50

1263 Kata

“Sebenarnya kita mau ke mana sih, pah?” Dimas menghela napasnya pelan. Pertanyaan itu sudah kesekian puluh kalinya Zenna layangkan kepada lelaki itu. Salah Dimas memang, lelaki itu tidak memberi tahu gadis itu akan di bawa ke mana gadis itu. “Sayang, duduk aja yang anteng di belakang sama nenek,” peringat Lila lembut. namun, sukses membuat Zenna diam dan kembali bersandar pada jendela. Penasaran, itu lah yang di rasakan Zenna saat ini. Tiba-tiba sekali sang papa mengajaknya untuk keluar bersama dengan keluarga tanpa kejelasan yang pasti. Dimas melirik sang putri dari sepion mobil, lelaki itu terkekeh pelan saat melihat bibir Zenna maju ke depan dengan wajah yang masam. “Nanti kamu akan tahu, sayang,” ucap Dimas. Zenna hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada pemandangan di j

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN