Nanta menyodorkan cangkir milik Babeh yang sempat dibawanya ke ruang sekre siang tadi. "Makasih, Beh," ucapnya seraya memberikan uang pas. "Iya, sama-sama," sahut Babeh. Setelahnya tubuh Nanta berbalik lalu kembali menunggangi motornya yang ia parkirkan tepat di bahu jalan samping warung Babeh. Ia berdiam diri sembari membiarkan jari-jarinya berderap mencari satu kontak telepon yang akan ia hubungi. Lantas membuatnya harus menikmati nada monoton yang terdengar bosan. "Assalamualaikum, Ra," sapanya begitu nada monoton itu berhenti. "Wa'alaikumussalam, Mas," sahut Maira di seberang dengan suara lembutnya. "Saya mau kabari kamu kalo sore ini saya ada keperluan lain. Jadi maaf, ya, saya belum bisa bantu kamu sama yang lain," ujar Nanta mendesah berat. "Iya, Mas. Nggak apa-apa. Maira juga

