Masa lalu Natta

1137 Kata
Beberapa menit kemudian lonceng sekolah berbunyi menandakan pelajaran akan segera di mulai. “Nanti kita pulang bareng ya, kita satu gang kok sekalian aku cerita masalah siswi itu,” ajak Indra. “Iya Ndra,” sahut Wulan. Guru mata pelajaran matematika pun tiba. “Ayo semua kumpulkan PR matematika kalian yang ibu suruh kemarin!” Perintah Bu Guru. “Baik Bu,” sahut semua siswa serentak. Semua pelajaran berjalan dengan lancar hingga sampai di jam terakhir ya itu jam pulang, lonceng berbunyi tanda pelajaran berakhir guru pun telah menutup pembelajaran hari ini semua murid di persilahkan untuk pulang. “Eh, Wulan tunggu, kita pulang bareng yuk,” ajak Kinno “Maaf yah Kin, aku udah janji sama Indra pulang bareng,” sahut Wulan yang merasa tidak enak hati. "Ya udah, aku pulang duluan,” sahut Kinno yang meninggalkan Wulan. Wulan dan Indra pulang sekolah dengan berjalan kaki karena rumah mereka berdua berada di gang yang sama dan tidak jauh dari sekolah. Sepanjang jalan Indra mulai membuka cerita tentang siswi yang bernama Natta itu. “Lan yang kamu liat itu adalah siswi yang bernama Renata dia biasa dipanggil Natta dia siswi terpintar di sekolah dan selalu menjadi kebanggaan sekolah kita, setiap ada perlombaan di sekolah dia yang selalu memenangkannya,” “Ndra bentar aku mau tanya,” kata Wulan yang memotong pembicaraan Indra. “Iya mau tanya apa?” sahut Indra. “Kamu dapat Informasi ini dari mana?” tanya Ulan dengan penasaran. “Awalnya aku memberanikan diri berinteraksi dengan arwah Natta, dia bercerita panjang lebar mengenai dirinya tapi aku sambil mencari narasumber akhirnya aku bertanya kepada Wali kelas kita Bu Fitri kebetulan Wali kelas Natta juga dulu” jawab Indra. “Oh Seperti itu, baiklah bisa di lanjut ceritanya nggak?” ucap Wulan yang penasaran mendengarkan kelanjutan cerita Indra. “Pokoknya prestasi Natta tidak usah diragukan dan dia banyak membawa nama sekolah,” papar indra. “Terus, kenapa dia meninggal, dan sepertinya aku melihat ada bekas luka sayatan di pergelangan tangannya, apakah dia bunuh diri??” tanya Ulan yang penasaran. “Benar sekali tebakan kamu itu Wulan, Natta meninggal bunuh diri menyayat pergelangan tangannya di kamar mandi sekolahan tapi karena kelas yang kita pakai itu adalah bekas kelas VIII, kakak kelas kita sekarang urutannya di pindah,” Tutur Indra. “Jadi Natta itu kakak kelas kita? Terus apa yang menyebabkan dia bunuh diri?” Tanya Ulan yang sangat penasaran. “Iya dia angkatan lima tahun yang lalu, menurut cerita yang aku dengar dari Natta dan Bu Fitri, sebenarnya awalnya Bu Fitri tidak mau menjelaskannya tapi aku bicara apa yang di kasih tahu oleh Natta. Dan Bu Fitri baru menjelaskan semua itu dengan gamblang” Indra yang terdiam sesaat dalam menjelaskan. “Indra kok diam, ayo lanjutin!” desak Wulan yang tambah penasaran. “Aku sedih kalau menceritakan tentang dia, baiklah dia jadi korban cinta seorang siswa cowok yang paling tampan deh dan playboy. Mereka berdua menjalin cinta sampai akhirnya Natta terlena dengan rayuan siswa Cowok itu yang aku tidak tahu siapa namanya di rahasiakan. Natta pun Hamil,” “Apa Hamil?” ucap Wulan dengan nada yang kencang. "Ssstt! Jangan kencang-kencang kita lagi di jalan, lanjut nggak nih ceritanya dari tadi aku cerita kamu potong terus,” kata Indra yang mulai kesal. “Iya maaf ya Ndra, abis aku penasaran kamu boleh lanjut deh,” “Iya Natta hamil dan dia takut dengan orang tuanya dan juga para guru, orang tua Natta tergolong orang menengah ke bawah, jadi Natta adalah kebanggaan orang tuanya sebenarnya, dan cowok itu anak orang mampu dan terhormat katanya sih anak kepala sekolah yang dulu. Merasa malu Natta akhirnya mengakhiri hidupnya di toilet siswi dia mengunci pintu kamar mandi lalu menggores urat nadinya hingga kehabisan darah dan tidak sempat di selamatkan,” tutur Indra yang sangat sedih menjelaskan tentang Natta. Mendengar cerita dari Indra membuat Wulan, bersedih dan meneteskan air mata. “Kamu kenapa Lan, kok menangis?” tanya Indra. “Setelah mendengar ucapanmu aku jadi kasihan kepada Natta, merasakan menjadi dirinya dan di posisi Natta” sahut Wulan. “Iya aku pun, seperti itu Lan, Natta tidak pernah mengganggu kok di kelas, mungkin dia ingin berteman kepada kamu dan membagikan kisah pilunya kepadamu Lan,” ujar Indra. “Iya Ndra aku ngerti kok, nanti kapan-kapan kita ke makam kak Natta ya, aku ingin memanjatkan doa untuknya” ajak Ulan. “Oke deh, nanti nunggu aku ada waktu luang ya,” sahut Indra. “Oke komandan,” ejek Wulan. “Nanti kita sambung cerita besok ya,” sambung Wulan yang sudah sampai di depan rumahnya. “Siap Lan,” sahut Indra. Perkenalan yang sangat singkat, membuat mereka menjadi teman yang akrab sekarang dan mereka berdua pun mempunyai kesamaan, sama-sama bisa melihat Mahluk tak kasat mata. “Assalamualaikum, Mbah Lan pulang," teriak Wulan memanggil Mbahnya. “Walaikumsalam, ya Nduk,” sahut Mbah. Wulan menghampiri Mbahnya dan mencium tangan Mbahnya. “Bagaimana sekolahnya Nduk? Teman-temannya baik-baik kan?” tanya Mbah. “Alhamdulillah, lancar Mbah teman-teman semuanya pada baik,” jawab Wulan. “Syukurlah kalau begitu, ya sudah ganti baju sana habis itu cepat makan Mbah masak makanan kesukaan mu, sop ayam,” perintah Mbah. “Wah ... Enak itu, iya Mbah Wulan ganti baju dulu ya,” Wulan mulai bergegas masuk kamar dan mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian sehari-harinya, selepas mengganti pakaian, ia bergegas ke dapur dan mengambil makan di meja makan. Saat Wulan mengambil piring dan duduk di meja makan tiba-tiba terdengar suara benda jatuh, yang tanpa sebab. PRANNG! (Suara gelas yang jatuh di meja kompor) Mendengar suara itu Mbah pun kaget. “Ada apa Lan, apa yang jatuh?” ucap Mbah yang panik mendatangi Wulan ke dapur. Mendengar suara Mbah, dan tidak ingin Mbah berpikir aneh-aneh Wulan pun berbohong. “Itu Mbah, gelas tadi kesenggol tangan Wulan terus jatuh Mbah,” cakap Wulan yang sambil membersihkan serpihan beling bekas gelas yang terjatuh. “Ya sudah, kamu makan aja Nduk biar Mbah yang bersihkan,” pinta Mbah. “Jangan Mbah, ini udah mau kelar kok.” “Ya udah, hati-hati yah Lan bersihinnya jangan sampai pecahannya terkena jari mu Nduk,” Mbah yang menasihati. “Baik Mbah,” “Ya sudah Mbah tinggal ke depan ya,” ucap Mbah yang meninggalkan Ulan menuju ruang tengah melanjutkan menonton TV. Setelah selesai membersihkan kaca bekas gelas Wulan pun melanjutkan makannya yang telah tersedia di meja makan, Wulan menuju meja makan dan menyantap makan yang lezat yang di buat oleh Mbah. Sambil menikmati makan Wulan sambil berpikir kembali, tentang terjatuhnya gelas itu karena cara gelas itu terjatuh sungguh aneh seperti digeser oleh seseorang, namun di dapur sendiri tidak ada apa-apa bahkan tikus dan kecoak pun tidak ada. “Apa ini ulah arwah Wanita yang sering menggangguku?” gumam batin Ulan. Namun Wulan tidak menghiraukan pikirannya itu, dia masih fokus menghabiskan nasi yang ada di piring makanannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN