bc

SUMARNI

book_age18+
174
IKUTI
1K
BACA
dark
tragedy
mystery
supernatural
horror
like
intro-logo
Uraian

Kisah ini di awali di saat kedua orang tua Wulandari yang bernama Ayu dan Dimas bertengkar hebat, Dimas adalah pria yang arogan dan suka main tangan. Dimas memilih meninggalkan Ayu dan Wulan anaknya demi bersama wanita lain sehingga Ayu tidak sanggup lagi hidup bersamanya, dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Dimas ke kampung halamannya.

Ayu ibu dari Wulandari memutuskan untuk pindah dan menetap Bersama ibunya yang juga nenek dari Wulan di Banjarmasin, Kakek Wulan sendiri adalah seorang paranormal yang sangat di segani di kampunnya.

Saat Wulan tinggal di rumah itu banyak kejadian aneh yang tidak masuk nalar terjadi, dia kerap diganggu oleh seorang wanita penunggu rumah tersebut yang meninggal gantung diri di sebuah kamar yang sekarang di tempati Wulan.

Wanita itu bernama SUMARNI, Sumarni sendiri seorang hantu wanita yang mati penasaran akibat tak kuasa menahan rasa sakit hati kepada suaminya, akhirnya dia mengakhiri hidupnya secara tragis dengan gantung diri. Jasad Sumarni dikubur di belakang rumah yang sekarang ini Wulan dan ibunya tempati tepatnya berada di samping pohon kapuk yang besar.

