"Kamu rayu Abang!" Atiya spontan menepuk bahu Uma sekeras-kerasnya. "Sakit, Ya!" "Kamu yang ngawur. Abangmu tuh hafidz Al-Qur'an. Yang ada, aku langsung dijeblosin ke neraka, rayu-rayu begitu." "Maksud aku, bikin Abang kesemsem sama kamu. Kamu berubah jadi seperti yang Bang Aim mau. Kamu jujur perasaanmu. Abang nggak suka perempuan yang jaim tapi aslinya b****k. Mending apa adanya." "Aku memang b****k, Ma." "Enggak, Ya. Kamu itu polos, baik, dan apa adanya. Siapa tahu, Bang Aim malah juga suka sama kamu. Wallahu'alam. Kita belum tahu gimana hati dia." Atiya tampak berpikir. Memutar isi kepala. Tapi tak kunjung ada ide muncul untuk melancarkan rencana Uma. Kalau soal penampilan, ia bisa saja mengubahnya dalam semalam. Mengesampingkan apa kata orang, yang menganggap Atiya makin alim.

