"Iya?" sahut Nanta untuk seseorang di seberang. Ia duduk di bangku pada barisan meja paling pojok di warung Babeh. "Maaf, dengan siapa, ya?" lanjutnya berusaha tetap sopan pada si pemilik suara keibuan di seberang telepon. "Ini Tante Antika, Nan. Kamu belum save nomor Tante?" "Oh. Tante Tika? I-iya maaf, Tan. Belakangan ini emang jarang pegang hape," alibi Nanta berusaha untuk mampu mengatur nada suaranya. "Tapi kamu nggak lupa, kan, sama projek kita?" Kontan Nanta menepuk dahinya dengan gemas sendiri. "Hampir," akunya tertawa pelan. "Hm, untung Tante telepon kamu, ya." Nanta merasakan derai suara tawanya sendiri terdengar pelan. "Oh iya, Tante juga udah tau hubungan kamu sama Laisa sekarang ini. Tapi Tante minta kamu untuk dateng sore ini bisa?" Nanta diam sejenak. Mempertimbangka

