"P-pertanyaan harus d-dijawab j-jujur. N-narasumber—" "Bagaimana bisa kamu jadi mahasiswi Komunikasi, kalau komunikasimu sendiri saja tersendat-sendat seperti itu?" potong Ibrahim. Pria itu santai sekali di kursi kerja putarnya. Tangan bersidekap. Kaki satu menumpang ke kaki lainnya. Menunggu si calon jurnalis menggerakkan mulutnya. "M-maaf." "Kemarin saja sudah lancar jaya. Kenapa sekarang balik gagap lagi? Kamu punya penyakit ketidakpercayaan diri?" Atiya menarik nafas dalam-dalam. Mengobrol berdua bersama pujaan hati, begini amat ya? Rasanya ada satu kwintal sambal korek sedang menghujaninya dari atas. Alamak! Pedas sekali sih kamu, Ibrahim. Semoga bunga cinta semerbak wangi di hati Atiya yang hanya untuk dirimu itu, tidak berubah menjadi bunga bangkai ya? Atiya menggeleng. Ingin

