Bab 3

1002 Kata
"Jadi bagaimana dengan pembahasan kita sebelumnya, Pak Arif? Anda tenang saja, Salsa tidak akan menjadi janda setelah melahirkan dan ingat kesepakatan yang akan menguntungkan keluarga anda," ujar Tuan Pratama membuka percakapan. "Begini tuan, saya takut jika nanti Tuan Azril tidak menyetujui perjodohan ini dan melukai anak saya. Belum lagi jika istri Tuan Azriel marah. Bagaimana saya harus menghadapi mereka? Apa yang harus saya katakan kepada mereka?" balas Arif mengungkapkan isi hatinya. "Saya tidak akan mungkin meragukan kesepakatan yang Anda tawarkan, Tuan. Tapi putri kami masih sangat belia untuk menikah dan memiliki anak, apalagi statusnya yang akan membuat semua orang membencinya dan membelinya. Maaf jika saya lancang tapi bisakah anda memastikan kan dan meyakinkan saya dengan keamanan serta kenyamanan kami dan putri kami, tuan?" sambung Arif dengan rinci. "Jadi hanya itu keraguan anda Pak Arif? Bagaimana dengan anda Bu?" tanya Tuan Pratama beralih pada Rianti sambil menyesap minumannya. "Sejujurnya Saya tidak masalah Tuan,seperti yang dikatakan suami saya sebelumnya mengenai usia dan juga karakter putri kami yang masih labil. Bagaimana cara anda untuk menyelesaikannya tanda tanya sebagai orang tua yang hanya memiliki satu anak tentu kami akan sangat khawatir atas keselamatan dan juga kenyamanannya," ujar Rianti. "Baik, jadi saya akan mengusahakan dan memastikan kenyamanan dan keselamatan Salsa setelah menikah dan saya juga tidak akan memaksakan kalau Salsa akan menikah dalam waktu dekat. Saya akan turun tangan langsung untuk membimbing Putri kalian, sejujurnya Saya sangat menyukai Putri Kalian, Salsa. Biar bagaimanapun dia masih sangat Dini untuk menjadi seorang ibu jadi saya tidak akan memaksanya dengan keras. Dan untuk persetujuan anak dan menantu saya saya akan mengabari Anda selanjutnya." jelas Tuan Pratama. "Baik Tuan, Saya sangat berterimakasih atas perhatian dan juga pengertian anda. Saya dan istri saya sangat mengharapkan kabar baik dari Anda . Kepada Nyonya Pratama saya berterimakasih untuk sajiannya yang sangat enak ini. Sekarang saya mohon diri, kami akan mencoba mendidik Salsa dengan baik sebelum bertemu dengan kalian," ujar Arif menutup percakapan dan permisi pulang. Setelah Arif dan Rianti pergi dari kediaman Prarama,bertepatan dengan pulangnya Azriel dan Handini di waktu sore seperti biasa.Tanpa curiga mereka berdua menghampiri Tuan dan Nyonya Pratama yang saat itu masih berada di ruang tamu hendak menyalami orang tua mereka. Tak ingin hilang kesempatan,Tuan Pratama berinisiatif untuk membicarakan hal yang sangat sensitif bagi keluarga anak dan menantunya itu.Tuan Pratama meminta Azriel dan Dini untuk duduk berhadapan dengannya. "Zriel, Dini duduk sebentar. Ada hal penting yang harus Papa omongin sama kalian,tapi mungkin ini sangat menyedihkan untuk kalian. Tapi Papa gak punya pilihan lain lagi selain mengatakan hal ini pada kalian," ujar Tuan Pratama dengan hati-hati agar tidak menyinggung dan memancing emosional Azriel. "Oh iya? Hal penting apa itu Pa?" tanya Azriel heran namun tak menaruh curiga. "Ada apa Pa?" sambung Dini dengan lembut sambil duduk tepat di hadapan mertuanya itu. "Sebelumnya, Papa minta maaf jika permintaan Papa ini sedikit egois untuk kalian. Tapi seperti yang Papa katakan sebelumnya bahwa Papa menginginkan seorang cucu dari Azriel sebagai pewaris keluarga kelak. Papa tidak menyalahkan kamu kalau kalian tidak bisa memiliki anak, tapi Papa mohon agar kamu, Dini merestui jika kami ingin menikahkan Azriel kembali dengan seorang gadis agar mendapatkan seorang anak." ujar Tuan Pratama. Bagai disambar petir di siang bolong, hati Dini terasa sangat hancur dengan perkataan mertuanya yang menurutnya juga wajar namun Dini sebisa mungkin harus memasang wajah senyum agar terlihat baik-baik saja. berbeda dengan Azriel yang memasang wajah tak terima dan langsung menatap Dini dengan tatapan sedih. "Pa, tolong dong. Bisa gak sih sekali ini tolonga jangan bahas hal itu lagi? Papa gak pikiran perasaan kita? Papa egois tau gak?" ujar Azriel tak terima dan langsung berlalu tak lupa menarik tangan istri kesayangannya sebagai tanda bahwa sampai kapanpun Azriel tidak akan membiarkan hal ini terjadi meninggalkan Tuan Pratama dalam kesedihannya. Benar jika dikatakan Tuan Pratama adalah orang yang egois, Tuan Pratama sendiri mengakui hal itu. Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin jika harta warisan di berikan kepada anak yang tidak ada perkalian darah dengannya. Sedangkan di sisi lain terlihat Nyonya Pratama berusaha menahan emosinya agar tidak tumpah saat menemui suaminya. Nyonya Pratama sendiri merasa sangat kebingungan dengan perasaannya kali ini. Di satu sisi, Nyonya Pratama menginginkan kehadiran seorang cucu yang memang memiliki hubungan darah dengannya tapi di sisi lain Nyonya Pratama juga sedih melihat respon dari putra dan menantunya. Ntahlah, semoga saja kali ini mereka berhasil membujuk Azriel dan Dini walau mereka sadar jika hal itu pasti menyakiti hati Dini, menantu mereka walau Dini tidak pernah marah atau menolak permintaan mereka. Azriel membanting pintu kamarnya saat mereka sudah berada di dalam kamar hingga membuat Dini kaget dan takut. "Sayang, sabar saja ... kita tidak boleh membantah orang tua. Aku takut kamu akan menyesali perbuatan kamu ini suatu saat nanti," ujar Dini berusaha menenangkan Azriel yang terlihat seperti orang kerasukan dengan menepuk pelan pundak Azriel dan kemudian mengusapkan. "Istighfar sayang .... " "Astaghfirullah, maafin aku ya, Sayang." Azriel mengusap kasar wajahnya yang merah akibat menahan emosi dan kemudian memeluk hangat tubuh Dini. "Sayang, dengerin aku. Aku bakal setuju kok kalau kamu nikah lagi. Nanti juga kan kalau kamu berhasil punya anak, anak itu juga bakal jadi anak aku kan? Asal wanita itu pilihan Papa, insyaAllah aku ikhlas kok," ujar Dini dengan wajah berkaca-kaca menahan rasa sakit yang sejak tadi membuat dadanya sesak. "Jangan pura-pura sok kuat, Sayang. Aku tau perasaan kamu," sahut Azriel memegang kedua pipi Dini dan menatap dalam mata Dini yang mengisyaratkan sesuatu. Tak bisa membendung air matanya yang kian membuat matanya panas, akhirnya air mata Dini tumpah mengaliri pipi indahnya. "Maafin aku, Zriel. Aku tidak ingin membuat Papa dan Mama kamu sedih karena keegoisan aku. Aku... Aku akan berusaha kuat kok. Aku akan mendukung kamu, mau ya? Kamu cepatlah turun dan katakan pada Papa jika kamu akan melakukan pernikahan itu," pinta Dini seakan dialah wanita terkuat di muka bumi ini. "Kamu mau, tapi aku enggak, Sayang. Aku enggak!" bantah Azriel seraya berlalu ke kamar mandi hendak mendinginkan seluruh tubuhnya yang terasa panas akibat terbakar emosi dan meninggalkan Dini yang masih menangis dan menumpahkan segala kesedihannya di atas ranjang mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN