saat ini yang mampu Salsa ucapkan kepada sang Papa.
"Papa mau jawaban Sal bukan permintaan maaf kamu" tegas Arif.
"Uda deh kelamaan nunggu dia cerita.Biar Mama aja yang cerita.Papa duduk dulu disana" ujar Rianti mengarahkan agar Arif duduk terlebih dahulu.
Arif menuruti perkataan istrinya untuk duduk dengan tenang.
"Jadi gini Pa,,Hari ini Mama sengaja ingin antar kan Salsa pergi les sekalian Mama mau ngobrol sama gurunya tentang kemajuan Salsa. Dan apa yang terjadi? Salsa malah berbohong pada Mama pada Papa juga bahwa selama ini Salsa berpura - pura les dan pergi bolos untuk dance ga penting bersama teman-temannya.Mama benar-benar kecewa Pa,,,bisa-bisa nya Salsa melakukan hal ini pada kita" jelas sang Mama.
"Salsa,,Papa mau dengar penjelasan langsung dari kamu" ujar Arif melotot kepada Salsa.
Sambil terisak Salsa mencoba menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan kepada keluarganya yang tidak pernah mau mendukung keputusannya.
"Papa,,,Salsa gak mau les akuntan lagi. Salsa mau sekolah dance" ujar Salsa sambil menutupi rasa takutnya jika tiba-tiba Papanya murka dan mulai bertindak kasar.
"Apa kamu bilang? enteng banget ya mulut kamu ngomong gitu. Salsa,,dengerin Papa. Kita bukan memaksa kamu untuk mengikuti kemauan kita untuk keegoisan kita,tapi juga untuk masa depan kamu. Coba kamu bayangkan apa yang akan kamu dapatkan dengan dance? Hah ? Apa dance kamu akan menghasilkan uang dalam jangka panjang?" ujar Arif masih menahan amarahnya agar tidak meledak.
"Salsa tau Pa,,Ma,,Tapi tolong ijinin Salsa untuk menyalurkan hoby Salsa juga,,please,," ujar Salsa memohon dengan mengatupkan kedua tangannya namun tidak mendapatkan tanggapan dari kedua orang tuanya sehingga membuat Salsa merasa terintimidasi dan di pojokkan.
Karena merasa kecewa dan juga sedih pada dirinya sendiri dan juga orang tuanya, Salsa berlari masuk kedalam kamarnya serta langsung menguncinya.Arif dan Rianti hanya bisa memandangi punggung Salsa yang berlari dan berakhir dengan saling memandang serta menggelengkan kepala.
Salsa langsung merubuhkan tubuhnya tepat di atas tempat tidur sederhananya yang bercorak hati berwarna hitam putih tanpa mengganti pakaiannya lebih dahulu.
Salsa terus menangis membiarkan emosinya menguap dengan sendirinya sehingga sekejap Salsa yang sudah kelelahan akhirnya tertidur dalam keadaan terlungkup.
Bik Sumi yang telah melihat semua yang terjadi hari ini merasa sangat kasihan dan sedih pada Salsa. Namun dia tidak bisa membantu untuk melakukan apapun karena statusnya hanyalah seorang pelayan yang sangat menyayangi anak majikannya yang sangat manis dan baik kepadanya.
Setelah Salsa mengurung diri di kamar, bik Sumi dengan setia menunggu Salsa di depan pintu kamar untuk memastikan keamanan Salsa jika Salsa akan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya.
Bik Sumi hanya bisa mendengar suara tangis yang berasal dari kamar Salsa yang mampu membuat siapapun yang mendengar tangisan pilu itu akan ikut merasa tersayat.Namun saat suara itu hilang Bik Sumi menjadi lebih tenang karena pasti Salsa telah tertidur akibat kelelahan menangis.
"Kasihan kamu nduk,,Semoga kamu mendapat kebahagiaan yang utuh dari orang yang tepat suatu saat nanti" gumam Bik Sumi.
Dan saat Bik Sumi hendak meninggalkan kamar Salsa,Rianti memanggilnya...
"Bik Sumi, tolong kemari sebentar" Rianti memanggil Bik Sumi yang hendak berlalu.
"Saya Buk,," sahut Bik Sumi seraya berjalan mendekat.
"Bik, saya mau keluar sebentar sama Bapak. Kamu tolong jaga rumah sama awasi Salsa jangan sampai keluar dari rumah" ujar Rianti memberi perintah.
"Baik Buk,," jawab Bik Sumi masih dengan menundukan kepalanya menandakan kalau dia sangat menghormati majikannya.
"Hmm bagus, Saya pergi sekarang ya" ujar Rianti mengambil tas nya dan pergi menyusul suaminya yang sudah menunggu di dalam mobil.
Sedang di dalam mobil,Papa Salsa memijit-mijit pangkal hidungnya yang terasa sakit sambil terus mengatur nafas agar lebih tenang.
Setelah Rianti memasuki mobil , Arif melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang kearah sebuah perumahan elit yang di tinggali oleh bosnya.Entah apa yang saat ini ia dan istrinya ingin lakukan.Yang pasti mereka sudah sangat yakin dengan jalan yang akan mereka ambil.
Saat ini mobil mereka telah memasuki pekarangan rumah milik Tuan Pratama sang bos.Dan setelah mereka turun para pelayan terlihat sudah berdiri di depan pintu untuk segera menyambut kedatangan mereka yang berati telah di terima sangat baik oleh sang pemilik rumah.
Baru saja mereka memasuki rumah yang amat besar bak istana,,,
"Selamat datang Pak Arif dan Bu Rianti. Apa kabar. Ayo silahkan duduk dengan nyaman. Anggap saja seperti rumah sendiri dan jangan sungkan ya?" sapa pemilik rumah dengan sopan dan ramah.Seperti sudah mengetahui tujuan kedatangan sepasang suami-istri itu.
Nyonya Pratama yang lebih dulu menyambut kehadiran mereka pun mempersilahkan mereka duduk. Tak lupa memberikan sajian terbaik yang mereka miliki.
"Saya baik, dan istri saya juga sangat baik" jawab Arif.
"Kalian ingin minum apa? " tanya Nyonya Pratama.
"Tidak perlu repot-repot Nyonya. Apakan Tuan Pratama ada Nyonya?" tanya Arif to the poin.Sedang Amanda tetap diam dengan senyuman guna menjaga image nya agar tetap baik.
"Ohh dia sedang bersiap-siap.Sebentar lagi juga dia akan datang.Tunggu aja sebentar lagi ya,,Kalian tidak sedang ada urusan lain kan?"
"Ahh tidak Nyonya"
"Bagus kalau gitu. Biar pembahasan kita bisa selesai hari ini juga. Oke?"
Tak lama mereka berbincang santai,Tuan Pratama menghampiri mereka untuk bergabung dan membahas sesuatu yang sangat penting bagi mereka.
"Halo Pak Arif,,Sudah lama menunggu?" sapa Tuan Pratama sambil mengulurkan tangan .
"Tidak Tuan,kami baru saja sampai.Ohh iya Tuan perkenalkan ini istri saya,Rianti" ujar Arif memperkenalkan istrinya setelah membalas jabatan tangan Tuan Pratama.
"Halo,saya Rianti" ujar Rianti untuk membuka suara untuk pertama kali dan ikut menjabat tangan Tuan Pratama.