Arwah Nata

1118 Kata
Di pagi hari Wulan dan Ibunya sedang bersiap-siap untuk berangkat. “Bu ... Sudah selesai belum?” teriak Ulan di depan pintu utama memanggil ibunya yang masih di kamar. “Iya Lan, tunggu sebentar lagi ini Ibu sudah mau selesai.” Beberapa menit kemudian Ayu ibu Wulan pun keluar dari kamarnya. “Ayo Kita berangkat!” Ajak Ibu Wulan. Mereka berdua berjalan dan berpisah di depan Gang karena arah tempat kerja Ibu Wulan berlawanan dengan Sekolah Wulan. Wulan berpamitan sambil mencium tangan Ibunya. Jarak dari rumah menuju tempat kerja Ibu Wulan cukup jauh biasanya Ibu Wulan pulang pergi dengan memesan ojek online. “Bu, Lan berangkat dulu ya,” ujar Wulan. “Ia Nak, hati-hati kalau jalan ya,” sahut Ibu Wulan “Iya Bu,” sahut Ulan sambil meninggalkan Ibunya yang sedang menunggu ojol. Wulan berjalan membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai ke sekolahnya. Sesampainya di sekolah, Wulan di suruh menunggu di ruang Guru terlebih dahulu. Wulan pun di sambut oleh Kepala sekolah yang bernama Bapak Mahmud. “Eh Wulan, nanti masuk kelasnya sama Ibu Fitri ya, beliau akan menjadi wali kelas kamu nantinya,” kata Bapak Mahmud yang menjelaskan. “Baik Pak.” Wulan menunggu duduk manis di ruang Guru menunggu hingga lonceng sekolah berbunyi menandakan pelajaran akan segera di mulai. Sambil menunggu Wulan di ajak bicara oleh Ibu fitri Wali kelasnya sendiri. “Perkenalkan saya Ibu Fitri Wali kelas VI A, dan Guru Biologi,” sahut Ibu Fitri yang menjelaskan. “Saya Wulandari Bu, pindahan dari SMP Negri Tunas Bangsa,” ujar Ulan. Lonceng sekolah mulai berdentang, mendengar suara lonceng itu Ibu Fitri bergegas untuk masuk kelas VI A. Setibanya di dalam kelas VI A, Ibu Fitri mulai memperkenalkan Wulan yang telah berdiri di sampingnya. “Selamat pagi anak-anak Ibu,” Ibu Fitri yang mengucapkan salam. “Selamat pagi Bu...” Ucap para murid serentak. “Sebelum pelajaran di mulai, Ibu mau perkenalkan teman baru kepada kalian, dia juga kebetulan pendatang baru di sini. Ayo... Wulan perkenalkan diri kepada teman-teman!” perintah Ibu Fitri kepada Wulan. “Assalamualaikum, selamat pagi teman-teman. Perkenalkan nama saya Wulandari pindahan dari SMP Negri Tunas Bangsa.” ucap Wulan sambil tetap berdiri di depan kelas “Bu Guru, saya mau tanya sama Wulan,” kata salah satu murid yang mengacungkan tangan telunjuknya. “Iya Kinno mau tanya apa?” sahut Ibu Fitri. “Wulan, rumahnya dimana?” ujar Kinno. “Rumah saya tidak jauh dari sekolah ini, tepatnya di gang melati No. 20” sahut Wulan. “Wah pas banget rumahku juga di situ,” sahut Kinno dengan nada cukup keras. “Ciye!” seru beberapa murid sedang menyoraki Kinno. “Sudah...sudah, ada pertanyaan lagi untuk Wulan kalau tidak ibu suruh Wulan duduk,” Menunggu beberapa menit tidak ada mengajukan pertanyaan. “Berarti tidak ada yang ingin bertanya ya, Wulan silahkan duduk di samping Indra,” ujar Bu Guru yang menunjuk seorang siswa laki-laki yang duduk sendirian. “Terima kasih Bu Guru,” sahut Wulan sambil menuju siswa laki-laki itu. Setelah itu pelajaran pun di mulai. “Buka buku halaman 20 ibu akan menjelaskan tentang ciri-ciri Mahluk hidup!” Perintah ibu Fitri yang akan memulai pelajaran tersebut. Beberapa jam kemudian terdengar suara lonceng sekolah. Teng...Teng...Teng... (Suara lonceng sekolah) Dengan bunyi seperti itu menandakan waktu istirahat telah di mulai. Namun Wulan tidak keluar dari kelas untuk beristirahat, dia menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas. “Lan, kamu tidak ke kantin? Oh iya perkenalkan namaku Indra!” ucap salah satu murid yang duduk di samping Wulan sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. “Tidak Indra, aku di kelas saja, terima kasih ajakannya” sahut Wulan. Mendengar hal itu Indra pergi meninggalkan Wulan seorang diri di kelasnya. Namun di saat kelas sepi tersisa Wulan saja, dan Wulan tengah asik mengisi buku-buku pelajarannya tiba-tiba ada sebuah benda yang menggelinding tepat di samping kaki Wulan. Dengan penasaran Wulan mulai melihat benda apa yang menggelinding ke kakinya dia menghentikan aktivitasnya lalu menunduk ke kolong mejanya. “Pulpen? Pulpen siapa ini?” gumam Wulan yang kebingungan. Wulan pun mengambil pulpen itu dan menaruhnya di atas mejanya agar di saat telah selesai istirahat ia dapat menanyakan pulpen siapa yang telah jatuh. Setelah itu Wulan melanjutkan belajarnya kembali, namun anehnya pulpen yang ia letakan di meja tadi tiba-tiba terjatuh kembali tanpa sebab. Dengan tenang dan pikiran positif Wulan mulai mengambil pulpen itu di bawah kolong mejanya saat mulai meraih pulpen itu Wulan melihat sosok kaki seorang siswi dengan atribut yang lengkap sepatu wanita kos kaki namun tidak menyentuh lantai. Hati Wulan mulai tidak tenang setelah melihat kaki siswa itu ia pun dengan perlahan-lahan kembali ke posisinya duduk, namun naas siswi perempuan itu duduk di sampingnya dengan wajah yang sangat pucat seperti mayat hidup dengan bekas luka sayatan di pergelangan tangannya. Melihat penampakan siswi perempuan itu Wulan langsung memalingkan wajahnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Agar ia tidak melihat penampakan itu lagi. Setelah beberapa menit dengan posisi seperti itu, tiba-tiba ada yang menepuk pundak Ulan. “Lan...Lan...Kamu tidak apa-apa?” ucap indra. Mendengar suara yang ia kenal, Wulan mulai membuka wajahnya dan ia melihat Indra di sampingnya yang menepuk ia tadi. “Kau tidak apa-apa Lan?” tanya Indra. “E-Enggak papa Ndra,” sahut Wulan yang gugup. “Kau melihat siswi Perempuan itu yah Lan?” Mendengar ucapan Indra Wulan pun kaget. “Kau tahu dari mana Ndra?” tanya Ulan yang bingung. “Aku sama sepertimu Lan!” Mendengar ucapan yang di ucapkan Indra membuat Wulan sedikit lega, ternya selama ini ada orang yang sama sepertinya, selalu di anggap aneh oleh orang lain dan di hantui oleh mereka. “Kau bisa melihat mereka juga Ndara?” kata Ulan yang masih belum percaya dengan ucapan Indra. Indra pun mulai menjelaskan bentuk fisik siswi Wanita yang di lihat oleh Wulan agar ia percaya dan yakin. “Siswi wanita yang kau liat itu berambut panjang sepinggang bukan di rambutnya ia memakai jepit rambut kupu-kupu bukan, lalu ia memakai kalung emas yang buah kalungnya huruf N dan satu lagi yang paling penting di pergelangan tangannya terdapat luka goresan benda tajam kan, seperti tindakan bunuh diri?” ucap Indra yang sedang menjelaskan secara detail Mendengar hal itu Wulan baru mempercayai diri Indra bahwa ia benar-benar bisa melihat. “Iya semua yang kamu ucapin itu benar Ndra,” “Ha...Ha...Ha...Kamu sama saja seperti mereka tidak percaya, sekarang sudah percaya!” Indra yang menekan Wulan. “Iya sudah percaya, maaf yah atas sikapku tadi sama kamu Ndra tidak percaya,” ucapan rasa bersalah Wulan. “Sudah santai saja Wulan.” “Nanti selepas pulang sekolah aku akan menjelaskan tentang siswi perempuan itu yang bernama Natta.” Mendengar ucapan dari Indra Ulan pun mulai sangat penasaran oleh Indra dan juga siswa yang bernama Natta itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN