Mampus! Mampus! Mampus! Dan malam ini ia menjelma bayangan yang mampu menembus apa pun, mampu menyelinap cepat berderap pada molekul sebening udara. Meski sementara tubuhnya terduduk pada sebuah amben lapuk, lantas mempertanyakan di mana keberadaan Ibu yang sudah jelas-jelas kembali ke dekapan Tuhan dan benarkah Doni sudah bersama Ibu di sana. Langit tak pernah menjawab pertanyaannya, begitu pun laut, begitu pula dengan daratan yang tampaknya lebih memilih tak mau tahu-menahu. Tangannya terjulur meraih bingkai berdebu yang seperti sudah sangat lama ditinggalkan pemiliknya, padahal baru beberapa bulan ia meninggalkan rumah lapuk penuh cerita ini dan justru berpindah pada istana tragis. Ah, istana itu bukan tragis, melainkan terlalu magis untuk seukuran Bapak yang hanya pekerja buruh haria

