Dihantui

1155 Kata
Tiba-tiba secara tidak sengaja Mbah membangunkan lamunan di saat Wulan sedang makan. “Makan kok sambil melamun, enggak baik anak perempuan seperti itu,” Mbah yang menepuk pundakku sambil menasehati. “Eh, Makan Mbah,” tutur Wulan sambil menawarkan Mbah makan. “Iya Nduk, kamu makan duluan Mbah masih kenyang,” sahut Mbah yang ingin mencuci piring. “Udah Mbah, biarin aja dulu entar Ulan yang mencuci Mbah” ucapnya. Selepas makan Wulan mulai membantu Mbah untuk mencuci piring dan bersih-bersih dapur, setelah selesai membantu Wulan mulai merasa mengantuk dan kembali ke kamarnya lalu tertidur. Seperti biasa Wulan selalu bermimpi Wanita Itu kembali, di dalam mimpi Wulan selalu merasa di rumah Mbah yang Wulan tempati sekarang dan berada di sebuah kamar namun bentuk-bentuk dan tatanannya telah berubah, lalu bertemu Wanita misterius itu dengan baju kebaya berwarna hitam sedang duduk di samping ranjang tempat aku tidur sekarang. Dengan wajah yang tertutup rambut serta baju kebaya tempo dulu dan jarik, dengan perlahan namun pasti ia berkata sangat lirih sekali. “Tolong aku!" ucap Wanita itu dengan lirih sambil mengelus rambut yang menutup wajahnya. Sontak saja Wulan terkejut mendengar ucapan Wanita itu. “Si-siapa kamu?” kata Wulan dengan nada gugup. Namun Wanita itu tetap saja tidak menjawab pertanyaan Wulan ia malah mengucapkan kata yang sama lalu menghilang. Lagi-lagi Wulan terkejut dan terbangun akibat Wanita itu, dan semakin ke sini Wanita misterius itu malah sering menampilkan dirinya kepadanya. Dengan masih duduk di tepi tempat tidur memasang wajah yang bingung Wulan memikirkan Wanita itu selalu muncul dalam mimpinya, dan di saat Mbah sedang memberikan sajen di kamar ia pun muncul dengan baju yang berbeda namun penampilan yang sama. “Sebenarnya ada apa di rumah ini, dari datang di rumah ini sampai sekarang selalu ada keganjilan yang terjadi, dan siapa wanita itu, selalu tidak pernah menjawab pertanyaanku,” gumamnya. Wulan pun mulai bosan di kamar mencoba ke ruang tengah untuk melihat televisi, di ruang tengah terlihat Mbah yang sedang menjahit baju kebayanya. “Lagi apa Mbah?” “Ini lagi jahit baju kebaya Mbah, sayang Lan hari minggu mau Mbah pakai buat kondangan. Oh Iya, tolong bantu Mbah masukan benang ini ke jarum Lan,” tangan Mbah yang menyodorkan benang dan jarum kepada Wulan. “Iya Mbah sini Wulan bantu, Ibu enggak kelihatan dari tadi Mbah ke mana yah?” tanya Wulan sambil fokus memasukkan benang ke dalam lubang jarum. “Ibumu sedang ke rumah teman-temannya Wulan, untuk mencari informasi tentang lowongan kerja,” sahut Mbah. “Ini Mbah jarumnya sudah Wulan masukin benangnya, oh iya Wulan boleh tanya sama Mbah?” sambil memberikan jarum yang telah terisi benang. “Tanya apa sih Nduk?” “Di rumah ini sebenarnya ada apa sih Mbah, Lan merasa aneh di rumah ini?” “Hahahaha, merasa aneh kenapa?” “Ada sosok Wanita yang selalu menggangu Wulan Mbah!” sahut Wulan yang penasaran. “Wulan...Wulan kamu ini ada-ada saja itu Cuma halusinasi kamu saja, semenjak Mbah tinggal di sini enggak pernah mengalami hal yang aneh-aneh Lan!” ucap Mbah yang menegaskan. “Tapi, ini beneran Mbah, Lan enggak bohong,” sahut Wulan yang meyakinkan Mbah. “Udahlah Nduk kamu enggak usah berpikir yang aneh-aneh, lagi pula mungkin kamu belum terbiasa di rumah ini Wulan.” Mendengar ucapan Mbah yang tidak percaya kepadanya Wulan akhirnya menyudahi pembicaraan mengenai Wanita itu. Tiba-tiba terdengar Ibunya sedang mengucapkan salam. “Assalamualaikum?” ucap Ibunya sambil membuka pintu. “Walaikumsalam,” ucap Wulan dengan serentak membalas salam. Ibunya menghampiri Mbah dan