“Abis ke mana aja sih, lo, Nan?” Pertanyaan yang Teddy lontarkan begitu kedua laju roda motornya berhenti membuat Nanta lekas mengucap syukur di dalam lubuk kecilnya. Teddy lekas beranjak dari singgasana favoritnya –bangku panjang teras kamar kosnya— lantas menghampiri Nanta dan berdiri menyandarkan punggungnya pada pilar besi. “Abis pulang,” ringkas Nanta seraya turun dari kendaraanya. “Lo dapat surat?” “Surat pengasingan?” Teddy mengangguk. “Iya. Kenapa?” “Ada dua jurnalis kampus lain yang dapat surat itu.” Nanta mendesah pelan. “Seberbahaya itukah kami?” tanyanya lantas duduk pada singgasana yang biasa Teddy tempati. “Kritikan lo bikin mereka geram, Nan.” “Bukannya sadar malah nyemil garam.” Nanta terkekeh dengan anekdot yang dibuatnya. Teddy geleng-geleng kepala seraya menep

