Hari ini kebetulan bertepatan dengan malam Jumat, di malam Jumat ini mbah pasti akan sibuk di dapur membuat sesajen yang terdiri dari kopi manis, kopi pahit, beberapa batang rokok yang di taruh di dalam gelas kaca dan korek di dalamnya, tak lupa air rendaman bunga 7 rupa yang ditaruh di gelas,
Aktifitas Mbah di malam itu baru pertama kali Wulan lihat dan hal itu membuatnya penasaran, Wulan pun bertanya kepada mbah.
“Mbah lagi ngapain?" Tanya Wulan yang penasaran kepada mbah.
“Lagi bikin sajen Nduk,” sahut mbah sambil mengaduk-aduk kopi tersebut.
“Sajen? Untuk apa mbah?” tanya Wulan kembali yang sedikit takut.
“Ini tradisi di keluarga kita Nduk, nanti sajen ini Mbah taruh di kamarmu ya, besok pagi baru Mbah keluarin lagi kamu keluar dulu sebentar ya Nduk,” kata mbah.
“Baik Mbah.”
Usai membuat sajen mbah mulai menuju kamar Wulan, kamarnya sendiri hanya ditutup dengan gorden karena pintunya tidak lagi berfungsi.
Wulan yang saat itu sangat penasaran pun mencoba mengintip kegiatan mbah dari celah-celah korden, sementara itu ibu sedang tidak ada di rumah, ibu Wulan saat itu pergi ke warung untuk membeli sembako. Dari celah gorden Wulan melihat mbah sedang duduk di lantai meletakan sajen itu di pojok kamar, sambil menunduk mbah mengetuk lantai sebanyak tiga kali lalu mengucapkan sesuatu dengan menggunakan bahasa Jawa.
“Nyuwun pangapunten, kula rawuh mriki lan menehi sawetara prekara sing wis dak siapake iki, (Permisi kehadiran saya kesini ingin memberikan beberapa sajen ini yang telah saya siapkan),”
Setelah mbah mengucapkan kalimat itu seketika suasana rumah berubah drastis, lampu yang tadinya biasa saja menjadi berkedip-kedip, angin dingin masuk entah dari mana membuat sekujur tubuh Wulan merinding, tidak lama kemudian terlihat seorang wanita berdiri di hadapan mbah dengan memakai baju putih yang panjang menjuntai sampai ke lantai dengan rambut panjang menutupi seluruh wajahnya, spontan Wulan langsung pergi meninggalkan mbah, dan lari ke ruang tamu karena aku merasa takut dengan sosok wanita itu.
Setelah selesai mbah pun keluar dari kamar Wulan dan meletakan sesajen itu di atas meja kamarku.
***
Keesokan paginya ibu mengajak untuk mendaftar sekolah SMP yang tidak jauh dari rumah jarak antara sekolahan dan rumah sekitar 150 meter,
“Kamu sudah siap Lan?” tanya ibu yang sudah mengunggu Wulan di depan pintu kamar.
“Iya Bu, Ulan sudah siap ayo kita berangkat Bu” Sahut Wulan yang mengajak ibu keluar rumah.
Kami berdua berjalan kaki menuju SMP Negeri Tunas Bangsa, sambil berbincang-bincang di jalan dengan ibu.
“Bu, Wulan merasa aneh di rumah Mbah.”
“Aneh kenapa karena dekat dengan kuburan?”
“Bukan itu Bu, Wulan merasa ada yang mengganggu Wulan dan Wulan lihat wanita yang sangat menyeramkan ketika mbah ngasih sajen di kamar ulan Bu”
“Siapa Nak, yang mengganggu kamu cerita sama ibu,” sahut ibu dengan polosnya.
“Bukan, dia bukan kayak kita bu, Wulan nggak betah di rumah Mbah Ulan takut Bu,” kata Wulan yang menjelaskan kepada ibunya.
“Itu hanya perasaan kamu saja Lan, buktinya ibu tidak merasakan hal yang aneh-aneh, lagi pula kalau kita tidak tinggal di rumah Mbah mau tinggal di mana Lan? kamu tahu sendiri kan uang tabungan ibu hanya cukup untuk biaya hidup kita berapa bulan saja di tempat Mbah. Sedangkan Ibu belum dapat kerjaan Lan,”
Mendengar penjelasan ibu Wulan hanya terdiam, tidak ada yang percaya ucapannya saat itu. Setelah beberapa menit Wulan berjalan dengan ibu akhirnya kami sampai di SMP Negeri Tunas Bangsa, Wulan dan ibunya langsung memasuki ruang para Guru lalu mereka di himbau salah satu Guru yang menyuruh ibu masuk ke ruang Kepala Sekolah.
Tok ... Tok.
“Permisi Pak” ucap ibu Wulan dengan mengetok pintu kepala sekolah.
“Silahkan masuk Bu, buka saja pintunya,” ujar Kepala Sekolah yang mempersilahkan ibu masuk.
Ibu Wulan pun masuk ke ruangan Kepala Sekolah sedangkan aku duduk di bangku luar yang telah di sediakan tidak ikut masuk ke dalam ruangan itu.
“Silahkan duduk Bu.”
“Iya pak, terima kasih Pak.”
“Perkenalkan, nama saya bapak Mahmud Kepala Sekolah di sini, ada yang bisa saya bantu Bu,” tanya bapak Mahmud.
“Begini Pak kedatangan saya ke sini untuk mendaftarkan anak saya Wulandari untuk bersekolah di sini.”
“Pindahan dari mana Ibu kalau boleh tahu?”
“Dari SMP Negri Bangsa di Jakarta pak.”
“Oooo, pindahan dari Jakarta boleh saya lihat hasil nilai-nilai anak Ibu dan juga lampiran surat keterangan pindah sekolahnya?”
“Ini Pak silahkan,” sahut ibunya yang menyerahkan map yang di dalamnya berisi lampiran surat pindah sekolah dan juga nilai hasil ujian di semester satu.
Pak Mahmud membuka map itu dan melihat nilai Wulan yang tertera di rapor.
“Nilai rapornya bagus, mulai besok anak Ibu dapat masuk di sekolah SMP Negri Tunas Bangsa, dan ada administrasi yang harus ibu selesaikan hari ini.
“Baik Pak terima kasih, maaf menggangu waktu Bapak.”
Setelah selesai mendaftar Wulan dan ibunya pun pulang rasa senang kembali Wulan rasakan karena dapat teman baru di sekolah itu, dan rasa takutnya mulai hilang sedikit.
Sesampainya di rumah mereka berdua di sambut oleh Mbah.
“Bagaimana sekolahnya, kamu sudah liat sekolahnya Lan?” tanya mbah kepadanya.
“Iya sudah Mbah sekolahnya bagus, Lan suka Mbah."
“Ya sudah kalau kamu suka, ganti bajumu dulu habis itu makan di dapur, Mbah masak kesukaanmu itu sop ayam.”
“Asyik, terima kasih Mbah,” ucap Wulan yang pergi meninggalkan mbah dan ibu di ruang tamu.
Wulan yang selesai berganti baju ingin pergi ke dapur untuk mengambil makan tidak sengaja mendengar percakapan dari ibu dan mbah.
“Bu aku bingung sama sikap Wulan akhir-akhir ini, dia sering bilang yang aneh-aneh Bu di rumah ini,” Ibu Wulan menjelaskan kepada mbah.
“Ayu ... ayu, tidak usah terlalu di pikirkan Nduk, anakmu itu mewarisi kelebihan yang dimiliki oleh almarhum bapakmu, bapakmu sendiri di sini seorang Paranormal yang disegani di kampung ini tidak heran Wulan bersikap aneh karena mata batinnya sudah mulai terbuka Nduk,” kata mbah.
“Pantas saja dari kecil Wulan tidak seperti anak-anak pada umumnya dia suka menyendiri kadang bermain dan berbicara sendiri, seperti punya teman.”
“Apakah itu, tidak apa-apa Bu, apakah hal itu tidak memberi pengaruh buruk kepada diri Wulan?”
“Tenang Nduk ... anakmu tidak akan kenapa-kenapa hanya saja ia bisa melihat mereka dan Wulan sendiri merasakan kehadiran mereka yang membuatnya merasa terganggu,” ujar mbah yang menjelaskan kepada ibu Wulan.
“Syukurlah kalau begitu Bu, aku hanya khawatir kepada Ulan akhir-akhir ini dia sangat aneh,” kata ibu yang berbicara kepada mbah.
Setelah menurut Wulan cukup mendengarkan percakapan mereka berdua, Wulan pun pergi ke dapur untuk mengambil makan. Sambil makan Wulan berpikir bahwa keanehan yang terjadi kepadanya adalah turunan dari almarhum kakeknya, namun masih ada sesuatu hal yang membuat Wulan bingung sampai detik ini, siapakah wanita yang sering dia lihat dan selalu mengganggunya sampai detik ini masih menjadi misteri.