mencium tangannya, lalu di lanjutkan dengan diriku yang mencium tangan ibu. “Bagaimana Ayu, apakah ada kerajaan untukmu?” tanya Mbah yang menghentikan jahitan bajunya. “Alhamdulillah Bu, tadi Ayu langsung di ajak ketemu Manajer langsung di Perusahaan Roti, dan besok Ayu langsung di suruh bekerja Bu,” tutur ibu Wulan menjelaskan. “Alhamdulillah, kalau memang seperti itu Ayu, fokus kamu kerja buat Wulan. Dan tidak perlu memikirkan suamimu lagi Ayu,” ujar Mbah yang memberikan wejangan kepada Ibu Wulan. “Iya Bu,” sahut Ibu Wulan. “Alhamdulillah ya Bu, Ibu keterima kerja, dan Ulan juga besok sudah mulai masuk sekolah,” ujar Wulan kepada Ibunya. “Iya Nak, sekolah yang benar-benar bikin ibu bangga kepadamu,” sahut ibu yang memberikan harapan kepada Wulan. Mendengar ucapan ibu Wulan mengangguk dan tersenyum, membuktikan bahwa aku akan membuat Ibu bangga, itulah yang ada di pikirannya. Malam hari pun mulai tiba, kami semua sedang menikmati hidangan makan malam di meja makan dan kebetulan dapur Mbah itu sangat luas, jadi meja makan di letakan di dapur. Selesai semua menikmati makan malam, kini giliran Wulan yang mencuci piring. “Bu, Mbah, piringnya ditaruh saja biar Ulan nanti yang mencuci,” kata Wulan kepada mereka berdua. Ibu dan Mbah pun pergi dari dapur, Ibu ke kamar untuk membenahi baju yang akan dipakai bekerja dan baju seragam Wulan. Setelah itu Wulan mulai menuju wastafel untuk mencuci piring saat mulai selesai mencuci piring tiba-tiba. Brak! (Suara jendela terbuka kencang). Hembusan angin yang datang melalui jendela membuat bulu kuduk Wulan berdiri, rasa merinding di tangan dan leher mulai terasa. Saat itu Wulan hanya berpikir positif saja mungkin karena terkena angin kencang jadi jendela bisa terbuka, itu yang ada di pikirannya saat itu. Namun di saat Wulan ingin menuju jendela itu dan ingin menutupnya Wulan kembali mendengar suara aneh. Suara itu tidak lain adalah suara wanita yang sedang menangis. Antara rasa takut dan penasaran menjadi satu di hati Wulan pada saat itu, dan akhirnya Wulan memberanikan diri menuju jendela itu untuk mengetahui suara siapa itu. Dengan langkah yang sedikit ragu Wulan menuju jendela itu pelan-pelan namun pasti. “Nduk, udah kelar mencuci piringnya?” ucap Mbah yang memegang bahu Wulan dan mengagetkannya. “Eh, Mbah kagetan Wulan aja!” sahutnya yang terkejut. “Habis kamu lama mencuci piringnya dan piring ini Cuma sedikit, terus kenapa ini Lan jendela dapur kok kamu buka,” sahut Mbah yang menuduh Wulan. “Ini udah selesai Mbah, tiba-tiba jendela kebuka terus ada suara cewe Menangis,” sahut Wulan yang polos. “Nduk ... Nduk, udah di bilangan enggak usah mikir yang aneh-aneh, ya udah sana siap-siapin peralatan sekolahmu biar Mbah yang menutup jendelanya. “Ia Mbah” sahut Wulan sambil pergi meninggalkan Mbah menuju kamar. Mbah pun mendatangi jendela itu dan mulai menutupnya namun di saat ia ingin menutup ada beberapa kalimat yang terlontar dari mulutnya. “Jangan mengganggu cucuku!” ucap Mbah sambil menutup jendela. Brak! (Suara jendela yang tertutup dengan kencang). Wulan yang telah berada di kamar pun menyiapkan peralatan sekolah di bantu oleh Ibu, yang menyetrika baju seragamnya dan baju ibunya untuk besok bekerja. “Lan ini bajunya ibu taruh di dalam lemari yah,” kata ibunya yang memberitahu. “Iya Bu,” sahut Wulan yang telah selesai menyiapkan peralatan sekolah. “Yuk, Nak kita tidur besok kamu sekolah,” ajak ibu Wulan. Wulan dan Ibunya pun akhirnya tidur bersama, sedangkan Mbah sudah tidur di kamar samping. Terkadang hal yang tidak masuk nalar itu dapat terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN