Mimpi buruk

1081 Kata
Usai merapikan baju di kamar, Wulan merebahkan diri sejenak di kasur tanpa sadar dia terlelap, hingga suara gemuruh membuyarkan tidur lelapnya, awalnya suara itu biasa saja dengan mata yang masih terpejam Wulan meresapi suara gemuruh itu, perlahan suara itu semakin keras sampai menusuk indra pendengarannya karena kaget Wulan membuka mata sambil mengusap kedua kupingnya yang terasa berdengung, dalam keadaan setengah sadar Wulan menatap langit-langit rumah. Wulan merasa heran walaupun Wulan baru saja datang ke rumah mbah, tapi Wulan sangat ingat betul bentuk kamar beserta langit-langitnya, Wulan pun bangun dan melihat sekeliling kamar sangat berbeda, di kamar itu terdapat meja rias dengan cermin besar penuh ukiran khas jaman dulu sedangkan di kamar mbah hanya terdapat satu tempat tidur dan satu lemari kayu. Situasi ini membuat Wulan bingung, saat Wulan datangi kamar itu catnya berwarna putih dengan pintu yang berwarna biru sedangkan saat Wulan bangun kamar itu masih berdinding kayu namun tidak ada secuil cat pun ada di dindingnya ditambah lagi kamar itu tidak memiliki langit-langit hanya terlihat jejeran kayu balok tersusun di atasnya. Wulan bangun dan memberanikan diri untuk keluar dari kamar itu. “Ini beneran rumah mbah, tapi kok aneh semua ruangannya tidak di cat Mbah? mbah?” teriak Wulan memanggil mbah. Wulan menyusuri ruangan demi ruangan sambil berkali-kali aku memanggil mbah namun tak seorang pun menyahut panggilanku. Wulan memutuskan kembali ke kamar itu lagi dan betapa terkejutnya Wulan melihat seorang wanita berada di kamar itu padahal sebelumnya tidak ada seorang pun di kamar itu kecuali Wulan. Dia duduk sambil menyisir rambutnya di depan meja rias, namun anehnya dia tidak melihat bayangannya di cermin, wanita itu mengenakan kebaya tempo dulu seperti yang biasa di kenakan mbah sehari-hari, Wulan akhirnya memberanikan diri untuk mendekatinya. “Maaf Mbak, saya mau tanya ini dimana ya? Kok saya bisa berada di sini?” tanya Wulan kepada wanita itu. Namun saat Wulan bertanya wanita itu hanya sibuk menyisir rambutnya tanpa menjawab pertanyaanku, tidak lama kemudian dia malah bersenandung. Hhhmmmm ... Hmmm. senandung wanita itu. Wulan merasa tidak asing dengan lagu yang dia senandungkan, seperti lagu jawa lelo ledung yang biasa ibu nyanyikan untukku saat aku masih kecil Tak lelo, lelo, lelo ledung Cep meneng ojo pijer nangis Anakku sing ayu rupane Yen nangis ndak ilang ayune Wanita itu terus bersenandung membuat Wulan sedikit takut, tapi Wulan tetap mencoba memberanikan diri untuk mengajaknya bicara kembali. “Permisi Mbak, Mbak ini siapa?” tanya Wulan kembali dengan nada yang agak keras. Mendengar suaranya yang keras wanita itu berhenti bernyanyi, dan menyisir rambutnya, dia mulai menoleh ke arah Wulan seketika Wulan terduduk dilantai karena kaget melihat sosok wanita itu wajahnya pucat dengan mulut yang mengeluarkan darah serta kening yang memiliki luka sobek. Wanita itu terus menatap Wulan dengan matanya yang putih tubuhku seperti kaku tidak bisa bergerak seolah-olah tatapannya membuat seluruh tubuhku kehilangan fungsi untuk merespons perintah otak untuk segera lari, Wulan hanya bisa terdiam mematung sambil terus menatapnya. Wanita itu mulai berdiri perlahan dan berjalan menuju arah Wulan baginya dia bukanlah berjalan melainkan mengambang di udara walaupun kakinya tetap bergerak. “Jangan! Jangan kesini, pergi kamu dari sini!” ucap Wulan berulang-ulang sambil menutupi wajahku karena