Untuk ke sekian kalinya Laisa melirik pada gadis yang terpaut usia tiga tahun lebih tua darinya. Ia menghela napas berupaya keras untuk tetap menjaga ruang sabarnya agar tidak jebol begitu saja. "Nanta tuh manis, ya?" Lavanya bersuara dengan jemari menggulirkan layar ponselnya ke kanan, kiri, bahkan atas dan bawah lalu mencubitnya hanya untuk menampilkan beberapa foto Nanta di galerinya yang ia curi saat di kafe tadi. Laisa menarik napas lalu menghela lagi. Mengubah posisi baringnya dan memunggungi Lavanya, lantas menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. "Lo sama dia udah putus, kan?" tanya Lavanya sibuk dengan aktivitasnya yang masih sama. "Hm." Sepasang iris Lavanya beralih pada seonggok tubuh yang terbungkus selimut tebal. "Dan lo serius?" tanyanya lagi memastikan. "Gue

