"Mana Naomi?" tanya Uma celingukan. Kaki Uma berjinjit di atas sepatu bertalinya. Mata bening gadis itu melihat ke dalam. Dari kaca luar mobil MPV mewah berukuran besar, keluaran negara sendiri. Uma tidak percaya. Padahal Raka jujur, soal Naomi yang tidak bisa mengantarkannya pergi. Hanya Raka sepertinya yang punya waktu bak pengangguran tingkat tinggi, yang bisa menemani Uma ke bandara. Sekilas melihat kilaunya mobil dan interior di dalamnya, makin memicu rasa penasaran Uma, tentang Naomi dan Raka ini anak pejabat mana? Atau pebisnis di bidang apa? Tapi belum sopan rasanya, jika Uma bertanya. Dia kan belum sedekat itu dengan Naomi. Di Tokyo, Naomi mau menemaninya berkeliling saja, sudah keberkahan luar biasa bagi Uma. Uma sengaja meminta waktu Naomi hari ini, agar menemaninya ke Banda