takut melihatnya. Saat Wulan histeris berteriak karena ketakutan, Wulan mendengar seseorang memanggilku. “Lan ... bangun Nak." Seketika Wulan tersadar dan melihat ibunya sudah berada di sampingnya. Dengan wajah yang pucat dan keringat dingin Wulan langsung memeluk ibunya tapi disisi lain Wulan merasa lega karena hal yang tadi dia alami hanyalah mimpi. “Kamu kenapa Lan?” tanya ibunya yang menenangkan di pelukannya. “Wulan mimpi buruk Bu,” sahut Wulan kepada ibu. “Kamu mimpi apa Lan?” tanya ibunya kembali “Wulan mimpi ada seorang wanita Bu, dia seperti berada di kamar ini tapi Wulan lihat bukan seperti kamar ini, wanita itu duduk di meja riasnya sambil menyisir rambutnya dan menyanyikan lagu Jawa, lagu lelo ledung yang sering ibu nyanyikan di kala wulan masih kecil, terus karena penasaran Wulan bertanya dengan wanita itu siapa, lalu wanita itu berhenti nyanyi menoleh ke arah ulan dan mendekati Wulan wajahnya sangat mengerikan sekali Bu,” tutur Wulan yang menceritakan mimpi buruknya tadi kepada ibu. “Mungkin itu hanya mimpi buruk saja anakku, sebelum tidur kan ibu sudah sering bilang jangan lupa berdoa,” ucap ibunya yang menasehati. “Iya Bu, Ulan tadi gak sengaja ketiduran,” sahutnya kepada ibu. “Ya sudah, sana mandi ini sudah sore Nak,” perintah ibunya. “Iya Bu,” ucap Wulan sambil bergegas menuju kamar mandi. Wulan mulai bergegas menuju kamar mandi, kamar mandi itu sendiri berada di belakang dekat dapur, terlihat si Mbah yang sedang memasak di dapur Wulan lalu menghampiri dirinya di kala Wulan menghampiri si Mbah Wulan melihat pemandangan yang tidak biasa Wulan liat di luar jendela dapur. “Mbah ini kuburan?” ucap Wulan kepada mbah sambil melihat ke arah luar jendela. “Iya Lan, ini kuburan orang kampung di sini,” sahut mbah sambil sibuk memasak. “Terus ini pohon kapuk sampai besar gini apa enggak di tebang aja Mbah?” tanya Wulan sambil memperhatikan pohon kapuk yang sangat besar di kuburan itu. “Orang kampung di sini pernah mencoba ingin menebang pohon itu, tapi pohon itu tidak bisa ditebang dan orang yang mencoba menebang pohon itu jatuh sakit, dan sekarang tidak ada orang yang berani menebang pohon kapuk itu,” tutur mbah yang menjelaskan sejarah pohon kapuk itu. Wulan terus memandangi pohon kapuk itu, awalnya saat Wulan melihatnya sangat menyeramkan karena pohon itu sangat besar dengan di kelilingi oleh kuburan, namun semakin lama Wulan memandangi pohon itu lama kelamaan pohon itu seakan berubah samar-samar Wulan melihat pohon itu berubah menjadi sebuah kerajaan yang besar dengan banyak prajurit namun wajah para prajurit itu sangat pucat tanpa ekspresi Di saat Wulan sedang asik dan penasaran memperhatikan pohon itu mbah menghentikan lamunanku. “Nduk, katanya mau mandi kok malah ngelamun di depan jendela” kata mbah sambil memanggil Wulan. Seketika lamunan Wulan pun hilang saat dia melihat untuk yang kedua kalinya pohon itu kembali ke wujud aslinya. “Eh iya Mbah, Lan mandi dulu Mbah,” sahut Wulan kepada mbah sambil bergegas meninggalkan mbah menuju kamar mandi. Setelah Wulan selesai mandi kami bertiga pun makan bersama di meja makan, menu sederhana namun sangat nikmat menurutku terdiri dari sayur nangka, ikan asin dan sambal. “Tambah lagi makannya Ulan!” kata mbah. “Sudah cukup Mbah, Lan sudah kenyang banget,” kata Wulan yang menolak tawaran mbah. Setelah selesai kami bertiga berkumpul di ruang tengah untuk menonton acara televisi dan berbagi cerita satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN