Ia menjatuhkan tubuh seraya melempar secarik kertas ke meja rendah tepat di depan Rezky. Lalu celentang pada sofa panjang yang ada di ruang tengah rumah kos Rezky. “Kenapa lo?” tanya Rezky sepasang alisnya nyaris semenntara sepasang matanya tertuju pada secarik kertas yang Nanta layangkan ke permukaan meja. Nanta tidak lekas menjawab. Kedua matanya terpejam rapat dan jemarinya bergerak memijit pelipisnya yang amat pening. “Cek?” Sepasang alis Rezky semakin menjorok ke tengah saat tangannya terjulur memungut secarik kertas itu. Nanta masih diam menikmati pening yang masih terus berdenyut di kepalanya. “Cek dari siapa?” tanya Rezky lagi seakan tak acuh dengan keadaan Nanta yang kedua kelopak matanya tampak sayu. Nanta menegakkan punggungnya lalu menghadapkan tubuhnya lurus ke arah Re