Wulan terkejut mengetahui dirinya mewarisi kemampuan dari kakeknya, yang bisa melihat bahkan berkomunikasi dengan makhluk yang tak kasat mata. Karena hanya Wulan yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan Sumarni, dia berusaha meminta tolong kepada Wulan untuk membebaskannya dan meminta Wulan untuk menemukan makamnya agar dia bisa tenang di alamnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Pindah Ke Rumah Nenek
Tahun 2003 Saat masih menggunakan seragam putih biru, dengan tas ransel yang masih bergantung dipundak, dari depan pintu terdengar lagi keributan yang membuat hati kian penuh pilu. Wulan membuka pintu tanpa mengucapkan salam dan sepatah kata pun. Di dalam semua sudah berantakan, barang berserakan dengan bentuk tak karuan, dihadapannya Wulan melihat ibunya yang bernama Ayu sedang menangis tersedu duduk di bangku kayu, sedangkan ayahnya berdiri dengan wajah yang memerah penuh amarah. “Mas ... kenapa kau tidak pulang-pulang mas? kau lupa kewajibanmu sebagai suami, kau menelantarkan kami berdua mas, aku di sini berjuang untuk Wulan anakmu sedangkan kau dengan wanita lain di luar sana.” PLAAKKKK .... Tamparan yang begitu keras mengenai tepat di pipi ibunya, dia tertunduk meringis, menahan sakit tamparan di pipinya, darah segar mengalir disela bibirnya. Wulan tidak kuasa melihat Wanita yang melahirkannya di sakiti dengan begitu keji Wulan memutuskan untuk menghampiri dan membela Ayu Ibunya. “Ayah, kenapa ayah memukul Ibu? Ibu tidak salah Yah Ibu hanya bertanya kepada Ayah,” Wulan menangis sambil memeluk ibunya. Brruukkkk! Ayahnya menendang meja yang berada di samping Wulan. “Kau dan Ibumu sama saja, aku tidak akan menginjakkan kaki di rumah ini lagi, dan kamu tidak usah mencariku lagi!” ayah Wulan pergi langkahkan kakinya keluar meninggalkan mereka berdua. “Ibu, jangan menangis lagi ya Bu, bibir Ibu berdarah Wulan obati ya Bu,” Wulan mengelus pipi ibuku yang masih memerah. “Sudah Wulan, Ibu tidak apa-apa ini tidak sakit kok, kamu ganti baju dulu Wulan pasti lapar Ibu siapin makan siang ya,” ucapnya sambil membelai kepala dan menghapus air mata Wulan. “Tapi bibir ibu berdarah, Wulan obati dulu ya Bu,” ucap Wulan yang bergegas mengambil obat merah untuk mengobati bibir ibu yang terluka. Wulan mengambil obat merah yang ada di dalam lemari, saat Wulan mengobati Ibunya meringis menahan perih luka yang Wulan obati, pipi ibunya mulai membengkak. Ibu menatap Wulan dengan menahan air matanya, entah apa yang ibunya pikirkan saat itu. “Wulan, tolong ambilkan handphone Ibu di kamar ya, Ibu mau telepon nenek.” “Baik Bu.” Wulan bergegas mengambilnya dan memberikannya kepada ibunya, Wulan yang berada disebelahnya mendengar percakapan dengan nenek yang berada di Banjarmasin, ibunya menceritakan semua keluh kesalnya kepada nenek, dan nenek pun seperti kebanyakan ibu pada umumnya tidak mau anaknya di sakiti akhir menyuruh ibu kembali ke tempat nenek. “Lan, besok kita akan pindah dari sini, nenek menyuruh Ibu tinggal di sana lagi pula nenek sendirian,” Jelas ibunya. “Terus sekolah Wulan bagaimana Bu?” tanya Wulan kepada ibunya. “Nanti Ibu yang urus surat pindah kamu Nak, kamu pindah sekolah di Banjarmasin di tempat nenek,” sahut ibunya yang menjelaskan kepada Wulan. Keesokan paginya ibu dan Wulan ke sekolah mengurus surat pindah sekolah, rasa sedih yang Wulan rasa ketika dia meninggalkan teman-teman dan tanah kelahirannya di Tangerang. Tepatnya pukul 11.40 Wulan sudah menaiki pesawat dari Jakarta ke Banjarmasin, Wulan duduk di dekat jendela pesawat menatap kota yang Wulan tinggalkan. Pukul 14.20 Wulan sudah sampai di bandara Banjarmasin, mereka berdua menaiki taksi untuk menuju ke rumah neneknya, perjalanan membutuhkan waktu satu setengah jam agar bisa sampai di rumah nenek. Ini pertama kalinya Wulan ke Banjarmasin, saat sampai di kota ini aku melihat di sepanjang jalan selalu ada sungai. pohon manga yang berbuah lebat di setiap sisi jalannya, dan terdapat banyak Masjid. Sampailah mereka disebuah gang dengan jalan yang lebar, mereka berhenti disebuah rumah besar yang terbuat dari kayu dengan banyak tanaman di halamannya, didepan pintu ada seorang wanita paruh baya sedang duduk menunggu kedatangan kami. Saat mereka keluar dari taksi nenek langsung memeluk ibunya sambil menangis. “Akhirnya kau pulang Ayu, andai saja bapakmu masih hidup mungkin Dimas suamimu tidak seperti ini kepadamu,” dengan mata yang basah nenek memeluk ibunya. “Maafkan Ayu Bu, tidak mendengar ucapan Ibu dan Bapak saat itu,” sahut Ayu kepada nenek dengan wajah penyesalan. “Inikah cucuku? sudah besar kamu Lan,” ucap nenek sambil mengelus rambutku dan memelukku. “Iya Nek, Wulan sudah kelas 9,” ucap Wulan sambil melihat sekeliling. “Panggil Mbah saja Lan!” ujar neneknya yang menyuruhnya memangilnya dengan sebutan Mbah. Mereka berdua pun masuk ke rumah mbah hawa merinding yang Wulan rasakan ketika Wulan masuk ke rumah mbah, didinding ruang tamu Wulan melihat ada lukisan wayang yang besar. Dulu ibunya pernah bercerita kepada Wulan kalau kakeknya adalah seorang paranormal sakti yang sangat disegani oleh semua penduduk kampung di sini. “Ini kamarmu Lan, taruh saja semua baju-baju di lemari ya” kata mbah yang menunjukkan kamar untuk Wulan dan lemari tua terbuat dari kayu berwarna coklat gelap untuk nantinya menaruh baju-baju. “Baik Mbah, Terima kasih,” sahut Wulan sambil membawa masuk tas dan koper yang berisi baju. Saat Wulan sendirian berada di kamar, Wulan merasakan hawa aneh dalam kamar ini seluruh tubuhnya jadi merinding Wulan merasa seperti ada yang sedang memperhatikan namun Wulan tidak menghiraukannya Wulan masih sibuk membawa tas dan koper masuk ke kamar itu, Wulan membuka lemari untuk menaruh semua bajunya dan juga ibu, seketika Wulan terkejut melihat sebuah benda yang di bungkus dengan kain kuning dengan sangat penasaran Wulan mencoba membuka ternyata benda itu berupa keris, pikiran Wulan saat itu mungkin keris peninggalan almarhum kakeknya. Saat sedang asik memperhatikan keris kecil itu, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk pundakku, sontak Wulan terkejut dan menoleh ternyata itu adalah mbah. “Astaga! Mbah ternyata bikin Wulan kaget aja, tapi kok Mbah bisa tiba-tiba dibelakang Wulan?” tanya Wulan dengan heran kepada mbah. Wulan melihat mbah terus menatapnya hal itu membuatnya bingung, ditambah lagi mbah tidak berkata satu patah kata pun dengan raut wajah datar mbah berlalu pergi keluar kamar. “Mbah? Mbah?” ucap Wulan sambil mengikuti mbah pergi menuju dapur. Saat Wulan mengikuti ke dapur tiba-tiba saja mbah menghilang, Wulan yang kebingungan itu memutuskan untuk kembali ke kamar, saat menuju ke kamar Wulan melihat mbah sedang asik berbincang dengan ibunya di ruang tamu. “Itu Mbah lagi ngobrol sama Ibu, terus yang tadi ke dapur siapa?” seketika pikiran dan batin Wulan bertanya-tanya. Saat otak dan pikiran sedang kebingungan dengan hal tersebut, tiba-tiba ibunya memanggil Wulan. “Lan sini, ini Mbah mau mengobrol nih sama kamu,” ibu yang memanggilnya untuk berbincang-bincang. “Iya Bu, bentar Wulan belum selesai masukan baju ke lemari,” sahut Wulan kepada ibu. Lalu Wulan kembali ke kamar untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai, selama berapa menit akhirnya selesai namun hal aneh kembali terjadi di kamar wangi bunga melati yang sangat menyengat menelusup masuk ke indra penciumannya. Hal itu membuat Wulan terdiam sesekali Wulan menoleh kebagian belakang, kanan dan kiri mencari tau sumber aroma itu berasal namun hasilnya nihil. “Lan, ada apa kok celingak-celinguk begitu?” tanya ibunya. “Bu, Ibu mencium sesuatu di kamar ini gak,” tanya Wulan dengan penasaran. “Bau apa? Enggak ada bau apa-apa Lan,” tegas ibunya. “Ah ... masa sih Bu baunya menyengat banget Bu, bau bunga melati,” kata Wulan yang menjelaskan kepada ibunya. “Ah ... ada-ada saja kamu ini gak ada bau apa-apa Lan,” sahut ibu yang tetap tidak mencium apa-apa. Wulan terdiam mendengar jawaban ibunya, baru beberapa jam saja Wulan masuk ke rumah ini tapi entah kenapa ada yang aneh dengan rumah ini.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K
bc

Patah Hati Terindah

read
83.0K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

JANUARI

read
49.0K
bc

Life of Mi (Completed)

read
1.0M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook