"Pokoknya aku enggak mau nikah, kalo Abang nggak mau nikah juga!" Lagi, Uma merajuk. Perjalanan menuju Gunung Jati, telinga Ibrahim pengang mendengar si ceriwis Uma. Masih saja ia membela diri. Niat sang kakak, baik. Ia hanya ingin memilihkan lelaki tepat untuk adik perempuan satu-satunya. Menyerahkan adik kesayangan pada pria yang mau menerima Uma apa adanya. Mengenal Uma sejak dulu. Dan terbukti, akhlaknya baik. "Abang masih punya tanggung jawab Nenek sama Ehan, Uma," jawab Ibrahim pelan. Ia harus fokus menyetir di tengah pikiran yang mulai terkuras habis seharian. Tak ingin amarah membuyarkan otaknya. "Dan sekarang? Abang mau melepas tanggung jawab terhadap Uma?" "Bukan!" Pria muda yang mulai terlihat semburat kerutan di sudut mata itu, memijat keningnya. Andai Uma tahu. Bukan me

