"Panji apain lo, Nan?" tanya Teddy begitu duduk di samping Nanta yang tengah menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. "Udahlah, lupain," desah Nanta tidak ingin semakin memperpanjang masalah. Tangannya bergerak memijat pelipisnya. Sementara isi kepalanya terus tertuju pada Laisa dan berharap gadis itu tetap baik-baik saja. Nanta mendesah lagi. Ia tidak bisa hanya bersemoga tanpa melakukan usaha. Tubuhnya beringsut menegak dari posisinya semula, lantas menjejalkan tangannya ke dalam saku celana untuk mengambil ponsel. Satu nomor ia tekan hingga terdengar suara nada hubung yang terdengar membosankan. "Iya, halo?" sahut Eliana di seberang. "Li," panggil Nanta. "Iya, Nan. Kenapa?" tanya gadis itu ringan. "Kamu di mana?" Nanta balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan yang Eliana lon

